تسجيل الدخولSetelah menaiki tangga, Fatimah, Nabila, dan Fahmi sudah berada di lantai dua. Nabila dan Fahmi disambut oleh koleksi gaun, kebaya, dan setelan jas yang desainnya sangat menawan.
“Tunggu sebentar, ya… kalian duduk dulu,” ucap Fatimah mempersilakan kedua kliennya untuk duduk, sedangkan ia berjalan menuju gaun yang telah di-booking oleh sahabatnya. Fatimah membawa gaun itu dibantu oleh karyawannya. Kini, gaun itu telah berada di hadapan Nabila dan Fahmi. Gaun ber“Lanjutkan…” ucap Fahmi. Operasi berjalan dengan lancar, Fahmi telah menyelesaikan tugasnya, sisanya akan diteruskan oleh tim. Ia berjalan keluar dari ruang operasi, melepas sarung tangan, masker, jubah, dan penutup kepala. Ia mencuci tangan di wastafel, dari cermin terdapat pantulan dirinya, Fahmi melihat sekilas, lalu kembali fokus membersihkan tangan hingga ke siku. Koridor rumah sakit pada malam hari terasa lebih sepi, hanya ada satu atau dua orang yang lewat. Fahmi melangkah dengan santai, ia teringat dengan rumor yang biasa terjadi di rumah sakit. Rumor-rumor berbau horor itu juga dialami oleh rumah sakit milik keluarganya, hanya saja mereka tak begitu menanggapi. Bicara soal horor, Fahmi belum tahu apakah istrinya takut atau tidak pada hal semacam itu. Ia melirik jam tangannya, waktu semakin larut, ponselnya juga hening. Tak ada Nabila menghubunginya via pesan atau pun panggilan. Fahmi menghela nafasnya pelan, sepertinya Nabila sudah ti
Fahmi bersiap meluncur ke rumah sakit malam ini, ia mengenakan kaos berkerah dan celana chino panjang. Sudah berapa pekan ia tidak melakukan operasi cito, karena cuti pernikahan dan memang belum mendapatkan tugas tersebut. Malam ini, malam yang seharusnya dinikmati berdua dengan sang istri, namun harus ia relakan demi keselamatan dua nyawa sekaligus. Fahmi dan timnya akan berjuang melaksanakan operasi caesar seorang ibu yang sudah berjuang untuk persalinan normal secara induksi. Kasus seperti gagal induksi ini sudah sering sekali bagi Fahmi, jalan terakhir untuk menyelamatkan ibu dan janinnya adalah operasi. Di saat malam hari memang tak ada dokter spesialis kandungan yang bertugas, hanya bidan dan dokter IGD saja yang berjaga. Mata Fahmi melirik jam dinding yang terus berjalan menggerus waktu. Ia menoleh pada Nabila yang masih duduk memperhatikannya bersiap-siap berangkat. Senyum tipis terbit di wajah cantik itu. Senyu
Kembali ke dunia kerja setelah melewati peristiwa besar dan penting dalam hidup. Kehidupan terus berjalan seperti biasa, namun tentu dengan rasa yang berbeda. Sudah dua pekan Fahmi dan Nabila bekerja, dalam kurun waktu tersebut seperti berlalu cukup cepat. Kehidupan pernikahan yang dijalani berjalan aman, setiap malam sebelum dan pagi sesudah tidur, Nabila selalu menjumpai suaminya di sebelahnya. Pemandangan indah yang hanya untuk dirinya seorang. Seperti malam ini juga, Nabila sudah mengenakan pakaian tidur berupa terusan selutut dengan motif bunga-bunga lucu yang menggemaskan. Sebelum tidur, ada ritual rutin yang ia lakukan, yaitu memakai produk perawatan wajah. Perawatan yang dilakukan Nabila hanya langkah yang sederhana saja, seperti membersihkan wajah dan memakai krim malam setelahnya. Ah, tak lupa, ia menyemprotkan sedikit parfum dengan aroma super lembut ke tubuhnya. Tidur pun harus dengan persiapan yang baik, namun jika sudah terlalu lelah, bias
Hujan masih mengguyur seluruh kota, walaupun sudah tak sederas sore tadi. Dari kaca pintu dapur yang menghadap ke taman, nampak air membasahi pohon dan tanaman-tanaman hijau di sana. Sorot lampu putih memberikan penerangan dan pantulan kilau air hujan yang cantik. Segelas kopi hitam tanpa gula milik Fahmi mengepulkan uap panas serta aroma yang menentramkan. Teh panas milik Nabila juga tak mau kalah, uapnya menari-nari di udara. Beberapa potong kue juga tersaji di atas piring keramik datar. Pasangan suami istri ini duduk berhadapan di meja makan ruang dapur. Keduanya sedang menikmati cuaca dan waktu senggang di malam selepas salat maghrib. Kedua minuman itu memberi hangat pada tubuh, dan kue manis yang tersaji sebagai lawan yang sepadan. “Kamu mau makan yang berat nggak?” tanya Fahmi sembari menaruh gelas kopinya. Nabila belum menjawab, ia baru saja menelan potongan kue ke dalam mulutnya. “Kayaknya nggak deh, Mas. Kue-kuenya ini bikin kenyang j
Sore waktu yang dinanti Fahmi sudah tiba, lelaki itu memacu mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit. Setelah menyelesaikan praktik di rumah sakit lain pada siang hari, Fahmi bergegas kembali ke rumah sakit milik keluarganya untuk menjemput pujaan hati. Pesan singkat yang mengabarkan dirinya sudah berada di jalan telah dikirim pada sang istri. Tak perlu menunggu lama, pesan itu dibalas dengan segera. Senyum manis merekah di wajah tampan itu. Sepekan lebih setelah pernikahan, ia mereguk nikmatnya jatuh cinta setelah cukup lama memendam rasa. Nabila membereskan barang bawaannya, ia bersiap menunggu sang suami tiba menjemputnya. Pekerjaannya di hari pertama bekerja setelah menikah hanya berbeda sedikit, yaitu status yang berubah. Data rekam medis yang ia masukkan ke dalam laptop cukup banyak seperti biasa. Laptop dan map berisi dokumen tertulis telah tersimpan rapi di dalam tas ransel. Nabila berdiri, ia memasangkan ransel ke punggungnya, terasa
Dengan senyum hangat Nabila mengantarkan sang suami yang akan berangkat ke rumah sakit lain dari area parkir ini. Fahmi yang sedang kecintaan sekali dengan sang istri, rasanya tak mau jauh-jauh dari wanitanya itu. Kaca mobil telah ditutup, Fahmi menjalankan mobilnya keluar dari area rumah sakit yang cukup besar itu. Dari kaca spion, mata Fahmi masih mendapati istrinya berdiri di tempat parkir, arah pandangannya juga tertuju pada mobilnya. Kini, roda mobil yang bergerak berputar itu telah membawa Fahmi keluar dari area rumah sakit. Sosok istrinya sudah tak tertangkap lagi dari kaca spion. Fahmi harus bersabar, sore nanti ia akan bertemu lagi dengan sang istri. Mobil Fahmi sudah tak ada lagi di area parkir, Nabila memutar balik tubuhnya, lalu berjalan masuk kembali ke dalam gedung rumah sakit. Tingkah sang suami yang tak mau berpisah dengannya sungguh menggemaskan. Kalau, tidak menikah dengan atasannya itu, ia tak akan tahu sisi lain seorang dr. Fahmi Ibr
Kaget bukan main. Kondisi Nabila saat ini membuatnya menjadi lebih sensitif. Sentuhan seperti tadi tentu membangkitkan rasa takutnya. Nabila menghela napas saat melihat sosok yang ia kenal berada di hadapannya. Kemudian, ia tersadar kunci kartu itu jatuh, lalu segera memungutnya.
Bukan pertanyaan bodoh. Inilah yang ada di kepala Nabila. Ia ingin tahu apa yang menjadi alasan Fahmi menyelematkannya tadi. Fahmi masih menatap Nabila, lalu ia membuangnya pada arah lurus ke depan. “Karena harus ditolong,” jawabnya dengan logis dan tenang. Nabila mengembuskan
Suara Fahmi terdengar rendah dan sangat dingin, membuat semua orang di dalam lift seketika menoleh ke belakang dengan terkejut.Nabila langsung mencengkeram scrub pria itu erat-erat, jemarinya bergetar hebat. Jantungnya berdetak kacau sampai terasa sakit.Wajah Fahmi terlihat te
Fahmi bersandar di kursi kerjanya dengan kedua tangan yang terlipat di dada. Wajah tampannya nampak tenang sekali, tapi senyum tipisnya terasa mengintimidasi bagi Nabila. Nabila benar-benar menyesal telah mengeluarkan pertanyaan bodoh itu, namun mau bagaimana lagi, emosinya lebih dulu b







