LOGINSaat sedang melakukan peregangan tipis-tipis, Nabila cukup kaget dengan kedatangan seorang mahasiswa PKL yang menurutnya tiba-tib langsung ada di depannya.
Mahasiswa itu menanyai dirinya yang sedang mengandung, lalu menyodorkan sebuah benda kecil yang terlipat rapi. Entah benda apa itu, sebelumnya tak pernah Nabila jumpai.Benda itu masih berada di tangan mahasiswa tersebut, ia tersenyum menatap Nabila. Senyum yang terasa janggal.“Apa itu?” tanya Nabila ragu dan“Aaarrrghhh…” Teriakan dari dalam kamar langsung membuat Fahmi spontan menaruh gelas yang sedang dipakainya minum air es. Ia berlari menuju kamar, teriakan sang istri begitu mengagetkannnya dan khawatir sesuatu yang membahayakan terjadi. Fahmi menemukan Nabila yang masih berbalut handuk sehabis mandi. Wajah cantiknya ketakutan, tubuhnya bergetar. Saat masuk ke kamar, ia memang tak menemukan kejanggalan, namun sang istri mengatakan ada suatu benda di dalam tasnya. Benda itu sudah berada di tangan Fahmi, dengan runut walaupun agak tersengal, Nabila menceritakan kejadian yang menimpa dirinya saat siang tadi. Entah apapun namanya, jimat atau mungkin media untuk mencelakai, benda ini harus dimusnahkan segera. Fahmi menghela napasnya dengan berat dan gusar. Ia geram sekali saat mendapati benda itu tiba-tiba di dalam tas istrinya. “Aku kaget banget, pas mau ambil HP, tahu-tahu udah ada aja barang itu,
Seperti biasanya, Fahmi menjemput Nabila setelah selesai bertugas di rumah sakit lain. Pria 35 tahun itu menggandeng tangan sang istri sembari berjalan menuju mobil terparkir. Angin sore itu berembus cukup kencang, langit nampak agak gelap berselimut awan mendung. “Kayaknya mau hujan,” ujar Fahmi sambil menengok ke arah langit. Nabila agak terkesiap saat mendengar ujaran sang suami, ia sedang kurang fokus gara-gara dua hal yang menimpanya tadi. Pertama, soal mahluk halus dan benda pelindung alias jimat dari Murni tadi. Kedua, Gladys, mahasiswa PKL dengan penampilan agak mencolok yang akan membantunya asistensi di poli mulai besok. “Kenapa, Mas?” tanya Nabila bingung. “Mau hujan,” jawab Fahmi, lalu ia menoleh pada Nabila. “Kenapa, Sayang? Seperti ada sesuatu yang mengganjal,” selidiknya. Nabila tersenyum kecil. “Nggak kok, Mas,” jawabnya berusaha menutupi apa yang sedang berkeliling di dalam kepalanya. “Beneran?” Fahmi menco
Benar-benar di luar dugaan, tiba-tiba Nabila mau diberi jimat oleh salah seorang mahasiswa PKL di rumah sakit. Mahasiswa tersebut bernama Murniyati, ia berasal dari sebuah desa di kabupaten yang bertetanggaan dengan kota ini. Diketahui, Murni berkepribadian yang agak berbeda dari yang lain, ia lebih suka sendirian, dan terkadang kadang terlihat seperti berbicara sendiri. “Dia tuh kayak punya indra keenam gitu, Kak, bisa lihat-lihat hantu. Apa ya namanya itu?” ucap Julia—salah seorang mahasiswa PKL. Ia sengaja dipanggil oleh Nabila dan Isti untuk mengulik seperti apa sosok Murni. “Indigo,” jawab Isti.“Nah, iya itu!” balas Julia cepat. “Dia pernah kasih-kasih jimat sama kalian?” tanya Nabila penasaran. “Nggak pernah sih, Kak. Baru kali ini kita tahu dia punya barang begituan,” jawab Julia sembari mengingat-ingat apakah Murni pernah memberi atau memperlihatkan benda semacam jimat. Nabila menghela napasnya pelan. “Nggak enak ba
Saat sedang melakukan peregangan tipis-tipis, Nabila cukup kaget dengan kedatangan seorang mahasiswa PKL yang menurutnya tiba-tib langsung ada di depannya. Mahasiswa itu menanyai dirinya yang sedang mengandung, lalu menyodorkan sebuah benda kecil yang terlipat rapi. Entah benda apa itu, sebelumnya tak pernah Nabila jumpai. Benda itu masih berada di tangan mahasiswa tersebut, ia tersenyum menatap Nabila. Senyum yang terasa janggal. “Apa itu?” tanya Nabila ragu dan bingung. Dahinya pun mengerut. “Ini pelindung, biar Kakak dan janin terjaga dari hal-hal buruk,” jawab mahasiswa tersebut. “Misalnya?” Nabila penasaran mengulik kegunaan benda tersebut. “Dari gangguan mahluk halus. Kakak tahu sendiri kan, ibu hamil itu rentan sekali dengan gangguan-gangguan seperti itu,” jawab si mahasiswa, lalu matanya menyisir ke sekitar ruangan. “Di ruangan ini, di sekitar instalasi juga tidak aman untuk ibu hamil. Mereka senang dengan keberadaa
Dari posisi rebah di atas ranjang periksa, di hadapannya terpampang jelas layar LCD yang memperlihatkan apa yang sedang ditangkap oleh USG. Sedikit demi sedikit Nabila paham apa yang digambarkan di layar tersebut. Di layar itu menampakkan buah hatinya yang tumbuh sempurna, berat badannya pun normal. Banyak syukur Nabila panjatkan atas karunia ini. Suaminya masih terus memeriksa, rasanya tak ingin cepat-cepat mengakhiri sesi ini. Satu hal lagi yang membuat Fahmi sangat penasaran, begitu juga Nabila, yaitu soal jenis kelamin. Transduser yang dipegang Fahmi terus mencoba mencari celah untuk menemukan jenis kelamin buah hati mereka, namun ternyata tak semudah itu. Janinnya bergerak menutupi bagian sensitif tersebut. “Abi, si Adek ngajakin main tebak-tebakan nih,” ucap Nabila. Ia tahu apa yang sedang ditelusuri sang suami. Fahmi tersenyum. “Iya, nih, Bunda. Kayaknya kita belum boleh tahu nih, mau ngasih kejutan si adek,” balasnya. Keduany
Sembari berdiri di dekat kompor, Fahmi menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dan dr. Agni saat sore tadi. Ia menjelaskan apa adanya, tanpa ada yang ditambah maupun dikurangi. Nabila yang habis menggoreng telur, mendengar dan menyimak tanpa menyela. Setelah mendengar semuanya, ia merasa malu. Malu, karena sudah berburuk sangka dan menimbulkan kecemburuan. “Jadi malu aku,” gumam Nabila dengan sedikit menunduk. Fahmi mendengar gumaman sang istri, ia hanya tersenyum tipis memaklumi. “Nggak apa-apa, Sayang, justru Mas suka kamu cemburu,” ucapnya. Nabila menoleh, memandang suaminya yang tengah tersenyum bersamaan ucapannya barusan. “Maaf, ya, Mas. Aku udah buruk sangka, sebetulnya mau bersikap biasa aja, tapi nggak tahu kenapa rasanya nggak tahan, tiba-tiba langsung cemburu dan mau nangis,” jelasnya dengan nada rendah dan bibirnya sedikit tertekuk. Fahmi melangkah lebih dekat pada istrinya, ia membawa tubuh mungil itu ke dalam dekap
‘Ah, apa hanya aku saja terlalu heboh? Atau mungkin dia tidak antusias?’ pikiran Nabila mulai berlebihan, namun cepat-cepat ia mengusirnya. “Gimana, Nabila?” tanya Khairul, ia ingin tahu bagaimana respon anak gadisnya. Nabila menoleh ke arah Khairul, tatapannya bingung, lalu i
Nabila, nanti malam keluarganya Om Abdul mau ke rumah kita, silaturahmi. Sekalian pertemukan kamu sama Fahmi. Begitulah isi pesan dari Khairul yang membuat Nabila kaget. “Malam ini?” Nabila mencoba mencerna apa yang tengah terjadi. Terasa dar der dor sekali.
"Dokter Fahmi?!” Nabila berseru, ia tak salah lihat nama yang tertulis di CV tersebut adalah atasannya. Khairul dan Farida saling menatap, lalu melihat ke arah anak gadisnya. “Kamu kenal?” tanya Khairul semakin antusias. Nabila mengangguk. “Iya, beliau ini atasanku di rumah sakit. Aku asist
“Enak ya jadi Nabila, bisa deket-deket terus sama dokter Fahmi,” ujar salah satu perawat di ruang jaga.“Bagi tipsnya dong, Bu Bidan Nabila,” sahut perawat lain.Nabila, gadis yang tengah memakai scrub dan kerudung berwarna merah muda itu hanya menggelengkan kepalanya sambil ter







