INICIAR SESIÓN"Kenapa hidupku sial sekali?!" Olivia Hudson, seorang aktris terkenal telah tertimpa musibah yang beruntun hanya dalam satu tahun. Dia gagal menikah, hampir mati dalam kecelakaan mobil saat ditabrak limosin Tuan Adam Knight dan menderita depresi setelah kakinya lumpuh. Bahkan sekarang dia harus beradu akting dengan musuh bebuyutan sekaligus mantan tunangannya, Lucas Sullivan. "Kamu boleh menolakku, tetapi kamu tidak akan pernah terlepas dari genggamanku! Ingat, Via. Kamu harus membayar lunas semua utangmu." Saat syuting, terjadi hal yang tak pernah Olivia duga selama 29 tahun dia hidup. Dia terpaksa bertaruh nyawa menyelamatkan Lucas dari tenggelam di danau yang berbahaya tetapi usahanya berakhir tragis dan bikin semua penggemar menangis! Penasaran? Ayo, baca novel ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentar kalian agar Author terus semangat menulis. Terima kasih❤️
Ver más“You’re Home”
I said to my husband who barely glanced at me as he took off his suit, he just headed for the stairs and of course I followed.
Like the fool I was.
“How was it Jason, was work stressful today?” I tried again but still no response. I shouldn’t be surprised, this wasn’t the first time, or even the second, or the third time he’d done this. We used to be a happy couple back when our parents had practically arranged our marriage.
Our marriage had started off slow and boring but soon we had come to love each other, we couldn’t spend a day without calling, talking or touching each other. Jason suddenly became the love of my life, I had given myself to him. But things started to go sour when no child was coming, he didn’t say anything at first but he grew distant but soon enough he let me know; with large outbursts and yelling, even going as far to beat the crap out of me once for yelling back.
I still loved him, maybe I would forever which was while I tried to make amends. I had made dinner in the diner room, wanting a fresh start and to apologize when logically I didn’t need to.
I watched as he took off his shirt and licked my lips, he was still perfect; perfect tan body, rock hard abs and tall. Jason slipped into a simple loose shirt and pants then turned to plop on the bed.
“I made dinner……for you” I blurted out and he stared at me, I could see the anger in his eyes, as if he was ready to shun me then he nodded.
“Thank you” he said and stood, “Lead the way” came his deep voice. I smiled and happily got up and lead the way downstairs—maybe tonight could be the night where we smooth things over, maybe tonight we could go back to what we used to be.
We sat down and he sat across staring at me and I blushed. Why was he staring at me like that? Was he still angry or maybe he was starting to let all the fighting go, maybe he was still in love with me. No one stared at someone like that without having feelings, I looked down avoiding his green gaze but smiled underneath—tonight is that night.
We dug into the food and I watched as he ate, still nervous. He mostly did the eating while I just took small bites, still eager to see where this leads.
“This is good” he said, eyes roaming over my face and I smiled trying so hard not to blush.
What was wrong with me? He is my husband.
“You like it?” I asked and he nodded, I grinned wanting to push further.
“How was work today?” I asked and he stopped, for a moment I thought I had fumbled everything. My heart pounded harder then he smiled, though it looked forced but it was better than his rage the last few weeks.
“Good, more investors today. Stocks are rising and the market is blooming, couldn’t be anymore better” he stopped and stared at me.
“What about you? You good?” He asked and my heart did a frog jump, did he just ask how I was? The corner of my lips lifted in a small smile.
“Yes I am” I answered and he dug into his food again without reply. I followed suit, still brimming with excitement, maybe this night wasn’t going to be bad after all—maybe I could get him to realize that he used to love me….and maybe we could make love. I smiled at the thought. It's been a long time since we did it for affection not breeding like rabbits.
Jason stood and pushed his chair back, I didn’t realize that he had finished his food, he nodded to me suddenly looking cold.
“Thanks for the meal, I’ll head upstairs now” he said and pivoted on his heels. I stood abruptly and blocked his path.
“Jason I…..I…..have ummm….ermmm….something to say to you” I said and his eyes lit up.
“You’re…….”
“I love you” I blurted out. That’s when I knew everything was gonna fall apart. I watched as his blue eyes darkened, filling with rage. He stepped closer and I backed away, I have never seen him look so angry, like he wanted so bad to kill me.
“You love me?” He said dangerously then he laughed, a short one then without warning he backhanded me. I stood there in shock, not expecting.
“Jason what did I…..”
“SHUT YOUR GODDAMN MOUTH!!!!!” He yelled so loud that I flinched. “You must be stupid, to even think you did all this to tell me you are pregnant. I don’t care if you love me, give me a child, for fuck’s sake one child is all I ask, you whore” he yanked my hair and started to drag me up the stairs.
“Jason stop what are you doing, Jason no” he kicked me right in the face and I closed my mouth, tears streamed down my cheeks as he dragged me up the stairs he stopped at the bedroom door and kicked it open. I watched in horror as his fist came for my face hard, not even one ounce of holding back.
I suddenly felt dizzy, and the room spun around me. Jason picked me up and toss me right at the far side of the tiled floor. I lay there weakly as he tore my clothes off my body and he started to take off his belt, he raised it high then his phone rang.
He stopped and pointed a finger at me then picked up the phone.
“Hello babe” I heard someone say across the phone and my heart stopped.
Babe? And why did that voice sound so familiar
Jason grinned and sat on the bed, “Yes baby, anything I can do for you”
“You said you were gonna marry me soon, can’t stop thinking about it, you said you were gonna leave her” came the voice.
“Yes, I do” Jason said, chuckling. “I have the divorce papers ready”
‘Rasakan! Pasti hatimu lagi sakit seperti diiris tipis-tipis. Wanita miskin dan angkuh sepertimu memang pantas dihina!’ cemooh Lisa, puas hati. Dia masih ingat akan semua penderitaan dan kesulitan yang dialaminya gara-gara Alora Smith, si pelacur gila itu. Ketika Lisa dan Robert senang hati melihat wajah malu Alora, dada Tuan Xavier Knight seperti ingin meledak. “Den, aku tidak suka…” “Tidak suka aku menjelekkan wanitamu?” Pemimpin keluarga Hudson itu menebak dan langsung menusuk jantung Tuan Xavier. Tuan Xavier menarik wajah masam sementara Tuan Dennis tertawa besar. “Kalau begitu, kamu harus mengajarkan tata karma pada wanita ini. Pastikan dia bersih dari noda kemiskinan dan sikapnya seharusnya tidak kampungan. Aku sudah mengingatkanmu, Xavier. Berhenti bermain-main dengan anjing yang ingin menjadi serigala karena pada akhirnya mereka akan menggigit tangan yang memberinya makan,” tambahnya dengan nada sinis. Alora mengetap bibir sambil meredam gelombang amarah di dada. Dia me
Olivia berjalan perlahan-lahan di hamparan rumput yang luas. Sinar matahari pagi yang hangat menerangi setiap helai rumput berwarna hijau segar. Langit biru cerah tanpa awan membuat suasana menjadi begitu tenang nan damai. Angin bersilir-silir menyapa sekujur tubuh Olivia. Nyaman sekali. "Tempat apa ini?” Suara seraknya memecah kesunyian. Riak bingung terpahat di wajahnya. Olivia masih ingat dengan jelas. Dia dikejar Emily sebelum terlibat dalam kecelakaan. Kepalanya terbentur setir bahkan mobil mewahnya jatuh ke jurang. Segera dia menyentuh kepala dan memeriksa tangan dan kakinya. Bagaimana bisa tidak ada luka walau satu goresan pun? Ajaib! “Apa aku sudah mati atau aku sedang bermimpi?" gumamnya, tak mengerti. Mata Olivia liar memandang ke kiri kanan guna mencari sosok manusia dan hewan. Akan tetapi, tiada makhluk bernyawa yang ditangkap oleh netranya. Mengabaikan rasa takut, dia membiarkan kedua-dua tungkainya terus mengatur langkah. Sampai di puncak bukit kecil, dia me
“Jawab aku, apa kamu pernah memikirkan Adam? Puluhan tahun dia membesar dengan pertelingkahan kalian yang tidak pernah usai. Fisiknya memang baik-baik saja tapi aku yakin, jiwa dan mentalnya sakit saat melihat Xavier menyiksamu. Apa kamu tahu itu?” tanya Tuan Dennis, gusar. Lisa mengatup tirai mata. Wajah Adam sewaktu kecil memenuhi benaknya. Anak itu… Tidak pernah memperlihatkan kesedihan walau sedikit. Dia sering tersenyum senang saat coba membujuknya setelah Xavier selesai melampiaskan segenap amarah di tubuhnya. Lisa masih ingat dengan jelas. Tangan mungil itu menyeka air mata yang membasahi pipinya dengan penuh kasih sayang. ‘Mama, jangan menangis. Ada Adam di sini.’ Hati kecil Lisa terenyuh. Dia kembali membuka mata. “Aku tahu.” Suaranya lirih sekali. “Kamu tahu tapi sengaja mengabaikannya! Adam butuh ibu yang bahagia agar dia juga bisa bahagia, Lisa.” Tuan Dennis menggeram. Tinjunya terkepal erat. “Setiap kali aku mendengar Xavier mengurungmu di penjara bawah tana
Tuan Dennis Hudson melangkah pelan menuju kamar rawat inap VVIP yang ditempati putrinya. Sempat ia melemparkan senyum kepada ibu-ibu yang sedang menunggu lift. “Lihat! Tuan Hudson sudah datang.” Seorang perawat berbisik dengan antusias kepada temannya yang sedang mengisi data pesakit di komputer. “Hmmm.” Temannya hanya menyahut acuh tak acuh. “Kamu kenapa, June?” Dia merasa heran dengan reaksi temannya. Bukan ini yang dia harapkan. “Tidak apa-apa, Lina. Aku cuma pernah mendengar cerita dari beberapa senior kita bahwa Tuan Hudson itu sangat membenci wanita setelah kematian istrinya. Saking bencinya, dia hanya menerima laki-laki sebagai sekretaris pribadi,” ujar June. Lina melongo tak percaya. “Benarkah? Maksudmu, dia sudah menjadi pria yang suka beradu pedang?” Belum sempat June membalas, kepala perawat yang mendengar obrolan mereka segera memberi peringatan keras. “Jangan mudah percaya dengan omongan senior di sini. Berhentilah menggunjing dan lanjutkan kerja
“Hah, cinta?! Kau pikir dengan cinta, perutmu bisa kenyang, rasa hausmu bisa hilang?” sindir Tuan Ingomar. Wajahnya menyiratkan keangkuhan yang sama sekali tidak coba ia tutupi. “Aku–” Lucas tak berhasil membela diri sendiri, kalimatnya tergantung tak terselesaikan. Sambil menepuk dada, Tuan Ingo
“Pergi! Jangan mendekat!” bentak Hilda. Riak gelisah tampak nyata di mukanya. Telapak tangan mulai berkeringat seiring dengan perubahan warna muka yang memucat. Emily cuma mengorak senyum bengis. Semakin dilarang, semakin tinggi keinginannya untuk menuntaskan dendam. Lagian sudah bertahun-tahun
‘Jadi Adam masih tidak tahu kalau Nona Hudson itu adalah Olivia Hudson, aktris populer di kota ini,’ batin Hilda menimpali. “Bercanda tidak ada dalam kamus hidupku. Satu hal yang harus kamu tahu, aku sama sekali tidak peduli padanya,” tekan Adam, terdengar sangat meyakinkan. Namun, Hilda masih bel
“Bagaimana aku tahu? Ayolah, gunakan otakmu. Ingat masa lalumu baik-baik,” desis Olivia, sinis. Senang sekali rasanya bisa mengusik jiwa Emily. Sekejap mata, Olivia mengerang kesakitan ketika Emily mendadak mencengkeram lehernya. Terasa nyata betapa tajamnya kuku wanita berotak rusak ini di kulit












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reseñasMás