MasukLambat laun, para tamu berpamitan. Malam mulai larut. Lampu aula perlahan dipadamkan. Para pelayan mulai membersihkan meja-meja.
Evelyn berdiri di dekat pintu utama. Bram berdiri di sampingnya memberi salam pada tamu yang berpamitan. “Selamat malam, Bram. Selamat malam, Nyonya Wijaya.” kata Pak Hartono, salah satu kerabat dekat keluarga Wijaya. Ia menepuk punggung Bram. “Semoga cepat diberi momongan ya.” Bram tersenyum tipis. “Terima kasih, Pak.” Evelyn menunduk malu. Setelah semua tamu pergi, Evelyn menghela napas panjang. Seorang pelayan mengantarnya menuju kamar utama di lantai paling atas. Pintu besar terbuka perlahan. Ruangan itu kini dihiasi bunga putih dan lilin-lilin kecil yang menyala redup. Evelyn berdiri di dekat pintu. Kakinya terasa berat untuk melangkah masuk. Ia menggenggam ujung gaunnya erat-erat, mencoba menenangkan jantungnya. Tak lama kemudian, pintu terbuka lagi dan Bram masuk. Ia melepas dasinya dengan kasar, lalu melepas jam tangan mahalnya dan meletakkannya di atas meja nakas. Jasnya ia lepas dan gantung di sandaran kursi. Kemeja putihnya mulai dibuka di bagian atas, memperlihatkan sedikit dadanya yang bidang. Evelyn tidak bergerak. Ia masih berdiri di dekat pintu, menunggu. Akhirnya Bram membuka suara. “Mulai hari ini kamu resmi menjadi Nyonya Besar keluarga Wijaya.” Evelyn menggenggam ujung gaunnya lebih erat. Ia tidak menjawab, matanya menatap lantai. Bram menoleh. “Tapi jangan salah paham, aku nggak menikahimu karena cinta.” Ia berjalan melewati Evelyn, berhenti di dekat jendela besar yang menghadap ke taman belakang. Bram melanjutkan, “Kamu cuma bagian dari kesepakatan.” Ia membelakangi Evelyn, tangannya dimasukkan ke saku celana. “Aku nggak akan memperlakukanmu sebagai istri dan jangan berharap aku menyentuh perempuan yang kupandang serendah itu.” Bram berbalik dan berjalan menuju pintu. Ia meraih gagang pintu, lalu berhenti sejenak tanpa menoleh ke belakang. “Kamar tidur ini untukmu, aku akan tidur di kamar tamu.” katanya. Pintu terbuka dan tertutup. Evelyn akhirnya jatuh berlutut di tengah ruangan. Air mata yang ia tahan mengalir deras. Ia menangis tanpa suara, tubuhnya terguncang hebat. Malam pertama pernikahannya dimulai dengan luka yang semakin dalam dan janji yang hampa. ~~~~ Pagi pertama sebagai istri Bram Wijaya tidak dimulai dengan ucapan selamat pagi dari suami tercinta, melainkan suara ketukan pintu keras dan terburu-buru. Tok. Tok. Tok. Tok. Tok. “Nyonya, Tuan Bram sudah menunggu di ruang makan. Beliau meminta Nyonya segera turun.” Evelyn membuka mata dengan tubuh yang masih terasa lelah dan pegal. Semalaman ia tidak tidur. Evelyn menghela napas panjang. Dengan gerakan lambat, ia membersihkan wajahnya, mengganti pakaian tidurnya, dan menyisir rambutnya dengan cepat. ~~~ Saat Evelyn menuruni tangga, aroma kopi dan makanan mewah menyambutnya. Ruang makan keluarga Wijaya begitu luas dan megah. Bram sudah duduk di ujung meja dengan jas hitam rapi. Di hadapannya, tablet besar terbuka menampilkan koran digital. Di sisi meja, Tante Wijaya menikmati teh paginya. Begitu melihat Evelyn datang, Tante Wijaya langsung mendecak pelan. “Bangun juga akhirnya.” katanya dengan nada sinis. “Ternyata jadi Nyonya Besar bikin orang rajin tidur. Sudah jam delapan pagi, baru turun. Dulu saya sebagai pengantin baru sudah turun jam lima untuk membantu menyiapkan sarapan.” Evelyn memilih diam. Ia menarik kursi berusaha mengabaikan tatapan tajam Tante Wijaya. Namun belum sempat ia duduk— “Buatkan aku kopi, Evelyn.” Suara Bram datar tanpa memandangnya. Evelyn mengangkat kepala. “Apa?” “Kopi hitam tanpa gula. Airnya harus panas, tapi nggak mendidih. Seduh selama tiga menit” Bram memberikan instruksi seperti bos memberi perintah pada bawahannya. Evelyn mengernyitkan dahi. “Di sini banyak pelayan, Bram.” katanya dengan suara berusaha tenang. “Iya.” “Lalu kenapa aku?” Bram akhirnya menutup tabletnya, matanya menatap Evelyn. “Karena aku yang meminta.” Evelyn merasakan darahnya mendidih. “Tapi aku bukan pelayan, aku nggak di sini untuk melayanimu.” Tatapan Bram bertemu dengan tatapannya. “Belum terbiasa?” “Terbiasa sama apa?” “Menjadi istri. Di keluarga ini, seorang istri ya melayani suaminya.” Evelyn mengepalkan tangan. “Kamu sengaja pengin merendahkanku, ya.” “Aku cuma memberi tugas sederhana, apa itu terlalu berat untukmu?” Tante Wijaya tersenyum sinis di sisi meja. Wanita itu mengangkat cangkir tehnya dan menyesap pelan sebelum berbicara. “Sudahlah, Evelyn. Kalau memang cuma bisa makan dan numpang tinggal di rumah ini, setidaknya lakukan sesuatu. Jangan cuma jadi beban. Keluarga Wijaya nggak terbiasa sama orang yang malas.” Ucapan itu membuat Evelyn melangkah menuju dapur, ia melewati beberapa pelayan yang menatapnya. Salah satu dari mereka, seorang wanita tua bernama Mbok Yati, mendekati Evelyn hati-hati. “Nyonya, biar saya yang buatkan kopinya.” tawarnya lembut. Evelyn menggeleng. “Nggak, Mbok. Biar saya sendiri.” Ia menarik napas dalam-dalam. “Kalau saya nggak melakukannya, mereka akan semakin merendahkan saya.” Mbok Yati menghela napas. “Nyonya sabar ya. Tuan Bram memang keras sejak kecil, tapi beliau sebenarnya baik.” “Baik?” Evelyn hampir tertawa. “Dia baru saja memperlakukan istrinya seperti pembantu.” “Tuan Bram cuma sedang menguji Nyonya.” kata Mbok Yati pelan. “Beliau nggak mudah percaya sama orang baru.” Evelyn mengerutkan dahi. “Menguji?” Mbok Yati hanya menggeleng dan kembali ke pekerjaannya. ~~~ Di dapur, Evelyn berdiri di depan mesin kopi dengan tulisan bahasa Italia. Dengan susah payah, ia mencoba menebak mana yang benar. “Nyonya, mungkin saya bisa bantu.” tawar seorang koki dapur yang melihat kebingungannya. “Nggak, terima kasih. Saya harus belajar.” jawab Evelyn dengan gigih. Butuh waktu sepuluh menit untuk akhirnya menghasilkan secangkir kopi hitam layak. Ia juga menyiapkan sepiring roti panggang dengan selai dan mentega. Mungkin jika Bram melihat usaha ekstranya, ia akan sedikit lembut. Beberapa menit kemudian, Evelyn kembali ke ruang makan dengan nampan perak di tangannya. Ia meletakkan cangkir kopi dan roti panggang di hadapan Bram. “Cukup?” Bram mengangkat cangkir dengan anggun, mencicipinya sekali. “Lumayan.” Tante Wijaya tersenyum puas dari ujung meja. “Nah, itu baru namanya istri yang baik.” Evelyn menarik kursinya dan duduk.Menjelang siang, suasana rumah mulai ramai kembali. Sebuah mobil sport putih memasuki halaman mansion. Pelayan segera membukakan pintu. Dari mobil, Sinta turun anggun. Ia membawa map hitam tebal di tangannya. Di sisi lainnya, ia menggenggam tas tangan bermerek. “Bram ada?” tanya Sinta pada pelayan yang menyambutnya. “Di ruang kerja, Nona.” Sinta mengangguk lalu masuk rumah itu. Saat melewati ruang keluarga, ia melihat Evelyn sedang menyiram tanaman di dekat jendela besar. Evelyn mengenakan gaun dan apron hijau, tangannya memegang gembor kecil. “Halo.” sapa Sinta dengan suara lembut. Evelyn hanya mengangguk singkat. Ia tidak memiliki energi untuk berbasa-basi. “Aku datang mengantar dokumen perusahaan, nggak usah tegang.” kata Sinta dengan senyum. Evelyn mengangkat alis. “Benarkah?” Sinta tersenyum lebih lebar. “Iya, aku cuma teman lama Bram.” Ia melangkah mendekat, lalu Sinta berbisik pelan. “Kalau aku jadi kamu, aku nggak akan nyaman tinggal di rumah ini.” Evelyn menatapn
Lambat laun, para tamu berpamitan. Malam mulai larut. Lampu aula perlahan dipadamkan. Para pelayan mulai membersihkan meja-meja. Evelyn berdiri di dekat pintu utama. Bram berdiri di sampingnya memberi salam pada tamu yang berpamitan. “Selamat malam, Bram. Selamat malam, Nyonya Wijaya.” kata Pak Hartono, salah satu kerabat dekat keluarga Wijaya. Ia menepuk punggung Bram. “Semoga cepat diberi momongan ya.” Bram tersenyum tipis. “Terima kasih, Pak.” Evelyn menunduk malu. Setelah semua tamu pergi, Evelyn menghela napas panjang. Seorang pelayan mengantarnya menuju kamar utama di lantai paling atas. Pintu besar terbuka perlahan. Ruangan itu kini dihiasi bunga putih dan lilin-lilin kecil yang menyala redup. Evelyn berdiri di dekat pintu. Kakinya terasa berat untuk melangkah masuk. Ia menggenggam ujung gaunnya erat-erat, mencoba menenangkan jantungnya. Tak lama kemudian, pintu terbuka lagi dan Bram masuk. Ia melepas dasinya dengan kasar, lalu melepas jam tangan mahalnya dan meletakkan
Lambat laun, para tamu berpamitan. Malam mulai larut. Lampu aula perlahan dipadamkan. Para pelayan mulai membersihkan meja-meja. Evelyn berdiri di dekat pintu utama. Bram berdiri di sampingnya memberi salam pada tamu yang berpamitan. “Selamat malam, Bram. Selamat malam, Nyonya Wijaya.” kata Pak Hartono, salah satu kerabat dekat keluarga Wijaya. Ia menepuk punggung Bram. “Semoga cepat diberi momongan ya.” Bram tersenyum tipis. “Terima kasih, Pak.” Evelyn menunduk malu. Setelah semua tamu pergi, Evelyn menghela napas panjang. Seorang pelayan mengantarnya menuju kamar utama di lantai paling atas. Pintu besar terbuka perlahan. Ruangan itu kini dihiasi bunga putih dan lilin-lilin kecil yang menyala redup. Evelyn berdiri di dekat pintu. Kakinya terasa berat untuk melangkah masuk. Ia menggenggam ujung gaunnya erat-erat, mencoba menenangkan jantungnya. Tak lama kemudian, pintu terbuka lagi dan Bram masuk. Ia melepas dasinya dengan kasar, lalu melepas jam tangan mahalnya dan meletakkan
“Saya... bersedia.”Suaranya lirih. Kedua tangannya gemetar di balik buket bunga putih yang ia genggam erat. Bibirnya bergetar, tetapi ia memaksakan diri tetap tegar.Di hadapannya, Bram berdiri dengan setelan jas hitam. Ekspresinya sedingin batu.Penghulu menoleh kepada Bram. “Apakah Saudara Bram Wijaya bersedia menerima Evelyn Widyadana sebagai istri Saudara?”Bram menghela napas pendek. “Saya bersedia.”Penghulu mengangguk. “Mulai hari ini, Saudara berdua resmi menjadi suami istri. Semoga pernikahan ini diberkahi dan dilindungi oleh Yang Maha Kuasa.”Tepuk tangan menggema memenuhi ruangan. Lampu kamera berkilatan dari berbagai arah. Para tamu tersenyum dan mengangkat gelas mereka.Saat cincin disematkan ke jari manisnya, Evelyn hanya mampu menunduk.~~~ Resepsi berlangsung sangat mewah. Evelyn berdiri di dekat meja utama dengan gaun pengantin putih.“Selamat ya, Nyonya Besar.”Suara Ibu Wijaya terdengar di sampingnya. Evelyn menoleh dan melihat wanita paruh baya itu mendekat denga
Tangannya langsung kehilangan tenaga. Otot-ototnya ketakutan. Perlahan, ia menoleh.Bram berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana. Jas hitamnya masih rapi. Tatapannya dingin menusuk seolah ia sudah tahu rencana Evelyn.“Evelyn.” Suaranya terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menangkap calon istrinya melarikan diri. “Turun.”Evelyn menggeleng cepat, matanya liar mencari jalan keluar. “Nggak.”“Turun.”“Aku nggak akan menikah sama kamu!” Suaranya bergetar, tapi ia berusaha terdengar tegas. “Aku lebih baik mati daripada menjadi istri orang seperti kamu!”Bram menghela napas pelan, seolah ia sedang menghadapi anak kecil yang keras kepala. “Jangan mempersulit keadaan, Evelyn. Turun dari sana sebelum kamu terluka.”“Yang mempersulit hidupku itu kamu!” Dengan nekat, Evelyn mencoba melompat ke sisi luar pagar. Kaki-kakinya mendorong dinding dengan sekuat tenaga.Namun baru beberapa langkah, sepatu kets murah yang dipakainya tergelincir. Tubuhnya kehilangan keseimbangan.“
Beberapa menit kemudian, Evelyn melangkah keluar.Gaun itu pas di tubuh Evelyn. Rambut hitamnya yang panjang dibiarkan tergerai, membuat wajahnya anggun. Tanpa riasan pun, ia terlihat seperti bidadari yang turun dari lukisan.Para asisten yang sudah terbiasa melihat gaun-gaun mahal saling bertukar pandang dengan mata membulat. Bisikan-bisikan pelan mulai terdengar.“Cantik sekali... seperti putri dari dongeng....”“Gaun itu benar-benar cocok untuknya....”“Seperti bukan orang yang sama....”Namun Tante Wijaya justru mendengus sinis. “Cantik?” Ia tertawa kecil. “Gaun mahal memang bisa mengubah penampilan, tapi nggak bisa mengubah asal-usul. Ingat itu. Kamu boleh memakai sutra dan berlian, tapi darahmu tetaplah darah miskin.”Evelyn mengepalkan kedua tangannya di balik rok gaun. Sebelum sempat menjawab, suara tepuk tangan terdengar dari pintu masuk.“Cantik sekali.”Semua orang menoleh serentak.Seorang wanita berjalan masuk dengan senyum sempurna. Gaun merah menyala memeluk tubuh lang







