Share

Bab 5

Author: bluaeya
last update publish date: 2026-06-28 23:00:16

Tangannya langsung kehilangan tenaga. Otot-ototnya ketakutan. Perlahan, ia menoleh.

Bram berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana. Jas hitamnya masih rapi. Tatapannya dingin menusuk seolah ia sudah tahu rencana Evelyn.

“Evelyn.” Suaranya terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menangkap calon istrinya melarikan diri. “Turun.”

Evelyn menggeleng cepat, matanya liar mencari jalan keluar. “Nggak.”

“Turun.”

“Aku nggak akan menikah sama kamu!” Suaranya bergetar, tapi ia berusaha terdengar tegas. “Aku lebih baik mati daripada menjadi istri orang seperti kamu!”

Bram menghela napas pelan, seolah ia sedang menghadapi anak kecil yang keras kepala. “Jangan mempersulit keadaan, Evelyn. Turun dari sana sebelum kamu terluka.”

“Yang mempersulit hidupku itu kamu!” Dengan nekat, Evelyn mencoba melompat ke sisi luar pagar. Kaki-kakinya mendorong dinding dengan sekuat tenaga.

Namun baru beberapa langkah, sepatu kets murah yang dipakainya tergelincir. Tubuhnya kehilangan keseimbangan.

“Aah!”

Sepasang lengan menangkapnya. Evelyn merasakan genggaman di pinggang dan punggungnya.

Bram. Pria itu menangkapnya sebelum tubuhnya menghantam lantai batu, ia menarik Evelyn kembali, memegangnya erat.

“Lepasin aku!” Evelyn meronta sekuat tenaga. Kedua tangannya memukul-mukul dada pria itu. “Aku benci kamu! Aku benar-benar benci kamu!”

“Kamu boleh benci aku, tapi berhentilah bergerak. Kamu bakal jatuh lagi.” jawab Bram datar.

“Aku nggak mau!” Evelyn terus meronta, kakinya menendang-nendang udara. “Lepasin! Lepasin, bajingan!”

Bram langsung mengangkat tubuh Evelyn, menggendongnya seperti karung beras. Pria itu berjalan menuju pintu belakang mansion dengan tenang.

“Turunkan aku! Kamu dengar nggak?!” Evelyn menendang-nendang udara, tetapi genggaman Bram tidak bergeming. “Aku bukan benda! Kamu nggak bisa memperlakukan aku seperti ini!”

Para pengawal yang berjaga hanya menundukkan kepala, tak berani ikut campur.

Bram membawa Evelyn kembali masuk ke dalam mansion, melewati pintu belakang yang terbuka lebar. Lampu-lampu koridor menyala otomatis saat mereka lewat.

Sepanjang koridor panjang yang sunyi, suara protes Evelyn menggema di antara dinding-dinding marmer. “Kamu penculik! Kamu psikopat! Kamu gila! Ini penculikan! Aku akan lapor polisi!”

Bram tetap berjalan dengan langkah mantap. Evelyn terus meronta.

Akhirnya mereka tiba di depan kamar utama. Bram menggeser pegangan pintu dengan satu tangan, masih menggendong Evelyn dengan tangan satunya. Pintu berat berbahan kayu jati terbuka.

Lalu...

Bruk.

Evelyn didudukkan di tepi ranjang besar. Ia langsung berdiri, matanya menatap Bram dengan penuh kebencian. “Aku mau keluar sekarang.”

Belum sempat melangkahkan kaki, Bram sudah berdiri di depan pintu. Tubuhnya yang tinggi dan tegap menghalangi jalan keluar.

“Kamu nggak berhak mengurung aku.” Evelyn mengepalkan tangan. “Ini ilegal, kamu nggak bisa memaksaku tetap di sini.”

“Aku berhak memastikan calon istriku nggak kabur.” jawab Bram dengan tenang. “Terutama calon istri yang sudah menunjukkan niatnya untuk kabur sebelum pernikahan.”

“Aku bukan calon istrimu! Aku nggak pernah setuju sama ini!”

“Besok kamu bakal jadi istriku.”

Evelyn tertawa sinis, suaranya penuh kepahitan. “Aku akan berteriak bahwa ini semua paksaan. Aku akan mengatakan pada semua orang bahwa kamu—”

“Kalau perlu,” potong Bram dengan bisikan berbahaya, “aku akan membuatmu berdiri dengan mulutmu ditutup.”

Dada Evelyn naik turun menahan emosi. Matanya berkaca-kaca, tapi ia menolak menangis di depan pria ini. “Kamu benar-benar monster.”

“Sudah selesai?”

Evelyn maju selangkah, menatap langsung ke mata Bram. “Ayahku yang menjualku, aku nggak punya hubungan sama semua ini.”

Tatapan Bram semakin tajam. “Lalu kenapa ayahmu begitu mudah menyerahkanmu?”

Pertanyaan itu membuat Evelyn terdiam. Ia sendiri tidak tahu jawabannya. “Aku juga nggak tahu....” bisiknya kehilangan amarahnya.

Bram mendekat perlahan. “Kamu yakin ayahmu nggak menyuruhmu melakukan sesuatu?”

Evelyn mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”

“Kamu mata-mata ayahmu, ya?” tanya Bram dengan suara rendah.

Evelyn membelalak. “Apa?”

“Jangan pura-pura nggak ngerti.”

“Aku sama sekali nggak ngerti omonganmu!” Evelyn mundur, menjauh dari tatapan Bram. “Mata-mata untuk apa?”

“Utang itu terlalu besar.” kata Bram pelan. “Ayahmu terlalu tenang saat menyerahkanmu. Dia nggak bernegosiasi ataupun meminta waktu. Dia langsung setuju ketika aku menyebut pernikahan. Nggak mungkin semuanya kebetulan.”

Evelyn menggeleng keras, rambutnya berayun ke kiri dan kanan. “Aku bahkan nggak tahu dia berutang! Aku nggak tahu apa-apa sampai kamu datang ke apartemenku!”

“Kamu bisa bicara apa saja, tapi aku nggak punya alasan untuk percaya ke kamu.” jawab Bram dingin.

“Aku nggak punya bukti karena emang aku nggak bersalah!” Suara Evelyn mulai bergetar karena marah dituduh. “Kalau aku memang mata-mata, buat apa aku mencoba kabur? Bukankah seharusnya aku tinggal diam dan menjalankan rencanaku?”

Bram tidak menjawab. Ia berjalan ke arah sofa besar di dekat jendela. “Mulai malam ini kamu tidur di sini.”

Evelyn mengernyit. “Kamar ini? Aku nggak mau tidur sekamar denganmu.”

“Aku nggak akan memberimu kesempatan kabur lagi.” Bram duduk di sofa, melepas dasinya dengan lelah. “Kamu sudah membuktikan kamu akan mencoba kabur pada kesempatan pertama. Jadi, satu-satunya cara adalah menjagamu tetap di dekatku.”

Evelyn tertawa sinis. “Jadi sekarang aku tahanan?”

“Anggap saja begitu.”

“Kamu pikir aku akan tidur nyenyak di kamar orang yang paling kubenci?”

“Aku juga nggak berharap kamu nyenyak.” Bram melepas jasnya, lalu meletakkannya di sandaran kursi. “Aku tidur di sofa, kamu di ranjang. Nggak ada yang perlu kamu takutkan.”

Evelyn terkejut.

“Aku nggak percaya sama kamu.” kata Evelyn pelan.

Bram menatapnya dari sofa. “Aku juga nggak percaya sama kamu.”

Evelyn duduk di ujung ranjang. Matanya tak lepas dari Bram yang kini duduk di sofa sambil membuka laptop.

Evelyn akhirnya bersandar perlahan di atas bantal. Tanpa sadar, ia benar-benar tertidur.

~~~

Krek.

Suara pintu dibuka membuat Evelyn langsung terbangun kaget. Jantungnya berdegup kencang. Ia duduk tegak di ranjang, matanya menyipit karena cahaya matahari masuk melalui tirai yang disibakkan pelayan.

“Selamat pagi, Nona.” Pelayan muda bernama Lina tersenyum ramah, matanya menunjukkan rasa iba. “Tuan meminta Anda segera bersiap. Hari ini upacara pernikahan dimulai pukul sepuluh, kami sudah menyiapkan semua perlengkapan di kamar mandi.”

Hari yang ia hindari akhirnya datang juga.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   54. Batal

    “Mulai minggu depan, seluruh tamu keluarga yang ingin bertemu Evelyn harus dijadwalkan lebih dulu. Di luar jam kerjanya.” Bram menatap ibunya. “Jika ada tamu yang datang mendadak dan bukan urusan darurat, maka merekalah yang harus menyesuaikan. Evelyn tidak bisa terus-menerus ditarik ke dua arah.”Ibu Wijaya langsung menyela, suaranya naik satu oktaf. “Kalau tamunya mendadak? Kalau ada tamu penting yang datang tanpa pemberitahuan?”“Kalau mendadak dan tidak darurat, Bu, berarti mereka yang menyesuaikan. Kita bisa meminta mereka datang di lain waktu, atau kita bisa menjadwalkan pertemuan di tempat yang lebih netral.”Evelyn berdiri diam beberapa saat, lalu ketika Bram berjalan menuju ruang kerjanya, ia pun mengejarnya.“Bram.”Pria itu menoleh.“Kau tidak perlu membuat aturan baru.” Evelyn menggenggam tangannya sendiri, mencari kata-kata yang tepat. “Aku bisa mengatur jadwalku sendiri. Aku tidak ingin kau berselisih dengan Ibu hanya karena aku.”Bram menatapnya beberapa detik, lalu men

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   53. Telepon

    Keesokan paginya pukul sembilan tepat, mobil Bram berhenti di depan pintu masuk utama.Evelyn menarik napas dalam-dalam, merapikan blazer yang ia kenakan dan melangkah keluar. Bram mengikuti di sampingnya.Di lobi, Pak Surya dan Clarissa sudah menunggu. Clarissa berdiri di samping ayahnya, ia membawa map yang sudah direvisi.Pak Surya maju lebih dulu, tangannya terulur untuk menjabat Bram. “Terima kasih sudah memajukan jadwal, Bram.”Bram menjabat tangannya. “Silakan, Pak Surya.” Mereka masuk ke ruangan.Ruangan itu lebih kecil dari ruang rapat utama, hanya cukup untuk meja bundar dengan enam kursi di sekelilingnya. Clarissa langsung membagikan proposal yang telah direvisi kepada semua orang di meja dengan salinan tambahan untuk Maya. Evelyn membuka halaman pertama, membaca setiap baris, memeriksa setiap angka, membandingkan revisi dengan proposal awal. Evelyn membalik halaman terakhir, lalu menutup map itu dan meletakkannya di atas meja. Ia menatap Clarissa dengan mata yang tulu

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   52. Aturan

    Malam tiba.Seluruh penghuni utama berkumpul di ruang keluarga, duduk di sofa-sofa, menunggu apa yang akan disampaikan Ibu Wijaya.Ibu Wijaya duduk di kursi tunggal. Di hadapannya, sebuah map terbuka sudah ia siapkan sebelumnya.Bram duduk di sebelah Evelyn di sofa utama. Kevin memilih duduk di sofa panjang bersama Rara.Ibu Wijaya membuka map itu. “Aku tidak akan berbicara lama. Rumah ini semakin ramai, tamu keluar masuk tanpa jadwal yang jelas, kegiatan bertambah, dan karena itu mulai hari ini ada beberapa aturan baru yang harus dipatuhi penghuni mansion.”Kevin mengembuskan napas pelan.Ibu Wijaya membaca poin pertama. “Setiap tamu yang datang ke mansion wajib melalui persetujuanku terlebih dahulu, tidak ada tamu yang boleh masuk ke ruang tamu utama tanpa seizinku.”Bram menyela dengan suara datar tapi tegas. “Tidak.”Ibu Wijaya menoleh, alisnya terangkat karena terkejut dengan interupsi putranya. “Apa maksudmu, Bram?”“Kalau tamu datang untuk urusan pekerjaan Evelyn, mereka tetap

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   51. Rencana

    Di mansion, sore itu Kak Sari sedang membantu Rara menyiram tanaman di taman belakang.Dari balkon lantai dua, Ibu Wijaya memperhatikan mereka dalam diam. Tangannya menggenggam erat pagar balkon.Tatapannya beralih ke halaman depan mansion yang kini lebih sering dipenuhi mobil-mobil tamu dan semua itu datang untuk menemui Evelyn.Ia menyadari, perlahan Evelyn mulai memiliki tempat di keluarga Wijaya. Semakin banyak orang yang datang ke mansion bukan lagi untuk menemui Bram, melainkan untuk bertemu Nyonya Evelyn Wijaya.Kemudian, ia berbalik memasuki kamarnya. Ia menarik napas panjang dan menekan bel kecil di atas meja.Bel itu berbunyi, tak lama setelah itu langkah kaki Pak Budi terdengar mendekati pintu. Ia mengetuk pelan sebelum masuk dengan sikap hormat. “Anda memanggil saya, Nyonya?”Ibu Wijaya menunjuk kursi di hadapannya. “Duduk.”Pak Budi tetap berdiri dengan tegak, tangannya di belakang punggung. “Saya lebih nyaman berdiri, Nyonya. Terima kasih.”Ibu Wijaya tidak mempermasalah

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   50. Keras

    Sesampainya di mansion, suasana sore yang tenang langsung menyambut mereka. Pak Budi yang sudah menunggu di pintu membukakan pintu.“Selamat sore, Tuan. Nyonya.”“Rara di mana?” tanya Evelyn, sudah tidak sabar untuk melihat adiknya.“Sedang belajar membaca bersama Kak Sari di ruang belajar kecil, Nyonya.”Evelyn langsung menuju ruang belajar di ujung koridor. Di sana, ia menemukan Rara duduk di meja kecil dengan buku terbuka di hadapannya. Kak Sari duduk di sampingnya, sesekali membetulkan posisi buku.Rara menoleh dan senyumnya langsung melebar. “Kak Evelyn!” Ia langsung berlari meninggalkan bukunya, memeluk kakaknya dengan erat. “Lihat, aku sudah bisa membaca satu halaman sendiri!”Evelyn tersenyum bangga, membalas pelukan adiknya. “Hebat sekali, Ra.”Kevin yang duduk di sofa di sudut ruangan, ikut bertepuk tangan. “Nah, sebentar lagi kamu bisa baca buku cerita sendiri.”Rara menggeleng cepat, matanya membulat. “Nggak mau, maunya tetap dibacain Kak Kevin.”Kevin tertawa, mengacak ra

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   49. Proposal

    Evelyn menatap Bram sekilas, mencari konfirmasi. Bram tidak mengatakan apa pun. Ia hanya menyesap kopinya dengan tenang.Evelyn kembali memandang Sinta. “Saya tidak mengatakan ditolak, Nona Sinta. Saya mengatakan bahwa proposal ini perlu direvisi.”Sinta menyilangkan tangan, senyumnya berubah menjadi seringai tipis. “Direvisi? Kau cukup berani memberi masukan. Biasanya orang butuh waktu untuk membangun keberanian sebelum mengkritik proposalku.”Evelyn tersenyum tipis. “Saya hanya menjalankan tanggung jawab saya, Nona Sinta.”Sinta mengembuskan napas pelan, ia mengambil kembali proposal itu. “Baiklah.”Ia berdiri, lalu memandang Bram. “Aku tidak menyangka sekarang semua keputusan harus melewati istrimu, Bram.”Bram mengangguk tipis. “Sampai bertemu lagi, Sinta. Semoga revisi proposalnya berjalan lancar.”Sinta menatap Evelyn sekali lagi, lalu berbalik dan melangkah keluar.Evelyn menatap pintu yang baru saja tertutup. “Apa aku tadi terlalu keras?”Bram menggeleng, meletakkan cangkir ko

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status