로그인Tangannya langsung kehilangan tenaga. Otot-ototnya ketakutan. Perlahan, ia menoleh.
Bram berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana. Jas hitamnya masih rapi. Tatapannya dingin menusuk seolah ia sudah tahu rencana Evelyn. “Evelyn.” Suaranya terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menangkap calon istrinya melarikan diri. “Turun.” Evelyn menggeleng cepat, matanya liar mencari jalan keluar. “Nggak.” “Turun.” “Aku nggak akan menikah sama kamu!” Suaranya bergetar, tapi ia berusaha terdengar tegas. “Aku lebih baik mati daripada menjadi istri orang seperti kamu!” Bram menghela napas pelan, seolah ia sedang menghadapi anak kecil yang keras kepala. “Jangan mempersulit keadaan, Evelyn. Turun dari sana sebelum kamu terluka.” “Yang mempersulit hidupku itu kamu!” Dengan nekat, Evelyn mencoba melompat ke sisi luar pagar. Kaki-kakinya mendorong dinding dengan sekuat tenaga. Namun baru beberapa langkah, sepatu kets murah yang dipakainya tergelincir. Tubuhnya kehilangan keseimbangan. “Aah!” Sepasang lengan menangkapnya. Evelyn merasakan genggaman di pinggang dan punggungnya. Bram. Pria itu menangkapnya sebelum tubuhnya menghantam lantai batu, ia menarik Evelyn kembali, memegangnya erat. “Lepasin aku!” Evelyn meronta sekuat tenaga. Kedua tangannya memukul-mukul dada pria itu. “Aku benci kamu! Aku benar-benar benci kamu!” “Kamu boleh benci aku, tapi berhentilah bergerak. Kamu bakal jatuh lagi.” jawab Bram datar. “Aku nggak mau!” Evelyn terus meronta, kakinya menendang-nendang udara. “Lepasin! Lepasin, bajingan!” Bram langsung mengangkat tubuh Evelyn, menggendongnya seperti karung beras. Pria itu berjalan menuju pintu belakang mansion dengan tenang. “Turunkan aku! Kamu dengar nggak?!” Evelyn menendang-nendang udara, tetapi genggaman Bram tidak bergeming. “Aku bukan benda! Kamu nggak bisa memperlakukan aku seperti ini!” Para pengawal yang berjaga hanya menundukkan kepala, tak berani ikut campur. Bram membawa Evelyn kembali masuk ke dalam mansion, melewati pintu belakang yang terbuka lebar. Lampu-lampu koridor menyala otomatis saat mereka lewat. Sepanjang koridor panjang yang sunyi, suara protes Evelyn menggema di antara dinding-dinding marmer. “Kamu penculik! Kamu psikopat! Kamu gila! Ini penculikan! Aku akan lapor polisi!” Bram tetap berjalan dengan langkah mantap. Evelyn terus meronta. Akhirnya mereka tiba di depan kamar utama. Bram menggeser pegangan pintu dengan satu tangan, masih menggendong Evelyn dengan tangan satunya. Pintu berat berbahan kayu jati terbuka. Lalu... Bruk. Evelyn didudukkan di tepi ranjang besar. Ia langsung berdiri, matanya menatap Bram dengan penuh kebencian. “Aku mau keluar sekarang.” Belum sempat melangkahkan kaki, Bram sudah berdiri di depan pintu. Tubuhnya yang tinggi dan tegap menghalangi jalan keluar. “Kamu nggak berhak mengurung aku.” Evelyn mengepalkan tangan. “Ini ilegal, kamu nggak bisa memaksaku tetap di sini.” “Aku berhak memastikan calon istriku nggak kabur.” jawab Bram dengan tenang. “Terutama calon istri yang sudah menunjukkan niatnya untuk kabur sebelum pernikahan.” “Aku bukan calon istrimu! Aku nggak pernah setuju sama ini!” “Besok kamu bakal jadi istriku.” Evelyn tertawa sinis, suaranya penuh kepahitan. “Aku akan berteriak bahwa ini semua paksaan. Aku akan mengatakan pada semua orang bahwa kamu—” “Kalau perlu,” potong Bram dengan bisikan berbahaya, “aku akan membuatmu berdiri dengan mulutmu ditutup.” Dada Evelyn naik turun menahan emosi. Matanya berkaca-kaca, tapi ia menolak menangis di depan pria ini. “Kamu benar-benar monster.” “Sudah selesai?” Evelyn maju selangkah, menatap langsung ke mata Bram. “Ayahku yang menjualku, aku nggak punya hubungan sama semua ini.” Tatapan Bram semakin tajam. “Lalu kenapa ayahmu begitu mudah menyerahkanmu?” Pertanyaan itu membuat Evelyn terdiam. Ia sendiri tidak tahu jawabannya. “Aku juga nggak tahu....” bisiknya kehilangan amarahnya. Bram mendekat perlahan. “Kamu yakin ayahmu nggak menyuruhmu melakukan sesuatu?” Evelyn mengerutkan kening. “Apa maksudmu?” “Kamu mata-mata ayahmu, ya?” tanya Bram dengan suara rendah. Evelyn membelalak. “Apa?” “Jangan pura-pura nggak ngerti.” “Aku sama sekali nggak ngerti omonganmu!” Evelyn mundur, menjauh dari tatapan Bram. “Mata-mata untuk apa?” “Utang itu terlalu besar.” kata Bram pelan. “Ayahmu terlalu tenang saat menyerahkanmu. Dia nggak bernegosiasi ataupun meminta waktu. Dia langsung setuju ketika aku menyebut pernikahan. Nggak mungkin semuanya kebetulan.” Evelyn menggeleng keras, rambutnya berayun ke kiri dan kanan. “Aku bahkan nggak tahu dia berutang! Aku nggak tahu apa-apa sampai kamu datang ke apartemenku!” “Kamu bisa bicara apa saja, tapi aku nggak punya alasan untuk percaya ke kamu.” jawab Bram dingin. “Aku nggak punya bukti karena emang aku nggak bersalah!” Suara Evelyn mulai bergetar karena marah dituduh. “Kalau aku memang mata-mata, buat apa aku mencoba kabur? Bukankah seharusnya aku tinggal diam dan menjalankan rencanaku?” Bram tidak menjawab. Ia berjalan ke arah sofa besar di dekat jendela. “Mulai malam ini kamu tidur di sini.” Evelyn mengernyit. “Kamar ini? Aku nggak mau tidur sekamar denganmu.” “Aku nggak akan memberimu kesempatan kabur lagi.” Bram duduk di sofa, melepas dasinya dengan lelah. “Kamu sudah membuktikan kamu akan mencoba kabur pada kesempatan pertama. Jadi, satu-satunya cara adalah menjagamu tetap di dekatku.” Evelyn tertawa sinis. “Jadi sekarang aku tahanan?” “Anggap saja begitu.” “Kamu pikir aku akan tidur nyenyak di kamar orang yang paling kubenci?” “Aku juga nggak berharap kamu nyenyak.” Bram melepas jasnya, lalu meletakkannya di sandaran kursi. “Aku tidur di sofa, kamu di ranjang. Nggak ada yang perlu kamu takutkan.” Evelyn terkejut. “Aku nggak percaya sama kamu.” kata Evelyn pelan. Bram menatapnya dari sofa. “Aku juga nggak percaya sama kamu.” Evelyn duduk di ujung ranjang. Matanya tak lepas dari Bram yang kini duduk di sofa sambil membuka laptop. Evelyn akhirnya bersandar perlahan di atas bantal. Tanpa sadar, ia benar-benar tertidur. ~~~ Krek. Suara pintu dibuka membuat Evelyn langsung terbangun kaget. Jantungnya berdegup kencang. Ia duduk tegak di ranjang, matanya menyipit karena cahaya matahari masuk melalui tirai yang disibakkan pelayan. “Selamat pagi, Nona.” Pelayan muda bernama Lina tersenyum ramah, matanya menunjukkan rasa iba. “Tuan meminta Anda segera bersiap. Hari ini upacara pernikahan dimulai pukul sepuluh, kami sudah menyiapkan semua perlengkapan di kamar mandi.” Hari yang ia hindari akhirnya datang juga.Menjelang siang, suasana rumah mulai ramai kembali. Sebuah mobil sport putih memasuki halaman mansion. Pelayan segera membukakan pintu. Dari mobil, Sinta turun anggun. Ia membawa map hitam tebal di tangannya. Di sisi lainnya, ia menggenggam tas tangan bermerek. “Bram ada?” tanya Sinta pada pelayan yang menyambutnya. “Di ruang kerja, Nona.” Sinta mengangguk lalu masuk rumah itu. Saat melewati ruang keluarga, ia melihat Evelyn sedang menyiram tanaman di dekat jendela besar. Evelyn mengenakan gaun dan apron hijau, tangannya memegang gembor kecil. “Halo.” sapa Sinta dengan suara lembut. Evelyn hanya mengangguk singkat. Ia tidak memiliki energi untuk berbasa-basi. “Aku datang mengantar dokumen perusahaan, nggak usah tegang.” kata Sinta dengan senyum. Evelyn mengangkat alis. “Benarkah?” Sinta tersenyum lebih lebar. “Iya, aku cuma teman lama Bram.” Ia melangkah mendekat, lalu Sinta berbisik pelan. “Kalau aku jadi kamu, aku nggak akan nyaman tinggal di rumah ini.” Evelyn menatapn
Lambat laun, para tamu berpamitan. Malam mulai larut. Lampu aula perlahan dipadamkan. Para pelayan mulai membersihkan meja-meja. Evelyn berdiri di dekat pintu utama. Bram berdiri di sampingnya memberi salam pada tamu yang berpamitan. “Selamat malam, Bram. Selamat malam, Nyonya Wijaya.” kata Pak Hartono, salah satu kerabat dekat keluarga Wijaya. Ia menepuk punggung Bram. “Semoga cepat diberi momongan ya.” Bram tersenyum tipis. “Terima kasih, Pak.” Evelyn menunduk malu. Setelah semua tamu pergi, Evelyn menghela napas panjang. Seorang pelayan mengantarnya menuju kamar utama di lantai paling atas. Pintu besar terbuka perlahan. Ruangan itu kini dihiasi bunga putih dan lilin-lilin kecil yang menyala redup. Evelyn berdiri di dekat pintu. Kakinya terasa berat untuk melangkah masuk. Ia menggenggam ujung gaunnya erat-erat, mencoba menenangkan jantungnya. Tak lama kemudian, pintu terbuka lagi dan Bram masuk. Ia melepas dasinya dengan kasar, lalu melepas jam tangan mahalnya dan meletakkan
Lambat laun, para tamu berpamitan. Malam mulai larut. Lampu aula perlahan dipadamkan. Para pelayan mulai membersihkan meja-meja. Evelyn berdiri di dekat pintu utama. Bram berdiri di sampingnya memberi salam pada tamu yang berpamitan. “Selamat malam, Bram. Selamat malam, Nyonya Wijaya.” kata Pak Hartono, salah satu kerabat dekat keluarga Wijaya. Ia menepuk punggung Bram. “Semoga cepat diberi momongan ya.” Bram tersenyum tipis. “Terima kasih, Pak.” Evelyn menunduk malu. Setelah semua tamu pergi, Evelyn menghela napas panjang. Seorang pelayan mengantarnya menuju kamar utama di lantai paling atas. Pintu besar terbuka perlahan. Ruangan itu kini dihiasi bunga putih dan lilin-lilin kecil yang menyala redup. Evelyn berdiri di dekat pintu. Kakinya terasa berat untuk melangkah masuk. Ia menggenggam ujung gaunnya erat-erat, mencoba menenangkan jantungnya. Tak lama kemudian, pintu terbuka lagi dan Bram masuk. Ia melepas dasinya dengan kasar, lalu melepas jam tangan mahalnya dan meletakkan
“Saya... bersedia.”Suaranya lirih. Kedua tangannya gemetar di balik buket bunga putih yang ia genggam erat. Bibirnya bergetar, tetapi ia memaksakan diri tetap tegar.Di hadapannya, Bram berdiri dengan setelan jas hitam. Ekspresinya sedingin batu.Penghulu menoleh kepada Bram. “Apakah Saudara Bram Wijaya bersedia menerima Evelyn Widyadana sebagai istri Saudara?”Bram menghela napas pendek. “Saya bersedia.”Penghulu mengangguk. “Mulai hari ini, Saudara berdua resmi menjadi suami istri. Semoga pernikahan ini diberkahi dan dilindungi oleh Yang Maha Kuasa.”Tepuk tangan menggema memenuhi ruangan. Lampu kamera berkilatan dari berbagai arah. Para tamu tersenyum dan mengangkat gelas mereka.Saat cincin disematkan ke jari manisnya, Evelyn hanya mampu menunduk.~~~ Resepsi berlangsung sangat mewah. Evelyn berdiri di dekat meja utama dengan gaun pengantin putih.“Selamat ya, Nyonya Besar.”Suara Ibu Wijaya terdengar di sampingnya. Evelyn menoleh dan melihat wanita paruh baya itu mendekat denga
Tangannya langsung kehilangan tenaga. Otot-ototnya ketakutan. Perlahan, ia menoleh.Bram berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana. Jas hitamnya masih rapi. Tatapannya dingin menusuk seolah ia sudah tahu rencana Evelyn.“Evelyn.” Suaranya terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menangkap calon istrinya melarikan diri. “Turun.”Evelyn menggeleng cepat, matanya liar mencari jalan keluar. “Nggak.”“Turun.”“Aku nggak akan menikah sama kamu!” Suaranya bergetar, tapi ia berusaha terdengar tegas. “Aku lebih baik mati daripada menjadi istri orang seperti kamu!”Bram menghela napas pelan, seolah ia sedang menghadapi anak kecil yang keras kepala. “Jangan mempersulit keadaan, Evelyn. Turun dari sana sebelum kamu terluka.”“Yang mempersulit hidupku itu kamu!” Dengan nekat, Evelyn mencoba melompat ke sisi luar pagar. Kaki-kakinya mendorong dinding dengan sekuat tenaga.Namun baru beberapa langkah, sepatu kets murah yang dipakainya tergelincir. Tubuhnya kehilangan keseimbangan.“
Beberapa menit kemudian, Evelyn melangkah keluar.Gaun itu pas di tubuh Evelyn. Rambut hitamnya yang panjang dibiarkan tergerai, membuat wajahnya anggun. Tanpa riasan pun, ia terlihat seperti bidadari yang turun dari lukisan.Para asisten yang sudah terbiasa melihat gaun-gaun mahal saling bertukar pandang dengan mata membulat. Bisikan-bisikan pelan mulai terdengar.“Cantik sekali... seperti putri dari dongeng....”“Gaun itu benar-benar cocok untuknya....”“Seperti bukan orang yang sama....”Namun Tante Wijaya justru mendengus sinis. “Cantik?” Ia tertawa kecil. “Gaun mahal memang bisa mengubah penampilan, tapi nggak bisa mengubah asal-usul. Ingat itu. Kamu boleh memakai sutra dan berlian, tapi darahmu tetaplah darah miskin.”Evelyn mengepalkan kedua tangannya di balik rok gaun. Sebelum sempat menjawab, suara tepuk tangan terdengar dari pintu masuk.“Cantik sekali.”Semua orang menoleh serentak.Seorang wanita berjalan masuk dengan senyum sempurna. Gaun merah menyala memeluk tubuh lang







