ログインSetelah menaiki tangga, Fatimah, Nabila, dan Fahmi sudah berada di lantai dua. Nabila dan Fahmi disambut oleh koleksi gaun, kebaya, dan setelan jas yang desainnya sangat menawan.
“Tunggu sebentar, ya… kalian duduk dulu,” ucap Fatimah mempersilakan kedua kliennya untuk duduk, sedangkan ia berjalan menuju gaun yang telah di-booking oleh sahabatnya. Fatimah membawa gaun itu dibantu oleh karyawannya. Kini, gaun itu telah berada di hadapan Nabila dan Fahmi. Gaun berCukup satu koper berukuran sedang memuat pakaian dan barang-barang pasangan pengantin baru ini. Fahmi dan Nabila akan berbulan madu menuju Lombok, Nusa Tenggara Barat. Pakaian-pakaian dan barang-barang lain disusun serapi mungkin memanfaatkan ruang pada koper. Dengan cekatan Fahmi menyusun semua barang-barang tersebut, sedangkan sang istri hanya menontonnya saja. Perempuannya itu hanya diperkenankan untuk bersantai saja. “Mas, aku bantu, ya,” ucap Nabila. Fahmi menoleh pada sang istri dengan senyum manis, lalu menggeleng. “Sayang, duduk aja, bentar lagi selesai kok,” balasnya dengan lembut. Nabila tak menjawab, ia hanya mendengus pelan. Fahmi betul-betul memanjakan dirinya, bahkan air minum pun ia yang mengambilkan untuk sang istri. Selesai. Semua barang-barang milik keduanya sudah masuk ke dalam koper dengan susunan yang rapi.Fahmi menoleh pada sang istri yang tengah duduk sambil mengayun-ayun
Gerakan tubuh Nabila yang berlari-lari kecil membuat rok terusannya berkibar dan mekar. Rambut hitam legam sedadanya turut bergoyang. Tawa kecil nan ceria bersemi di wajah cantiknya. Lari-lari kecilnya terus bergerak mengelilingi kamar, ia sengaja belum berhenti, membiarkan sang suami sampai berhasil mendapatkan dirinya. Dengan tawa-tawa kecil, senyum bahagia, Fahmi terus mengejar sang istri. Ia memang tak mempercepat larinya, karena ingin menikmati momen ini. Momen yang mungkin bagi orang lain akan terasa seperti anak kecil, tapi bagi Fahmi ini adalah sebuah kebahagiaan. Tingkah sang istri yang manja sungguh membuatnya semakin jatuh cinta dan menginginkan perempuannya itu. Nabila terus berlari-lari kecil, namun ia malah memelankan gerakannya, dengan cekatan Fahmi langsung menggendongnya. Nabila langsung mengalungkan kedua tangannya ke leher kokoh sang suami. Ia tersenyum mesra menatap pria yang berhasil membawanya ke dalam relung dada bidang
"Mas, pulang yuk…” bisik Nabila tepat di sebelah telinga sang suami. Suara Nabila terdengar mengalun indah dan mesra di telinga Fahmi. Lelaki ini sampai mengedipkan matanya, ia merasa apakah salah dengar, namun suara itu terdengar jelas sekali. Fahmi menatap sang istri dengan hangat, namun sesuatu di dalam dirinya seperti memanggil-manggil. Suara sang istri sarat akan sesuatu yang membuatnya membangunkan jiwa kelelakiannya. Begitu juga dengan tatapan sang istri yang terlihat menginginkan dirinya. “Beneran? Baru sebentar loh di sini,” tanya Fahmi mencoba meyakinkan apakah istrinya memang benar-benar ingin pulang. Nabila mengangguk yakin. Tatapannya masih sama seperti tadi. Fahmi tersenyum setuju, ia ikuti saja kemauan sang istri. “Kita bayar dulu ya,” ucapnya lalu mengajak Nabila menuju kasir. Keduanya berjalan menuju kasir, Fahmi segera melakukan transaksi pembayaran non tunai atas belanjaan istrinya. Nabila yang berdiri di
Pikiran Nabila sudah berkelana ke arah sana, namun wajahnya yang telah merah padam membuatnya ketahuan sedang memikirkan hal tersebut. Sang suami tertawa renyah, ekspresi wajahnya pun terlihat jahil dan menggodanya. “Mikirin apa ayooo?” tanya Fahmi dengan nada jahil dan menggoda. Ia sudah dapat menebak ke arah mana pikiran sang istri berkelana, namun ia sangat menyukai hal itu. Nabila buru-buru menggeleng. “Nggak, nggak mikirin apa-apa,” elaknya dengan cepat. Wajahnya sudah merah padam menahan malu.Fahmi tertawa renyah, Nabila buru-buru berjalan ke arah lain. Entah ke mana, yang penting menyelamatkan kondisi muka dan jantungnya. Fahmi mengikutinya, ternyata langkah Nabila yang sembarangan itu malah mengantarkannya ke arah pakaian tidur wanita dewasa tersebut. ‘Aduh!’ Nabila menepuk keningnya. ‘Ini namanya menjebak diri sendiri,’ lanjutnya dalam hati. Fahmi yang mengikutinya, kini sudah berdiri di sampingnya. “Aku pilihin ya,” ucapnya
Pasangan pengantin baru itu, telah menyelesaikan sarapan mereka masing-masing. Perut Nabila sudah cukup terisi dengan seporsi mie celor. Senyum puasnya terbit di wajah, saat makanan tersebut sesuai dengan ekspektasinya. Begitu juga dengan Fahmi, sarapannya yang sangat sederhana, namun cukup mengenyangkan. Ditambah melihat senyum sang istri, semakin menambah rasa kenyangnya. Setelah ini sesuai dengan rencana mereka selanjutnya, yaitu pergi ke mal. Letak antara hotel dan mal terbesar di kota ini tidaklah jauh. Fahmi dan Nabila hanya butuh waktu sekitar 15 menit untuk menuju mal dari hotel menggunakan taksi. Setibanya di sana, situasi dan kondisi cukup sepi pengunjung, dikarenakan sekarang masih pukul 09.30 pagi. Banyak toko yang masih dalam persiapan dan sebagian sudah siap. “Kita kepagian, ya, Mas,” ucap Nabila sambil menyisir ke sekitar. Fahmi tertawa kecil. “Iya, mungkin kita salah satu pengunjung pertama,” balasnya. Nabil
Mas Fahmi…” panggil Nabila dengan nada manja sembari terus berjalan menuju kamar. Ia berniat mau membalas kecupan itu. Dengan langkah yang cepat, Nabila berjalan menuju kamar. Setiba di sana ia sudah siap membalas Fahmi, namun langkahnya terhenti. Sosok tampan di hadapannya sedang berganti pakaian, menampilkan bagian atas tubuhnya yang atletis. Nabila terpaku, ia bingung harus melakukan apa. Padahal niatnya ingin membalas kecupan itu dengan mencubit sedikit ujung hidung mancung itu. Fahmi tersenyum jenaka melihat sang istri yang sedang terpaku. “Mau bales?” tanyanya dengan nada menggoda, lalu ia merentangkan tangannya. “Sini…” ujarnya menggoda dan menantang. Semula niat Nabila yang ingin membalas itu, malah batal. Ia semakin membeku melihat pemandangan di depannya yang memang menggoda dan ia pun tergoda. Wajahnya terasa hangat. ‘Oh, tidak, punya suami seperti ini, bisa-bisa bikin aku mimisan. Meleleh, deg-degan, tapi jangan sampai ja
‘Ah, apa hanya aku saja terlalu heboh? Atau mungkin dia tidak antusias?’ pikiran Nabila mulai berlebihan, namun cepat-cepat ia mengusirnya. “Gimana, Nabila?” tanya Khairul, ia ingin tahu bagaimana respon anak gadisnya. Nabila menoleh ke arah Khairul, tatapannya bingung, lalu i
Nabila, nanti malam keluarganya Om Abdul mau ke rumah kita, silaturahmi. Sekalian pertemukan kamu sama Fahmi. Begitulah isi pesan dari Khairul yang membuat Nabila kaget. “Malam ini?” Nabila mencoba mencerna apa yang tengah terjadi. Terasa dar der dor sekali.
"Dokter Fahmi?!” Nabila berseru, ia tak salah lihat nama yang tertulis di CV tersebut adalah atasannya. Khairul dan Farida saling menatap, lalu melihat ke arah anak gadisnya. “Kamu kenal?” tanya Khairul semakin antusias. Nabila mengangguk. “Iya, beliau ini atasanku di rumah sakit. Aku asist
“Enak ya jadi Nabila, bisa deket-deket terus sama dokter Fahmi,” ujar salah satu perawat di ruang jaga.“Bagi tipsnya dong, Bu Bidan Nabila,” sahut perawat lain.Nabila, gadis yang tengah memakai scrub dan kerudung berwarna merah muda itu hanya menggelengkan kepalanya sambil ter







