LOGIN“Saya... bersedia.”
Suaranya lirih. Kedua tangannya gemetar di balik buket bunga putih yang ia genggam erat. Bibirnya bergetar, tetapi ia memaksakan diri tetap tegar. Di hadapannya, Bram berdiri dengan setelan jas hitam. Ekspresinya sedingin batu. Penghulu menoleh kepada Bram. “Apakah Saudara Bram Wijaya bersedia menerima Evelyn Widyadana sebagai istri Saudara?” Bram menghela napas pendek. “Saya bersedia.” Penghulu mengangguk. “Mulai hari ini, Saudara berdua resmi menjadi suami istri. Semoga pernikahan ini diberkahi dan dilindungi oleh Yang Maha Kuasa.” Tepuk tangan menggema memenuhi ruangan. Lampu kamera berkilatan dari berbagai arah. Para tamu tersenyum dan mengangkat gelas mereka. Saat cincin disematkan ke jari manisnya, Evelyn hanya mampu menunduk. ~~~ Resepsi berlangsung sangat mewah. Evelyn berdiri di dekat meja utama dengan gaun pengantin putih. “Selamat ya, Nyonya Besar.” Suara Ibu Wijaya terdengar di sampingnya. Evelyn menoleh dan melihat wanita paruh baya itu mendekat dengan senyum manis, meraih tangan Evelyn dengan lembut di depan para tamu. “Kami sangat senang menerimamu di keluarga ini, Nak.” Ketika ia menunduk untuk berpura-pura mencium pipi Evelyn, bibirnya bergerak di dekat telinga Evelyn. “Jangan salah paham, Nak. Satu cincin nggak akan mengubah darahmu.” Evelyn tetap diam memaksakan diri tersenyum di depan publik. Tante Wijaya melanjutkan dengan suara pelan. “Kamu tetap gadis miskin yang dibeli.” Ia menarik kembali tubuhnya dan tersenyum lebar lagi. Beberapa tamu wanita mulai mendekati mereka. Mereka adalah istri-istri pengusaha dan pejabat yang menjadi mitra bisnis keluarga Wijaya. “Wah, ini menantu baru ya?” salah satu dari mereka bertanya sambil tersenyum ramah. “Cantik juga.” timpal yang lain. “Seperti bidadari, Bram pasti sangat beruntung.” Tante Wijaya tersenyum tipis. Ia menghela napas panjang dengan cara yang dibuat-buat. “Cantik memang. Sayangnya, latar belakangnya kurang pantas.” Beberapa tamu saling berpandangan dengan ekspresi terkejut. Tante Wijaya tertawa kecil, seolah sedang berbagi gosip. “Kasihan Bram, terpaksa menikahi perempuan dari keluarga penuh utang. Tapi ya sudahlah, namanya juga takdir.” Evelyn merasakan darahnya mendidih. Ia menggenggam rok gaunnya erat-erat. Seorang tamu wanita lainnya mengerutkan dahi. “Oh, begitu ya?” “Evelyn!” Tubuhnya menegang. Ia tahu betul siapa pemilik suara itu. Perlahan, ia menoleh. Papa. Pria itu datang dengan jas lusuh terlalu besar untuk tubuhnya. Jas hitam kusut dengan beberapa noda di bagian kerah. Sepatunya sudah usang dan kotor. Wajahnya penuh dengan senyum canggung yang memperlihatkan gigi kuningnya. Di tangannya, ia membawa amplop coklat. Beberapa tamu mulai menoleh dan berbisik-bisik. Evelyn ingin menghilang saat itu juga. Pria itu berjalan terhuyung mendekati Evelyn. Ia menepuk bahu putrinya dengan kasar. “Selamat ya, Nak.” Evelyn tidak mampu membalas senyum itu. “Papa ngapain ke sini? Papa kan sudah papa janji nggak akan datang.” “Ada sedikit urusan.” jawab ayahnya sambil matanya langsung mencari Bram di antara kerumunan. Begitu matanya menemukan Bram, pria itu segera berjalan ke arah menantu barunya. Evelyn mengikuti dengan langkah tergesa-gesa, mencoba menahan ayahnya, tetapi sudah terlambat. Ayah Evelyn membungkukkan badan di hadapan Bram. “Tuan Bram.” katanya dengan nada memelas. “Terima kasih sudah menyelamatkan keluarga kami. Kami sangat berterima kasih.” Bram hanya mengangguk tipis. Ekspresinya tetap datar tapi matanya menajam. Ia bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Dengan wajah penuh harap, ayah Evelyn berkata, “Kalau boleh, saya butuh sedikit uang lagi.” Evelyn membelalak. “Papa!” suaranya meninggi. Beberapa tamu terdekat mulai memperhatikan. “Cuma buat modal usaha, Nak.” ayahnya berkata dengan nada memelas. “Papa mau buka warung kecil, nanti papa bisa mandiri.” “Papa serius?” Pria itu menggaruk tengkuknya yang botak. “Nanti Papa ganti kok. Papa janji.” “Ganti pakai apa?” Suara Evelyn mulai bergetar, matanya berkaca-kaca. “Papa bahkan belum bertanggung jawab atas semua ini! Hutang-hutang papa yang dulu, semuanya sekarang ditanggung oleh Bram!” Beberapa tamu mulai berkerumun di sekitar mereka. Bisik-bisik terdengar di berbagai sudut. Tante Wijaya menyeringai dari kejauhan, menikmati pertunjukan yang sedang berlangsung. Ayah Evelyn justru menarik lengan Bram dengan gerakan memelas. “Tuan, saya tahu saya tidak punya apa-apa, tapi anggap saja ini hadiah pernikahan untuk putri saya.” “Akan saya pikirkan.” jawabnya singkat. Jawaban singkat itu sudah cukup membuat ayah Evelyn tersenyum lebar. “Terima kasih, Tuan! Terima kasih banyak!” Ia lalu berbalik dan berjalan meninggalkan mereka dengan langkah ringan. Sementara Evelyn hanya mampu memejamkan mata. Rasa malu yang semakin menghimpit dadanya terasa begitu menyakitkan. “Selamat ya, Bram.” Suara perempuan yang lembut memecah suasana. Evelyn membuka matanya dan melihat seorang wanita cantik berjalan anggun. Sinta. “Aku ikut bahagia.” ucapnya dengan suara bergetar. Tangannya meraih tangan Bram dan menggenggamnya erat, lalu memeluk Bram. Evelyn membeku, dadanya terasa sesak. Sinta bahkan memejamkan mata sejenak, menghirup aroma parfum Bram. “Aku doakan kamu bahagia.” bisiknya. Bram tidak membalas pelukan itu. Tubuhnya tetap diam menerima pelukan itu. Saat akhirnya mundur, Sinta menoleh kepada Evelyn. “Halo, Nyonya Wijaya. Jaga Bram baik-baik, aku mengenalnya lebih lama daripada siapa pun.” Evelyn merasakan tusukan di hatinya. Ia menatap Sinta dengan tatapan datar. “Aku nggak butuh nasihatmu.” Senyum Sinta tipis, matanya menyipit. “Semoga begitu.” Ia lalu berbalik dan pergi dengan anggun. Beberapa tamu mengikuti gerakannya dengan tatapan kagum. Evelyn menatap punggung Sinta yang menjauh. Bram menoleh ke arah Evelyn. “Kita harus menyapa tamu lainnya. Ikuti aku.” Evelyn mengangguk patuh. Ia mengikuti langkah Bram menyapa para tamu satu per satu, menerima ucapan selamat dengan senyum palsu. Tak lama kemudian seorang pelayan menghampiri Evelyn dan berbisik, “Nyonya, sudah waktunya berganti pakaian untuk acara selanjutnya.” Evelyn mengangguk. Ia mengikuti pelayan itu ke ruang ganti di lantai atas. Di dalam ruangan, Evelyn duduk di depan meja rias. Air mata yang selama ini ia tahan akhirnya mengalir deras. Ia menangis dalam diam, tubuhnya bergetar hebat. Tangannya menggenggam meja rias erat-erat. Seorang asisten merias wajahnya kembali dengan hati-hati. “Tenang, Nyonya.” katanya lembut. Setelah riasannya diperbaiki dan berganti ke gaun kedua, Evelyn kembali ke aula resepsi. Bram sedang berbicara dengan beberapa tamu bisnis. Saat melihat Evelyn datang, ia hanya melirik lalu mengabaikannya. Nyonya Surya, istri dari salah satu mitra bisnis Bram, mendekati Evelyn dengan senyum ramah. “Selamat ya, Nyonya Wijaya. Pernikahan yang sangat indah.” “Terima kasih.” jawab Evelyn dengan suara terlatih. “Ikut berbahagia untuk Bram, ia akhirnya menemukan pendamping.” kata Nyonya Surya sambil mengamati cincin di jari Evelyn. “Cincinnya cantik sekali, pasti sangat mahal.” Evelyn tersenyum tipis. “Iya.” “Tapi...” Nyonya Surya menunduk mendekat, “...saya dengar kamu dari keluarga kurang mampu?” Pertanyaan itu sudah ia duga. Tante Wijaya pasti sudah menyebarkan gosip ke seluruh penjuru ruangan. “Nggak apa-apa.” lanjut Nyonya Surya dengan nada yang dibuat-buat. “Setiap orang punya masa lalu, yang penting sekarang kamu sudah menjadi bagian dari keluarga Wijaya.” Evelyn mengangguk. Ia tidak memiliki kekuatan untuk berkata lebih banyak. “Terima kasih.”Tok. Tok. Tok.“Nyonya Evelyn, Ibu Wijaya memanggil di ruang keluarga.” suara pelayan dari balik pintu terdengar sopan tapi tegas.Evelyn menutup matanya, menarik napas dalam-dalam. Wanita itu selalu punya timing sempurna untuk menghancurkan momen apa pun. Evelyn merapikan rambutnya yang berantakan dan membuka pintu.Pelayan itu menunduk hormat. “Ikuti saya, Nyonya.”Evelyn mengikuti tanpa suara.Di ruang keluarga, Ibu Wijaya sudah duduk di sofa utama.Evelyn masuk dengan langkah pelan. “Ibu memanggilku?”Ibu Wijaya mengangkat kepalanya perlahan. Matanya menyusuri Evelyn dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Duduk, Evelyn.”Evelyn duduk di kursi di seberang Ibu Wijaya, tangannya meremas ujung roknya.Ibu Wijaya menyesap tehnya, lalu meletakkan cangkirnya kembali. “Kau tahu mengapa aku memanggilmu?”Evelyn menggeleng pelan.Ibu Wijaya menghela napas panjang. “Aku melihat caramu makan ma
Kevin mengulurkan tangannya dengan gerakan ramah. “Halo, aku Kevin. Adik Bram. Senang akhirnya bertemu. Bram sama sekali nggak memberitahuku bahwa dia menikah. Aku bahkan sama sekali nggak diundang.” Evelyn tersenyum tipis dan menyambut uluran tangan Kevin. “Halo, aku Evelyn. Senang bertemu juga.” Kevin menggenggam tangannya sebentar, lalu melepaskannya dengan ramah. “Kamu jauh lebih cantik dari yang kubayangkan. Kak Bram, kenapa kau nggak pernah mengirim fotonya?” “Nggak perlu.” jawab Bram datar. “Masuklah ke dalam, kau pasti lelah.” Bram melangkah masuk ke mansion, meninggalkan Kevin dan Evelyn di halaman. Kevin menatap punggung kakaknya, lalu berbisik pada Evelyn, “Dia selalu begitu, tapi aku sudah terbiasa. Yuk, masuk.” Evelyn mengangguk canggung, mereka berjalan masuk bersama. Bram sudah ke atas ke ruang kerjanya. Begitu Evelyn dan Kevin memasuki ruang keluarga, I
Pagi ini baru pukul setengah tujuh, matahari baru saja menyembul di balik gedung-gedung tinggi, dan Bram sudah berdiri di depan pintu ruang makan dengan penampilan yang sempurna. “Ikut aku ke kantor hari ini.” Evelyn yang baru selesai menaruh cangkir teh di atas meja dapur langsung menoleh tidak percaya. “Apa?” tanyanya, masih berpikir bahwa ia salah dengar. Bram berdiri di ambang pintu ruang makan. Seluruh penampilannya menunjukkan seorang pria yang sudah siap menghadapi hari, sementara Evelyn masih mengenakan daster dengan rambut yang belum sempat ia sisir. “Ikut aku ke kantor.” ulang Bram. “Aku nggak mau.” Evelyn langsung menolak tanpa pikir panjang. Ia menoleh kembali ke cangkir tehnya yang masih mengepul, berharap Bram akan pergi begitu saja. “Itu perintah, Evelyn.” Suara Bram sedikit lebih tegas kali ini. Evelyn menghela napas panjang, meletakkan cangkir tehn
Sepanjang perjalanan, tidak ada yang berbicara. “Kenapa diam?” Suara Bram memecah keheningan tanpa menoleh. Evelyn tertawa lirih. “Masih tanya kenapa? Aku kehilangan hidupku, Bram. Kamu tahu rasanya seperti apa? Seperti burung di dalam sangkar emas. Semua orang bilang beruntung, tapi aku cuma mau terbang.” Bram tetap menatap jalan, jari-jarinya menggenggam setir dengan erat. “Kamu masih istriku.” “Aku bukan istrimu.” Jawaban itu keluar begitu cepat dengan tajam. “Aku cuma tanda tangan di atas kertas.” “Kamu kan sudah memilih.” Evelyn menoleh tajam. “Memilih? Aku dipaksa! Kalau waktu itu aku menolak, Rara mungkin sudah meninggal! Kalau aku tahu pernikahan ini akan menghancurkanku seperti ini, aku akan memilih cara lain.” Mobil berbelok ke jalan yang lebih sepi, tanda mereka semakin mendekati mansion yang menjadi penjara bagi Evelyn. Begitu turun, Evelyn langsung ber
Kain pel itu jatuh ke lantai. Evelyn berdiri di tengah ruangan yang luas, napasnya memburu. Saat itu juga, Bram turun dari lantai dua, ia baru saja pulang dari kantor dan belum sempat mengganti pakaian. Tatapannya tertuju pada ember dan kain pel yang tergeletak dekat kaki Evelyn. “Kenapa berhenti?” suara Bram datar, tanpa nada. Evelyn menoleh tajam. “Pekerjaan gila! Gimana aku bisa bersihin keseluruhan sendirian? Aku nggak mau jadi budak kalian!” Bram mendekat. “Nggak ada yang menyuruhmu menjadi budak.” “Oh ya? Tapi kenapa aku dikasih pekerjaan yang nggak ngotak?” Evelyn tertawa hambar, suaranya meninggi. “Itu kan cuma pekerjaan rumah, bukankah kamu sendiri yang mengatakan ingin berguna?” “Pekerjaan rumah?” Evelyn mendengus. Tangannya menunjuk ke segala penjuru ruangan. “Rumah ini luasnya lebih besar daripada apartemen yang kutinggali seumur hidup! Nggak mungkin satu orang menger
Beberapa menit kemudian, setelah Evelyn pergi menuju ruang makan, Bram memasuki perpustakaan untuk mengambil berkas yang ia tinggalkan. Namun pandangannya justru tertuju pada buku catatan yang terbuka di atas meja dekat jendela. Awalnya ia hendak menutupnya. Bukan urusannya melihat isi buku pribadi Evelyn, tapi saat tangannya hampir menyentuh sampul sebuah nama menarik perhatiannya di halaman yang terbuka. Dokter Ryan. Ia meletakkan buku itu kembali di tempat semula, lalu ia berbalik dan meninggalkan perpustakaan, mengambil berkas biru yang ia cari di meja lain. Saat melangkah keluar, ia bertemu dengan Pak Budi di koridor. “Pak Budi, tolong cari tahu tentang seorang dokter bernama Ryan.” Pak Budi mengangguk tanpa banyak bertanya. “Baik, Tuan.” Bram melangkah pergi, meninggalkan Pak Budi yang segera mengeluarkan ponselnya. Di ruang makan, Evelyn duduk







