Beranda / Romansa / Dirty Office / Bab 112 ‘Menuju Puncak’ di Rooftop

Share

Bab 112 ‘Menuju Puncak’ di Rooftop

Penulis: Cynta
last update Tanggal publikasi: 2026-02-05 16:29:02

Mobil hitam milik Keenan telah berhenti di depan lobby penthouse, ia sudah tidak sabar melangkah ke ruang penthouse miliknya dimana Aruan sudah menunggunya dengan perut yang terasa begitu lapar. Keenan segera menelpon untuk meminta Aruna bersiap ikut dengannya.

[Aruna..]

[Ada apa Keenan?! Kamu sampai mana? Lama sekali.]

[Ganti pakaianmu, kita makan malam di luar.. Aku sudah melangkah ke arah penthouse..]

[Astaga, kenapa mendadak sih?! Katanya tadi—]

[Cukup Aruna, jangan cerewet saat ini..
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dirty Office   Bab 404 Perayaan di Atas Ranjang

    ​Keenan melangkah di koridor mansion dengan jantung yang berdebar kencang, bukan karena sisa adrenalin dari interogasinya pada Randi, melainkan karena bayangan wanita yang menunggunya di balik pintu kamar utama. Ia membuka pintu dengan sangat perlahan, gerakannya begitu hati-hati hingga nyaris tidak menimbulkan suara gesekan sedikit pun. Pandangan pertamanya langsung tertuju pada boks bayi di sudut ruangan, Kenzo masih terlelap dalam posisi menungging yang lucu, nafasnya teratur dan tenang. ​Keenan menghela nafas lega. ‘Aman,’ pikirnya nakal. ​Ia kemudian mengalihkan tatapannya ke ranjang king size di tengah ruangan. Di sana, Aruna tampak terlelap dengan posisi miring, jubah mandi sutranya sedikit tersingkap menampilkan lekuk bahu dan paha yang putih bersih di bawah cahaya lampu tidur yang redup. Pemandangan itu seketika membangkitkan gairah Keenan yang sudah tertahan sejak tadi. ​Tanpa suara, Keenan melepaskan jas, jam tangan, dan kemejanya, membiarkan pakaian mahal itu jatuh begi

  • Dirty Office   Bab 403 Tunggu Aku di Ranjang

    ​Dengan satu gerakan terlatih, Keenan menerjang pria itu dari samping. Kekuatan fisik Keenan yang jauh di atas rata-rata membuat si penyusup terkapar di lantai dengan suara tulang yang berderak saat Keenan mengunci lengannya ke belakang. ​"Buka penutup kepalanya," perintah Keenan dingin. ​Nando menyentak hoodie pria itu. Aruna, yang ternyata nekat menyusul ke depan pintu karena rasa khawatir yang tak tertahankan, menutup mulutnya dengan tangan bebasnya. Matanya membelalak lebar. ​"R-Randi?" suara Aruna pecah karena tidak percaya. ​Pria itu adalah Randi, salah satu rekan satu angkatan Aruna saat di universitas dulu. Pria yang dikenal pendiam namun sangat cerdas di laboratorium. ​"Bajingan," desis Keenan. Ia menekan wajah Randi ke lantai dengan lututnya. "Jadi kamu orang keempat yang memiliki akses frekuensi ini? Bagaimana bisa?" ​Randi hanya meringis kesakitan, matanya menatap Aruna dengan kilatan kebencian yang dalam. "Aruna selalu menjadi emas, sementara kami hanya sampah di ma

  • Dirty Office   Bab 402 Apa yang Sebenarnya Terjadi

    ​Keenan ikut menoleh ke arah papanya, wajahnya kembali mengeras, menuntut jawaban. "Iya, Pa. Kenapa semua orang tidak bisa dihubungi setelah kalian menelpon? Kami sampai panik dan terburu-buru saat perjalanan, sekarang katakan apa yang terjadi Pa?" ​Pak Alex menghela napas panjang, ia melirik ke arah petugas polisi yang sedang berbicara dengan tim keamanan mansion di sudut ruangan. ​"Seseorang menyabotase gardu listrik utama mansion setengah jam yang lalu, Keenan. Bersamaan dengan itu, sinyal komunikasi di seluruh area ini tiba-tiba diputus dengan alat pelacak frekuensi tingkat tinggi. Polisi datang karena alarm darurat cadangan yang langsung terhubung ke markas besar berbunyi otomatis saat ada percobaan masuk paksa ke gerbang belakang," jelas Pak Alex dengan wajah serius. ​"Masuk paksa?" Keenan mengepalkan tangannya. "Siapa?" ​"Pria berbaju hitam, tapi mereka kabur begitu polisi sampai. Namun, di tengah kegelapan dan kepan

  • Dirty Office   Bab 401 Kejutan di Tengah Kepanikan

    ​"Kenzo! Kenzo!" teriakan Aruna seakan menggema di dalam ruangan, suaranya terdengar parau yang pecah karena tangisnya. ​Keenan menyusul di belakangnya, wajahnya tampak sangat mengerikan. Ia segera merangkul pinggang Aruna agar istrinya tidak jatuh tersungkur. Di depan pintu utama, Pak Alexander dan beberapa perawat rumah tangga berdiri dengan wajah yang sulit diartikan. ​"Papa! Ada apa dengan Kenzo? Kenapa banyak polisi?!" Keenan tanpa sadar membentak, suaranya menggelegar di tengah kegelapan malam. ​Pak Alex tidak menjawab, ia hanya menunjuk ke arah ruang tengah yang kini diterangi oleh beberapa lilin besar dan lampu darurat. Aruna berlari masuk, napasnya tersengal-sengal. Namun, langkahnya mendadak melambat, lalu berhenti total tepat di ambang pintu ruang keluarga. ​Di tengah karpet bulu yang tebal, di bawah cahaya temaram, terlihat sosok bayi mungil yang sangat mereka rindukan. Kenzo sedang duduk di sana, dikelilingi ol

  • Dirty Office   Bab 400 Firasat Seorang Ibu

    ​"Sial! Ada apalagi ini?!" geram Keenan dengan napas memburu. Ia terpaksa menjauhkan wajahnya dari leher Aruna, meski tangannya masih betah meremas pinggang istrinya yang sensitif. Gairah yang hampir semakin memuncak itu menguap seketika, digantikan oleh ketegangan yang menyesakkan dada.​"Keenan, kita pulang sekarang! Aku tidak mau terjadi apa-apa pada Kenzo... Aku merindukannya, Keenan!" rengekan Aruna terdengar sangat pilu. Wajah pucatnya kini dipenuhi kecemasan yang luar biasa. Ia segera merapikan kancing pakaian rumah sakitnya dengan tangan gemetar.​Keenan beranjak dari tempatnya. Ia menyugar rambutnya dengan kasar, mencoba mengatur kembali emosinya yang berantakan. Ia merapikan kemejanya yang kusut dan memakai jasnya kembali, berusaha mengembalikan wibawa sang CEO Arkana meskipun hatinya sendiri sedang bergejolak.​Tok.. Tok.. Tok..​Ketukan di pintu semakin tidak sabar. Keenan melangkah lebar, membuka pintu Suite dengan sentakan kasar. "Na

  • Dirty Office   Bab 399 Hanya Milikku

    ​Keenan melangkah keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang campur aduk. ‘Aku tidak menyangka, otak Aruna bisa secerdas itu sampai menjadi target profesornya yang gila itu!’ Di satu sisi, Keenan sangat muak dengan kegilaan Profesor dan Adrian. Namun di sisi lain, ia merasa takjub sekaligus cemas. Ia tidak pernah menyangka bahwa kecerdasan Aruna begitu luar biasa hingga mampu menciptakan sesuatu yang ditakuti dan juga di incar oleh para ilmuwan sekaliber Profesor. Keenan berjalan dengan langkah lebar menuju lift, tujuannya hanya satu, Suite VIP di lantai atas. Ia harus melihat Aruna. Ia harus memastikan istrinya itu tahu bahwa ia tidak peduli seberapa berbahaya otaknya, baginya Aruna tetaplah wanita yang ia cintai. ​Setibanya di depan Suite VIP, penjagaan tampak sangat ketat. Empat pengawal berseragam hitam berdiri tegap di depan pintu. Begitu melihat Keenan, mereka serentak menunduk dan membuka pintu. ​Keenan masuk ke da

  • Dirty Office   Bab 61 Apa ini..?

    Aruna memperhatikan Keenan dan Nando secara bergantian dengan dahi berkerut, sorot matanya penuh rasa curiga. “Kenapa kalian berdua diam saja..?!” kesal Aruna, ia menghentikan makan siangnya. Keenan berdiri, ia memberi kode pada Nando agar bertukar tempat. Keenan kini duduk di tengah, ia berusah

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-20
  • Dirty Office   Bab 62 ‘Beradu Mulut’ di Ruang Meeting

    Aruna masih terisak pelan di pelukan Keenan. Rasa sesak di dadanya akibat foto kecelakaan itu perlahan memudar, digantikan kehangatan dari dekapan pria yang berusaha ia benci selama lima tahun karena ia anggap selingkuh. ​Keenan merenggangkan pelukannya sedikit, ia menangkup wajah Aruna yang semba

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-20
  • Dirty Office   Bab 64 Kamu menantangku?

    Saat Keenan hendak melangkah keluar dari lorong dengan langkah tertatih, tiba-tiba sosok Nando muncul dari balik tikungan koridor. Nando menghentikan langkahnya, menatap Keenan dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan dahi berkerut.​"Loh? Kenapa denganmu, Keenan? Kamu seperti.. Habis

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-20
  • Dirty Office   Bab 59 Di Balik Ruang Rahasia

    ​Tiba-tiba, seorang pria berseragam butik mewah datang membawa beberapa kantong belanjaan besar. "Permisi, paket untuk Bapak Keenan Ignazio Arkana. Harus diserahkan langsung atau melalui asisten pribadinya?" “Saya asisten Pak Keenan, berikan saja pada saya. Nanti saja sampaikan kepada Pak Keenan..”

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-20
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status