Accueil / Romansa / Dok, Please Cukup! / Bab 212 Cerita Awal

Partager

Bab 212 Cerita Awal

Auteur: NFLusica
last update Date de publication: 2026-10-12 21:11:10

Laki-laki berjaket abu-abu itu mengangkat wajah tepat ketika Nindy menoleh, dan poni yang selalu jatuh ke dahi kirinya langsung membuat Nindy mengenalinya. Fajar. Tas kain kosong di bawah lengannya Nindy pindahkan ke tangan lain, lalu dia berjalan ke pintu kafe sementara Om Har masih berdiri di dekat kursinya dengan koran yang belum dilipat.

Belum sampai Nindy di ambang pintu, Fajar sudah berdiri dari kursinya terlalu cepat sampai kaki kursi itu berderit di lantai. Sebuah amplop cokelat yang se
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Dok, Please Cukup!   Bab 213 Bahu Turun Sebelah

    Belum dua menit sesudah Fajar selesai, Malik menarik napas dan menunduk sedikit ke arah Nindy. Kalimatnya dia tujukan ke istrinya, dan Fajar ikut menunggu di seberang meja."Urusanku sekarang lagi berhenti di tempat yang nggak bisa aku percepat. Nunggu notaris, nunggu Hendra, cuma itu yang bisa aku lakuin, dan selama nunggu aku nggak lagi ngerjain apa-apa. Jadi giliran itu wajar balik ke kamu, mulai sekarang," ucap Malik."Nggak, Malik," jawab Nindy, menggeleng."Kenapa nggak?" tanya Malik."Aturan itu aku yang bikin. Aku nggak mau ngelanggar aturanku sendiri cuma gara-gara dikasih izin. Kalau tiap kali dikasih izin aku langsung jalan, berarti aturan itu dari awal nggak ada artinya," jawab Nindy, suaranya pelan tetapi tegas.Malik diam sebentar, lalu menarik kursi di sebelah Nindy dan akhirnya duduk. Matanya sejajar dengan mata istrinya sekarang."Aturan itu kamu bikin biar yang satu nunggu sampai yang lain kelar. Sekarang yang lagi nunggu itu aku," ucap Malik.Nindy membuka mulut, la

  • Dok, Please Cukup!   Bab 212 Cerita Awal

    Laki-laki berjaket abu-abu itu mengangkat wajah tepat ketika Nindy menoleh, dan poni yang selalu jatuh ke dahi kirinya langsung membuat Nindy mengenalinya. Fajar. Tas kain kosong di bawah lengannya Nindy pindahkan ke tangan lain, lalu dia berjalan ke pintu kafe sementara Om Har masih berdiri di dekat kursinya dengan koran yang belum dilipat.Belum sampai Nindy di ambang pintu, Fajar sudah berdiri dari kursinya terlalu cepat sampai kaki kursi itu berderit di lantai. Sebuah amplop cokelat yang sejak tadi dia pegang di pangkuan ikut terangkat, dan dia buru-buru menaruhnya di atas meja. Sudut amplop itu sudah melengkung, kertasnya lecek di bagian yang terlalu lama digenggam."Aku sengaja nggak ngabarin dulu. Takut kamu nolak lewat telepon, terus aku nggak punya alasan lagi buat dateng," ucap Fajar sebelum Nindy sempat menyapa."Om Har bilang kamu nolak disuruh naik," jawab Nindy, menarik kursi di seberangnya."Iya. Nggak enak, kamu kan udah punya rumah sendiri sekarang," balas Fajar, lalu

  • Dok, Please Cukup!   Bab 211 Ditungguin

    Nindy tertawa dan tidak bisa berhenti. Di sekelilingnya, orang-orang saling menyodorkan uang, saling bertanya harga, dan saling menunjuk kotak masing-masing, sementara dia berusaha menjawab semuanya sambil memegangi buku catatan di pangkuan. Pipinya pegal karena tertawa, dan dia belum ingin ada yang menyuruh semua orang diam.Sesudah pembayaran selesai dan semua orang berpamitan membawa kotak masing-masing, ruang tunggu itu kembali sepi. Nindy duduk di kursi panjang, menumpuk uang dari dalam kantong kresek di pangkuannya, sementara Dewi duduk di sebelahnya dan ikut menghitung."Tiga ratus dua puluh," ucap Dewi pada hitungan pertamanya."Aku dapet tiga ratus lima belas. Hitung lagi," jawab Nindy, menyodorkan tumpukan lembaran itu.Dewi menghitung ulang dengan bibir bergerak, lalu mengerutkan dahi. "Sekarang tiga ratus sepuluh. Kok bisa berkurang, padahal kita nggak ngapa-ngapain?""Soalnya kamu ngitung sambil ngelirik kotaknya Fitri. Fokus dulu, Dew," jawab Nindy, menahan tawa di tenga

  • Dok, Please Cukup!   Bab 210 Baru Bisa Makan

    Dari dalam studio terdengar tawa tertahan. Nindy menutup mulutnya dengan punggung tangan, karena dia tahu pendingin ruangan di studio itu bahkan belum dinyalakan hari ini.Lima peserta keluar satu per satu sambil memegangi punggung dan perut masing-masing. Dewi yang paling akhir, berjalan pelan dengan satu tangan menyangga punggung, dan dia langsung mengambil daftar dari tas begitu melihat meja panjang itu."Dewi, tolong, aku lupa nyiapin kembalian," ucap Nindy, menunjuk uang seratus ribu di tangan Mbak Susi."Tenang, di bawah ada warung kopi, nanti aku tuker," jawab Dewi, mengambil uang itu.Tiara, peserta paling muda dengan kuncir kudanya, sudah meraih lengan Dewi sebelum ada yang menyuruh. "Biar saya anter, Mbak, tangganya licin."Mereka berdua turun pelan-pelan, sedangkan di ruang tunggu Nindy mulai membagikan kotak sesuai nama di stiker. Bu Laras menerima kotaknya, membuka tutupnya, lalu mengernyit."Ini ayamnya dada. Saya maunya paha," ucap Bu Laras, mengangkat kotak itu setingg

  • Dok, Please Cukup!   Bab 209 Nggak Sabar

    "Pelan," ucap Malik, kedua tangannya mengeras di punggung istrinya."Iya, pelan. Gini, tarik napas dulu, ikutin aku," jawab Nindy, lalu bergerak naik sedikit dan turun lagi, tempo yang sama berulang-ulang, sampai bahu Malik yang tegang mengendur di bawah dahinya.Malik menciumi leher istrinya sambil sesekali menggumamkan namanya."Hangat banget," bisik Malik di kulit lehernya."Sstt, rasain aja," balas Nindy, menempelkan pipinya di rambut Malik dan menggerakkan pinggulnya dengan lingkaran kecil yang lebih lambat dari sebelumnya."Di situ," bisik Malik."Di sini?" tanya Nindy."Iya, jangan diganti," jawab Malik, jarinya mengeratkan pegangan di pinggang istrinya.Napas Nindy mulai putus di tengah gerakannya. Satu tangannya naik ke belakang kepala Malik, menahan, sementara tangan lain bertumpu di bahu suaminya, dan dia bergerak sampai paha kirinya bergetar. Ketika tubuhnya mengejang pelan, dia menggigit bibir bawahnya dan menempelkan wajahnya ke bahu Malik, dan Malik menyusul beberapa ge

  • Dok, Please Cukup!   Bab 208 Biar Aku

    "Kenapa diem?" tanya Nindy."Soalnya Om Bram tahu empat belas minggu, dan aku nggak tahu dia tahu dari siapa. Aku jawab sehat, cuma itu," jawab Malik.Gelas air di depan Malik dia putar setengah putaran, lalu dia putar lagi. Kemudian, tanpa mengangkat mata dari gelas itu, dia melanjutkan, "Skorsing itu udah lewat, aku nggak takut lagi sama itu. Yang bikin aku takut, orang itu tahu persis kapan harus nyerang, dan tahu persis apa yang paling gampang diambil dari aku."Nindy membalik struk belanja pasar yang terselip di bawah toples gula, mengambil pulpen dari dekat buku resep, lalu menarik kursinya lebih dekat ke meja."Aku nggak mau denger yang kamu takutin lagi. Sekarang sebutin yang masih aman, satu-satu," ucap Nindy, ujung pulpennya sudah menempel di kertas."Surat penolakan direktur," jawab Malik, menunjuk map di bawah tangan istrinya.Nindy menulis satu baris dan mengangkat dagu. "Terus?""Kunci gembok, di lemari Ratih, dan kunci lemarinya dikalungin Ratih sendiri," ucap Malik, ka

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status