เข้าสู่ระบบDi dunia ini ada 3 manusia yang teramat Anya benci. Pertama papanya, ke dua ibu tirinya yang mirip leak, dan ke tiga Kamarudin Hasan- Dosen mata kuliah pengumpulan data kualitatifnya. Karena manusia satu itu dirinya harus mengulang tiga kali dimata kuliah yang sama dan terancam d.o karena menyebarkan gosip jika dosennya homoseksual. Padahal Anya tahu benar sepanas apa pria itu di atas ranjang apartemennya. Bagaimana jadinya jika Anya yang terlanjur benci, justru dilamar di depan anak satu kampus oleh dosen yang paling dibencinya itu? “Jadi istri saya, atau kamu saya tuntut karena pencemaran nama baik?!" Simak kisah serunya hanya di, "Dosen Kampret itu, Suamiku!!”
ดูเพิ่มเติมElena's POV
How did I get myself into this? I stared at the file in my hand, my fingers trembling as I held the pen about to sign a contract stating that I, Elena Carter agree to a three year marriage with this man, Alexander Sterling. Alexander sat across the table eyeing me with an unreadable expression waiting for me to sign it. Three years of my life. Three years as his wife. How did it come to this? My mind flashed back to the moment everything changed. A week ago… The scent of the bleach enveloped my nose. as I scrubbed the marble floors of the estate I was assigned to clean this morning. All these for a worthless pay and the rich people hardly gave tips to appreciate my effort. Oh well! I had to do it to support my mom's medical bills and my brother. My phone buzzed in my pocket, I quickly cleaned my hand on my apron and picked the call. “Elena..” The weak voice on the other end immediately made me tense and worried. It was my mother. “Mum, Is everything okay?.I asked “Come to the hospital…now” Before she ended the call I heard shouting. I didn't even think twice. I removed my apron and gloves, grabbed my bag and quickly left in a hurry not listening to my supervisor’s call. Another pay lost, but my mum's call was more important On getting to the hospital, St Vincent's Hospital. My mum has been receiving treatment from this hospital for as long as I can remember. Ever since she was diagnosed with Hemolytic Anemia, a rare blood disorder. I signed in and made my way to her room. I heard shouting as I was close to her door. I got to her room, my mother's weak frame lying on the bed as an elderly woman dressed in a long gown with black wavy hair was shouting at my mother. “You can't be shouting at a Patient like that.” I interrupted. “Elena..dear” My mum called to me. “You must be the daughter, You have not paid for the treatment for two months now. We allowed you but no more! Your mother will be discharged until you make payment.” she stated coldly “You can't just throw my mother out, she needs treatment..” The administrator scoffed“This is not a charity place, Mrs Carter so no payment, no treatment” I was about to snap at her when Doctor Owens, my mum's long time doctor who has been prescribing drugs and treatment for her came. “Elena, I understand you but it's strictly the hospital's policies so we can't continue treatment on your mother, I'm sorry” He calmly told me. The nurses and a few select patient guardians were watching us at this point. The Administrator walked off telling the nurses to get back to work. My mum squeezed my hand, and I looked at her “It's okay Elena” My mum said with her sweet voice as she offered me a weak smile. I smiled at her back but deep down It wasn't okay. They treated my mother like a charity case, a financial burden and it hurt so bad. I held my tears back in as I gently helped her get up from the bed to steady her steps as we made our way out of the hospital. We got to our apartment. Our small apartment with its tattered paint which was already peeling off. The door barely stood on its own and we got inside. The inside was comfy, our sagged couch stood in the middle, with a small coffee table I got on sale. On my right was the bedroom where Ryan and my mother slept. I slept in the living room, to create enough space for them and I didn't mind. The kitchen directly faces the sitting room that only fits one person at a time. I helped my mum on the couch, using the sheets to cover her. I needed to talk to someone. Sophie. On my way out. Ryan was just coming from school. He was in a black hoodie and worn out jeans with his bag hanging loosely on his shoulders. He was angry. Weird. “Ryan…How was school?” He ignored my question“They are not treating mum again right? Ryan asked, looking me straight in the eye with a sad look. “Ryan, it's okay. I'm going to fix this and pay for mum's treatment” I tried explaining to him. “With What..?Your good for nothing pays, you keep working everytime and still mum is dying….,” He shouted, His voice breaking on the verge of tears. His words hurt my chest “I'm trying” He scoffed “No you're not, You're just running in circles and everything happening to mum is because of you” Without another word, he stormed inside slamming the door behind him. I stood there for a moment as the words kept repeating in my head “Because of me”. Ryan blamed me for our mother's sickness and it hurt so much. A tear dropped. I can't let what he said get to me. I went over to see Sophie at the cafe she works at which was directly along my cleaning Agency. The fresh scent of nicely brewed coffee hit me as I entered the cafe. I sighted Sophie attending to a customer. I waved to her, her face lit up as she told someone to cover her shift making her way to me. “Lena!” She was so happy to see me as she hugged me. I just smiled and hugged her back. Sophie Adams has been my best friend since college. We met during a party where Sophie caused a scene throwing a blow to a guy who was trying to harass me. It was hilarious and also sweet because she didn't know me but she stood up for me. After that incident, we became best of friends. Since then Sophie has been my support system, helping in any way she can. “Are you good.?” She asked, noticing my face as she released me. “Not really, They stopped treatment on my mum and literally kicked her out then Ryan is acting up again. I finished taking a seat. “How dare they. You know what, we are going to find a better hospital to treat your mum and Ryan is just being ungrateful. Don't listen to his words, you try so hard working two jobs a day just to make ends meet. We will get through this together okay ” Sophie would go all out for me. She always made me feel better. “Thanks Sophie” I felt so much better.Kegagalan Josephin dalam menikahi Jesika secara dadakan akhirnya terbalas. Dikarenakan dirinya yang merupakan kakak Kamasea, ijab qobulnya pun dilaksanakan terlebih dahulu. Tak seperti biasa, Josephin benar-benar tidak mau mengalah pada saudara kembarnya. Untuk pertama kalinya ia bersikap egois, memprioritaskan dirinya di atas kemauan sang adik. “Hi, Wife..” Sapa Josephin dengan senyuman sehangat mentari kala penghulu telah mengesahkan pernikahan mereka. “Hello, Jo..” Pada meja yang bersebelahan dengan prosesi ijab qobul Josephin, Kamasea berseru. “Cih! Abang shut up! Gilirannya Ceya ini!!” Seruannya itu terdengar oleh seluruh tamu undangan mengingat adanya alat pengeras yang terpasang di atas meja ijabnya. “Ya Tuhan.. Punya anak pada ngebet kawin.. Dikira kawin enak kali ya..” gumam Anya, menepuk keningnya. Setelah Michellion yang biang kerok itu ia lepaskan dengan segenap keikhlasan hati, kini tibalah pada momen yang menurut Anya paling berat. Sebagai seorang ibu yang mencintai
Duka mendalam sedang dirasakan oleh Alexiz. Sejak penghulu yang menikahkan putrinya pulang, pria tampan itu terus saja menangis. Kenyataan dimana putrinya telah dipersunting oleh anak sahabatnya semakin terasa nyata.“Tell me! It was a dream, right? Tadi mereka cuman simulasi ijab aja kan?!” Ucap lirih Alexiz yang belum dapat menerima kenyataan.Melepaskan putri kesayangannya ke tangan pria lain merupakan mimpi terburuk Alexiz. Apalagi kepada orang seperti Michellion Hasan yang ia kenal baik kebobrokannya.“Alexiz, wake up! ini nyata! Lexa kita udah nikah, Lex. Dia akhirnya bisa raih cita-citanya..”Alexiz pun terhenyak. ‘Cita-Cita sampah sialan!’ maki pria itu dalam hati.Sejak kapan tepatnya menikah menjadi cita-cita? Putrinya sungguh abnormal. Disaat anak lain mencita-citakan pekerjaan setinggi langit, putrinya yang cantik dan sedikit tidak baik hati justru mengidam-idamkan lelaki bermasa depan suram seperti Michellion.Ngenes.. Ngenes! Mana anak satu-satunya lagi ah!“Stop crying
“Saya terima nikah dan kawinnya, Alexa Sasongko bin..” “Bin.. Bin-tiiii..” Plak! “Argh, Mama!!” erang Michellion kesakitan. “Satu tarikan napas, Ichell!! Satu tarikan!” berang Anya tak mengindahkan protes kesakitan bungsunya. “Serius dong! Jangan salah-salah mulu! Sekali salah lagi, nggak bisa kawin selamanya kamu!” timpal Anya, menakut-nakuti Michellion. Putranya sudah dua kali mengacaukan ijab qobulnya. Anya kan gemas jadinya. Kalau memang tidak niat menikah, anak itu seharusnya bersikap gentle, berani mengakui ketidaksiapannya di depan Alexa dan keluarganya. Memang dasar Michellion! Otaknya hanya berkembang jika menyangkut uang, selebihnya mah nol besar. Michellion yang ragu dengan pernyataan Anya pun bertanya, “masa sih, Mah? Masa gitu doang Ichell terus harus jadi jomblo seumur hidup?” “Dih, nggak percaya-an! Auto blacklist kamu tuh. Iya kan Pak Penghulu?” “Ng..” Melihat pelototan maut Anya, penghulu yang tadinya hendak menyangkal pun merubah jawabannya. “Iya, Mas! Mas h
“Gundulmu!” Sembur Alexiz, ngegas.Calon menantunya memang minta ditendang sampai ke Afrika. Ya mengapatidak– disaat suasana sedang panas-panasnya, anak itu tetap bisa mengelantur.Padahal ia sedang panas dingin karena mendeteksi adanya sinyal permusuhan dariorang-orang rumahnya.Anya menjentikan jari. “Woi! Jadinya gimana? Kaki gue pegel nih berdiri mulu!” tanya perempuan itu tak santai.“...”“Mah, Mah!!” sela Josephin karena omnya tak kunjung menanggapi pertanyaan sang mama. “Nikahin sekarang aja sekalian, Mah. Itung-itung jagain Om Lexiz kalau berubah pikiran lagi ntarnya..”“What?!”Siapa sangka jika usul Josephin itu mengagetkan dua pria disana.Iya, kalian tidak salah jika menebak pekikan tersebut berasal dari mulut Michellion dan calon papa mertuanya.Kali ini keduanya terlihat sangat kompak. Karena kekompakan yang jarang terlihat itu, keduanya bahkan sampai bertatapan mesra.Respon kaget yang mengisyaratkan ketidaksetujuan itu berbanding terbalik dengan Alexa.Alexa yang te
Flora melipat kedua tangannya. Ia menatap Kalingga dengan gelengan kecil kepalanya.Huft!Ternyata ada saat dimana suaminya yang perfect terlihat buruk rupa. Setampan apa pun Kalingga, pria itu akan tampak jelek ketika tidur dalam keadaan menganga.Flora baru menyadarinya sekarang. Mungkin kenyataan t
“Babi Bunting! Gue udah sampe kayak gini, bisa-bisanya lo masih sanggup ngemil! Bener-Bener ya lo, Nyam!”Kamarudin memperhatikan wajah kakaknya. Laki-laki itu tampak begitu terkejut melihat perangai Flora. Siapa pun pasti tidak akan mengira jika gadis secantik Flora, ternyata s
“Kamu dimana?”Ketika membuka matanya tadi, Anya tak menemukan keberadaan Kamarudin di kamar mereka. Biasanya meski ia tertidur, pria itu akan membangunkannya atau setidaknya meninggalkan pesan melalui asisten rumah tangga.Pria itu juga tidak berada di rumah ibu mertuanya
“Mau saya ambilkan sarapan?”“Nggak perlu.. Aku bisa ambil sendiri.” Ucap Anya menolak kebaikan hati Kamarudin.“Oke..” Kamarudin tidak ingin membuat pagi Anya semakin buruk. Setelah mereka terbangun, perempuan muda itu mengamuk— merasa jika Kamarudin telah memperdayai dirinya semalam. Tampaknya Anya












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็นเพิ่มเติม