LOGINZara yang sedang membersihkan ruangan OSIS, tiba-tiba di kagetkan oleh kedatangan ketua OSIS. Siapa lagi kalau bukan Alex.
"Yang bersih nyapu nya" tegur Alex. "Bodoh amat. Yang nyapu kan gue, jadi terserah gue dong." Zara menjulurkan lidahnya mengejek Alex. Alex tidak menanggapi Zara. Dia duduk di meja ketua OSIS. Kedua manik hitamnya terus memperhatikan Zara. Seulas senyum tipis terbit di bibirnya. "Mau-mau aja di jadikan babu" gumamnya. Dengan serius, Zara mengerjakan pekerjaan nya. Dia tidak mengeluh karena di suruh oleh Alex yang jelas-jelas ini bukanlah pekerjaan nya. Tapi beginilah, dia sekarang jadi babu nya Alex hanya gara-gara sepele. "Lo udah bersihkan lemari nya?" tanya Alex. "Hmm, udah." Zara tidak menoleh pada Alex, tapi dia menanggapi perkataan Alex. Alex tidak melepaskan pandangannya dari Zara. "Kalau dilihat-lihat, cewek ini cantik juga" batinnya. "Udah bersih ruangan lo." Ucapan Zara membuyarkan lamunan Alex. "Cepat sekali lo selesainya." "Cepat darimana nya. Lo aja yang keasikan melamun. Sampe gak sadar akan waktu" balas Zara yang mulai melangkahkan kakinya keluar dari ruang OSIS. "Mau kemana lo?" tanya Alex. Dia tiba-tiba bingung kenapa Zara tiba-tiba pergi. "Mau ke perpustakaan. Lo lupa gue di suruh Axelle untuk bersihkan perpustakaan" jawab Zara. Alex menggaruk lehernya "Ohh, gitu ya." Sekarang dia baru ingat kalau Zara akan membersihkan perpustakaan. Kenapa hal seperti itu dia melupakannya. Tanpa berlama-lama lagi, Zara melanjutkan langkahnya menuju ke perpustakaan. Alex memandangi punggung Zara sampai tidak terlihat di balik pintu. Alex menutup matanya dengan punggung tangannya. "Ck, menyebalkan." ***** "Bukunya banyak banget. Bisa lama gue di perpustakaan." Zara melihat semua tumpukan buku-buku yang baru sampai di sekolah. "Fighting Zara!" Zara menyemangati dirinya sendiri untuk memulai bekerja. Dia mulai mengangkat buku-buku tersebut dan membawanya ke rak. Dia menyusun buku-bukunya sesuai abjad. Dan untuk buku mata pelajaran, dia menaruhnya di rak sesuai kelas, dari kelas 10 sampai kelas 12. Zara mulai lelah karena terus bolak-balik membawa dan mengangkat buku-buku yang tebal dan berat. "Gila nih Axelle. Dia nyuruh gue sendirian rapikan buku-buku ini" gerutu Zara. Setelah selesai memasukkan buku-buku ke dalam rak yang paling bawah dan tengah. Kini Zara harus meletakkan buku-buku di rak paling atas. Zara melihat segimana ketinggian rak yang paling atas. "Sepertinya gue butuh tangga." Dia mengambil tangga yang terletak di sudut perpustakaan. Zara mengambil napas dalam-dalam sebelum menaiki tangga. Zara membawa buku-buku sambil menaiki tangga. Kakinya mulai bergetar, karena sesungguhnya dia takut ketinggian. "Jangan lihat ke bawah Zara." Dengan keberanian yang dipaksakan, Zara terus menaiki tangga, dan memasukkan buku-buku ke dalam rak. Saat mau turun dari tangga, kakinya terpeleset dan jatuh. "Aaahh!" teriak nya. Bruk! Zara yang terus memejamkan matanya tidak merasakan kesakitan di tubuhnya. "Kok nggak sakit sih." Dia pelan-pelan membuka matanya dan mendapati dirinya ada di dekapan Axelle. "Axelle! Kok lo bisa ada disini." "Gara-gara lo ya, gue sampe jatuh begini." Saat menangkap Zara, tubuh Axelle tidak seimbang dan akhirnya jatuh. Zara segera berdiri. "Sorry, gue gak sengaja." "Kalo lo gak bisa naik tangga, gak usah sok-sokan naiki. Jadi begini kan jadinya. Kalau gue nggak ada, lo bisa terluka" kesal Axelle. "Kenapa lo marah-marah sih. Eh! Kalau bukan gara-gara lo yang suruh gue bersihin nih perpustakaan, nggak bakal ada kejadian begini. Lo nggak lihat rak ini tinggi. Jadi wajar dong gue naik tangga" balas Zara dengan ekspresi marah. "Lo dibilangin keras kepala banget ya" ucap Axelle. "Gue nggak keras kepala ya. Lo yang keras kepala. Dasar iblis" sindir Zara. "Lo bilang gue iblis!" "Iya! Emang lo iblis kan. Lo buat cewek jadi babu nya kalian. Berhati batu!" "Lo...!" geram Axelle. "Lebih baik lo selesaiin pekerjaan lo." Dia pun berbalik pergi meninggalkan Zara. Zara memandangi Axelle sambil mengerucutkan bibirnya kesal. "Sampai kapan gue jadi babu nya mereka." Zara melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karena dirinya yang terjatuh dari tangga. Setelah memasukkan buku-buku ke dalam rak. Dia menyapu lantai perpustakaan dan mengepel nya. "Akhirnya selesai juga." Zara mengelap keringatnya yang bercucuran di pelipisnya. Setelah waktu yang lama, Zara akhirnya selesai membersihkan perpustakaan yang lumayan gedenya. "Zara..." panggil Sora. "Sora..." "Sudah selesai bersih-bersih nya?" "Udah. Lumayan capek juga nih" ucap Zara sambil terkekeh. "Nih. Minum dulu." Sora memberikan air mineral pada Zara. "Makasih." Zara meneguk habis air mineral tersebut. Sepertinya dia benar-benar kehausan. "Lain kali, lo jangan turutin perintah para Prince Charming itu lagi. Kan lo sendiri yang kesusahan" ujar Sora. "Kalau lo di posisi gue, lo bakal begitu?" "Tentu saja. Gue gak mau di bodoh-bodohin oleh mereka" jawab Sora. "Sora, gue nggak bisa seperti yang lo bilang. Mereka lebih berkuasa dari gue. Gue nggak mau cari masalah yang lebih dari ini" ujar Zara dengan lesu. Sora paham apa yang dikatakan Zara. Tapi dia sangat kasihan sama sahabat nya ini. Dia tidak mau lagi Zara jadi babu para Prince Charming. "Tapi gue gak rela lo jadi babu mereka" balas Sora. Zara tersenyum "Tenang aja. Ini nggak bakal lama kok. Palingan seminggu lagi, gue nggak bakal begini lagi." Sora menghela nafas "Gue berharap juga begitu." "Udah ah, kita balik ke kelas aja." Zara menggandeng tangan Sora dan pergi keluar dari perpustakaan."Zara, suapin gue dong" ucap Alex dengan nada manja.Zara mendelik. Kenapa Alex tiba-tiba manja kepadanya."Punya tangan kan. Makan sendiri" ketusnya."Lo masih marah sama gue?" Zara memejamkan matanya. Menahan kekesalan di hatinya. Siapa yang marah coba, kalau disosor sembarangan."Jangan marah ya. Tadi gue khilaf.""Khilaf, khilaf. Lo emang dasar mesum ya" ucap Zara."Kan mesumnya juga sama lo Ra.""Alex! Jangan ngomong aneh-aneh.""Ya udah. Tapi suapin gue."Kalau mengingat Alex sakit karena dirinya, dia ogah menyuapi nya.Zara menyendok kan bubur ke dalam mulut Alex.Zara terus menyuapi Alex, sampai makannya habis."Makanan lo sudah habis. Lo istirahat sekarang." Zara bangkit berdiri dari kursinya."Lo mau kemana?""Mau pulang. Sudah mau malam soalnya" jawab Zara."Nginap disini ya. Temenin gue disini" pinta Alex."Gue mau pulang Alex. Besok gue kesini lagi.""Nggak. Lo harus tetap disini temenin gue" tegas Alex."Lah. Kok maksa.""Kalau gue maksa, emangnya kenapa?"Zara menggeru
Beberapa hari setelah operasi, Alex masih belum menunjukkan tanda-tanda siuman. Dia masih tetap berbaring sambil menutup mata, entah sampai kapan.Dan sudah menjadi kebiasaan Zara beberapa hari ini, setelah pulang sekolah, dia langsung ke rumah sakit menjenguk Alex. Zara mengambil tempat, duduk di samping kasur Alex."Apa kabar Alex? Lo masih betah aja tidur" ucapnya, tanpa ada sahutan dari Alex.Zara hanya bisa menguatkan dirinya untuk tidak menangis. Sejak Alex kecelakaan, dia menjadi sangat sensitif. Apalagi kalau berhubungan dengan Alex, dia benar-benar tidak sanggup.Zara mengingat-ingat kebersamaan Alex beberapa minggu yang lalu. Kata-kata Alex masih terngiang-ngiang di otaknya."Gue jadi pengen di khawatirin sama lo Zara""Gue ingin lo jadi istri gue di masa depan. Biar lo selalu perhatian dan khawatir sama gue""Gue suka sama lo. Gue tulus sama lo.""Kalau lo masih belum suka sama gue. Gue akan buat lo suka sama gue. Bukan cuman suka, gue akan buat jatuh cinta sama gue."Zara
Alex di bawa ke rumah sakit milik keluarganya. Dia langsung di bawa masuk ke ruang UGD.Sinta dan Bryan datang. "Tuan, Nyonya. Tuan Muda sudah di bawa masuk ke dalam ruangan" ucap salah satu dokter pada Bryan dan Sinta."Ma. Papa masuk dulu. Biar papa yang tangani Alex" ucap Bryan pada Sinta."Selamatkan Alex pa" ucap Sinta dengan tangis. Dia shock mendengar Alex kecelakaan."Tentu sayang." Bryan dan diikuti dokter lainnya masuk ke dalam ruang UGD. Zara berjalan mendekati Sinta sambil menundukkan kepalanya menahan tangisnya. "Zara minta maaf. Ini semua salah Zara..." lirihnya.Sinta menoleh ke arah Zara. Dia langsung memeluk nya. "Ini bukan salah kamu sayang..." Tangis Zara langsung pecah."Ini semua salah Zara Ma... hiks... hiks... Andaikan Zara tidak menyeberang sembarangan. Alex nggak akan kecelakaan..." tangis Zara.Sinta mengelus kepala Zara. "Alex akan selamat Zara. Itu pasti, kamu tenang saja."Bryan keluar dari ruang UGD. "Ma, Alex harus segera di operasi. Dia sudah kehilanga
"Sora, ayo kita pergi dari sini.""Lo nggak mau lihat siapa pemenangnya?""Nggak. Gue malas lihat mereka." Zara dan Sora pergi dari lapangan basket."Kenapa lo nggak mau lihat?" tanya Sora sambil berjalan beriringan dengan Zara."Gue nggak mau tahu siapa pemenangnya. Itu aja" jawab Zara datar.Tiba-tiba ada seseorang yang datang menghampiri Zara dan Sora."Enak banget lo di perebutin Prince Charming." "Siapa lo?" Zara tidak mengenal siapa cewek yang ada di depannya."Gue Diva. Gue termasuk senior lo disini" jawab Diva."Ra, dia cewek yang sama dengan Fara" bisik Sora di telinga Zara."Ada apa kakak cariin gue?" tanya Zara."Lo kasih pelet apa sih sama Prince Charming. Sampe-sampe mereka nempel terus sama lo" ucap Diva.Walaupun Diva adalah kakak kelasnya, Zara tidak akan tinggal diam, setelah difitnah."Kak, lo pernah dengar sendiri kan kalau Prince Charming sendiri yang dekatin gue" balas Zara tenang."Tapi nggak mungkin Prince Charming suka sama lo. Lo pasti kasih sesuatu kan sampa
Dua hari kemudian...Sekarang adalah saatnya festival sekolah SMA Cendekia, sekaligus merayakan ulang tahun sekolah.Acara itu diadakan dari pagi hingga malam. Jadi murid-murid akan seharian berada di sekolah.Setiap kelas, dari kelas 10 sampai kelas 12, menampilkan berbagai kegiatan di acara tersebut."Sibuk bener nih sekolah" ucap Zara yang memperhatikan di sekelilingnya yang begitu sibuk."Ya iyalah. Gimana nggak sibuk, sekarang ada festival sekolah sekaligus merayakan ulang tahun sekolah. Lo nggak lihat pada ramai begini" balas Sora."Kalian tahu nggak, Arion bakal nyanyi di acara nanti malam.""Serius lo. Gue nggak sabar lihat pertunjukan nya langsung.""Akhirnya, gue bisa lihat Arion nyanyi secara langsung."Zara dan Sora melihat ke arah cewek-cewek di kelasnya yang kegirangan."Arion nanti bakal nyanyi" ucap Zara."Iya. Dan gue harap, lo akan menanti hal itu" sahut Arion yang tiba-tiba muncul di samping Zara."Lo ngapain disini?" tanya Zara."Ini kelas gue juga Zara" jawab Ario
Arzan mencari-cari Zara, tapi tidak ketemu. Padahal tadi dia suruh Zara untuk menunggunya di ruang tamu."Mana sih tuh anak?"Arzan terus mengelilingi rumahnya, dan dia akhirnya menemukan Zara yang sedang duduk di pinggir kolam renang."Ternyata lo disini. Gue daritadi cariin lo." Arzan berjalan mendekati Zara."Sorry. Gue cuman mau main air aja." Zara memasukkan kaki nya ke dalam air."Bukannya lo takut dekat-dekat di kolam renang" ujar Arzan."Darimana lo tahu?""Feeling aja sih.""Sekarang nggak terlalu lagi. Sejak papa mulai ajarin gue cara berenang" ucap Zara."Kalau diingat-ingat, gue dan lo juga pernah berdua di kolam renang saat di hukum guru" ucap Arzan sembari berpikir."Waktu itu lo sampe nangis, gara-gara ngira gue hampir mati di kolam renang" lanjutnya sambil tertawa."Siapa suruh lo kek gitu. Sok-sokan nahan napas dalam air. Mati nanti baru tahu rasa" cibir Zara kesal."Jadi pengen gue mati nih?""Nggak lah!" jawab Zara cepat yang langsung membuat Arzan tertawa renyah.
Dengan wajah malas, Zara duduk tenang di tempatnya. Tiba-tiba mood nya buruk hari ini.Kejadian di rumah Alex masih membuat di kesal setengah mati. "Hufftt..." membaringkan kepalanya di atas meja.Sora menggoyangkan pundak Zara. "Ra, Zara. Lo kenapa sih?""Lagi malas" jawabnya singkat."Jangan mala
Seorang gadis memandangi rumah besar yang ada di depan matanya dengan ekspresi yang mengatakan "wow." Gadis itu adalah Zara Aurora dan rumah yang ada di depannya adalah rumah Alex Gajendra."Gila, gede bener rumah si ketos songong" gumamnya.Seseorang wanita paruh baya keluar dari rumah tersebut. "
"Sora, kita ke kantin yuk. Gue laper banget. Gue pengen makan cilok" ucap Zara sambil mengusap perutnya yang mulai keroncongan.Sora menggelengkan kepalanya melihat tingkah Zara yang kekanak-kanakan. "Ya udah, ayo. Gue juga pengen makan cilok" Sora menggandeng tangan Zara keluar dari kelas.Sesam
"Mama... Zara pulang..." Zara yang baru sampai dirumahnya setelah pulang dari sekolah melepas sepatunya di depan pintu masuk. Ini sudah menjadi kebiasaan Zara setiap pulang sekolah.Kehidupan Zara terbilang lumayan. Mamanya seorang guru sekolah dasar, dan papanya seorang polisi. Yang bisa di bilan







