LOGIN10 tahun yang lalu, saat itu usia Fahmi adalah 25 tahun. Ia masih muda sekali, semangat dalam belajar dan bekerja. Kala itu, ia masih menjadi dokter umum yang bekerja di IGD RSUD. Sang ayah menyuruhnya untuk mencari pengalaman di rumah sakit lain, dibanding rumah sakit milik keluarga mereka sendiri.
Bersama beberapa orang teman akrabnya termasuk Marsha, mereka masih sering bertemu untuk sekadar mengobrol soal kehidupan dan pekerjaan. Bahkan, salah dua orang teman Fahmi juga bekerja"Terima kasih atas perasaan kamu untukku, tapi…” Marsha menggantung kalimatnya. Ia sedikit menunduk, lalu kembali menatap lawan bicaranya. “Maaf, aku nggak bisa sama kamu. Aku harus selesaikan PPDS dulu, dan aku nggak bisa berjanji suatu saat bisa sama kamu. Aku nggak mau menaruh harapan dalam waktu yang selama itu. I’m so sorry…” ucapnya lirih. Mau itu manis atau pahit sekali pun, Fahmi harus mendengar jawaban dari Marsha. Ia mengembuskan napas pelan, lalu tersenyum tipis menanggapi jawaban Marsha yang menurutnya cukup masuk akal. Bukan alasan yang terlalu dikarang-karang. Ia juga tahu, bahwa Marsha diberi tuntutan dari orang tuanya untuk segera melanjutkan PPDS. Mungkin dengan menikah akan mengganggu proses pendidikannya. “Terima kasih atas jawabannya. Aku harap kita tetap berteman seperti biasa setelah ini. Dan, semoga PPDSnya lancar berjalan sesuai harapan,” ucap Fahmi dengan tenang. Ia menerima hasil jawaban Marsha atas pernyataannya. Ia sama sekali tidak me
10 tahun yang lalu, saat itu usia Fahmi adalah 25 tahun. Ia masih muda sekali, semangat dalam belajar dan bekerja. Kala itu, ia masih menjadi dokter umum yang bekerja di IGD RSUD. Sang ayah menyuruhnya untuk mencari pengalaman di rumah sakit lain, dibanding rumah sakit milik keluarga mereka sendiri. Bersama beberapa orang teman akrabnya termasuk Marsha, mereka masih sering bertemu untuk sekadar mengobrol soal kehidupan dan pekerjaan. Bahkan, salah dua orang teman Fahmi juga bekerja di satu rumah sakit yang sama dengannya. Pertemanan dengan Marsha dimulai dari mereka saat di bangku SMA, namun tidak begitu akrab. Sebelum di bangku SMA, Fahmi dan Marsha sama-sama sudah saling mengenal, karena orang tua mereka adalah rekan sejawat yang cukup akrab. Saat memasuki dunia perkuliahan, ternyata keduanya sama-sama berada di universitas dan jurusan yang sama. Di sinilah pertemanan itu mulai akrab, bahkan dengan beberapa teman yang lain. Terbentuklah lingkaran-ling
"Aku tahu, Mas pasti nggak bisa nerima ini semua, tapi yang pasti Mas harus tetap berjalan maju. Suka atau tidak suka. Siap atau nggak siap. Kehadiran dia memang merusak suasana hati Mas sekarang. Menurutku, Mas harus berlapang dada, toh, hubungan Mas dengan dia sudah tidak seperti dulu lagi. Nggak ada salahnya, kalau Mas bersikap biasa aja di depan dia, seperti orang lain, tapi untuk soal keakraban, lebih baik nggak usah.” Nabila berkata dengan sangat hati-hati, sebab yang ia beri masukan ini orangnya lebih tua darinya. Ia khawatir masukan darinya hanya dianggap angin lalu dan sok tahu, karena dirinya yang masih seperti bocah kemarin sore. Fahmi diam setelah mendengarkan perkataan Nabila yang cukup panjang, ia menatap lurus gadis di hadapannya itu. Sedangkan, Nabila malah menjadi kikuk dengan tatapan tersebut, khawatir Fahmi tidak terima dengan masukan darinya. “Maaf ya, Mas, aku bukannya sok mau nasihatin,” ucap Nabila pelan. Ia tersenyum
Dengan tangannya, Nabila mendorong pintu untuk masuk ke dalam ruang poli Kebidanan dan Kandungan. Baru saja pintu itu setengah terbuka, namun harus terhenti saat seseorang datang mendekati dan menyapanya dengan ramah. “Hai, kamu pasti Nabila kan?” sapa seseorang tersebut dengan ramah. Ia mengenakan snelli, dengan nama yang sudah terukir pada jasnya itu. Nabila menoleh, ia terpaku sejenak pada sosok itu. Ia adalah perempuan yang bertemu dengannya dan Fahmi semalam. Penampilannya dari sedekat ini terlihat sekali. Ia cantik, tinggi, hidungnya mancung, kulit kuning langsat, serta suaranya lembut sekali. Ia adalah Marsha. Seseorang yang telah Fahmi putuskan untuk berhenti berkomunikasi, namun entah karena hal apa, Nabila belum mengetahuinya. “Iya, betul,” jawab Nabila. Ia masih terpukau dengan kedatangan Marsha yang tiba-tiba, serta wangi parfumnya yang mencuri perhatian indra penciumannya. Aroma parfumnya bahkan mirip dengan yang Fahmi sering guna
“Mas, apapun masa lalu itu, jika memang harus benar-benar memutuskan hubungan demi kebaikan diri sendiri, ya, tidak jadi masalah. Life must go on,” ujar Nabila bijak dan dengan nada yang menenangkan. Fahmi tersenyum hangat saat mendengar apa yang dikatakan Nabila. Gadis itu memang lebih muda 10 tahun darinya, namun sudah cukup dewasa pemikirannya. “Terima kasih,” ucap Fahmi dengan halus dan lembut. Nabila mengangguk dan memberikan senyum yang sama pada Fahmi. Ia turut bahagia saat senyum tenang kembali terbit di wajah tampan itu. Kemudian, keduanya beranjak dari kursi restoran, meninggalkan tempat makan bergengsi itu setelah menyelesaikan pembayaran. Fahmi dan Nabila menaiki mobil, kembali mengarungi jalan raya yang sudah tak sepadat tadi. Fahmi mengantarkan Nabila pulang ke rumahnya, memastikan perempuannya itu baik-baik saja. Hitungan hari saja pernikahan mereka yang persiapannya seperti ceritanya Roro Jonggrang itu, akan dilaksanakan.
“Fahmi…” panggil suara tersebut. Suara seorang perempuan yang terdengar asing di telinga Nabila. Gadis 25 tahun itu pun melongo melihat ke luar tenda. Matanya menangkap seorang perempuan berhijab tersenyum ramah dan melambai ke arah sang calon suami. ‘Siapa itu?’ tanya Nabila dalam hati, namun, ia langsung teringat sesuatu, seperti pernah bertemu dengan sosok perempuan tersebut. Akan tetapi tidak tahu pernah bertemu di mana. ‘Ah, dia kah?’ Nabila mencoba menebak di dalam hatinya. Sosok itu adalah perempuan yang terdapat dalam foto Fahmi dan teman-temannya yang berpose di depan departemen forensik saat sedang koas di rumah sakit pendidikan. Wajahnya memang mirip, namun saat di foto tersebut, belum mengenakan hijab. Perempuan itu terus berjalan mendekat, sedangkan Fahmi nampak diam dan datar. “Kita cari tempat makan lain aja,” ucap Fahmi tiba-tiba. Kemudian, ia menggandeng tangan Nabila, lalu berjalan keluar dari tenda warung makan ter
Bukan pertanyaan bodoh. Inilah yang ada di kepala Nabila. Ia ingin tahu apa yang menjadi alasan Fahmi menyelematkannya tadi. Fahmi masih menatap Nabila, lalu ia membuangnya pada arah lurus ke depan. “Karena harus ditolong,” jawabnya dengan logis dan tenang. Nabila mengembuskan
Suara Fahmi terdengar rendah dan sangat dingin, membuat semua orang di dalam lift seketika menoleh ke belakang dengan terkejut.Nabila langsung mencengkeram scrub pria itu erat-erat, jemarinya bergetar hebat. Jantungnya berdetak kacau sampai terasa sakit.Wajah Fahmi terlihat te
Fahmi bersandar di kursi kerjanya dengan kedua tangan yang terlipat di dada. Wajah tampannya nampak tenang sekali, tapi senyum tipisnya terasa mengintimidasi bagi Nabila. Nabila benar-benar menyesal telah mengeluarkan pertanyaan bodoh itu, namun mau bagaimana lagi, emosinya lebih dulu b
Kaget bukan main. Kondisi Nabila saat ini membuatnya menjadi lebih sensitif. Sentuhan seperti tadi tentu membangkitkan rasa takutnya. Nabila menghela napas saat melihat sosok yang ia kenal berada di hadapannya. Kemudian, ia tersadar kunci kartu itu jatuh, lalu segera memungutnya.







