Share

77. Racun berbahaya?

Penulis: Cutegurl
last update Tanggal publikasi: 2025-08-04 20:38:19
Bersama dengan Dokter Keysha, Elvario duduk menyandarkan tubuhnya yang lelah pada sandaran kursi. Di depannya, kantong makanan hangat dari dokter Keysha sudah nyaris kosong. Bau nasi dengan gurihnya ayam masih tersisa di udara, namun ketegangan hari itu membuat rasa kenyang tak kunjung terasa.

Baru saja ia meletakkan sumpit ke dalam wadah makanan, ponselnya bergetar keras di atas meja. Layar menyala, menampilkan tulisan tebal: “IGD - PRIORITAS”

Dengan sigap, Elvario mengangkatnya.

“Dokter
Cutegurl

Yang sudah baca cerita El sampai bab ini, ayo dong berikan author semangat. Tolong dukung cerita Elvario ini, baik dengan Komentar, Vote ataupun hadiahnya ya. Atau mungkin teman-teman El semua bisa bagikan cerita ini agar kisah Elvario bisa dibaca oleh lebih banyak orang. Terima kasihhh.

| 37
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (4)
goodnovel comment avatar
Engr Burn7002
Best.. Good move
goodnovel comment avatar
Widi Harsono
muantap........
goodnovel comment avatar
Rosse
serasa aku jadi tenaga medis di sekitar dr Elvaro.
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Dokter Jenius: Tangan Emas Sang Penyembuh    170. Selamanya

    Dua Tahun Kemudian Ballroom hotel telah dipenuhi cahaya kristal yang berkilauan. Rangkaian bunga putih memenuhi setiap sudut ruangan. Alunan musik mengalun lembut, sementara keluarga, sahabat, serta rekan kerja memenuhi kursi-kursi yang telah disiapkan. Di ujung lorong, Azalea melangkah perlahan. Gaun putih yang dikenakannya menjuntai anggun hingga lantai. Rambutnya disanggul sederhana dengan hiasan bunga-bunga kecil, membuat senyumnya tampak semakin hangat. Bekas luka yang dahulu hampir merenggut hidupnya kini hanya tersisa sebagai kenangan. Hari itu... Ia terlihat begitu sehat dan bersemangat. Di ujung altar, Elvario memandang wanita itu tanpa berkedip. Untuk pertama kalinya sejak banyak orang mengenalnya... Tatapan dingin dokter pusat trauma itu dipenuhi kelembutan. Azalea berhenti tepat di hadapannya, dan mereka saling tersenyum. Tanpa perlu kata-kata, keduanya sama-sama teringat malam-malam panjang di rumah sakit. Saat Azalea berjuang antara hidup dan mati. Saat

  • Dokter Jenius: Tangan Emas Sang Penyembuh    169. Akan selalu begini

    Ruang staf pusat trauma sudah mulai lengang ketika El akhirnya menurunkan tubuhnya di kursi panjang dekat dinding. Satu tangannya masih menggenggam masker operasi yang sudah setengah kusut, sementara tangan lainnya ia gunakan untuk menekan batang hidungnya yang terasa berat. Cahaya putih dari lampu neon di atas kepala membuat kulitnya tampak lebih pucat dari biasanya. Kantung matanya samar terlihat, tanda ia sudah terlalu lama tidak tidur. Tapi di wajah itu masih ada ketegasan yang sama — dingin, fokus, dan tidak menunjukkan keluhan sedikit pun. Suara mesin ventilator, langkah kaki perawat yang bergegas, dan panggilan singkat dari interkom menjadi latar belakang yang terus hidup di rumah sakit itu, seolah memberi tahu bahwa tempat ini tidak pernah benar-benar tidur. El menatap arlojinya. Sudah lewat tengah malam. Itu berarti hampir dua puluh jam ia bekerja tanpa henti — berpindah dari satu ruang operasi ke ruang lainnya, dari IGD ke ruang resusitasi, kembali ke meja operasi, d

  • Dokter Jenius: Tangan Emas Sang Penyembuh    168. Saya tidak bisa istirahat

    Salah satu asisten segera memberikan benang pada El dengan gerakan cepat. Semua tim operasi El kali ini bekerja dengan cepat. El lalu menjahit luka besar itu dengan gerakan cepat namun rapi. Setiap jahitannya terpasang dengan ketegasan luar biasa. Menegaskan sosoknya yang bisa dibilang sempurna dalam urusan medis. Dia benar-benar adalah murid membanggakan dari tabib terkutuk. Dalam ruang operasi yang dingin itu, suara tik-tik-tik alat monitor menjadi satu-satunya musik di ruangan tersebut. Menjadi teman dengar bagi beberapa pasang telinga di sana. Dan ketika El sedang fokus menangani pasiennya, seorang perawat masuk ke dalam ruang operasi dengan tergesa-gesa. Di wajahnya terlihat panik yang kentara. “Dokter, ada dua korban lainnya yang baru tiba. Keduanya tidak sadar, salah satunya dengan luka bakar parah.” El menatap sekilas ke arah pintu, lalu berkata datar, “Beri prioritas lebih dulu pada pasien dengan nadi lemah. Minta Dokter Lina untuk ambil alih triase. Jangan biarkan

  • Dokter Jenius: Tangan Emas Sang Penyembuh    167. Terus menyelamatkan

    Roda brankar berdecit keras saat salah satu pasien didorong masuk ke ruang operasi darurat dua. Bau darah segar, dan campuran antiseptik, langsung memenuhi udara dingin di dalam ruangan tersebut. Lampu operasi yang tergantung di atas meja operasi menyala dengan terang, menyilaukan, dan menyorot tubuh pasien laki-laki yang penuh dengan luka. Wajahnya nyaris tak dikenali, tertutup darah dan serpihan kaca yang menempel di kulitnya. Nafasnya berat, pendek, dan terputus-putus. Elvario kini sedang berdiri di sisi meja operasi, dan mengenakan sarung tangan steril yang baru. Masker telah menutupi separuh wajahnya, hanya menyisakan sepasang mata tajam yang penuh fokus. Di sampingnya, seorang dokter anestesi sedang memeriksa tekanan darah pasien dan saturasi oksigen yang terus turun drastis. “Tekanan 60 per 30, Dok! Saturasinya 78 persen!” “Buka jalan napasnya sekarang! Ventilator siap?” “Siap, Dok!” El menarik napas dalam, lalu menatap layar monitor. Detak jantung pasien melambat.

  • Dokter Jenius: Tangan Emas Sang Penyembuh    166. Terus berjuang menyelamatkan

    Setelah mengatakan perintah tersebut, El menutup panggilan telepon tersebut. Kemudian El berdiri dengan cepat, dan meraih jasnya lalu langsung mengenakan jas tersebut dalam satu gerakan. Tatapan semua orang yang ada di kantin itu mengikuti langkahnya saat El berjalan cepat keluar, suara sepatunya terdengar beradu dengan lantai yang licin karena basah. Sekarang koridor rumah sakit terasa lebih sibuk dari saat tadi El melewatinya. Dan beberapa orang perawat tampak berlarian di sana, dengan suara telepon yang terus berdering, disusul dengan suara pengumuman dari pengeras suara menggema dengan keras. “Seluruh tim trauma harap segera ke IGD. Tim trauma, ke IGD sekarang.” Suara panggilan itu terdengar tegas dan juga penuh permintaan. El semakin mempcepat langkahnya. Tatapannya tajam, dan juga fokus. Begitu El tiba di ruang trauma, aroma khas rumah sakit, berupa obat, darah, dan antiseptik langsung menyergap ke dalam hidungnya. Di sana, terlihat ada beberapa staf medis sudah bersiap

  • Dokter Jenius: Tangan Emas Sang Penyembuh    165. Apakah akan ada insiden lagi?

    Beberapa Jam Kemudian Ruang operasi telah digunakan bergantian. El keluar dari OR dengan seragam operasi yang basah oleh keringat. Maskernya ia turunkan perlahan, langkahnya berat. “Pasien perempuan sudah stabil,” lapor perawat ICU. “Transfusi berjalan baik, tekanan darah normal.” El mengangguk pelan. “Pantau urine output dan saturasi tiap lima belas menit. Jika turun, hubungi saya langsung.” Ia lalu menatap layar monitor di ruang observasi tempat pasien laki-laki dirawat pascaoperasi. Napas pria itu teratur, tapi masih dibantu ventilator. CT menunjukkan pendarahan sudah dibersihkan, namun kesadarannya belum pulih. Jam dinding di atas pintu menunjukkan pukul 13.47. Sudah lewat dari jam makan siang. Langkah kaki El bergema pelan di lantai rumah sakit yang bersih mengilap. Operasi yang El lakukan berjalan lancar, dan nyawa pasien selamat, tapi tenaga El terasa nyaris terkuras habis. Saat ia tiba di pintu keluar IGD, El kemudian berhenti. Pandangannya tertarik oleh sesuatu

  • Dokter Jenius: Tangan Emas Sang Penyembuh    5. Menyembuhkan

    Perjalanan menuju rumah orang tuanya terasa begitu sunyi dan juga sangat lama. Ibu pemilik kedai itu duduk di jok belakang motor, menunjukkan arah sambil sesekali menatap punggung Elvario yang membisu. Ia tahu, pemuda itu sedang menahan sesuatu yang dalam, lebih dalam dari sekadar rindu. Motor

  • Dokter Jenius: Tangan Emas Sang Penyembuh    4. Bertemu masa lalu

    Setelah menyelesaikan operasi darurat yang menegangkan, Elvario berjalan keluar dari ruang bedah dengan langkah tenang. Wajahnya tak menunjukkan lelah sedikit pun, meski bajunya bernoda darah dan sarung tangannya baru saja dilepas. Tatapannya tetap tajam, penuh perhitungan. Begitu kembali ke UGD,

  • Dokter Jenius: Tangan Emas Sang Penyembuh    3. Dipermalukan

    Semua menoleh. Elvario sudah berdiri di sana, lengkap dengan sarung tangan dan mata setajam belati. Tatapannya menusuk ke arah Tama. Tama mencibir. “Kau lagi? Aku rasa seharusnya kau tahu tempatmu, Elvario. Kau mungkin baru, tapi semua orang di sini tahu siapa aku. Aku yang menyelamatkan pasien

  • Dokter Jenius: Tangan Emas Sang Penyembuh    2. Bertemu musuh lama

    Tepat saat itu, dari ujung lorong terdengar suara datar dan tenang. “Lucu sekali. Bagaimana mungkin aku Anda? Padahal saya tidak melihat Anda di ruangan pasien semalam.” Semua menoleh. Elvario berdiri di sana, menyandarkan tubuh pada dinding dengan tangan bersilang. Sorot matanya tajam, nyaris m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status