Home / Urban / Disengat Lebah / BAB 7 Pot Retak di Jatinegara

Share

BAB 7 Pot Retak di Jatinegara

Author: MasBrey
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-23 21:43:00

Sabtu malam, HP Juki bergetar di kasur.

Mbak Sandra: Tawaran ngopinya masih berlaku. Malam ini, Kemang. Aku yang traktir.

Juki mengetik balasan, menghapusnya, lalu mengetik ulang.

Juki: Makasih, Mbak. Besok saya harus jalan pagi-pagi banget.

Mbak Sandra: Sombong. Ya udah, rugi sendiri kamu.

Setelah itu tidak ada pesan lagi.

‘Rugi sih. Tapi buat sekarang, Jatinegara lebih penting.’

Minggu pagi, sebelum jam tujuh, Juki sudah sampai di Pasar Loak Jatinegara.

Lapak-lapak baru dibuka. Terpal biru digelar di trotoar. Ada kandang burung bertumpuk, setrika arang, radio tua, sepatu bekas, sampai kunci-kunci karatan dalam ember. Bau besi dan debu campur aduk dengan bau gorengan.

Juki menyusuri lapak satu per satu, pelan-pelan. Semuanya mirip dengan yang ada di mimpinya. Bedanya, di mimpi tidak ada tukang parkir yang teriak-teriak, juga tidak ada ibu-ibu yang menawar panci sampai urat lehernya keluar.

Sejam lewat. Dua jam. Kakinya mulai pegal.

Pot biru itu tidak kelihatan di mana-mana.

‘Jangan-jangan cuma mimpi biasa, Juk. Kebanyakan mikir kamu.’

Dia sudah setengah balik badan, siap pulang, waktu matanya menangkap papan seng karatan di ujung jalan. Hurufnya sudah pudar. Pasar Loak Jatinegara.

Nah, yang ini persis sama.

Di bawah papan itu ada satu lapak yang belum dia datangi. Isinya barang pecah belah. Piring kaleng, guci plastik, toples kaca.

Dan di pojoknya, terselip di antara dua guci, ada pot keramik biru. Bibirnya retak memanjang.

Leher kirinya mendadak hangat, pas di bintik putih bekas sengatan.

Juki mematung. Jantungnya berdegup kencang.

“Pak,” panggilnya ke pedagang, lelaki tua bertopi koboi lusuh yang lagi mengelap toples. “Pot biru itu berapaan?”

Pedagang itu menoleh pun tidak. “Tujuh puluh. Sama isinya.”

Juki melongok ke dalam pot. Tanahnya kering, retak-retak. Di tengahnya ada bonggol cokelat sebesar kepalan, keriput dan enteng.

“Isinya apa, Pak?”

“Umbi anthurium. Udah mati, Mas. Buat pajangan aja.”

Baru Juki mau mengeluarkan dompet, ada suara lain di belakangnya.

“Anthurium, Pak? Sini, coba lihat.”

Lelaki empat puluhan menyeruak ke depan lapak. Kemejanya batik ngejreng, kalung emasnya tebal, perutnya buncit. Tanpa permisi dia mengangkat pot itu dan menimang-nimang umbinya.

“Jenis apa nih, Pak? Dapet dari mana?”

“Dari rumah tua di Menteng. Katanya sih dulu rumah orang Belanda. Saya beli borongan,” jawab pedagang. Matanya mulai berbinar melihat ada dua pembeli sekaligus.

‘Menteng?’

“Menteng sebelah mana, Pak?” tanya Juki.

“Mana saya tahu persisnya. Yang katanya mau dirobohin itu. Saya beli dari tukang yang disuruh ngosongin isinya. Satu bak pikap, dua ratus ribu.” Pedagang itu menunjuk tumpukan barang di belakangnya. “Toples-toples ini juga dari situ.”

Juki melirik tumpukan itu. Belasan toples kaca kosong. Di dasar beberapa toples, ada kerak putih yang sudah mengeras.

Ludahnya dia telan.

Lelaki batik itu mengetuk-ngetuk umbi pakai kuku. “Udah mati. Tapi potnya lumayan. Lima puluh, ya.”

“Saya duluan, Pak,” potong Juki cepat. “Tujuh puluh. Saya bayar sekarang.”

Lelaki itu menoleh. Matanya menyapu Juki dari atas ke bawah, lalu dia tersenyum lebar. Satu giginya berlapis emas.

“Wah. Ngotot nih anak.” Pot itu dia taruh lagi. “Seratus, Pak.”

Tangan pedagang tua itu langsung berhenti mengelap.

“Seratus lima puluh,” balas Juki.

“Dua ratus.”

‘Waduh. Kok malah jadi lelang.’

Juki menatap pot itu. Bibirnya retak. Lebah putih di mimpinya hinggap pas di retakan itu. Lehernya masih berdenyut hangat.

Juki menarik napas. “Tiga ratus.”

Pedagang tua itu melongo. Lelaki batik terdiam sebentar, lalu ketawa keras sampai perutnya bergoyang.

“Tiga ratus buat umbi mati? Ya udah, ambil. Ambil sana.” Bahu Juki dia tepuk keras-keras. “Kamu tukang taman, ya? Tangannya item-item gini.”

“Iya, Pak.”

“Kerjanya di mana?”

“Di CV Darma, Pak. Rawa Belong.”

“Oh, Darma.” Lelaki itu mengangguk pelan, senyumnya belum hilang. Dari sakunya dia mengeluarkan kartu nama dan menyelipkannya ke saku kaus Juki. “Rudi. Orang biasa manggil Bang Rudi. Kalau nemu barang bagus, telepon aku. Aku berani bayar lebih mahal dari toko-toko di Kemang.”

Lalu dia pergi, hilang di antara lapak.

Juki membayar tiga ratus ribu. Pedagang tua itu menghitung uangnya dua kali, masih tidak percaya.

“Buat apaan sih, Mas, pot retak begitu?”

“Kenang-kenangan, Pak.”

‘Kenang-kenangan dari mimpi. Bisa disangka gila aku.’

Sepanjang jalan pulang, Juki berkali-kali menoleh, memastikan pot di jok belakangnya masih ada.

Dari sore sampai malam, Juki mengurung diri di kamar.

Koran dia gelar di lantai. Umbi itu dia keluarkan pelan-pelan dari tanah lamanya. Akarnya kering dan getas, kulitnya keriput.

Pot biru itu dia gosok sampai bersih, lalu dia isi media baru. Umbinya dia tanam lagi.

Habis itu dia menggenggamnya. Dua tangan, menangkup umbi itu di atas tanah.

Hangat itu datang. Mengalir dari dada ke lengan, ke telapak, lalu ke umbi yang dingin. Bintik putih di lehernya berdenyut pelan.

Setengah jam. Sejam.

Dia menyiram sedikit, lalu menggenggamnya lagi. Terus begitu, tiap satu jam. Tangannya panas sampai ke siku. Kepalanya mulai pusing, badannya lemas, keringat dingin keluar di pelipis.

‘Ini tenagaku yang kesedot ke umbi, ya?’

HP-nya berdering. Asep.

“Juk! Di mana kamu? Katanya mau traktir nasi padang?”

“Di kos, Kang. Lagi... nanem-nanem.”

“Nanem apaan malem-malem gini? Nanem utang?”

“Nanem umbi, Kang.”

“Umbi apa? Singkong?” Asep ketawa sendiri. “Eh, Juk. Aglonema kemarin laku berapa di Mbak Sandra?”

Juki diam sejenak. “Dua puluh lima, Kang.”

Sebentar seberang sana hening. Lalu Asep melengking. “DUA PULUH LIMA?! Juta?!”

“Iya, Kang.”

“Edaaan. Aku bilang jangan di bawah dua puluh, kamu malah dapet dua lima. Besok nasi padangnya rendang dua, ya. Plus kerupuk kulit.”

“Iya, Kang. Besok.”

“Terus umbi apaan yang kamu tanem malem-malem gini?”

Mata Juki ke pot biru di depannya. Bintik di lehernya berdenyut lagi.

“Ntar aja ceritanya, Kang. Udah dulu, ya.”

Telepon dia tutup sebelum Asep sempat protes. Soal pot biru, dia belum mau cerita. Soal mimpi, apalagi.

Jam dua belas malam, dia masih duduk bersila di lantai.

Jam dua, kelopak matanya mulai berat.

Menjelang pagi, dia ketiduran sambil duduk, punggung menempel di dinding, dua tangannya masih di atas pot.

Juki terbangun gara-gara bau tanah basah.

Cahaya pagi masuk lewat jendela. Lehernya pegal, tangannya kesemutan.

Pandangannya turun ke pot biru di pangkuannya.

Dari umbi mati itu sudah tumbuh lima helai daun. Lebar, bentuknya hati, hijau tua dengan belang putih. Urat-uratnya berkilau perak ditimpa cahaya jendela.

Lama sekali Juki tidak bergerak.

Lalu, dengan tangan gemetar, dia mengambil HP, memotret daun itu dari tiga sisi, dan mengirimnya ke satu-satunya orang yang dia tahu paham soal begini.

Dua menit kemudian balasannya masuk. Tanpa basa-basi.

Mbak Sandra: Jangan dijual ke siapa pun.

Mbak Sandra: Jangan dikasih lihat siapa pun.

Mbak Sandra: Ada kolektor yang nyari barang begini. Sore bawa ke toko.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Disengat Lebah   BAB 17 Dua Perempuan di Rumah Pak RT

    Di atas motor, Juki menceritakan semuanya ke Ayu. Map biru, kontrak lima tahun, kunci kios yang dia tinggal di meja, dan suara Pak Darma di telepon. Rud. Jalanin rencanamu.Pelukan Ayu di pinggangnya makin erat. “Jadi Mas sekarang nganggur?”“Iya, Yu.”“Pengangguran yang megang cek tiga ratus juta.” Ayu menempelkan dagu ke bahu Juki. “Hidup Mas seminggu ini aneh banget.”Mereka mampir dulu ke BRI di Jalan Panjang. Teller perempuan memandangi cek itu, lalu pipi Juki yang ungu, lalu ceknya lagi. Dia memanggil atasannya. Lima belas menit kemudian, cek itu baru diterima.“Cairnya dua hari kerja, Pak,” kata teller itu. “Kliring dulu.”‘Dua hari. Semoga Pak Darma belum sempat macem-macem.’Waktu mereka keluar, satpam bank masih memandangi Juki dari kepala sampai sandal. Seminggu lalu Juki pasti menunduk. Siang ini dia cuma mengangguk sopan, lalu menyalakan motor.Dari bank, mereka langsung pulang ke gang. Rumah Pak Mansur paling ujung, pagarnya besi hijau, halamannya penuh pot kuping gajah.

  • Disengat Lebah   BAB 16 Surat di Meja Bos

    Kantor CV Darma menempati ruko dua lantai di Jalan Kebon Jeruk Raya. Lantai bawah dipakai buat gudang pupuk dan parkir pikap. Lantai atasnya kantor ber-AC yang dua tahun ini cuma bisa Juki lihat dari ujung tangga.Jam tujuh kurang lima, Juki memarkir motor bebeknya di depan rolling door. Pipi kirinya masih bengkak dan keunguan. Ayu turun dari boncengan sambil menenteng kantong plastik berisi es batu.“Tempelin lagi, Mas,” suruh Ayu. “Biar bengkaknya nggak nambah.”“Udah nggak kerasa kok, Yu.”“Bohong. Tadi pas pakai helm Mas meringis.”Di meja depan lantai dua, Silvi duduk berkemeja kantor di depan laptop. Kepalanya terangkat. Matanya melihat pipi Juki, lalu Ayu di belakangnya.Alisnya naik. “Ngapain bawa-bawa tukang bunga ke sini?”“Saya pacarnya, Mbak,” sahut Ayu datar.Pulpen Silvi berhenti di atas kertas. Dia diam.Juki juga diam. Dia tidak membantah sama sekali.‘Pacar. Di depan Silvi pula. Waduh, Yu.’“Papa udah nungguin,” kata Silvi akhirnya, suaranya lebih ketus dari biasa. “T

  • Disengat Lebah   BAB 15 Sepuluh Juta untuk Diam

    “Mas, jangan ke sana,” bisik Ayu. Kukunya belum lepas dari tangan Juki.“Mbak, nanti saya telepon lagi, ya. Kunci pintu kosnya,” kata Juki ke HP, lalu memutus telepon Dinda.Mobil hitam itu diam di tempat. Pintunya tidak dibuka. Orang di dalamnya cuma menunggu.‘Kalau aku masuk kamar, dia bisa nungguin sampai besok. Atau malah nyamperin ke sini, ke depan kamar Ayu.’Pelan-pelan Juki melepas genggaman Ayu. “Masuk kamarmu, Yu. Kunci pintunya.”Ayu tidak beranjak. Dia malah merebut HP dari tangan Juki, membuka aplikasi perekam suara, lalu memencet tombol merah.“Kalau Mas tetep ke sana,” katanya cepat, suaranya bergetar, “ini jangan dimatiin. Aku panggil Pak Mansur.”Belum sempat Juki menjawab, Ayu sudah lari ke arah sebaliknya, ke rumah ketua RT di ujung gang.HP yang sedang merekam itu Juki selipkan ke saku depan celana, di sebelah cek tiga ratus juta. Lalu dia berjalan ke mulut gang. Lututnya gemetar di setiap langkah.Kaca jendela sopir turun. Dari balik kemudi, Pak Yoga tersenyum. K

  • Disengat Lebah   BAB 14 Mobil Hitam di Mulut Gang

    Jam sembilan malam, Ayu sudah duduk menunggu di depan pintu kamar Juki. Tangannya terlipat. Ember mawarnya kosong di dekat kaki.Juki berhenti di ujung lorong. Badannya masih lemas sisa di greenhouse. Cek tiga ratus juta di saku celananya terasa lebih berat dari batu bata, dan omongan Pak Darma di telepon terus berputar di kepalanya. Kulaporin polisi. Nipu klien.Sepanjang jalan pulang, dia membayangkan dirinya diborgol di depan kios, jadi tontonan orang sepasar lagi.“Sedan tadi pagi,” kata Ayu tanpa basa-basi. “Punya siapa?”“Yu, aku jelasin di dalem aja, ya.”“Di sini aja. Biar Bu Rahmi sekalian denger.”Juki menghela napas.‘Jangan bohong, Juk. Bohongmu jelek, kata Bu Hesti.’“Ibunya Silvi.”Lama Ayu menatapnya. Lalu dia berdiri.“Ibunya Silvi?” Suaranya naik. “Mas dijemput ibunya mantan? Pakai sedan? Pagi-pagi buta?”“Dia nganter aku ke temennya. Kolektor tanaman. Urusan kerjaan, Yu.”“Kerjaan apaan yang pakai dijemput sedan?” Ayu maju sampai Juki terdesak ke dinding. “Mas ini tu

  • Disengat Lebah   BAB 13 Cek dari Kebayoran

    Jam delapan pagi, sedan hitam Bu Hesti sudah menunggu di mulut gang Kebon Jeruk.Dari kaca belakang, Juki melihat Ayu keluar dari gang sambil menenteng ember mawar. Langkah Ayu terhenti. Matanya mengikuti sedan itu sampai hilang di tikungan.‘Nanti malem aku jelasin, Yu. Sumpah.’“Pacarmu?” tanya Bu Hesti, ikut melirik kaca belakang.“Te-tetangga kos, Bu.”“Tetangga kos kok ngelihatnya begitu.” Bu Hesti tersenyum tipis. “Bohongmu jelek, Juki. Sama kayak sabun colek kemarin.”“Bu, Pak Darto nggak marah saya ikut Ibu?”“Tadi pagi Darto udah saya telepon. Hari ini kamu saya pinjam, urusan pribadi.” Bu Hesti melirik spion. “Dia nggak bakal berani nolak.”Setengah jam kemudian mereka sampai di rumah Tante Melinda di Kebayoran Baru. Di halaman belakangnya berdiri greenhouse kaca, luasnya sepuluh kali kamar kos Juki.Tante Melinda menyambut di pintu. Empat puluh lima tahun, rambutnya dicat cokelat tembaga, gelang emas berderet di kedua pergelangan.“Ini tukang tamannya? Kok kurus amat. Aku s

  • Disengat Lebah   BAB 12 Monstera Albo

    Pelan-pelan Juki berdiri. Gunting pangkas masih di tangannya.Kamis lalu, tatapan itu bikin dia menunduk sampai ke got. Pagi ini lututnya masih gemetar, tapi kepalanya tidak ikut tertunduk.‘Senyumin aja, Juk. Biar dia yang bingung.’“Kerja, Sil,” jawab Juki. “Mamamu yang manggil CV.”Silvi tertawa pendek. Kacamatanya dia turunkan dari kepala ke hidung, lalu dia melangkah mendekat.“Mama? Bohong. Pasti kamu yang minta Darto naruh kamu di sini.” Silvi melipat tangan. “Mau ketemu aku, kan? Nggak usah ngarep, Juk. Bulan depan aku tunangan.”“Selamat, ya.”Silvi tertegun. Dia menunggu Juki memohon, atau marah, atau minimal pura-pura cuek dengan muka merah. Juki cuma berdiri di sebelah monstera itu dan menunggu.“Kamu kenapa sih?” Nada Silvi mulai naik.“Kenapa apanya?”“Sok gaya banget. Biasanya juga nunduk.”“Kamu sendiri yang nyuruh aku kerja yang bener dulu.” Juki mengangkat gunting pangkasnya sedikit. “Nih, lagi kerja.”Silvi menatapnya lebih lama. Hidungnya bergerak sedikit, lalu dah

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status