Se connecterSampai pagi, mata Juki tidak mau terpejam lagi.
Jam enam, dia sudah nangkring di tangga depan kamar Ayu, membetulkan dua genteng yang melorot. Ayu berdiri di bawah, kedua tangannya memegangi tangga, rambutnya masih awut-awutan.
“Pacar baru rajin amat,” kata Ayu.
“Semalem katanya aku tinggal nyusul, Yu.”
“Lha ini lagi nyusul.” Ayu menyodorkan teh manis dalam gelas plastik ke atas. “Minum, Mas.”
Juki menerimanya pakai satu tangan. Baru kali ini, setelah dua tahun, dia benar-benar memperhatikan Ayu waktu bilang kalimat itu. Pipi Ayu memerah, lalu dia ngacir ke kamarnya.
Tapi selama memasang genteng, pikiran Juki tidak di atap. Pikirannya nyangkut di teras bertiang putih, di monstera layu, dan di foto bertoga berbingkai emas.
Begitu Juki naik ke bak pikap, Darto melongok dari jendela kabin sambil senyum, hal yang jarang sekali dia lakukan.
“Juki. Hari ini kamu turun di Pondok Indah. Rumah bos. Bu Darma minta tamannya dirapiin. Cukup satu orang.”
Asep langsung menyikut bahu Juki. “Waduh. Rumah mantan, euy.”
“Kok saya, Pak?” tanya Juki.
“Pak Gunawan muji-muji kamu terus ke bos. Sekarang bos penasaran.” Darto menyeringai. “Ati-ati aja. Jangan sampai ketemu anaknya terus mewek di taman.”
Asep ketawa, lalu mendekat dan berbisik. “Juk, kalau ketemu Silvi, senyumin aja. Biar dia yang bingung.”
“Terus kalau dia ngetawain aku lagi, Kang?”
“Ya ketawain balik atuh. Sekarang kamu punya duit, dia nggak tahu.” Asep nyengir. “Di situ seninya.”
Juki tidak ikut ketawa.
Setahun pacaran, belum pernah sekali pun Juki masuk ke rumah itu. Silvi selalu minta diturunkan di ujung jalan. Alasannya, Papa tidak suka suara motor berisik.
Sekarang Juki tahu alasan yang asli. Silvi malu ketahuan pacaran sama tukang rumput Papa.
Jam sembilan, pikap menurunkan Juki di depan rumah itu.
Pagarnya besi hitam, tinggi. Halamannya berumput rapi. Terasnya luas dengan tiang-tiang putih, dan di pojoknya ada ayunan rotan.
Langkah Juki tertahan di gerbang. Tengkuknya merinding.
Di sebelah ayunan ada pot monstera besar. Daunnya menguning, pinggirnya cokelat, beberapa lembar sudah terkulai sampai menyentuh lantai.
Bintik putih di lehernya langsung berdenyut hangat.
‘Persis. Sampai daun yang terkulai itu juga.’
“Masnya dari CV, ya?” Seorang ART paruh baya membukakan gerbang. “Saya Mbok Sum. Ibu masih yoga di samping. Mas mulai aja dulu.”
Juki mengangguk. Matanya belum lepas dari pojok teras.
Mbok Sum mengikuti arah pandangnya. “Yang itu jangan disentuh dulu, Mas. Monstera kesayangan Ibu. Tukang taman yang kemarin nyoba motong daunnya, langsung disuruh pulang.”
“Galak ya, Mbok?”
“Nggak galak. Cuma kalau soal yang satu itu, Ibu nggak mau ada yang asal-asalan.” Mbok Sum memelankan suara. “Itu peninggalan almarhumah nenek. Hati-hati lho, Mas.”
Juki mulai dari pinggir. Pagar tanaman dia pangkas, rumput liar dia cabuti, bedengan dia gemburkan. Monstera itu sengaja belum dia dekati. Tangannya gatal, tapi kakinya ragu.
Matanya malah melayang ke pintu kaca teras. Di dinding ruang tamu, Silvi bertoga tersenyum lebar dalam bingkai emas. Silvi yang sama, yang Kamis lalu bilang tangannya bau pupuk kandang.
“Kamu yang namanya Juki?”
Juki menoleh, dan gunting pangkasnya nyaris jatuh.
Perempuan itu berdiri di tangga teras, handuk kecil melingkar di lehernya. Baju senamnya hitam dan ketat, celana panjangnya sampai mata kaki. Kulitnya mengilap keringat tipis habis yoga. Umurnya kira-kira empat puluhan, tapi mukanya tenang dan awet muda. Matanya mirip Silvi, cuma lebih teduh.
‘Ini ibunya Silvi. Istrinya Pak Darma. Bos besar. Jangan dilihatin, Juk.’
“I-iya, Bu. Saya Juki. Dari CV.”
“Hesti.” Bu Hesti turun dua anak tangga sambil mengelap leher. “Silvi pernah cerita soal kamu.”
‘Mampus.’
“Ce-cerita apa, Bu?” tanya Juki pelan.
“Katanya kamu bikin drama di pasar. Ngancem dia bakal nyesel.” Bu Hesti bicara pelan, sama sekali tidak marah. Bibirnya malah tersenyum tipis. “Bener gitu?”
Juki menelan ludah. Gunting di tangannya mendadak berat. Dia bisa saja bilang itu salah paham. Dia bisa minta maaf, lalu kerja diam-diam sampai sore.
‘Jangan diem lagi.’
“Bener, Bu,” katanya. “Saya ngomong gitu.”
Alis Bu Hesti terangkat. Lama. Lalu dia tertawa kecil. Tawanya tidak dibuat-buat.
“Berani juga kamu. Ngaku gitu di depan ibunya.”
“Saya nggak ngancem, Bu. Saya cuma... capek dibilang tukang rumput terus.”
“Tukang rumput.” Bu Hesti mengulang kata itu sambil menoleh ke dalam rumah, ke foto bertoga tadi. “Iya, dia memang suka ngomong gitu. Dari kecil diajarin papanya, orang itu dinilai dari mobilnya.”
Juki tidak tahu harus menanggapi bagaimana.
Bu Hesti berjalan ke pojok teras dan berhenti di depan monstera layu itu. Ujung jarinya menyentuh satu daun yang menguning.
“Ini punya almarhumah ibu saya,” katanya. “Umurnya lebih tua dari Silvi. Setahun ini sakit-sakitan. Udah tiga tukang taman lihat, semuanya bilang buang aja.”
“Boleh saya coba lihat, Bu?”
“Silakan. Kalau mati, ya udah. Saya udah siap.”
Nadanya ringan, tapi tangannya tidak juga lepas dari daun itu.
“Bapak nggak bakal marah kalau saya yang pegang, Bu?” tanya Juki hati-hati.
“Bapak?” Bu Hesti tersenyum tipis. “Bapak lebih sering di luar kota daripada di rumah, Juki. Monstera ini hidup atau mati, dia juga nggak bakal tahu.”
Kalimat itu dia ucapkan biasa saja. Tapi Juki melihat jari Bu Hesti meremas daun kuning itu sedikit lebih kencang.
Juki berjongkok. Daun-daun yang sudah busuk dia buang. Tanahnya dia gemburkan pakai sumpit bambu dari saku. Lalu dua telapak tangannya dia tempelkan ke batang monstera itu.
Hanga itu datang. Mengalir dari dada ke lengan, lalu ke telapak. Bintik di lehernya berdenyut.
Pelan-pelan bau madu menguar.
Bu Hesti yang berdiri di belakangnya diam saja. Lalu dia melangkah lebih dekat.
“Kamu pakai parfum apa, Juki?” tanyanya.
“Nggak pakai, Bu.”
“Wangi madu, lho.” Bu Hesti ikut berjongkok di sebelah Juki, cukup dekat sampai bahu mereka hampir bersentuhan. Wangi sabun dan keringat tipis dari badannya bercampur dengan wangi madu itu. “Silvi nggak pernah cerita kalau kamu wangi.”
“Mungkin... bau sabun colek, Bu.”
Bu Hesti menoleh ke mukanya. Jarak mereka tinggal sejengkal. Matanya tenang, tapi ada sesuatu di dalamnya. Sepi yang sudah lama sekali, sampai jadi kebiasaan.
“Sabun colek,” ulangnya pelan. “Saya udah lama jadi istri orang, Juki. Saya tahu mana sabun colek, mana yang bukan.”
Juki membeku.
‘Waduh. Ini ibunya Silvi. Istri bos. Kenapa jantungku jadi begini?’
Bu Hesti berdiri duluan. Mukanya kembali tenang. Handuk di lehernya dia rapikan.
“Saya mandi dulu. Kalau haus, minta Mbok Sum bikinin teh.” Di depan pintu kaca dia berhenti dan menoleh. “Monsteranya kamu rawat sampai sore, ya. Saya mau lihat, tangan tukang rumput itu bisa apa.”
Pintu kaca menutup.
Juki masih berjongkok di depan monstera itu. Tangannya hangat, dadanya berdebar terlalu kencang buat orang yang cuma lagi menyiram tanaman.
Tiiin!
Di dpan gerbang, klakson mobil berbunyi. Mobil putih.
Juki menoleh. Pintu penumpangnya terbuka. Silvi turun dengan kacamata hitam di atas kepala, lalu berhenti di tengah halaman.
Matanya menyapu Juki dari sandal jepit sampai rambut. Tatapannya sama dengan Kamis lalu.
“Ngapain tukang rumput ada di rumahku?”
Di atas motor, Juki menceritakan semuanya ke Ayu. Map biru, kontrak lima tahun, kunci kios yang dia tinggal di meja, dan suara Pak Darma di telepon. Rud. Jalanin rencanamu.Pelukan Ayu di pinggangnya makin erat. “Jadi Mas sekarang nganggur?”“Iya, Yu.”“Pengangguran yang megang cek tiga ratus juta.” Ayu menempelkan dagu ke bahu Juki. “Hidup Mas seminggu ini aneh banget.”Mereka mampir dulu ke BRI di Jalan Panjang. Teller perempuan memandangi cek itu, lalu pipi Juki yang ungu, lalu ceknya lagi. Dia memanggil atasannya. Lima belas menit kemudian, cek itu baru diterima.“Cairnya dua hari kerja, Pak,” kata teller itu. “Kliring dulu.”‘Dua hari. Semoga Pak Darma belum sempat macem-macem.’Waktu mereka keluar, satpam bank masih memandangi Juki dari kepala sampai sandal. Seminggu lalu Juki pasti menunduk. Siang ini dia cuma mengangguk sopan, lalu menyalakan motor.Dari bank, mereka langsung pulang ke gang. Rumah Pak Mansur paling ujung, pagarnya besi hijau, halamannya penuh pot kuping gajah.
Kantor CV Darma menempati ruko dua lantai di Jalan Kebon Jeruk Raya. Lantai bawah dipakai buat gudang pupuk dan parkir pikap. Lantai atasnya kantor ber-AC yang dua tahun ini cuma bisa Juki lihat dari ujung tangga.Jam tujuh kurang lima, Juki memarkir motor bebeknya di depan rolling door. Pipi kirinya masih bengkak dan keunguan. Ayu turun dari boncengan sambil menenteng kantong plastik berisi es batu.“Tempelin lagi, Mas,” suruh Ayu. “Biar bengkaknya nggak nambah.”“Udah nggak kerasa kok, Yu.”“Bohong. Tadi pas pakai helm Mas meringis.”Di meja depan lantai dua, Silvi duduk berkemeja kantor di depan laptop. Kepalanya terangkat. Matanya melihat pipi Juki, lalu Ayu di belakangnya.Alisnya naik. “Ngapain bawa-bawa tukang bunga ke sini?”“Saya pacarnya, Mbak,” sahut Ayu datar.Pulpen Silvi berhenti di atas kertas. Dia diam.Juki juga diam. Dia tidak membantah sama sekali.‘Pacar. Di depan Silvi pula. Waduh, Yu.’“Papa udah nungguin,” kata Silvi akhirnya, suaranya lebih ketus dari biasa. “T
“Mas, jangan ke sana,” bisik Ayu. Kukunya belum lepas dari tangan Juki.“Mbak, nanti saya telepon lagi, ya. Kunci pintu kosnya,” kata Juki ke HP, lalu memutus telepon Dinda.Mobil hitam itu diam di tempat. Pintunya tidak dibuka. Orang di dalamnya cuma menunggu.‘Kalau aku masuk kamar, dia bisa nungguin sampai besok. Atau malah nyamperin ke sini, ke depan kamar Ayu.’Pelan-pelan Juki melepas genggaman Ayu. “Masuk kamarmu, Yu. Kunci pintunya.”Ayu tidak beranjak. Dia malah merebut HP dari tangan Juki, membuka aplikasi perekam suara, lalu memencet tombol merah.“Kalau Mas tetep ke sana,” katanya cepat, suaranya bergetar, “ini jangan dimatiin. Aku panggil Pak Mansur.”Belum sempat Juki menjawab, Ayu sudah lari ke arah sebaliknya, ke rumah ketua RT di ujung gang.HP yang sedang merekam itu Juki selipkan ke saku depan celana, di sebelah cek tiga ratus juta. Lalu dia berjalan ke mulut gang. Lututnya gemetar di setiap langkah.Kaca jendela sopir turun. Dari balik kemudi, Pak Yoga tersenyum. K
Jam sembilan malam, Ayu sudah duduk menunggu di depan pintu kamar Juki. Tangannya terlipat. Ember mawarnya kosong di dekat kaki.Juki berhenti di ujung lorong. Badannya masih lemas sisa di greenhouse. Cek tiga ratus juta di saku celananya terasa lebih berat dari batu bata, dan omongan Pak Darma di telepon terus berputar di kepalanya. Kulaporin polisi. Nipu klien.Sepanjang jalan pulang, dia membayangkan dirinya diborgol di depan kios, jadi tontonan orang sepasar lagi.“Sedan tadi pagi,” kata Ayu tanpa basa-basi. “Punya siapa?”“Yu, aku jelasin di dalem aja, ya.”“Di sini aja. Biar Bu Rahmi sekalian denger.”Juki menghela napas.‘Jangan bohong, Juk. Bohongmu jelek, kata Bu Hesti.’“Ibunya Silvi.”Lama Ayu menatapnya. Lalu dia berdiri.“Ibunya Silvi?” Suaranya naik. “Mas dijemput ibunya mantan? Pakai sedan? Pagi-pagi buta?”“Dia nganter aku ke temennya. Kolektor tanaman. Urusan kerjaan, Yu.”“Kerjaan apaan yang pakai dijemput sedan?” Ayu maju sampai Juki terdesak ke dinding. “Mas ini tu
Jam delapan pagi, sedan hitam Bu Hesti sudah menunggu di mulut gang Kebon Jeruk.Dari kaca belakang, Juki melihat Ayu keluar dari gang sambil menenteng ember mawar. Langkah Ayu terhenti. Matanya mengikuti sedan itu sampai hilang di tikungan.‘Nanti malem aku jelasin, Yu. Sumpah.’“Pacarmu?” tanya Bu Hesti, ikut melirik kaca belakang.“Te-tetangga kos, Bu.”“Tetangga kos kok ngelihatnya begitu.” Bu Hesti tersenyum tipis. “Bohongmu jelek, Juki. Sama kayak sabun colek kemarin.”“Bu, Pak Darto nggak marah saya ikut Ibu?”“Tadi pagi Darto udah saya telepon. Hari ini kamu saya pinjam, urusan pribadi.” Bu Hesti melirik spion. “Dia nggak bakal berani nolak.”Setengah jam kemudian mereka sampai di rumah Tante Melinda di Kebayoran Baru. Di halaman belakangnya berdiri greenhouse kaca, luasnya sepuluh kali kamar kos Juki.Tante Melinda menyambut di pintu. Empat puluh lima tahun, rambutnya dicat cokelat tembaga, gelang emas berderet di kedua pergelangan.“Ini tukang tamannya? Kok kurus amat. Aku s
Pelan-pelan Juki berdiri. Gunting pangkas masih di tangannya.Kamis lalu, tatapan itu bikin dia menunduk sampai ke got. Pagi ini lututnya masih gemetar, tapi kepalanya tidak ikut tertunduk.‘Senyumin aja, Juk. Biar dia yang bingung.’“Kerja, Sil,” jawab Juki. “Mamamu yang manggil CV.”Silvi tertawa pendek. Kacamatanya dia turunkan dari kepala ke hidung, lalu dia melangkah mendekat.“Mama? Bohong. Pasti kamu yang minta Darto naruh kamu di sini.” Silvi melipat tangan. “Mau ketemu aku, kan? Nggak usah ngarep, Juk. Bulan depan aku tunangan.”“Selamat, ya.”Silvi tertegun. Dia menunggu Juki memohon, atau marah, atau minimal pura-pura cuek dengan muka merah. Juki cuma berdiri di sebelah monstera itu dan menunggu.“Kamu kenapa sih?” Nada Silvi mulai naik.“Kenapa apanya?”“Sok gaya banget. Biasanya juga nunduk.”“Kamu sendiri yang nyuruh aku kerja yang bener dulu.” Juki mengangkat gunting pangkasnya sedikit. “Nih, lagi kerja.”Silvi menatapnya lebih lama. Hidungnya bergerak sedikit, lalu dah







