Share

7. Resmi

Author: bluaeya
last update publish date: 2026-07-07 17:21:06

Lambat laun, para tamu berpamitan. Malam mulai larut. Lampu aula perlahan dipadamkan. Para pelayan mulai membersihkan meja-meja.

Evelyn berdiri di dekat pintu utama. Bram berdiri di sampingnya memberi salam pada tamu yang berpamitan.

“Selamat malam, Bram. Selamat malam, Nyonya Wijaya.” kata Pak Hartono, salah satu kerabat dekat keluarga Wijaya. Ia menepuk punggung Bram. “Semoga cepat diberi momongan ya.”

Bram tersenyum tipis. “Terima kasih, Pak.”

Evelyn menunduk malu.

Setelah semua tamu pergi, Evelyn menghela napas panjang.

Seorang pelayan mengantarnya menuju kamar utama di lantai paling atas. Pintu besar terbuka perlahan. Ruangan itu kini dihiasi bunga putih dan lilin-lilin kecil yang menyala redup.

Evelyn berdiri di dekat pintu. Kakinya terasa berat untuk melangkah masuk. Ia menggenggam ujung gaunnya erat-erat, mencoba menenangkan jantungnya.

Tak lama kemudian, pintu terbuka lagi dan Bram masuk. Ia melepas dasinya dengan kasar, lalu melepas jam tangan mahalnya dan meletakkannya di atas meja nakas. Jasnya ia lepas dan gantung di sandaran kursi. Kemeja putihnya mulai dibuka di bagian atas, memperlihatkan sedikit dadanya yang bidang.

Evelyn tidak bergerak. Ia masih berdiri di dekat pintu, menunggu.

Akhirnya Bram membuka suara. “Mulai hari ini kamu resmi menjadi Nyonya Besar keluarga Wijaya.”

Evelyn menggenggam ujung gaunnya lebih erat. Ia tidak menjawab, matanya menatap lantai.

Bram menoleh. “Tapi jangan salah paham, aku nggak menikahimu karena cinta.”

Ia berjalan melewati Evelyn, berhenti di dekat jendela besar yang menghadap ke taman belakang.

Bram melanjutkan, “Kamu cuma bagian dari kesepakatan.” Ia membelakangi Evelyn, tangannya dimasukkan ke saku celana. “Aku nggak akan memperlakukanmu sebagai istri dan jangan berharap aku menyentuh perempuan yang kupandang serendah itu.”

Bram berbalik dan berjalan menuju pintu. Ia meraih gagang pintu, lalu berhenti sejenak tanpa menoleh ke belakang.

“Kamar tidur ini untukmu, aku akan tidur di kamar tamu.” katanya.

Pintu terbuka dan tertutup.

Evelyn akhirnya jatuh berlutut di tengah ruangan. Air mata yang ia tahan mengalir deras. Ia menangis tanpa suara, tubuhnya terguncang hebat.

Malam pertama pernikahannya dimulai dengan luka yang semakin dalam dan janji yang hampa.

~~~~

Pagi pertama sebagai istri Bram Wijaya tidak dimulai dengan ucapan selamat pagi dari suami tercinta, melainkan suara ketukan pintu keras dan terburu-buru.

Tok. Tok. Tok. Tok. Tok.

“Nyonya, Tuan Bram sudah menunggu di ruang makan. Beliau meminta Nyonya segera turun.”

Evelyn membuka mata dengan tubuh yang masih terasa lelah dan pegal. Semalaman ia tidak tidur.

Evelyn menghela napas panjang. Dengan gerakan lambat, ia membersihkan wajahnya, mengganti pakaian tidurnya, dan menyisir rambutnya dengan cepat.

~~~

Saat Evelyn menuruni tangga, aroma kopi dan makanan mewah menyambutnya.

Ruang makan keluarga Wijaya begitu luas dan megah.

Bram sudah duduk di ujung meja dengan jas hitam rapi. Di hadapannya, tablet besar terbuka menampilkan koran digital. Di sisi meja, Tante Wijaya menikmati teh paginya.

Begitu melihat Evelyn datang, Tante Wijaya langsung mendecak pelan. “Bangun juga akhirnya.” katanya dengan nada sinis. “Ternyata jadi Nyonya Besar bikin orang rajin tidur. Sudah jam delapan pagi, baru turun. Dulu saya sebagai pengantin baru sudah turun jam lima untuk membantu menyiapkan sarapan.”

Evelyn memilih diam. Ia menarik kursi berusaha mengabaikan tatapan tajam Tante Wijaya. Namun belum sempat ia duduk—

“Buatkan aku kopi, Evelyn.” Suara Bram datar tanpa memandangnya.

Evelyn mengangkat kepala. “Apa?”

“Kopi hitam tanpa gula. Airnya harus panas, tapi nggak mendidih. Seduh selama tiga menit” Bram memberikan instruksi seperti bos memberi perintah pada bawahannya.

Evelyn mengernyitkan dahi. “Di sini banyak pelayan, Bram.” katanya dengan suara berusaha tenang.

“Iya.”

“Lalu kenapa aku?”

Bram akhirnya menutup tabletnya, matanya menatap Evelyn. “Karena aku yang meminta.”

Evelyn merasakan darahnya mendidih. “Tapi aku bukan pelayan, aku nggak di sini untuk melayanimu.”

Tatapan Bram bertemu dengan tatapannya. “Belum terbiasa?”

“Terbiasa sama apa?”

“Menjadi istri. Di keluarga ini, seorang istri ya melayani suaminya.”

Evelyn mengepalkan tangan. “Kamu sengaja pengin merendahkanku, ya.”

“Aku cuma memberi tugas sederhana, apa itu terlalu berat untukmu?”

Tante Wijaya tersenyum sinis di sisi meja. Wanita itu mengangkat cangkir tehnya dan menyesap pelan sebelum berbicara. “Sudahlah, Evelyn. Kalau memang cuma bisa makan dan numpang tinggal di rumah ini, setidaknya lakukan sesuatu. Jangan cuma jadi beban. Keluarga Wijaya nggak terbiasa sama orang yang malas.”

Ucapan itu membuat Evelyn melangkah menuju dapur, ia melewati beberapa pelayan yang menatapnya. Salah satu dari mereka, seorang wanita tua bernama Mbok Yati, mendekati Evelyn hati-hati.

“Nyonya, biar saya yang buatkan kopinya.” tawarnya lembut.

Evelyn menggeleng. “Nggak, Mbok. Biar saya sendiri.” Ia menarik napas dalam-dalam. “Kalau saya nggak melakukannya, mereka akan semakin merendahkan saya.”

Mbok Yati menghela napas. “Nyonya sabar ya. Tuan Bram memang keras sejak kecil, tapi beliau sebenarnya baik.”

“Baik?” Evelyn hampir tertawa. “Dia baru saja memperlakukan istrinya seperti pembantu.”

“Tuan Bram cuma sedang menguji Nyonya.” kata Mbok Yati pelan. “Beliau nggak mudah percaya sama orang baru.”

Evelyn mengerutkan dahi. “Menguji?”

Mbok Yati hanya menggeleng dan kembali ke pekerjaannya.

~~~

Di dapur, Evelyn berdiri di depan mesin kopi dengan tulisan bahasa Italia. Dengan susah payah, ia mencoba menebak mana yang benar.

“Nyonya, mungkin saya bisa bantu.” tawar seorang koki dapur yang melihat kebingungannya.

“Nggak, terima kasih. Saya harus belajar.” jawab Evelyn dengan gigih. Butuh waktu sepuluh menit untuk akhirnya menghasilkan secangkir kopi hitam layak.

Ia juga menyiapkan sepiring roti panggang dengan selai dan mentega. Mungkin jika Bram melihat usaha ekstranya, ia akan sedikit lembut.

Beberapa menit kemudian, Evelyn kembali ke ruang makan dengan nampan perak di tangannya. Ia meletakkan cangkir kopi dan roti panggang di hadapan Bram. “Cukup?”

Bram mengangkat cangkir dengan anggun, mencicipinya sekali. “Lumayan.”

Tante Wijaya tersenyum puas dari ujung meja. “Nah, itu baru namanya istri yang baik.”

Evelyn menarik kursinya dan duduk.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   86. Debat

    Jam demi jam berlalu tanpa terasa. Evelyn masih duduk di tempat yang sama sejak tiga jam lalu. Punggungnya sedikit membungkuk, tangannya terlipat di pangkuan, dan matanya menatap kosong ke arah pintu ruang operasi.Di sampingnya, Ibu Wijaya duduk dengan punggung yang lebih tegak, meskipun usianya sudah senja dan ia baru saja pulih dari sakitnya. Sejak tadi, perempuan tua itu lebih banyak diam.Pak Budi berada di seberang mereka, duduk di kursi yang sedikit jauh dari keduanya. Sesekali ia melihat jam di pergelangan tangannya, lalu kembali menundukkan kepala. Ia sudah menawarkan untuk membeli kopi, untuk menelepon keluarga, untuk melakukan apa pun yang bisa membantu. Tetapi tidak ada yang benar-benar ia lakukan sekarang selain menunggu.Kemudian, dari ujung koridor terdengar suara langkah kaki. Ketiganya refleks menoleh ke arah suara itu. Dari balik tikungan, muncul seorang pria mengenakan pakaian formal yang masih terlihat rapi. Rambutnya sedikit berantakan. Satu tangannya masih memeg

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   85. Operasi

    Mobil akhirnya berhenti di depan pintu masuk rumah sakit. Begitu kendaraan benar-benar berhenti, Evelyn langsung membuka pintu."Aku masuk dulu, Yah."Ayahnya bahkan belum sempat menjawab ketika Evelyn sudah turun dari mobil."Evelyn, Ayah pulang untuk menemani adikmu. Jaga diri baik-baik dan titip salam untuk keluarga Wijaya."Evelyn mengangguk sekali lalu berjalan cepat menuju pintu masuk rumah sakit, hampir berlari ketika melihat papan petunjuk menuju Unit Gawat Darurat.Ia sempat berhenti di meja informasi untuk memastikan lokasi Bram, tetapi sebelum sempat bertanya lebih jauh, matanya menangkap dua sosok yang sudah dikenalnya.Pak Budi dan Ibu Wijaya berdiri tidak jauh dari pintu Unit Gawat Darurat.Pak Budi terlihat mondar-mandir beberapa langkah sebelum kembali berhenti. Wajahnya yang biasanya tenang kini tampak tegang. Sementara Ibu Wijaya berdiri di dekat kursi tunggu dengan kedua tangan saling menggenggam."Nyonya Evelyn." Pak Budi menyadari kedatangannya lebih dulu.Evelyn

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   84. Mengejutkan

    Malam itu, perjalanan Bram pulang menuju mansion.Hujan mulai turun ketika mobilnya memasuki ruas tol yang cukup jauh dari pusat kota. Awalnya hanya berupa gerimis tipis, tetapi hujan berubah semakin deras.Bram memperlambat laju mobilnya.Jalanan yang sebelumnya masih dipenuhi kendaraan kini terlihat lebih lengang. Lampu-lampu kendaraan di kejauhan tampak samar di balik tirai hujan. Sesekali, cahaya lampu dari kendaraan yang berpapasan memantul di permukaan jalan yang basah.Bram menyandarkan punggungnya sedikit lebih nyaman ke kursi. Kedua tangannya tetap berada di kemudi.Sebuah getaran pendek terdengar dari kursi penumpang.Bram melirik sekilas. Ponselnya menyala dan memperlihatkan satu pesan masuk dari Evelyn."Sampai rumah dengan selamat ya. Terima kasih sudah datang hari ini, Rara senang sekali."Sudut bibir Bram terangkat sedikit. Ia membaca pesan itu sekali lagi sebelum kembali memusatkan pandangan ke jalan."Nanti kubalas." gumamnya pelan.Tangannya sempat terangkat hendak m

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   83. Bersiap

    Sore harinya, sebuah amplop cokelat resmi dikirimkan ke apartemen Sinta oleh kurir khusus.Ia duduk di sofa kulit putih, menatap amplop itu sebelum membukanya dengan tangan gemetar.Di dalamnya, terdapat surat resmi dari kantor pengacara Grup Wijaya. Di bagian bawah surat, tertulis permintaan agar Sinta menghadiri pertemuan mediasi dalam waktu tujuh hari, sebelum kasus ini dibawa lebih jauh ke ranah hukum resmi.Sinta meremas surat itu dalam genggamannya. Matanya panas menahan air mata. Ia tidak menyangka Bram akan bertindak sejauh ini sampai melibatkan pengacara secara resmi.Sinta meraih ponselnya. Ia memaksakan diri untuk mengetik."Bram, kumohon, kita bisa bicarakan ini baik-baik tanpa melibatkan pengacara. Aku tahu aku salah, tapi jangan hancurkan hidupku hanya karena satu kesalahan ini."Akhirnya, balasan itu muncul."Ini bukan lagi soal kesalahan kecil, Sinta. Kau menyerang keluargaku, menyerang perusahaan yang menghidupi ribuan orang hanya karena kau tidak bisa menerima penola

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   82. Runtuh

    Hari rapat komisaris tiba lebih cepat dari yang Bram kira.Ruang rapat utama Grup Wijaya di lantai dua puluh lima sudah penuh sejak pukul sembilan pagi.Bram masuk ruangan dengan membawa map tebal berisi seluruh bukti yang telah ia kumpulkan bersama Pak Budi."Selamat pagi." Bram membuka rapat setelah duduk di kursinya. "Saya tahu ada kekhawatiran yang beredar terkait penggunaan dana perusahaan untuk kepentingan pribadi saya. Hari ini saya akan menjelaskan semuanya secara terbuka dan menyediakan bukti lengkap untuk setiap klaim yang saya sampaikan."Ia membuka map di depannya, membagikan salinan dokumen ke setiap anggota komisaris."Pertama, soal biaya operasi jantung adik dari istri saya, Rara Widyadana. Total biaya yang saya keluarkan adalah dua miliar tiga ratus juta rupiah, seluruhnya dibayarkan dari rekening pribadi saya, bukan dari dana perusahaan dalam bentuk apa pun. Berikut catatan transfer lengkap beserta stempel dan validasi dari pihak Bank."Salah satu anggota komisaris me

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   81. Terduga

    Sementara itu, di apartemennya, Sinta duduk di depan laptop, membaca ulang artikel bisnis lama tentang rapat komisaris Grup Wijaya yang akan datang. Ia tersenyum puas membaca kabar bahwa Pak Halim mulai mempertanyakan integritas Bram di depan pemegang saham lain.Ponselnya berdering.Pesan dari kontak yang baru ia hubungi kemarin malam, seseorang yang bekerja di divisi hubungan investor Grup Wijaya, yang selama ini diam-diam kecewa karena tidak mendapat promosi yang ia harapkan di bawah kepemimpinan Bram."Berhasil. Pak Halim sudah minta pertemuan resmi. Rapat komisaris minggu depan bakal jadi momen penting. Semoga ini yang kau inginkan."Sinta mengetik balasan singkat, senyum tipis masih tersungging di bibirnya. "Ini baru permulaan. Terima kasih sudah membantu."Ia menutup laptopnya, menatap keluar jendela apartemennya yang menghadap gemerlap kota malam itu.Kalau Bram tidak bisa ia miliki, setidaknya ia bisa memastikan Bram merasakan bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang selama

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status