MasukRenja menjalani kehidupan rumah tangga tanpa tahu perasaan suaminya, Darel. Terkadang dia merasa dicintai, namun di waktu berbeda suaminya seakan tidak peduli. Darel terlalu sulit untuk Renja mengerti. Dia tidak tahu cara menjaga perasaan, bersikap seyakinnya saja. Mungkin ini salah Renja yang terlalu serakah. Pada akhirnya Renja yang mengalah, tidak mengharapkan apa pun lagi dari Darel. Hal itu membawa kehampaan bagi Darel sendiri. Bagaimana cara mereka memperbaiki hubungan rumah tangga mereka? Langsung aja baca!
Lihat lebih banyak🥀🥀🥀🥀
#Pov Humaira
"Bang, minta uang, ga ada stok lagi di dapur, gas habis, beras habis, bumbu menipis," ucapku pada suamiku yang baru bangun tidur.
"alah uang mulu yang ada di otakmu, baru Minggu lalu kukasih limpul udah mintak lagi, dasar boros," ucap Bang Imron suamiku seraya pergi ke kamar mandi, untuk mandi dan siap-siap pergi kekantor.
"Ya sudah hari ini, aku ga bisa masak apa apa, jangan salahkan aku" ucapku tak mau kalah.
Jengkel menghadapi suami pelit macam dia, apa apa perhitungan apalagi kalau masalah uang. Bang Imron siap duduk dimeja makan "mana sarapan? udah jam segini belum ada apa-apa dimeja, dasar pemalas," sambil memukul meja. " Kan tadi sudah kubilang ga ada apa-apa lagi makanya kasih uang," ucapku kesal. "Hari ini ga ada uang belanja, lebih baik aku sarapan di kantor saja," ucapnya sambil ngeloyor pergi tanpa pamit dan tanpa salam. Tinggal lah aku seorang diri, baiklah aku akan ngutang ke warung Mpok Leha saja, mudah-mudahan dikasih. "Mpok bisa ngutang kah? Beras 1 kg, gas, dan tempe 1 saja!" ucapku penuh harap. "Ngutang mulu kamu Hum, yang kemaren aja belum di bayar, ini dah mau nambah!" ucap Mpok Leha kesal. "Nanti kalau sudah ada rejeki dibayar Mpok," ucapku memelas "Oke ku beri waktu seminggu, harus sudah lunas semua" "Baik Mpok, akan saya usahakan" ucapku"Pokoknya aku ga mau tau, jangan cuma janji-janji aja ingat itu" balasnya emosi
"Baiklah Mpok Insya Allah" jawabku.
Akhirnya aku pun pulang dengan belanjaan yang tak seberapa itu, asal bisa mengganjal perut Bang Imran malam nanti, walau dia ga mau tau, tiap ngutang ga pernah mau bayar, karena aku yang ngutang bukan dia katanya. Terlalu! Segera kubereskan urusan rumah, menyapu, ngepel, nyuci baju nyuci piring dan memasak tempe sedikit, sisanya mau dimasak sore nanti menjelang Bang Imron pulang. Setelah makan, aku pun bergegas keluar, berkeliling kampung, manatau ada yang memerlukan jasaku, walaupun menahan malu, mengetuk tiap pintu untuk menawarkan jasa mencuci baju, menyetrika, atau apa saja yang bisa menghasilkan uang, berapa pun dibayar aku terima. Alhamdulillah setelah seharian berkeliling, sudah ada 100 ribu ditangan, ada sekitar 5 rumah yang memakai jasaku, dari sekian banyak yang kudatangi. Aku pun segera membayar utang ke warung Mpok Leha, "Ini Mpok utangku yang tadi, sekalian sama yang kemarin" kuserahkan selembar uang merah pada Mpok Leha. "Tumben lu, cepat banget bayarnya, nih kembaliannya" ucap Mpok Leha menyodorkan 20 ribuan, Setelah mengambil kembalian aku pun berlalu pergi *** Sampai di rumah aku pun segera mandi kemudian sholat Ashar, lalu beranjak ke dapur, kuolah tempe td menjadi tempe goreng tepung, dan tumis bunga pepaya yang kupetik tadi di depan rumah. Halaman rumah memang tidak seberapa luas tapi kumanfaatkan dengan bercocok tanam, kutanami pepaya berbagai jenis cabe, kacang panjang, ubi kayu, bayam, bumbu dapur seperti kunyit, jahe, kencur pun ada, walau tidak banyak tapi lumayan lengkap. ***Kutunggu tunggu Bang Imron tak jua datang, "kemana Bang Imron, sudah hampir Magrib belum juga pulang" ucapku dalam hati.
Tin...tin....
Suara klakson motor Bang Imron, mengagetkanku, aku pun bergegas menuju halaman membuka pintu pagar.
"Lama kali pun, ngapain aja kau?" Ucap Bang Imron
"Maaf, Bang..." ucapku
"Sudah sana siapkan air mandi ku, habis tu mau makan aku dah lapar kali"
"Iya, Bang tunggu sebentar"
Setelah selesai mandi dan berganti baju, Bang Imron duduk di meja makan, dan membuka tudung saji
"Makanan apa pula ini, tak mau aku makan, ga selera aku, suami capek pulang kerja, ini yang kau suguhkan samaku, dasar istri gak guna"
Berderai lagi air mataku, tak sanggup lagi rasanya berkata-kata
"Tu lah yang kau bisa, bisanya cuman nangis dan nangis, kalau begini caranya, lebih baik kita masing-masing, kutalak engkau wahai Humaira Salsabila," ucapnya
"Kenapa semudah itu kau ucapkan kata itu Bang, tolong jangan katakan itu Bang kumohon aku akan perbaiki semuanya," ucapku masih tersedu.
"Alah merengek pula kau, sudah tak mempan aku, sekarang juga kau angkat kaki dari rumahku dan jangan bawa apa-apa selain baju-baju butut kamu," ucapnya kian meradang.
"Baiklah, aku akan segera bersiap."
Aku pun segera berkemas, sebelum pergi ku sempatkan sholat Maghrib terlebih dahulu.
"Alah pake sholat dulu, kelamaan,"
Aku yang sedang sembahyang jadi kurang khusyuk, dan mempercepat gerakanku.
Setelah selesai aku pun pamit, "Maafkan aku selama menjadi istri mu Bang," seraya bibirku bergetar dengan dada yang sesak mencoba mengatur nafas agar tak mengeluarkan air mata dihadapannya.
Kurasa tiada guna aku bertahan, apalagi harus memohon, sudah seringkali dia menyakiti hatiku seperti ini, namun aku tetap bertahan dan bersabar, mungkin perpisahan ini lebih baik daripada saling menyakiti perasaan, atau tidak adanya kenyamanan kedua belah pihak.
"Sudah sana pergi, ga usah drama..." usir suamiku
"Nanti surat cerai nyusul, akan ku kirimkan ke rumah orang tuamu" ucapnya lagi
Aku pun segera beranjak pergi, tak mau lagi berlama-lama, karena percuma saja memohon, untunglah aku belum memiliki anak dengan nya.
Kubuka pintu, tiba-tiba ada seseorang yang hampir mengetuk pintu.
"Laras..." Pekik Bang Imron kaget.
<span;>NEXT
Hai teman-teman, terimakasih sudah mampir di ceritaku ya,
Ditunggu like dan komentar serta kritik dan sarannya ya teman-teman,
Dukung terus karya-karya Othor ya? biar Othor semangat lagi up nya,
Jangan lupa juga untuk subscribe dan juga follow akun Othor ya,
Terimakasih
Para pembantu mengemasi barang dari lemari ke koper. Sementara dia wanita duduk di birai ranjang dengan perasaan yang berbeda. “Kenapa tidak menunggu lahiran saja baru pulang, Nak?” Berat Liana melepaskan menantunya yang telah menemani selama enam bulan di sini. Ia lihat senyuman Renja tampak tak sabar meninggalkan rumahnya, membuat ia bertanya-tanya tentang kenyamanan menantu di rumah mertua seburuk apa? “Aku merindukan rumahku, Bu. Lagipula di sana Darel bisa istirahat sepenuhnya dari pada mengurus pekerjaan yang tiada habis. Kasihan, dia baru saja sembuh.” “Ibu mengerti, tapi ... Apa tidak masalah Darel meninggalkan kantor sekarang? Bagaimana kalau ....” Liana tidak melanjutkan perkiraan buruk, ia yakin Renja mengerti apa maksudnya. “Darel bilang dia meletakkan Bapak duduk di kursi CEO, tentu bergerak sesuai perintah Darel. Pemilik bisa melakukan hal itu, menggerakkan orang untuk mencari uang menggunakan uang. Aku pernah dengar kata-kata itu.” Renja sudah terbiasa dengan
Kurang dari seminggu, berita ahli waris sebenarnya dari perusahaan di ujung tanduk kebangkrutan mengambil kembali posisinya menyebar dan menarik perhatian. Berbagai macam spekulasi dari internet, rata-rata mempertanyakan apakah pewaris asli akan berhasil mendirikan kembali kejayaan yang dibangun kakek dan ayahnya? Ya, itu pertanyaan yang patut dipertanyakan. Darel tidak memedulikan nasihat dari sesama pebisnis, mereka mengutarakan pendapat dari dampak kerugian besar jika Darel terus melanjutkan hal yang seharusnya tidak dapat diperbaiki lagi. “Kami menghormati Anda, tapi kami tidak bisa bertaruh pada hasil yang tidak terlihat sama sekali.” Ini sekian kalinya Darel ditolak oleh investor incarannya. Mungkin bapak itu akan dengan senang hati bekerja sama dengan bisnis Darel yang lain, namun tidak dengan perusahaan kritis ini. Darel permisi keluar dari ruangan, dia keluar dari perusahaan tersebut tanpa menggenggam hasil. Meski begitu, tidak ada raut kecewa sama sekali di wajah Da
Kepala Renja mendongak tinggi, berusaha melihat sebuah bangunan mewah yang sayangnya tak dapat dicapai matanya sampai ke puncak. Kekaguman terpancar jelas dari netranya, terpaku di samping mobil dalam halaman luas tertata strategis. Saat Darel keluar dari mobil, pria itu merangkul pinggangnya, membawa Renja masuk tanpa memberikan penjelasan ini rumah siapa. “Ini rumah siapa?” tanya Renja menghentikan langkah, tangan Darel hampir terlepas dari panggangnya sebelum pria itu ikut berhenti. “Mertuamu,” jawab Darel dalam sekali helaan napas berat. Wajah Renja seketika pucat, memegang kepala dengan kedua tangan, frustrasi. Kenapa Darel tidak bilang sejak tadi? Dia tidak membawa apa pun sebagai hadiah. Bagaimana tanggapan mertuanya nanti? Terlebih ini kali pertama mereka akan bertemu. Mata Renja menilik cepat, membara kesal. “Bagaimana aku bisa masuk tanpa membawa apa pun?! Darel kau benar-benar—” Telunjuk Darel mendarat di bibir Renja, membungkuk, wajahnya begitu dekat sampai
[Nah, kan, benaran hamil. Selamat, Renja.] ~Dorie.Renja tersipu setelah pesannya dibalas oleh Dorie. Setelah semuanya jelas, kebahagiaan Renja sulit digambarkan. Tidak menggunakan prasangka untuk menilai, berakhir salah paham yang membuat dia hampir melakukan tindakan konyol seperti menyembunyikan kehamilan. Memang Renja harus menekankan diri untuk komunikasi, berhenti menebak-nebak seperti dia hidup sendiri saja. Kabar ini harus diberitahukan ke keluarga. Renja menggeser layar ponsel, mencari nomor kontak mamanya. Kemudian jarinya berhenti, ponsel tersebut terlepas dari genggamannya. "Astaga bagaimana aku bisa lupa?! Bapak!" pekik Renja, memegang kepala sendiri menggunakan kedua tangan. Mabuk berkelanjutan usai turun dari penerbangan, menjadi penyebab Renja sibuk memikirkan kondisi dirinya sendiri. Pun Darel tidak menyebutkan hal itu juga, selain ikut berpikir tentang sakit Renja yang sering mual kala lapar sedikit saja. Kaki Renja turun dari Ranjang, berlari kecil keluar dari
Menjengkelkan, hari masih gelap di luar sana, dan Renja terbangun oleh gejolak di perutnya. Wanita itu melarikan diri ke wastafel, memuntahkan makanan yang ia santap semalam. Seluruh tubuh lemas, pandangan berkunang-kunang, sehingga ia harus mencengkeram erat pinggiran wastafel. Usai itu Renja ter
Wanita gaun biru muda di sana sangat cantik; menggunakan topi baret putih, rambut tergerai di tiup angin, lalu heels putih berenda mutiara mini melingkar di kaki rampingnya. Dia memegang pembatas besi, bercakap-cakap menghadap laut bersama satu teman wanita yang manis menggunakan rok kuning kecokla
Ketegangan sedikit berkurang kala dokter memberitahu; Amar hanya perlu rawat inap untuk sementara waktu. Untuk saat ini dia belum sadar, diperkirakan setidaknya 3 sampai 4 hari baru bangun. Mereka mengelilingi Amar, prihatin dengan segala lukanya. Memar, banyak goresan, dan perban membalut kaki dan
Sudah lama rasanya Darel tidak merasakan kepalanya begitu ringan, masalah yang ia pendam untuk diri sendiri sekarang bukanlah hambatan lagi. Kalau tahu akan seperti ini, seharusnya ia memilih terbuka sejak awal pada teman hidupnya, Renja. Apa dia harus menerapkan gaya hidup seperti Renja? Menjadi da






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.