Partager

Bab 5

Auteur: Luli
Setelah operasi, hari-hari Veronica terasa panjang dan menyiksa. Dia berbaring sendirian di ranjang rumah sakit dan menatap cairan infus yang sedikit demi sedikit menetes masuk ke pembuluh darahnya. Selain itu, dia juga merasakan rasa nyeri yang datang berkali-kali dari luka di tubuhnya.

Setiap kali mengganti perban, Veronica merasa seperti disiksa. Perawat berusaha bergerak selembut mungkin, tetapi rasa iba yang tidak bisa disembunyikan di tatapan perawat itu justru terasa lebih menyakitkan daripada luka itu sendiri.

"Kamu tahan sebentar ya, sebentar lagi selesai," bisik perawat itu.

Setelah perawat itu keluar, terdengar samar-samar bisikan antara dia dan rekan kerjanya di luar pintu.

"Kasihan sekali .... Lukanya begitu parah, tapi keluarganya nggak pernah datang sekali pun. Bahkan tanda tangan untuk operasi pun dia sendiri yang memaksakan dirinya untuk tanda tangan ...."

"Iya. Sedangkan Bu Lucinta di VIP sebelah hanya lecet sedikit saja, tapi Pak Yanto menjaganya tanpa beranjak selangkah pun. Aku dengar dia sampai menunda beberapa proyek besar bernilai ratusan triliun demi menemaninya ...."

"Nasib orang memang beda-beda!"

Ucapan itu seperti jarum kecil yang menusuk tajam ke hati Veronica, tetapi dia sudah mati rasa. Dia hanya memejamkan mata dan memalingkan kepala ke arah jendela, berpura-pura tidak mendengar apa pun.

Hari saat Veronica keluar dari rumah sakit, langit terlihat mendung. Setelah menyelesaikan administrasi dan baru saja melangkah keluar dari pintu utama rumah sakit, beberapa sahabat masa kecilnya sudah menunggu dengan mobil.

"Veronica! Di sini!"

Melihat senyuman familier dari wajah sahabatnya, hati Veronica yang tadinya terasa dingin akhirnya terasa sedikit hangat.

Malam harinya, para sahabat itu membawa Veronica ke bar langganan untuk merayakan dia akhirnya keluar dari lautan penderitaan dan kembali bebas.

"Baguslah kalau sudah cerai! Bajingan seperti Yanto memang sama sekali nggak pantas untukmu!"

"Benar! Veronica kita ini punya wajah serta tubuh yang cantik dan keluarga terpandang. Setelah cerai dari Yanto, orang yang mengejarmu bisa antre dari sini sampai Prancis!"

"Benar! Besok Kakak akan kenalkan beberapa pemuda tampan, dijamin seratus kali lebih baik daripada Yanto si muka es itu!"

Para sahabatnya terus bercanda dan berusaha membuat Veronica tertawa.

Veronica hanya menyesap minuman di gelasnya. Setelah sekian lama, senyumannya akhirnya kembali menghiasi wajahnya. Benar, untuk apa dia terus merendahkan diri demi pria yang tidak pernah mencintainya?

Di tengah acara, Veronica bangkit untuk pergi ke toilet. Namun, saat kembali, dia mendapati sofa tempat mereka duduk sudah kosong. Semua sahabatnya menghilang.

"Pelayan, teman-temanku ke mana?" tanya Veronica sambil menarik seorang pelayan yang kebetulan lewat.

Ekspresi pelayan itu terlihat serba salah, lalu menunjuk ke sebuah ruang VIP mewah di ujung lorong. "Tadi ... ada wanita mabuk yang bersikeras memesan pria pendamping. Setelah melihat-lihat, nggak ada yang cocok. Begitu melihat beberapa temanmu ... dia langsung suruh orang menyeret mereka masuk ke ruangan itu .... Cukup banyak pengawal di dalam, jadi kami juga nggak berani menghentikan ...."

Veronica langsung merasa gelisah. Beberapa sahabat masa kecilnya ini juga terkenal di kalangan atas, orang biasa jelas tidak akan berani mencari masalah dengan mereka. Kecuali ....

Sebuah firasat buruk langsung mencengkeram hati Veronica. Dia segera berlari menuju ruang VIP itu, lalu mendorong pintu dengan kuat.

Ternyata memang benar. Di dalam ruangan itu, Lucinta yang sedang mabuk berat sedang menarik tangan salah satu sahabatnya dan memaksa tubuh sahabatnya mendekat. Ekspresi sahabatnya itu sudah muram, tetapi masih berusaha menahan diri karena lawannya adalah seorang wanita.

"Lucinta, lepaskan temanku!" bentak Veronica sambil maju dan hendak memisahkan sahabatnya.

Tepat saat itu, terdengar suara dobrak dan pintu ruang VIP ditendang dengan keras dari luar.

Yanto masuk dengan ekspresi dingin, lalu langsung mencengkeram pergelangan tangan Lucinta dan berkata dengan nada yang menahan amarah, "Lulu, kenapa kamu datang ke tempat seperti ini?"

Lucinta langsung menepis tangan Yanto. Dengan mata yang setengah terbuka karena mabuk, dia menunjuk para sahabatnya Veronica dan berkata dengan nada manja sekaligus keras kepala, "Aku datang untuk pesan pria pendamping, memangnya nggak kelihatan ya? Yang ini lumayan, aku mau mereka menemaniku."

"Jangan macam-macam! Nggak boleh!" balas Yanto dengan ekspresi yang makin muram, lalu mengulurkan tangannya untuk menarik Lucinta.

Namun, Lucinta malah langsung mendorong Yanto, lalu menangis dengan kesal. "Kamu boleh macam-macam, kenapa aku nggak boleh? Kamu bahkan tersenyum pada wanita lain! Kamu juga berduaan dengan klien wanita itu di dalam kantor sampai berjam-jam. Kenapa aku nggak boleh keluar pesan pria pendamping?"

Asisten di samping buru-buru maju dan menjelaskan, "Bu Lucinta, kamu sudah salah paham. Pak Yanto sedang membahas proyek kerja sama yang sangat penting, nggak ada hubungan apa pun dengan wanita itu ...."

"Aku tidak peduli!"

Lucinta sama sekali tidak mau mendengar. Dalam keadaan mabuk, dia kembali hendak meraih tangan sahabatnya Veronica. "Pokoknya kalau kamu bisa dekat dengan wanita lain, aku juga mau!"

"Cukup!"

Veronica akhirnya tidak tahan lagi dan berdiri di depan sahabatnya sebagai pelindung. "Kalian mau bermesraan atau bertengkar, itu urusan kalian. Jangan menyeret dan mengganggu teman-temanku!"

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Dinikahi Pria Terkaya, Tetapi Hatiku Sepi Merana   Bab 21

    Berbeda jauh dengan kecerahan di Paris, sebuah tempat perawatan mewah yang terpencil di Swiss selalu diselimuti suasana dingin yang sunyi.Yanto tinggal di sebuah vila di tepi danau. Lingkungannya indah luar biasa, tetapi juga terasa kosong dan menyesakkan. Sejak meninggalkan Afrika, dia menetap di sini untuk "pemulihan" dalam jangka panjang.Di mata orang lain, dia adalah sosok yang mundur di puncak kesuksesan dan menikmati hidup. Hanya dia sendiri yang tahu, ini adalah bentuk pengasingan diri tanpa batas waktu. Dia menjadi sangat pendiam dan sering kali tidak mengucapkan sepatah kata pun seharian penuh.Rambut putih di pelipisnya semakin banyak dan di matanya tersisa kelelahan dan kesunyian yang tak terhapuskan. Dia bisa duduk berjam-jam di tepi danau untuk menatap air yang dingin, dengan tatapan kosong. Entah apa yang dipikirkannya saat itu.Di sampingnya, sering tergeletak majalah bisnis. Di sampulnya, kadang ada wawancara Veronica, dengan fotonya yang bersinar.Yanto melihatnya be

  • Dinikahi Pria Terkaya, Tetapi Hatiku Sepi Merana   Bab 20

    Yanto membayangkan sosok Veronica yang berdiri di bawah sorotan lampu sambil menerima trofi dengan senyum percaya diri dan gemilang. Semua itu adalah kejayaan yang seharusnya menjadi milik Veronica sejak dulu. Namun karena dirinya, kesuksesan itu tertunda selama bertahun-tahun.Yanto memejamkan mata. Yang terlintas di benaknya adalah saat dia pertama kali menikah dengan Veronica. Dari sepasang mata yang penuh rasa takut dan harapan, bayangan Veronica saat diam-diam menyiapkan makan malam di vila, air mata putus asa di kantor polisi, dan tatapan terakhir Veronica padanya yang dingin dan tanpa emosi.Setetes air mata mengalir dari sudut matanya, lalu menghilang ke dalam kerah pakaian dengan cepat.Saat dia membuka mata lagi, gejolak hebat di dalam tatapannya telah mereda. Yang tersisa hanyalah doa yang jauh, pasrah, dan kelegaan yang sepenuhnya.Yanto telah mengampuni dirinya sendiri dan akhirnya menerima kenyataan bahwa Veronica akan selalu bahagia, tetapi tidak akan pernah menjadi mili

  • Dinikahi Pria Terkaya, Tetapi Hatiku Sepi Merana   Bab 19

    Waktu selama tiga tahun telah cukup untuk menunjukkan hasil akhir dari banyak hal.Nama Veronica kini telah menjadi nama yang dihormati di dunia desain.Skala studionya berkembang lebih dari dua kali lipat. Karya-karyanya memadukan estetika timur dengan pemikiran modern. Dia sering tampil di galeri internasional ternama dan penghargaan terus mengalir tanpa henti.Dia bukan lagi bayangan siapa pun, melainkan dirinya sendiri, sang desainer Veronica.Hidupnya terasa penuh dan tenang. Dia tidak terburu-buru memulai pernikahan baru, melainkan menikmati ritme hidup yang sepenuhnya dia kendalikan sendiri.Hubungannya dengan Willy stabil dan nyaman. Mereka adalah partner yang selaras dalam pekerjaan, sekaligus sahabat yang bisa saling berbagi dalam kehidupan. Rasa hormat, pengertian, dan kebersamaan yang tenang dari Willy membuatnya merasakan kedamaian dan rasa aman yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.Veronica sendiri tidak terburu-buru untuk menentukan apakah hubungan mereka bisa melang

  • Dinikahi Pria Terkaya, Tetapi Hatiku Sepi Merana   Bab 18

    Setiap kali ada kabar baik tentang Veronica, malam itu, lemari anggur di ruang kerja Yanto akan terbuka. Yanto tidak membutuhkan siapa pun untuk menemaninya. Dia hanya duduk sendirian dalam kegelapan sambil meneguk seteguk demi seteguk alkohol sambil menghadap jendela kaca besar dengan gemerlap lampu kota di luar.Melihat senyum percaya diri Veronica saat menerima penghargaan di layar, dia akan tertawa pelan. Namun saat tertawa, air matanya tiba-tiba mengalir, bercampur dengan rasa tajam wiski yang membakar tenggorokan dan jantungnya.Itu adalah emosi yang sangat rumit. Ada kebanggaan yang tulus untuk Veronica, ada penyesalan yang mendarah daging, ada rasa kehilangan yang tak bisa ditebus, dan pada akhirnya semua itu berubah menjadi kesepian yang tak berbatas.Seolah menjaga sebuah rahasia yang tak bisa diungkapkan, dia diam-diam menggunakan segala cara untuk membersihkan setiap rintangan di jalan masa depan Veronica.Saat ada pesaing tak tahu diri yang mencoba menekannya dengan cara k

  • Dinikahi Pria Terkaya, Tetapi Hatiku Sepi Merana   Bab 17

    Apa saja yang sudah dia lakukan?!Rasa sakit dan penyesalan yang begitu besar seketika menggerogoti jantungnya dan membuatnya nyaris tak bisa bernapas. Dia langsung berlari keluar, sekarang hanya ada satu pemikiran di benaknya.Menemukan Veronica!Yanto menunggu di bawah gedung studio tempat Veronica bekerja dan menunggu di depan pintu apartemen barunya.Pria yang dulunya begitu angkuh dan rapi, kini dagunya dipenuhi janggut kasar. Matanya tampak cekung dan jasnya kusut melekat di tubuhnya. Hanya sepasang mata yang memerah itu yang tetap menatap setiap pintu masuk dan keluar dengan intens.Saat akhirnya dia melihat sosok anggun itu muncul, jantungnya berdegup kencang.Yanto tersandung saat berlari untuk mengadang di depan Veronica. Suaranya terdengar serak karena demam tinggi dan kegelisahan, "Vero ... Veronica! Maaf ... maaf! Aku salah ... aku sudah tahu semuanya ...."Yanto tergagap dan mencoba meraih tangan Veronica, tetapi Veronica malah menghindar dengan santai dan tegas."Aku tah

  • Dinikahi Pria Terkaya, Tetapi Hatiku Sepi Merana   Bab 16

    Ternyata ... kenyataannya seperti ini. Yanto akhirnya tahu Lucinta tidak pernah selalu setia menemaninya dan tidak pernah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya juga. Hanya Veronica yang nekat tanpa memikirkan diri sendiri dan kedua tangan berlumuran darah, sedangkan Lucinta hanya berpura-pura dan merebut jasa orang lain tanpa malu.Semua toleransi yang diberikan Yanto selama bertahun-tahun ini, semua tindakan mengalah yang dilakukannya, dan semua rasa bersalah serta tanggung jawab karena utang budi. Ternyata semua yang diberikannya pada Lucinta hanya menjadi lelucon terbesar dalam hidupnya.Sementara itu, apa yang telah dilakukan Yanto pada penyelamat nyawanya yang sebenarnya?Karena Veronica menyelidiki Lucinta, Yanto sengaja menciptakan kecelakaan mobil untuk memperingatkan Veronica. Saat di kantor polisi, dia membiarkan Lucinta mempermalukan Veronica dan bahkan menyuruh Veronica pergi. Hanya karena Lucinta ingin makan kue, dia menyeret Veronica turun dari meja operasi dan meng

  • Dinikahi Pria Terkaya, Tetapi Hatiku Sepi Merana   Bab 9

    Veronica kesakitan sampai merasa dirinya hampir mati.Dokter pribadi akhirnya datang setelah mendengar kabar Veronica dan segera memberikan obat pereda nyeri kuat serta antiinflamasi, lalu menangani luka di punggung Veronica dengan hati-hati. Dia mengingatkan, "Untung saja ditangani tepat waktu. Ini

  • Dinikahi Pria Terkaya, Tetapi Hatiku Sepi Merana   Bab 8

    Dalam beberapa hari berikutnya, Veronica menyaksikan sendiri Yanto memanjakan seseorang sampai sejauh mana. Saat Lucinta bilang ingin makan jelly bunga sakura yang harus dikirim lewat penerbangan khusus, Yanto langsung memborong penerbangan internasional dini hari hanya untuk mengantar jelly itu.Sa

  • Dinikahi Pria Terkaya, Tetapi Hatiku Sepi Merana   Bab 7

    Saat menatap lampu belakang mobil Yanto yang melaju menjauh, tubuh dari para sahabatnya Veronica gemetar karena marah. Namun, mereka hanya bisa buru-buru membawa Veronica yang terluka parah ke rumah sakit terlebih dulu.Saat kembali terbangun di rumah sakit, yang ada di sisi Veronica hanya seorang p

  • Dinikahi Pria Terkaya, Tetapi Hatiku Sepi Merana   Bab 6

    Yanto akhirnya menatap Veronica dengan dingin, lalu ekspresinya langsung sangat muram saat melihat beberapa pria tampan dan berwibawa yang berdiri di belakang Veronica. "Veronica, aku sudah peringatkan kamu jangan berniat buruk pada Lulu. Kenapa? Kamu sendiri saja nggak cukup jadi kamu suruh teman-t

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status