แชร์

Bab 8

ผู้เขียน: Luli
Dalam beberapa hari berikutnya, Veronica menyaksikan sendiri Yanto memanjakan seseorang sampai sejauh mana. Saat Lucinta bilang ingin makan jelly bunga sakura yang harus dikirim lewat penerbangan khusus, Yanto langsung memborong penerbangan internasional dini hari hanya untuk mengantar jelly itu.

Saat Lucinta bilang malam hari takut gelap dan tidak bisa tidur, Yanto akan meletakkan semua pekerjaan dan memeluk Lucinta semalaman hanya untuk menenangkannya. Saat tengah malam Lucinta tiba-tiba ingin melihat meteor, dia langsung mengerahkan jet pribadinya untuk membawa Lucinta ke puncak gunung terbaik dan melihat bintang.

Para pelayan di rumah pun diam-diam bergunjing.

"Pak Yanto benar-benar sangat memanjakan Bu Lucinta ...."

"Iya. Aku belum pernah lihat Pak Yanto seperti ini, seperti berubah jadi orang lain ...."

"Sepertinya yang ini baru cinta sejati. Kalau yang sebelumnya ... ah ...."

Mendengar semua pembicaraan itu, hati Veronica terasa seperti diiris pisau. Namun, dia hanya bisa diam dan bersembunyi di studio lukisnya karena tempat itu adalah satu-satunya tempat perlindungannya.

Hari itu, Lucinta berjalan-jalan hingga masuk ke studio dan langsung terpikat pada sebuah lukisan minyak yang tergantung di dinding. Dia menunjuk lukisan itu dan berkata dengan nada seolah-olah itu adalah hal yang paling wajar, "Lukisan ini bagus, aku mau ini gantung di kamarku."

Veronica langsung menolak. "Nggak bisa. Itu karya terakhir guruku."

Lucinta cemberut dan mulai bersikap manja. "Aduh, kasih saja padaku .... Aku benar-benar suka ...."

Veronica berkata dengan tegas, "Aku sudah bilang nggak bisa. Aku bukan Yanto yang akan mengalah hanya karena kamu bersikap manja. Aku nggak akan berikan lukisan ini pada siapa pun."

Melihat Veronica tidak tergerak, Lucinta langsung kesal. "Kalau begitu, aku beli saja. Boleh, 'kan? Sebut saja harganya."

"Nggak jual. Silakan keluar," kata Veronica dengan ekspresi dingin, lalu bersiap untuk meninggalkan studio lukisnya.

Lucinta yang marah pun mengulurkan tangan dan menarik Veronica. "Memangnya kamu ini siapa sampai nggak mau berikan ini padaku."

Veronica secara refleks menepis tangan Lucinta.

Namun, Lucinta seolah-olah kehilangan keseimbangan. Dia menjerit karena jatuh ke belakang, lalu dahinya membentur tepat di sudut tajam dari penyangga lukisan sampai langsung robek dan mulai berdarah. "Ah! Sakit sekali!"

Tepat saat itu, pintu studio terbuka.

Mendengar keributan di dalam studio, Yanto segera melangkah masuk dan melihat keadaan di dalam ruangan itu terlebih dulu. Saat melihat Lucinta duduk di lantai sambil menangis dengan darah di dahi dan Veronica berdiri di samping, ekspresinya langsung muram. Dia segera maju dan bertanya dengan cemas sambil membantu Lucinta berdiri, "Lulu, apa yang terjadi?"

Lucinta menangis tersedu-sedu, lalu mengeluh sambil menunjuk Veronica, "Yanto, bukannya kamu bilang aku boleh ambil semua yang ada di rumah ini sesuka hatiku? Aku suka lukisannya. Tapi, dia bukan hanya nggak mau berikan, dia juga mendorongku. Lihat kepalaku ... sakit sekali .... Kamu harus membelaku!"

"Aku nggak dorong dia, dia sendiri yang kehilangan keseimbangan ...."

Yanto langsung menyela ucapan Veronica dengan suara keras dan tatapan yang sangat dingin, "Diam! Veronica, selama ini aku sudah terlalu lunak padamu."

Dia langsung memerintahkan para pengawalnya, "Ambilkan lukisan itu untukku."

"Jangan!"

Veronica langsung menerjang maju karena ingin melindungi lukisan itu, tetapi para pengawal mendorongnya jatuh dengan mudah. Saat dua pengawal merebut lukisan itu dengan kasar, dia memeluk bingkai lukisan itu dengan erat dan enggan melepaskannya. "Tolong! jangan! Ini peninggalan guruku satu-satunya ...."

Sreet!

Di tengah perebutan, kanvas itu tiba-tiba tersobek. Robekan besar membelah tepat di tengah lukisan.

Saat melihat karya terakhir gurunya yang sudah hancur itu, seluruh tenaga Veronica seperti tersedot habis. Dia terduduk lemas di lantai dan tatapannya kosong, seolah-olah seluruh dunianya runtuh.

Lucinta juga sempat tertegun sejenak, lalu menangis makin keras. "Lukisanku! Lukisan yang begitu bagus ... sekarang sudah rusak ...."

Melihat Lucinta menangis, Yanto langsung merasa sakit hati dan buru-buru membujuk. "Sayang, jangan menangis. Cuma lukisan saja, besok aku pergi ke acara lelang dan belikan yang lebih bagus dan lebih mahal. Oke?"

"Aku nggak mau! Aku mau yang ini! Harus sama persis!"

Lucinta tetap bersikeras, lalu menunjuk Veronica yang sudah kehilangan jiwanya. "Semua gara-gara dia yang merusaknya! Karena dia sudah merusak lukisanku, suruh dia ganti rugi! Aku mau melukis gambar yang sama persis di punggungnya!"

Veronica tiba-tiba mengangkat kepala dan menatap Lucinta dengan tatapan tidak percaya.

Yanto sempat mengernyitkan alis, tetapi dia akhirnya tetap mengalah saat melihat mata Lucinta yang memerah karena menangis. "Baik, semua terserah kamu."

"Yanto! Kamu gila!" teriak Veronica sambil berusaha kabur, tetapi tubuhnya langsung ditekan kuat oleh para pengawal.

Yang membuat Veronica makin ketakutan adalah kuas yang diminta Lucinta ternyata bukan kuas biasa, melainkan jarum perak panjang. Sementara itu, cat yang digunakan adalah air cabai merah. Dia menangis dan meronta dengan putus asa, "Nggak! Jangan! Yanto, kamu nggak boleh lakukan ini padaku!"

Namun, Yanto hanya menatap Veronica dengan dingin dan memerintah para pengawal. "Tahan dia. Biarkan Lulu melukis."

Dengan ujung jarum yang dingin saat menusuk kulit dan sensasi terbakar dari air cabai, punggung Veronica digores sekali demi sekali. Rasa sakit yang luar biasa membuat seluruh tubuhnya kejang dan jeritan pecah memenuhi ruangan.

Namun, Lucinta malah melukis dengan penuh semangat, seolah-olah sedang menyelesaikan sebuah karya seni agung. "Lihat, 'kan? Ini akibatnya karena kamu nggak mau berikan lukisan itu padaku!"

Setelah menyelesaikan goresan terakhir, Lucinta menatap puas lukisan di punggung Veronica yang berdarah dan sangat mengerikan.

Dari awal sampai akhir, Yanto bahkan tidak melihat Veronica sekali pun. Dia hanya merangkul Lucinta dan berkata dengan nada memanjakan. "Amarahmu sudah dilampiaskan, 'kan?"

"Hm! Puas!" balas Lucinta sambil bersandar manja di pelukan Yanto.

"Kalau begitu ...."

Yanto menundukkan kepala dan mengecup puncak kepala Lucinta, lalu berkata dengan suara rendah dan menggoda, "Bukankah sekarang waktunya aku ... melampiaskan hasratku sedikit?"

Dia langsung menggendong Lucinta dan mengabaikan Veronica yang sudah hampir pingsan di lantai karena kesakitan, lalu berjalan lurus menuju kamar di lantai atas.

Dalam keadaan samar-samar, Veronica masih bisa mendengar tawa manis dari Lucinta. Dia juga mendengar suara rendah Yanto yang belum pernah didengarnya dan penuh hasrat saat memanggil Lucinta.

"Sayang, pintar sekali ...."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Dinikahi Pria Terkaya, Tetapi Hatiku Sepi Merana   Bab 21

    Berbeda jauh dengan kecerahan di Paris, sebuah tempat perawatan mewah yang terpencil di Swiss selalu diselimuti suasana dingin yang sunyi.Yanto tinggal di sebuah vila di tepi danau. Lingkungannya indah luar biasa, tetapi juga terasa kosong dan menyesakkan. Sejak meninggalkan Afrika, dia menetap di sini untuk "pemulihan" dalam jangka panjang.Di mata orang lain, dia adalah sosok yang mundur di puncak kesuksesan dan menikmati hidup. Hanya dia sendiri yang tahu, ini adalah bentuk pengasingan diri tanpa batas waktu. Dia menjadi sangat pendiam dan sering kali tidak mengucapkan sepatah kata pun seharian penuh.Rambut putih di pelipisnya semakin banyak dan di matanya tersisa kelelahan dan kesunyian yang tak terhapuskan. Dia bisa duduk berjam-jam di tepi danau untuk menatap air yang dingin, dengan tatapan kosong. Entah apa yang dipikirkannya saat itu.Di sampingnya, sering tergeletak majalah bisnis. Di sampulnya, kadang ada wawancara Veronica, dengan fotonya yang bersinar.Yanto melihatnya be

  • Dinikahi Pria Terkaya, Tetapi Hatiku Sepi Merana   Bab 20

    Yanto membayangkan sosok Veronica yang berdiri di bawah sorotan lampu sambil menerima trofi dengan senyum percaya diri dan gemilang. Semua itu adalah kejayaan yang seharusnya menjadi milik Veronica sejak dulu. Namun karena dirinya, kesuksesan itu tertunda selama bertahun-tahun.Yanto memejamkan mata. Yang terlintas di benaknya adalah saat dia pertama kali menikah dengan Veronica. Dari sepasang mata yang penuh rasa takut dan harapan, bayangan Veronica saat diam-diam menyiapkan makan malam di vila, air mata putus asa di kantor polisi, dan tatapan terakhir Veronica padanya yang dingin dan tanpa emosi.Setetes air mata mengalir dari sudut matanya, lalu menghilang ke dalam kerah pakaian dengan cepat.Saat dia membuka mata lagi, gejolak hebat di dalam tatapannya telah mereda. Yang tersisa hanyalah doa yang jauh, pasrah, dan kelegaan yang sepenuhnya.Yanto telah mengampuni dirinya sendiri dan akhirnya menerima kenyataan bahwa Veronica akan selalu bahagia, tetapi tidak akan pernah menjadi mili

  • Dinikahi Pria Terkaya, Tetapi Hatiku Sepi Merana   Bab 19

    Waktu selama tiga tahun telah cukup untuk menunjukkan hasil akhir dari banyak hal.Nama Veronica kini telah menjadi nama yang dihormati di dunia desain.Skala studionya berkembang lebih dari dua kali lipat. Karya-karyanya memadukan estetika timur dengan pemikiran modern. Dia sering tampil di galeri internasional ternama dan penghargaan terus mengalir tanpa henti.Dia bukan lagi bayangan siapa pun, melainkan dirinya sendiri, sang desainer Veronica.Hidupnya terasa penuh dan tenang. Dia tidak terburu-buru memulai pernikahan baru, melainkan menikmati ritme hidup yang sepenuhnya dia kendalikan sendiri.Hubungannya dengan Willy stabil dan nyaman. Mereka adalah partner yang selaras dalam pekerjaan, sekaligus sahabat yang bisa saling berbagi dalam kehidupan. Rasa hormat, pengertian, dan kebersamaan yang tenang dari Willy membuatnya merasakan kedamaian dan rasa aman yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.Veronica sendiri tidak terburu-buru untuk menentukan apakah hubungan mereka bisa melang

  • Dinikahi Pria Terkaya, Tetapi Hatiku Sepi Merana   Bab 18

    Setiap kali ada kabar baik tentang Veronica, malam itu, lemari anggur di ruang kerja Yanto akan terbuka. Yanto tidak membutuhkan siapa pun untuk menemaninya. Dia hanya duduk sendirian dalam kegelapan sambil meneguk seteguk demi seteguk alkohol sambil menghadap jendela kaca besar dengan gemerlap lampu kota di luar.Melihat senyum percaya diri Veronica saat menerima penghargaan di layar, dia akan tertawa pelan. Namun saat tertawa, air matanya tiba-tiba mengalir, bercampur dengan rasa tajam wiski yang membakar tenggorokan dan jantungnya.Itu adalah emosi yang sangat rumit. Ada kebanggaan yang tulus untuk Veronica, ada penyesalan yang mendarah daging, ada rasa kehilangan yang tak bisa ditebus, dan pada akhirnya semua itu berubah menjadi kesepian yang tak berbatas.Seolah menjaga sebuah rahasia yang tak bisa diungkapkan, dia diam-diam menggunakan segala cara untuk membersihkan setiap rintangan di jalan masa depan Veronica.Saat ada pesaing tak tahu diri yang mencoba menekannya dengan cara k

  • Dinikahi Pria Terkaya, Tetapi Hatiku Sepi Merana   Bab 17

    Apa saja yang sudah dia lakukan?!Rasa sakit dan penyesalan yang begitu besar seketika menggerogoti jantungnya dan membuatnya nyaris tak bisa bernapas. Dia langsung berlari keluar, sekarang hanya ada satu pemikiran di benaknya.Menemukan Veronica!Yanto menunggu di bawah gedung studio tempat Veronica bekerja dan menunggu di depan pintu apartemen barunya.Pria yang dulunya begitu angkuh dan rapi, kini dagunya dipenuhi janggut kasar. Matanya tampak cekung dan jasnya kusut melekat di tubuhnya. Hanya sepasang mata yang memerah itu yang tetap menatap setiap pintu masuk dan keluar dengan intens.Saat akhirnya dia melihat sosok anggun itu muncul, jantungnya berdegup kencang.Yanto tersandung saat berlari untuk mengadang di depan Veronica. Suaranya terdengar serak karena demam tinggi dan kegelisahan, "Vero ... Veronica! Maaf ... maaf! Aku salah ... aku sudah tahu semuanya ...."Yanto tergagap dan mencoba meraih tangan Veronica, tetapi Veronica malah menghindar dengan santai dan tegas."Aku tah

  • Dinikahi Pria Terkaya, Tetapi Hatiku Sepi Merana   Bab 16

    Ternyata ... kenyataannya seperti ini. Yanto akhirnya tahu Lucinta tidak pernah selalu setia menemaninya dan tidak pernah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya juga. Hanya Veronica yang nekat tanpa memikirkan diri sendiri dan kedua tangan berlumuran darah, sedangkan Lucinta hanya berpura-pura dan merebut jasa orang lain tanpa malu.Semua toleransi yang diberikan Yanto selama bertahun-tahun ini, semua tindakan mengalah yang dilakukannya, dan semua rasa bersalah serta tanggung jawab karena utang budi. Ternyata semua yang diberikannya pada Lucinta hanya menjadi lelucon terbesar dalam hidupnya.Sementara itu, apa yang telah dilakukan Yanto pada penyelamat nyawanya yang sebenarnya?Karena Veronica menyelidiki Lucinta, Yanto sengaja menciptakan kecelakaan mobil untuk memperingatkan Veronica. Saat di kantor polisi, dia membiarkan Lucinta mempermalukan Veronica dan bahkan menyuruh Veronica pergi. Hanya karena Lucinta ingin makan kue, dia menyeret Veronica turun dari meja operasi dan meng

  • Dinikahi Pria Terkaya, Tetapi Hatiku Sepi Merana   Bab 9

    Veronica kesakitan sampai merasa dirinya hampir mati.Dokter pribadi akhirnya datang setelah mendengar kabar Veronica dan segera memberikan obat pereda nyeri kuat serta antiinflamasi, lalu menangani luka di punggung Veronica dengan hati-hati. Dia mengingatkan, "Untung saja ditangani tepat waktu. Ini

  • Dinikahi Pria Terkaya, Tetapi Hatiku Sepi Merana   Bab 7

    Saat menatap lampu belakang mobil Yanto yang melaju menjauh, tubuh dari para sahabatnya Veronica gemetar karena marah. Namun, mereka hanya bisa buru-buru membawa Veronica yang terluka parah ke rumah sakit terlebih dulu.Saat kembali terbangun di rumah sakit, yang ada di sisi Veronica hanya seorang p

  • Dinikahi Pria Terkaya, Tetapi Hatiku Sepi Merana   Bab 6

    Yanto akhirnya menatap Veronica dengan dingin, lalu ekspresinya langsung sangat muram saat melihat beberapa pria tampan dan berwibawa yang berdiri di belakang Veronica. "Veronica, aku sudah peringatkan kamu jangan berniat buruk pada Lulu. Kenapa? Kamu sendiri saja nggak cukup jadi kamu suruh teman-t

  • Dinikahi Pria Terkaya, Tetapi Hatiku Sepi Merana   Bab 5

    Setelah operasi, hari-hari Veronica terasa panjang dan menyiksa. Dia berbaring sendirian di ranjang rumah sakit dan menatap cairan infus yang sedikit demi sedikit menetes masuk ke pembuluh darahnya. Selain itu, dia juga merasakan rasa nyeri yang datang berkali-kali dari luka di tubuhnya.Setiap kali

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status