بيت / Romansa / Dipuja Dua Penguasa / Part 8 | Kecelakaan

مشاركة

Part 8 | Kecelakaan

مؤلف: Mocha Latte
last update تاريخ النشر: 2024-05-03 01:45:00

‘Jadi Adam masih tidak tahu kalau Nona Hudson itu adalah Olivia Hudson, aktris populer di kota ini,’ batin Hilda menimpali.

“Bercanda tidak ada dalam kamus hidupku. Satu hal yang harus kamu tahu, aku sama sekali tidak peduli padanya,” tekan Adam, terdengar sangat meyakinkan.

Namun, Hilda masih belum puas.

“Kalau tidak peduli, mengapa kamu repot-repot mau menyelamatkannya?” Nada suara Hilda dipenuhi rasa cemburu.

Adam baru saja ingin membalas pertanyaan istrinya ketika bunyi klakson truk bergema. Tak lama kemudian, satu cahaya yang sangat terang muncul tepat di depan limosin mereka.

***

Keringat merenik-renik di dahi Olivia meskipun dia sudah menurunkan semua jendela mobil. Entah mengapa angin malam yang seharusnya menyamankan tubuh berubah menjadi pawana yang membakar tiap inci kulitnya.

Bunyi klakson bertalu-talu dari mobil Emily yang masih mengekor rapat di belakang mobilnya semakin mendera jiwa Olivia.

“Ternyata wanita sinting ini masih belum menyerah selagi tidak berhasil membunuhku,” gumamnya, sebal.

BRAK!

Saat melewati jalan yang sempit dan berbelok-belok, belakang mobil Olivia sengaja ditabrak Emily. Hampir saja mobilnya melanggar pengadang di tepi jalan.

“Dasar wanita gila!” umpat Olivia, gusar.

“Sepertinya, dia benar-benar ingin aku mati.” Dia lantas menelan ludah, membasahi kerongkongan yang tetiba terasa kering.

Mau tak mau, Olivia harus menambah kelajuan mobil hingga menyentuh angka maksimum.

“Kau ingin melarikan diri, huh? Jangan mimpi! Aku tidak akan membiarkanmu terlepas.” Emily menginjak pedal gas, mencoba mengejar mobil Olivia yang sudah jauh di depannya.

“Tuhan, aku mohon… Selamatkan aku…” doa Olivia dengan segenap hati.

Jemarinya gemetar ketika memutar setir untuk membelok ke kanan, menuju kota Dashville.

TINNN!!!

Bunyi klakson dari kendaraan besar di depan mata berhasil memekakkan telinga Olivia. Tak bisa berpikir panjang, dengan pantas dia membanting setir untuk menghindari truk pengangkut barang.

Namun, nasib malang terus mengejar Olivia. Mobilnya tak sengaja ditabrak sebuah limosin yang berada di belakang truk tersebut.

“Arghh!” Olivia menjerit cemas saat bunyi benturan terdengar jelas di telinganya.

Mobil Olivia berpusing beberapa kali sebelum jatuh dari tebing bukit, sementara limosin itu menabrak pengadang di tepi jalan. Sopir truk yang diterpa rasa takut lekas melarikan diri dari tempat kecelakaan.

Emily sontak memijak pedal rem. Matanya bergetar tak percaya saat menjadi saksi mobil mewah Olivia jatuh ke jurang.

“Dia pasti… sudah mati,” gumam Emily, sangat yakin. Dia lantas keluar dari perut mobilnya.

Netranya menatap tajam limosin yang berada di pinggir jalan. “Aku harus mengecek mobil itu. Siapa tahu, ada saksi mata yang masih hidup. Tidak bisa dibiarkan.”

Tiba-tiba, seorang pria bertubuh atletis keluar dari limosin itu. Sambil mulutnya mengeluarkan makian, dia berkali-kali menendang ban mobil.

Emily berdecak heran. “Oh ho! Sepertinya kita memang ditakdirkan bersama, Adam Knight.”

Melajukan langkah, dia mendekati Adam dengan senyum manis mengapung di bibir.

“Adam?” panggil Emily, pelan. Jemarinya menyentuh pundak pria yang sedang berusaha menelepon seseorang.

Sebaik saja Adam melihat wajah Emily, kemarahan langsung menghanguskan dadanya. Dia memutar tubuh, berhadapan muka dengan wanita yang menjadi akar segala kejahatan.

PLAK!

Lima jari Adam menampar keras pipi mulus Emily. Saking kerasnya, ujung bibir wanita itu pecah lantas mengeluarkan darah dan telinganya berdenging seketika.

“Ini semua salahmu! Gara-gara kau ingin melukai Nona Hudson, Papa memerintahkan aku untuk mencegahmu dan menyelamatkan wanita sialan itu. Lihat apa yang terjadi sekarang. Aku dan istriku ditimpa celaka bahkan sopirku pingsan karena terlalu kaget. Limosin milik Papa juga rusak. Dasar bodoh!” bentak Adam sambil menunjal dahi Emily.

‘Luar biasa sekali. Kau benar-benar mencintai Hilda sampai tidak menyadari wanita yang kau cari telah mati di jurang. Kalau begitu, aku tahu hukuman apa yang pantas kau dapatkan, Adam,’ Emily membatin, penuh dendam.

Bukannya mengeluarkan amarah karena ditampar, Emily malah tertawa besar. Merasa lucu dengan semua kata-kata yang terlempar dari mulut Adam.

“Sudah puas memaki dan menghinaku, Tuan Adam Knight yang terhormat?” sindir Emily seraya menyeka darah di ujung bibir.

“Kau–” Bicara Adam terhenti sebaik saja Emily mengeluarkan revolver yang sejak awal dia sembunyikan di belakang pinggangnya.

“Kau terlalu banyak bicara dan tamparanmu… sangat menyakitkan. Sekali lagi kau menyentuhku, aku tidak akan berpikir dua kali untuk membunuhmu.”

DOR!

Sengaja Emily menembak ke atas sebagai peringatan.

Di dalam limosin, Hilda lantas memeluk tubuhnya sembari memejamkan mata. “Tuhan, jangan biarkan wanita jahat itu menyakiti suamiku,” doanya sepenuh jiwa.

“Izinkan aku menasihatimu. Daripada kau membuang waktu memarahiku, lebih baik kau pergi ke sana. Aku yakin kau pasti melihat satu mobil mewah jatuh ke jurang setelah sopirmu menabraknya,” ujar Emily dengan suara mengejek.

“Bukan urusanku! Kalau kau khawatir akan nyawa pengemudi itu, kau saja yang menelepon rumah sakit untuk menghantar ambulans kemari. Aku tidak mau terlibat dalam kasus ini,” sahut Adam, sengit.

Tiada walau sekelumit perasaan kemanusiaan dalam hatinya.

Emily tertawa besar hingga matanya berair.

“Kenapa kau tertawa, hah? Apanya yang lucu?” tanya Adam, geram sambil mengepalkan tinju.

“Aku tertawa karena baru hari ini aku sadar hatimu terbuat dari batu,” cemooh Emily. Sejujurnya dia menyesal pernah menyukai pria berdarah dingin seperti Adam.

“Aku sama sekali tak peduli dengan hinaanmu. Lekas katakan, di mana kau mengurung Nona Hudson?” desak Adam.

“Berikan aku ponselmu,” titah Emily tanpa menjawab pertanyaan Adam.

“Sekarang!” tengkingnya sambil mengacukan revolver ke arah pria itu.

Suka tak suka, Adam terpaksa menyerahkan ponselnya kepada Emily.

“Ah, ini ponsel keduamu, kan?” seloroh Emily ketika jarinya sibuk mencari nomor ponsel Tuan Besar Knight.

Adam cuma menjeling, sebal.

“Tuan Besar Knight, ini aku, Emily Grant. Maaf karena mengganggu tidurmu tapi aku harus memberitahumu satu berita penting. Perempuan yang sudah kau anggap sebagai putri kandungmu yaitu Nona Olivia Hudson…”

Sengaja dia berjeda untuk memberikan sensasi kegelisahan kepada Adam.

Dia tertawa jahat sebelum kembali menyambung bicaranya, “telah mati gara-gara mobilnya ditabrak limosin Tuan Adam Knight, putramu sendiri.”

Usai memberi kabar buruk, Emily langsung saja mematikan ponsel.

Adam tertegun. Otaknya terasa kosong. Lidahnya kelu tak bisa berkata apa pun.

“Bukankah sejak awal aku sudah menasihatimu?” Emily mengedipkan mata.

“Pergilah ke jurang sana sebelum mobilnya meledak. Jika hal itu terjadi, kau pasti akan dipenggal oleh ayahmu dan Aaron akan menjadi penerus yang menguasai semua kekayaan keluarga Knight,” ujar Emily sebelum menyeringai jahat.

“Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!” balas Adam, garang.

“Oh, benarkah?” Emily sengaja membulatkan mata lalu menutup mulut dengan jemari lancipnya.

Malas bertengkar, Adam Knight segera meninggalkan Emily lalu berlari menuju jurang.

‘Ternyata mudah sekali membohongimu. Dasar pria bodoh. Gara-gara terlampau takut ditembak, kau terlupa satu perkara penting. Mana berani aku menelepon ayahmu yang terkenal bengis itu apalagi mengabarkan kematian Olivia kepadanya. Salah bicara, lidahku yang akan dipotongnya.’ Emily hanya bisa berkata dalam hati.

“Sayang, kamu mau ke mana?! Adam, jangan tinggalkan aku di sini. Di sini ada wanita gila. Dia akan membunuhku!” teriak Hilda dari pintu mobil ketika melihat Adam berlari ke jurang.

Emily berdecak jengkel.

“Ah iya. Hampir saja aku melupakan wanita sialan ini.” Dia menghampiri Hilda setapak demi setapak.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Dipuja Dua Penguasa   Part 23 | Kamu Pasti Sembuh

    ‘Rasakan! Pasti hatimu lagi sakit seperti diiris tipis-tipis. Wanita miskin dan angkuh sepertimu memang pantas dihina!’ cemooh Lisa, puas hati. Dia masih ingat akan semua penderitaan dan kesulitan yang dialaminya gara-gara Alora Smith, si pelacur gila itu. Ketika Lisa dan Robert senang hati melihat wajah malu Alora, dada Tuan Xavier Knight seperti ingin meledak. “Den, aku tidak suka…” “Tidak suka aku menjelekkan wanitamu?” Pemimpin keluarga Hudson itu menebak dan langsung menusuk jantung Tuan Xavier. Tuan Xavier menarik wajah masam sementara Tuan Dennis tertawa besar. “Kalau begitu, kamu harus mengajarkan tata karma pada wanita ini. Pastikan dia bersih dari noda kemiskinan dan sikapnya seharusnya tidak kampungan. Aku sudah mengingatkanmu, Xavier. Berhenti bermain-main dengan anjing yang ingin menjadi serigala karena pada akhirnya mereka akan menggigit tangan yang memberinya makan,” tambahnya dengan nada sinis. Alora mengetap bibir sambil meredam gelombang amarah di dada. Dia me

  • Dipuja Dua Penguasa   Part 22 | Tak Ingin Pergi

    Olivia berjalan perlahan-lahan di hamparan rumput yang luas. Sinar matahari pagi yang hangat menerangi setiap helai rumput berwarna hijau segar. Langit biru cerah tanpa awan membuat suasana menjadi begitu tenang nan damai. Angin bersilir-silir menyapa sekujur tubuh Olivia. Nyaman sekali. "Tempat apa ini?” Suara seraknya memecah kesunyian. Riak bingung terpahat di wajahnya. Olivia masih ingat dengan jelas. Dia dikejar Emily sebelum terlibat dalam kecelakaan. Kepalanya terbentur setir bahkan mobil mewahnya jatuh ke jurang. Segera dia menyentuh kepala dan memeriksa tangan dan kakinya. Bagaimana bisa tidak ada luka walau satu goresan pun? Ajaib! “Apa aku sudah mati atau aku sedang bermimpi?" gumamnya, tak mengerti. Mata Olivia liar memandang ke kiri kanan guna mencari sosok manusia dan hewan. Akan tetapi, tiada makhluk bernyawa yang ditangkap oleh netranya. Mengabaikan rasa takut, dia membiarkan kedua-dua tungkainya terus mengatur langkah. Sampai di puncak bukit kecil, dia me

  • Dipuja Dua Penguasa   Part 21 | Babu Putriku

    “Jawab aku, apa kamu pernah memikirkan Adam? Puluhan tahun dia membesar dengan pertelingkahan kalian yang tidak pernah usai. Fisiknya memang baik-baik saja tapi aku yakin, jiwa dan mentalnya sakit saat melihat Xavier menyiksamu. Apa kamu tahu itu?” tanya Tuan Dennis, gusar. Lisa mengatup tirai mata. Wajah Adam sewaktu kecil memenuhi benaknya. Anak itu… Tidak pernah memperlihatkan kesedihan walau sedikit. Dia sering tersenyum senang saat coba membujuknya setelah Xavier selesai melampiaskan segenap amarah di tubuhnya. Lisa masih ingat dengan jelas. Tangan mungil itu menyeka air mata yang membasahi pipinya dengan penuh kasih sayang. ‘Mama, jangan menangis. Ada Adam di sini.’ Hati kecil Lisa terenyuh. Dia kembali membuka mata. “Aku tahu.” Suaranya lirih sekali. “Kamu tahu tapi sengaja mengabaikannya! Adam butuh ibu yang bahagia agar dia juga bisa bahagia, Lisa.” Tuan Dennis menggeram. Tinjunya terkepal erat. “Setiap kali aku mendengar Xavier mengurungmu di penjara bawah tana

  • Dipuja Dua Penguasa   Part 20 | 100 Bunga Lavender

    Tuan Dennis Hudson melangkah pelan menuju kamar rawat inap VVIP yang ditempati putrinya. Sempat ia melemparkan senyum kepada ibu-ibu yang sedang menunggu lift. “Lihat! Tuan Hudson sudah datang.” Seorang perawat berbisik dengan antusias kepada temannya yang sedang mengisi data pesakit di komputer. “Hmmm.” Temannya hanya menyahut acuh tak acuh. “Kamu kenapa, June?” Dia merasa heran dengan reaksi temannya. Bukan ini yang dia harapkan. “Tidak apa-apa, Lina. Aku cuma pernah mendengar cerita dari beberapa senior kita bahwa Tuan Hudson itu sangat membenci wanita setelah kematian istrinya. Saking bencinya, dia hanya menerima laki-laki sebagai sekretaris pribadi,” ujar June. Lina melongo tak percaya. “Benarkah? Maksudmu, dia sudah menjadi pria yang suka beradu pedang?” Belum sempat June membalas, kepala perawat yang mendengar obrolan mereka segera memberi peringatan keras. “Jangan mudah percaya dengan omongan senior di sini. Berhentilah menggunjing dan lanjutkan kerja

  • Dipuja Dua Penguasa   Part 19 | Hari Duka

    “Xavier!” seru Tuan Marcus dengan suara yang sarat keputusasaan. Dengan terpaksa dia menyeret langkah kecil nan berat mendekati pasangan Knight. Bola mata Tuan Xavier Knight memindai wajah sedih Tuan Marcus Grant. Sementara itu, Alora menutup mulut dengan tangan sembari matanya terbelalak melihat kedua tangan pria gundul itu berlumur darah. “Mana putrimu? Bukankah aku telah menyuruhmu menyeret Emily kemari?” tanya Tuan Besar Knight, ketus. Alora mendekati suaminya lalu berbisik cepat, “Xavier, lihat tangannya.” Rasa marah berganti cemas secepat kilat. Tuan Xavier segera mendekati sahabatnya. “Bagaimana bisa tanganmu berdarah? Apa yang terjadi? Ceritakan padaku!” Kedua tangannya menggenggam erat lengan sahabatnya. Perlahan, netra basah Tuan Marcus menumbuk wajah khawatir Tuan Xavier. “Putriku… Dia… sudah… ma… mati.” Usai bicara, seluruh tulangnya terasa lemah lalu tubuhnya memerosot menyentuh lantai dingin rumah sakit. “Xavier, dia pingsan! Ya Tuhan, apa yang harus kita

  • Dipuja Dua Penguasa   Part 18 | Kehilangan Cahaya

    “Kau pasti sedang tidur di dalam peti mati saat ‘Lucas’ bertengkar dengan kakeknya.” Peter menyindir seraya melengos. “Langsung saja ke inti, apa sebenarnya yang telah terjadi?” Meski wajah Lucas tampak tenang, sorot matanya berubah sedingin kutub syamali. Peter mendesah sebal kala melihat binar menusuk dari mata sang alter ego Lucas yakni Lucky Luke. Ia tahu benar bahwa tidak ada yang bisa ia lakukan selain berkata jujur. Bagi Lucky Luke, hukuman yang pantas buat sang penipu adalah kematian. “Olivia kecelakaan dan sekarang dirawat di rumah sakit milik keluarga Knight. Dia masih hidup tapi…” “Tapi apa?” potong Lucas. Suaranya naik satu oktaf. Serentak, jantungnya berdenyut kencang. “Kedua kakinya lumpuh,” balas Peter, enteng. Dia telah menerima pesan khusus dari Carlos ketika membawa Fiona kepada Lucas. Ketenangan Lucas langsung buyar berganti amarah yang bergelegak. Lidahnya cepat mengeluarkan umpatan, “sialan!” Sontak satu tendangan singgah di bokong berotot Peter menyebabkan

  • Dipuja Dua Penguasa   Part 4 | Adam Abraham Knight

    ‘Dasar wanita ular. Penyihir jahat. Bagaimana bisa Nyonya Serena Grant melahirkan putri berhati jahat seperti ini?' 'Beliau sangat cantik, berhati baik, taat dengan perintah agama, sering ke gereja bahkan suka membantu orang yang memerlukan tetapi anaknya keras kepala, gilakan harta dan gemar memp

  • Dipuja Dua Penguasa   Part 3 | Putri Keluarga Grant

    “Baiklah, aku setuju membatalkan pernikahan gila ini. Asal kamu tahu, kisah cinta kita tidak pernah berakhir karena tidak pernah ada permulaan." "Lagian, aku dan kamu hanya dijodohkan, bukannya saling cinta. Urusan nenek, itu urusanmu." "Apa pun alasan yang akan kamu berikan pada keluarga kita, a

  • Dipuja Dua Penguasa   Part 2 | Aku Benci Kamu

    “Ah, caramu berbicara cukup tajam seperti belati yang bisa membunuh nurani. Tapi mau bagaimana lagi, kamu adalah putri tunggal dari keluarga konglomerat terpandang. Sudah tentu kamu terbiasa bersikap dingin, ketus dan… menyebalkan,” cemooh Lucas seraya menyeringai. Otak Olivia sudah terlampau lelah

  • Dipuja Dua Penguasa   Part 1 | Membatalkan Rencana Pernikahan

    Cafe Memories. Di tengah aroma kopi yang harum dan suasana yang tenang, seorang wanita berparas cantik membuka pintu kafe. Sejenak dia berdiri di muka pintu. Matanya berlari ke tiap sudut kafe kesukaan muda mudi itu untuk mencari seseorang. Sebaik saja netranya menangkap sosok sang pria, dia la

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status