MasukEmbusan napas Tirta membuat wanita berjubah hitam menyadari dia dipermainkan. Dia mendengus dan berujar, "Beraninya kamu menakutiku!"Dengusan wanita berjubah hitam bagaikan petir yang bergemuruh di benak Tirta. Kemudian, wanita berjubah hitam mengulurkan kedua tangannya secara bersamaan dan hendak menusuk pusat energi Tirta tanpa ragu sedikit pun.Tirta mengerang. Rasa sakit yang menusuk menyebar dari pusat energi ke sekujur tubuh Tirta.Sejak tubuh Tirta diperkuat Genta, dia jarang merasakan sakit yang luar biasa seperti ini. Tirta ingat sebelumnya Genta menggunakan tubuh Tirta untuk bertarung dengan Leluhur Darah. Genta membuat Tirta terluka parah untuk menghukumnya.Namun, sekarang Tirta bukan hanya merasa kesakitan. Dia bahkan akan kehilangan nyawanya.Dalam situasi ini, Tirta tahu dia pasti mati. Dia berteriak untuk meluapkan rasa tidak rela, "Ah ... aku kutuk semua leluhur wanitamu!"Wanita berjubah hitam tidak keberatan dikutuk Tirta. Dia menanggapi, "Tenang saja. Aku akan biar
"Jadi, kamu ingin menguasai peluang ini?" tanya Tirta. Sebelum menyelesaikan ucapannya, dia langsung mengeluarkan Pedang Terbang dan memelesat ke langit.Tirta merasa wanita ini sangat berbahaya. Jika dia bertindak gegabah, kemungkinan dia hidup sangat kecil.Pria sejati harus pintar membaca situasi. Orang yang bijak tahu kapan harus mundur dan kapan harus bertindak. Jadi, Tirta tidak merasa kabur adalah tindakan yang memalukan.Hanya saja, meski wanita berjubah hitam berdiri di tempat, Tirta yang mengerahkan seluruh tenaganya tetap tidak bisa meninggalkan tempat ini. Dia terjebak.Perasaan yang aneh ini membuat Tirta tidak nyaman. Dia mengomel di dalam hati, 'Pasti tempat ini sudah dipasang formasi. Sepertinya wanita ini anggota Sekte Formasi Surgawi. Apa hari ini aku akan mati di sini? Nggak bisa ....''Oh, aku ada ide,' batin Tirta yang tiba-tiba kepikiran ide. Mungkin dia bisa bebas.Namun, wanita berjubah hitam yang berada di darat menekukkan jarinya sebelum Tirta sempat menjalank
Tentu saja sosok itu adalah wanita berjubah hitam. Sebenarnya saat Tirta dan Nova sampai di rumah leluhur Keluarga Hemanta yang terbengkalai, dia sudah menemukan mereka berdua dan diam-diam mengawasi mereka.Pada malam hari, wanita berjubah hitam melihat Tirta diam-diam keluar dari kota. Jadi, dia mengikuti Tirta.Sosok wanita itu bak udara yang nyaris tidak terlihat. Dia sudah mencapai tingkat penebas dewa, apalagi dia juga dibantu formasi. Kalaupun sekarang Genta bangun, dia juga tidak akan menemukan keberadaan wanita berjubah hitam.Wanita berjubah hitam terus mengikuti Tirta keluar dari kota secara diam-diam. Setelah melewati banyak jalan kecil yang berkelok-kelok, dia melihat Tirta masuk ke sebuah desa. Namun, wanita itu tetap tidak menunjukkan wujud aslinya.Wanita berjubah hitam bergumam dengan tatapan muram, "Apa mungkin jiwa klan naga asli dan Mutiara Naga yang mengandung kekuatan murni ada di tangan pemuda itu? Kata guru, sepertinya jiwa wanita klan naga asli juga terluka par
Tirta tertawa dan menanggapi, "Kalau memang seperti yang kamu bilang, bukannya itu berarti semua orang sakti di dunia ini kura-kura?"Nova tersentuh melihat interaksi Tirta dan Nivia. Dia berujar, "Sayang, kemampuanku nggak sehebat kamu. Waktu momennya tepat, kamu yang ajar dia saja."Tirta menyahut, "Nggak masalah."Tiba-tiba, terdengar bentakan sekelompok tentara dari dekat sana."Berhenti! Jangan bergerak! Aku mau tanya kalian, apa kalian melihat dua orang ini?""Kalian nggak lihat?""Aku peringatkan kalian, jangan berbohong! Mereka itu penjahat yang membunuh tentara. Langsung laporkan kepada kami kalau kalian melihat mereka! Paham?"Para tentara itu menerobos rumah banyak penduduk secara paksa. Tentu saja mereka sampai di sini karena mencari pelaku itu.Begitu melihat para tentara, Nivia segera menarik Tirta dan Nova masuk ke halaman rumah yang terbengkalai. Dia berucap, "Ah .... Ayo, kita sembunyi sekarang. Kalau nggak, kita pasti terancam bahaya!"Mereka bersembunyi di rerumputan
Gadis itu bertanya dengan ekspresi bingung, "Kalian ... siapa? Kenapa kalian masuk ke rumah leluhurku?"Mendengar pertanyaan gadis itu, mata Tirta berbinar-binar. Dia bertanya balik, "Apa? Kamu bilang ini rumah leluhurmu?"Nova juga sangat emosional. Jangan-jangan orang yang Tirta selamatkan adalah keturunan Nayara?Nova menjelaskan, "Dik, kami nggak berniat jahat. Kami diminta seorang senior untuk mencari keturunannya. Margamu apa? Kenapa rumah ini nggak terawat?"Gadis itu menyahut, "Um ... ayahku melarangku bicara dengan orang asing. Tapi, kulihat kalian sangat memedulikan masalah ini. Aku ceritakan pada kalian."Gadis itu mengamati sekeliling, lalu berbisik, "Margaku Hemanta dan namaku Nivia. Sekitar 760 tahun yang lalu, leluhurku itu pedagang yang paling kaya di Kota Safir. Mereka menguasai hampir seluruh industri di kota ini. Tapi ... kesuksesan mereka nggak berlangsung lama.""Bukan hal yang bagus kalau orang biasa terlalu kaya. Kekayaan keluarga kami diincar wali kota waktu itu
Melihat wanita berjubah hitam tiba-tiba menghilang, wakil jenderal makin emosional. Dia mengayunkan tangannya dan memerintah, "Haha, master ini hebat sekali. Teman-teman, bisa dibilang ini berkah di balik musibah. Buka mata kalian lebar-lebar dan kalian harus fokus.""Kalau kita berhasil menyanjung master ini, kesempatan kita untuk sukses sudah datang! Kenapa kalian masih diam saja? Cepat kerahkan lebih banyak bawahan! Sebagian jaga pintu gerbang kota, sebagian ikuti aku untuk melakukan pemeriksaan di setiap rumah," lanjut wakil jenderal.Wakil jenderal menambahkan, "Oh iya. Kita juga harus interogasi semua penduduk kota. Pasti ada yang melihat orang yang dicari master itu!""Oke, Pak!" sahut belasan tentara. Mereka tertawa, lalu mengerahkan kekuatan spiritual di dalam tubuh mereka dan berlari ke dalam kota dengan cepat. Para tentara itu mengabari rekan mereka.....Dengan kondisi Tirta sekarang, dia tidak bisa melepaskan kesadaran spiritual. Jadi, dia tidak tahu semua yang terjadi di
Tentara yang memakai kacamata adalah orang yang berkomunikasi dengan pasukan Negara Darsia. Dia menelan ludah dengan perasaan gugup, lalu menunjuk Gulzar dan menyahut, "Pak Tirta ... dia pemimpin kami!"Tentara itu mengenali Tirta sehingga dia sangat ketakutan. Bahkan suaranya bergetar.Sementara it
Ernesto meneruskan, "Tapi, pasukan Negara Darsia pasti langsung melancarkan serangan begitu Tirta mati. Aku juga nggak bisa menanggung konsekuensinya kalau Gunung Fozi meledak ...."Ernesto sangat pusing begitu memikirkan masalah ini. Dia tidak berani menghubungi keluarganya untuk memberi tahu merek
Luvia sangat terkejut begitu mendengar ucapan Althea. Dia juga diam-diam membalas dengan kesadaran spiritual, 'Tapi ... bukannya di dalam tubuh Tirta ada tokoh hebat yang sudah mencapai tingkat pembentukan dewa? Kenapa dia bisa nyaris mati? Apa di Negara Yumai juga ada kultivator tingkat pembentukan
Ilona membawa Tirta melewati belasan koridor. Setelah sampai di tempat pemandian air panas yang jernih di bagian belakang, Ilona berujar pada Tirta dengan gembira, "Kamu berendam di sini dulu. Istirahat sebentar, nanti aku akan kembali lagi."Tirta tidak pernah berendam air panas. Selain itu, yang m







