MasukUntuk sementara ini, mengenai Arshala dan Yumika yang menanyakan Lavanya soal masalah Dinasti Pembunuh dan Sekte Formasi Surgawi tidak perlu dibahas.Sementara itu, di bawah pimpinan Tirta, Yusna yang mengikutinya pun tiba di pegunungan belakang Desa Persik."Tetua Yusna, kamu rasa tempat ini bagaimana? Apa ini termasuk tanah berkah yang tenang serta damai dengan kicauan burung, harum bunga, lembah hijau, puncak yang rimbun, serta aliran sungai yang menenangkan?" tanya Tirta sambil tersenyum."Ya. Energi spiritual di tempat ini memang nggak pekat seperti dunia awani, tapi nggak ada yang ganggu. Ini memang tempat yang sangat baik untuk mengasingkan diri dan kultivasi. Saat jalan-jalan, aku juga bisa berdiskusi denganmu. Ini benar-benar pilihan yang bagus," kata Yusna sambil mengelus janggutnya dan tertawa lebar.Meskipun jauh di dalam lubuk hatinya Yusna sebenarnya cukup meremehkan tempat ini, dia tetap menunjukkan ekspresi sangat puas agar Tirta tidak menyadari rasa tidak puasnya."Kal
Saat mendengar suara itu, Irena dan Yumika yang ingin mencari tahu situasinya juga segera mengikut dari belakang.Swoosh swoosh swoosh!Tak lama kemudian, Tirta dan dua wanita itu melihat Lavanya dan Yusna yang berada tidak jauh dari Desa Persik."Sayang, boleh tahu ini siapa?" tanya Tirta yang maju dengan sopan dan bahkan memberi hormat."Dia ini Tetua Yusna, wakil ketua Aula Penegak Hukum. Orangnya baik dan perlakukan aku dengan cukup baik. Sayang, karena dia datang bersamaku, bagaimana kalau kamu bagikan juga sebagian keberuntunganmu pada Tetua Yusna?" kata Lavanya. Mendengar Tirta memanggilnya sebagai istri, wajahnya langsung memerah. Namun, dia tetap bekerja sama dan berbicara sambil tersenyum."Oh, jadi ini Tetua Yusna. Mudah saja, mudah saja. Karena ini permintaan istriku, aku tentu saja nggak akan mengabaikan Tetua Yusna," kata Tirta langsung sambil tersenyum lebar.Namun sebenarnya, Tirta tahu ucapan Lavanya tadi hanya karangan belaka. Dia sudah bisa memastikan pria tua di had
Yusna terus memberikan jaminan. Sejak dia terluka dan tingkat kultivasinya merosot, kedudukannya di dalam sekte juga terus menurun.Meskipun dia masih menyandang gelar tetua agung, tiga lelaki tua di aula leluhur telah mencopotnya dari jabatan Kepala Aula Penegak Hukum. Kini, dia hanya menjabat sebagai wakil kepala.Karena itulah dia menyimpan kebencian dalam hati. Sekarang setelah mendengar hal ini, tentu saja dia sangat ingin mengetahui apa sebenarnya kesempatan besar yang dimaksud."Baiklah, kalau begitu aku akan bocorkan sedikit informasi kepada Tetua. Boleh aku bertanya, siapa orang yang sedang ingin dihadapi sekte?"Lavanya meningkatkan kecepatannya sekuat tenaga, tetapi tetap tidak mampu menjauh dari Yusna.Namun, selama pihak lain belum menunjukkan tanda-tanda akan menyerang, itu sudah merupakan hasil terbaik."Orang yang ingin dihadapi sekte ... jangan-jangan ... jangan-jangan kamu tahu keberadaan bocah bernama Tirta itu? Jangan-jangan dia sembunyi di tempat ini? Dia orang yan
"Kalaupun harus bersembunyi dari kejaran musuh bebuyutan, aku tetap nggak sudi tinggal di tempat seperti ini.""Jadi di saat segenting ini, di dunia kecil yang begitu tandus ini, siapa sebenarnya orang yang hendak dia temui?"Tetua agung yang membuntuti itu hampir keluar bersamaan dengan Lavanya, jadi sama sekali tidak terkena dampak runtuhnya jalur itu.Tentu saja, dengan tingkat kultivasinya, sekalipun terkena dampaknya, dia tidak akan mengalami cedera apa pun.Ketika melihat Lavanya menghancurkan jalur itu lalu terus bergegas tanpa henti, dia pun akhirnya melepaskan semua keraguannya dan mengikuti dari belakang dengan santai.Dengan kecepatan Lavanya, dia hanya membutuhkan kurang dari setengah jam untuk tiba di jalur menuju bumi.Setelah memasuki jalur itu dan sebelum pergi, dia kembali menghancurkannya. Dia mengulangi cara yang sama seperti sebelumnya.Ketika akhirnya memasuki wilayah Negara Darsia dan merasakan kultivasinya ditekan, barulah dia sedikit merasa tenang.Dia lalu mena
Meskipun saat meninggalkan sekte Lavanya sudah menggunakan formasi penyembunyi aura untuk menutupi jejaknya, tetua agung yang membuntutinya adalah seorang ahli yang dulu pernah mencapai tingkat semi pencapaian agung sebelum terluka.Saat ini, dia masih memiliki kultivasi tingkat penebas dewa tahap puncak. Karena itu, dia bukan saja dapat melacak pergerakan Lavanya dengan jelas, bahkan dia bisa memastikan wanita itu tetap tidak akan menyadari keberadaannya meskipun dia berada dalam radius 5 kilometer dari Lavanya.Bagi seorang kultivator tingkat penebas dewa tahap puncak, 5 kilometer adalah jarak yang bisa ditempuh dalam sekejap."Sebentar lagi sampai ...."Sekitar dua jam kemudian, Lavanya tiba di pintu masuk menuju dunia misterius. Sepanjang perjalanan, meskipun dia tidak menemukan siapa pun yang membuntutinya, perasaan tidak nyaman yang sangat kuat terus menekan hatinya, seolah sebuah gunung besar sedang mengimpit dadanya.'Jangan-jangan jejakku sudah terbongkar dan ada yang membuntu
"Humaira, selama Guru pergi beberapa waktu ini, apa ada sesuatu yang nggak biasa terjadi di dalam sekte?" tanya Lavanya."Kalau sesuatu yang nggak biasa sih nggak ada. Tapi pemimpin sudah mengeluarkan perintah. Semua murid sekte, termasuk para tetua gunung suci, dilarang meninggalkan wilayah Sekte Formasi Surgawi. Kita harus bersiap untuk bertempur kapan saja.""Guru diam-diam keluar dan melanggar perintah pemimpin sekte. Kalau sampai ketahuan, bukankah itu gawat?" tanya Humaira dengan cemas.Kekhawatirannya bukan tanpa alasan. Terutama karena gunung suci kesembilan sekarang hanya ditempati oleh mereka berdua. Kekuatan mereka terlalu lemah. Apabila tindakan Lavanya sampai ketahuan, statusnya sebagai tetua gunung suci bisa dicabut."Nggak masalah. Selama kamu nggak mengatakannya, nggak akan ada yang tahu," sahut Lavanya dengan serius."Guru masih ada beberapa urusan yang harus diselesaikan. Lanjutkan saja kultivasimu." Setelah berkata demikian, Lavanya berbalik menuju istana tempatnya b
Pada saat yang sama, di sebuah ruang perawatan intensif mewah yang terletak di rumah sakit pusat ibu kota. Seorang pria dari Negara Khalo yang kehilangan kaki dan tangannya berbaring di tempat tidur. Ekspresinya tetap terlihat ketakutan. Dia adalah Lukern.Anggota pasukan khusus Negara Khalo membawa
Anjing hitam itu melanjutkan, "Ada yang nggak beres! Aku merasa takut ... yang duduk di dalam barang nggak jelas itu pasti bukan manusia! Kemungkinan besar dia seperti aku ... makhluk mengerikan yang bertahan hidup dari zaman kuno!"Anjing hitam sangat berwaspada. Dia terus memandang ke arah pesawat
Tirta melihat ke arah yang ditunjuk Yahsva. Di antara 10 pria kekar itu, ada beberapa yang kakinya diikat dengan potongan timbal seberat ratusan kilogram. Tali setebal ibu jari diikat di pinggang mereka dan dihubungkan ke beberapa pikap berat di belakang. Mereka terus berlari di tanah berpasir dan m
Shazana yang bingung terus bertanya, "Ada apa dengan ayahmu? Kenapa dia dirawat di rumah sakit?"Sebenarnya Shazana tidak tahu dulu Altair yang mengutus orang untuk membunuh mereka. Dia juga tidak tahu ternyata Orion berbaring di rumah sakit selama 18 tahun."Bu, naik ke mobil dulu. Aku akan pelan-p







