MasukFahmi keluar dari ruang kendali, ia sudah menemukan bagaimana Nabila bisa sampai tak sadarkan diri seperti sekarang. Namun, ia belum bisa memastikan siapa pelakunya, karena wajahnya tertutup masker berwarna biru tua.
Dengan langkah yang cukup berat sebab beban yang dipikul, Fahmi terus berjalan menuju IGD. Di koridor dan lift ia bertemu dengan tenaga kesehatan di rumah sakit ini, mereka menyapa dengan hormat. Bagi mereka yang tahu kondisi Nabila sekarang, mereka menyampaikan ucapanKembali ke dunia kerja setelah melewati peristiwa besar dan penting dalam hidup. Kehidupan terus berjalan seperti biasa, namun tentu dengan rasa yang berbeda. Sudah dua pekan Fahmi dan Nabila bekerja, dalam kurun waktu tersebut seperti berlalu cukup cepat. Kehidupan pernikahan yang dijalani berjalan aman, setiap malam sebelum dan pagi sesudah tidur, Nabila selalu menjumpai suaminya di sebelahnya. Pemandangan indah yang hanya untuk dirinya seorang. Seperti malam ini juga, Nabila sudah mengenakan pakaian tidur berupa terusan selutut dengan motif bunga-bunga lucu yang menggemaskan. Sebelum tidur, ada ritual rutin yang ia lakukan, yaitu memakai produk perawatan wajah. Perawatan yang dilakukan Nabila hanya langkah yang sederhana saja, seperti membersihkan wajah dan memakai krim malam setelahnya. Ah, tak lupa, ia menyemprotkan sedikit parfum dengan aroma super lembut ke tubuhnya. Tidur pun harus dengan persiapan yang baik, namun jika sudah terlalu lelah, bias
Hujan masih mengguyur seluruh kota, walaupun sudah tak sederas sore tadi. Dari kaca pintu dapur yang menghadap ke taman, nampak air membasahi pohon dan tanaman-tanaman hijau di sana. Sorot lampu putih memberikan penerangan dan pantulan kilau air hujan yang cantik. Segelas kopi hitam tanpa gula milik Fahmi mengepulkan uap panas serta aroma yang menentramkan. Teh panas milik Nabila juga tak mau kalah, uapnya menari-nari di udara. Beberapa potong kue juga tersaji di atas piring keramik datar. Pasangan suami istri ini duduk berhadapan di meja makan ruang dapur. Keduanya sedang menikmati cuaca dan waktu senggang di malam selepas salat maghrib. Kedua minuman itu memberi hangat pada tubuh, dan kue manis yang tersaji sebagai lawan yang sepadan. “Kamu mau makan yang berat nggak?” tanya Fahmi sembari menaruh gelas kopinya. Nabila belum menjawab, ia baru saja menelan potongan kue ke dalam mulutnya. “Kayaknya nggak deh, Mas. Kue-kuenya ini bikin kenyang j
Sore waktu yang dinanti Fahmi sudah tiba, lelaki itu memacu mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit. Setelah menyelesaikan praktik di rumah sakit lain pada siang hari, Fahmi bergegas kembali ke rumah sakit milik keluarganya untuk menjemput pujaan hati. Pesan singkat yang mengabarkan dirinya sudah berada di jalan telah dikirim pada sang istri. Tak perlu menunggu lama, pesan itu dibalas dengan segera. Senyum manis merekah di wajah tampan itu. Sepekan lebih setelah pernikahan, ia mereguk nikmatnya jatuh cinta setelah cukup lama memendam rasa. Nabila membereskan barang bawaannya, ia bersiap menunggu sang suami tiba menjemputnya. Pekerjaannya di hari pertama bekerja setelah menikah hanya berbeda sedikit, yaitu status yang berubah. Data rekam medis yang ia masukkan ke dalam laptop cukup banyak seperti biasa. Laptop dan map berisi dokumen tertulis telah tersimpan rapi di dalam tas ransel. Nabila berdiri, ia memasangkan ransel ke punggungnya, terasa
Dengan senyum hangat Nabila mengantarkan sang suami yang akan berangkat ke rumah sakit lain dari area parkir ini. Fahmi yang sedang kecintaan sekali dengan sang istri, rasanya tak mau jauh-jauh dari wanitanya itu. Kaca mobil telah ditutup, Fahmi menjalankan mobilnya keluar dari area rumah sakit yang cukup besar itu. Dari kaca spion, mata Fahmi masih mendapati istrinya berdiri di tempat parkir, arah pandangannya juga tertuju pada mobilnya. Kini, roda mobil yang bergerak berputar itu telah membawa Fahmi keluar dari area rumah sakit. Sosok istrinya sudah tak tertangkap lagi dari kaca spion. Fahmi harus bersabar, sore nanti ia akan bertemu lagi dengan sang istri. Mobil Fahmi sudah tak ada lagi di area parkir, Nabila memutar balik tubuhnya, lalu berjalan masuk kembali ke dalam gedung rumah sakit. Tingkah sang suami yang tak mau berpisah dengannya sungguh menggemaskan. Kalau, tidak menikah dengan atasannya itu, ia tak akan tahu sisi lain seorang dr. Fahmi Ibr
Mata Fahmi melirik sang istri yang terkejut dengan jawabannya. Ia tersenyum menggoda, jawaban itu memang benar adanya. Ia tidak keceplosan sama sekali. “Beneran, Mas?” Nabila berharap suaminya bercanda. Fahmi mengganti senyumnya menjadi hangat sembari menatap sang istri. “Maaf, ya, mau nyebut nama kamu langsung, rasanya lidah agak kaku,” jelasnya. “Iya, tapi…” Nabila menatap suaminya. “Kalo lagi kerja, kan nggak enak, nanti dikira nggak profesional,” lanjutnya. Fahmi paham, ia juga sudah tahu arah pembicaraan sang istri. Besok-besok saat sedang bekerja ia tidak akan memanggil istrinya dengan sebutan ‘sayang’ lagi. “Iya, Sayang…” ucapnya paham. Nabila tersenyum hangat, lalu Fahmi beranjak dari duduknya. Ia berjalan keluar dari balik meja mengulurkan tangan pada istrinya. Uluran tangan itu disambut, mereka berjalan keluar dari ruang poli menuju kantin rumah sakit. Sembari berjalan melewati koridor yang menghubungkan antara ru
“Sayang, HPHT Ibu Marisa tanggal berapa tadi?” suara Fahmi yang tenang dan santai terdengar menggema di telinga Nabila. Seolah mulutnya sudah terbiasa dengan panggilan tersebut. Begitu juga dengan pasien dan pendamping yang turut terkejut pada panggilan yang diucapkan dokter obgyn tersebut. Tanga Fahmi memegang doppler, ia sudah siap untuk melakukan pemeriksaan USG pada pasiennya. Ia duduk di hadapan layar dan mesin USG, serta di samping pasiennya yang sudah terbaring. Nabila belum menjawab, ia memeriksa dokumen berisi rekam medis pasien. “12 September, Dok,” jawabnya. Sebetulnya ia ingin tertawa saat sang suami keceplosan memanggilnya dengan sebutan ‘sayang’, namun di satu sisi juga, ia merasa bahagia. “Nah iya tanggal itu, Dok,” timpal pasien dengan senyum nyengir masih terbawa kaget saat dokter yang hendak memeriksanya ini mengucap kata ‘sayang’. Pasien ini bingung panggilan itu ditujukan ke siapa, namun dijawab langsung oleh bidan asistennya.
‘Ah, apa hanya aku saja terlalu heboh? Atau mungkin dia tidak antusias?’ pikiran Nabila mulai berlebihan, namun cepat-cepat ia mengusirnya. “Gimana, Nabila?” tanya Khairul, ia ingin tahu bagaimana respon anak gadisnya. Nabila menoleh ke arah Khairul, tatapannya bingung, lalu i
Nabila, nanti malam keluarganya Om Abdul mau ke rumah kita, silaturahmi. Sekalian pertemukan kamu sama Fahmi. Begitulah isi pesan dari Khairul yang membuat Nabila kaget. “Malam ini?” Nabila mencoba mencerna apa yang tengah terjadi. Terasa dar der dor sekali.
"Dokter Fahmi?!” Nabila berseru, ia tak salah lihat nama yang tertulis di CV tersebut adalah atasannya. Khairul dan Farida saling menatap, lalu melihat ke arah anak gadisnya. “Kamu kenal?” tanya Khairul semakin antusias. Nabila mengangguk. “Iya, beliau ini atasanku di rumah sakit. Aku asist
“Enak ya jadi Nabila, bisa deket-deket terus sama dokter Fahmi,” ujar salah satu perawat di ruang jaga.“Bagi tipsnya dong, Bu Bidan Nabila,” sahut perawat lain.Nabila, gadis yang tengah memakai scrub dan kerudung berwarna merah muda itu hanya menggelengkan kepalanya sambil ter







