เข้าสู่ระบบDengan wajah malas, Zara duduk tenang di tempatnya. Tiba-tiba mood nya buruk hari ini.
Kejadian di rumah Alex masih membuat di kesal setengah mati. "Hufftt..." membaringkan kepalanya di atas meja. Sora menggoyangkan pundak Zara. "Ra, Zara. Lo kenapa sih?" "Lagi malas" jawabnya singkat. "Jangan malas Zara, bentar lagi guru akan masuk." "Sora, lo tahu. Gue sebenarnya malas ke sekolah. Sekolah sekarang menurut gue adalah tempat yang paling bahaya. Gue harus bertemu terus menerus dengan mereka." Zara menoleh pada Sora. "Gimana, supaya gue lepas dari mereka?" "Jangan dipikirkan. Ambil positif aja. Contohnya, lo selalu berada dekat dengan mereka. Padahal hampir semua cewek disekolah ini pengen bersama mereka. Jadi anggap aja ini keberuntungan lo" ucap Sora. "Keberuntungan dari Hongkong. Gue bahkan merasa gue di permainkan oleh mereka." "Woy, Zara. Kesini lo, ambilkan buku gue sama Axelle!" teriak Arzan. Zara melihat ke arah Arzan. "Nggak usah nyuruh-nyuruh gue. Lo punya kaki kan, lo ambil sendiri. Itu buku-buku lo, bukan buku gue" ketus nya. Arzan bangkit dari kursinya. "Lo berani lawan gue. Lo itu babu gue." "Siapa babu lo disini. Cuman berani di mulut doang, sini lo kalau berani sama gue!" tantang Zara. "Lo nantang gue." Arzan berjalan ke arah Zara. Zara meneguk ludahnya kasar, saat Arzan pergi ke arahnya. Takut, pastinya. Dia tidak bisa melawan Arzan yang notabene putra seorang Jendral. Arzan dan Zara saling berhadapan sekarang dengan jarak dekat. Mata mereka saling beradu pandang. "Lo takut." Arzan menyeringai. Zara menyembunyikan rasa takutnya di balik wajah marahnya. "Siapa yang takut. Gue nggak takut sama lo!" Arzan menarik sudut bibirnya. "Nggak usah bohong deh" melirik tangan Zara yang gemetaran. Zara mengikuti arah lirikan Arzan. Dia langsung menyembunyikan tangannya ke belakang. Arzan memiringkan kepalanya "Heh? Ternyata lo beneran takut. So, gue harus berbuat apa sama lo karena sudah berani nantang gue." "Gue nggak takut sama lo! Gue nggak takut!" elak Zara. "Terus aja ngelak. Buktikan kalau lo nggak takut sama gue" ucap Arzan santai. "Lo mau minta di hajar ya." Zara langsung menarik rambut Arzan. Semua orang langsung kaget dengan kelakuan Zara. Malahan cewek-cewek di kelas shock karena Zara menarik rambut pangeran mereka. "Zara! Lepasin rambut pangeran gue!" "Jangan di tarik rambutnya Zara... Kasihan Arzan..." "Lepasin Zara. Nanti Arzan botak!" Semua cewek di kelas 10 IPA 3 berteriak histeris karena Zara masih belum melepas tarikan di rambut Arzan. Arion langsung melepas tangan Zara dari Arzan. "Lo apa-apaan?! Napa lo narik rambut Arzan!" "Dia yang mulai!" Zara menunjuk wajah Arzan. Arzan meringis karena merasa kesakitan di kepalanya. "Dasar cewek gila. Lo udah berani narik rambut gue." "Ada apa ini ribut-ribut?!" Guru langsung masuk ke kelas 10 IPA 3. "Kenapa kalian berteriak-teriak di kelas?!" Kelas itu langsung hening mendengar bentakan guru yang masuk di kelas mereka. "Begini Bu, Arzan dan Zara berantem di kelas" jawab ketua kelas. "Arzan, Zara!" panggil guru tersebut. "Iya Bu" jawab mereka serempak. "Karena kalian sudah berbuat keributan, kalian Ibu hukum bersihkan kolam berenang sekarang juga!" titahnya. "Kenapa saya ikutan juga Bu?" tanya Arzan tidak menerima. "Kamu mau lawan Ibu?!" "Enggak Bu." Arzan memalingkan wajahnya. Baru pertama kalinya, dia di hukum dan ini semua gara-gara Zara. Dia tidak akan melepaskan Zara setelah semua ini. Arzan dan Zara keluar dari kelas dan menuju ke kolam renang. Ini kedua kalinya Zara ke kolam renang sekolah. Tempat ini adalah tempat untuk para atlit renang, dan klub renang. Zara melihat ke dalam air. Dia tidak bisa berenang, jadi dia harus hati-hati agar tidak jatuh ke dalam air. Zara mengambil pel dan mengepel lantai. Tiba-tiba ada tangan yang mendorongnya dari belakang, membuat Zara kaget dan hampir jatuh ke kolam berenang. Untung saja Zara bisa menyeimbangkan tubuhnya. Zara menoleh ke belakang dengan wajah kesal. "Lo mau bunuh gue?!" "Siapa juga yang mau bunuh lo. Kayak nggak ada kerjaan aja gue" jawab Arzan. "Terus siapa yang dorong gue kalau bukan lo!" Arzan mengangkat kedua bahunya. "I don't know." "Lo nggak membersihkan?!" tanya Zara karena melihat Arzan tidak melakukan apapun. Hanya duduk di pinggir kolam. "Itu kerja lo. Bukan kerja gue." "Lo ikutan. Bisa sih lo nggak bikin gue kesal terus" ucap Zara sembari menahan amarahnya. "Lo nggak ada hak nyuruh gue. Lo aja yang bersihkan kolam renang nya." "Lo juga di suruh guru." Zara memejamkan matanya, emosinya benar-benar sudah di puncaknya. "Gue nggak peduli." Arzan bangkit berdiri. Dia melepas seragam sekolah nya hingga terpampang jelas tubuh atas nya yang telanjang. Dada yang bidang dan otot-otot perut yang six pack. "Ngapain lo buka baju?!" Ini kedua kalinya dia melihat cowok membuka baju dengan santainya di depan matanya. Pipi Zara merona karena melihat Arzan bertelanjang dada. Tubuh Arzan sangat menggoda, sama dengan tubuh Alex. Zara menggelengkan kepalanya, menepis jauh-jauh pikiran itu dari otaknya. "Gue mau berenang" ucap Arzan. "Sekalian aja mati lo saat berenang" cibir Zara. Byur! Arzan menceburkan dirinya ke dalam air. Semenit kemudian, air kolam mulai tenang. Tidak ada pergerakan dari Arzan sama sekali. Zara mulai panik, karena Arzan tidak kunjung-kunjung menampakkan dirinya. "Arzan..." "Arzan, lo nggak apa-apa kan?" Tidak ada sahutan dari Arzan. Zara mendekatkan tubuhnya ke pinggir kolam. Dia melihat ke dalam air, tapi dia tidak melihat Arzan. "Arzan!" Jantung Zara berpacu cepat, dia takut jika terjadi apa-apa dengan Arzan. Dia menarik kata-kata nya yang menyuruh Arzan mati saat berenang. "Gue nggak beneran nyuruh lo mati beneran Arzan." Air mata Zara jatuh di pipinya. "Arzan..." panggil nya. "Arzan! Jawab gue!" Byur! Sosok Arzan keluar dari dalam air. Dia menyisir rambutnya ke belakang. Seharusnya ini pemandangan yang patut di syukuri, karena melihat wajah Arzan yang basah tapi terlihat tampan. Tapi karena situasi sekarang tidak mendukung, tidak ada perasaan kagum karena melihat Arzan. Yang ada perasaan takut bercampur lega. "Arzan..." lirih Zara. Arzan melihat Zara. Dia kaget karena melihat Zara menangis. Buru-buru dia naik, dan menghampiri Zara. "Lo kenapa nangis sih?" tanya Arzan. Arzan memegang pundak Zara dan merasakan tubuh Zara bergetar. "Zara..." Zara langsung memeluk Arzan. Arzan tertegun karena Zara tiba-tiba memeluknya erat. Ada perasaan aneh dalam dirinya saat Zara memeluknya. Perasaan yang hangat dan nyaman. Arzan membalas pelukan Zara. "Lo kenapa nangis?" tanyanya lembut. "Gue takut. Gue takut lo kenapa-kenapa" lirih Zara. Zara menenggelamkan wajahnya di dada bidang Arzan. Dia benar-benar takut sekarang. "Kenapa lo lama keluar dari air. Gue takut lo..." Zara menghentikan ucapannya. "Gue berlatih nahan napas di dalam air." Zara melepas pelukannya "Kenapa lo ngelakuin hal itu. Lo nggak tahu, gimana paniknya gue karena lo nggak muncul-muncul." "Gue beneran tidak bermaksud nyuruh lo mati saat berenang. Gue minta maaf." Zara menundukkan kepalanya. Entah kenapa air matanya terus jatuh, perasaan takut masih menyelimuti dirinya. Arzan mengangkat kepala Zara. Dia mengusap air mata Zara. "Sorry, gue nggak bermaksud membuat lo panik." Arzan menarik Zara ke dalam dekapannya. Zara mulai tenang, pelukan Arzan menenangkannya. Zara bisa merasakan kulit Arzan yang begitu hangat. Dia memejamkan matanya, dia merasa lega, kalau Arzan baik-baik saja. Untung di kolam berenang tidak ada siapapun. Jadi tidak ada yang melihat kejadian yang begitu sweet ini. Entah berapa lama, Arzan dan Zara berpelukan. Rasa nyaman yang membuat mereka tidak ingin saling melepas. Setelah tenang, kesadaran Zara mulai ada. Dia segera melepas pelukannya. "Sorry, gue nggak bermaksud" ucap Zara gugup. Arzan pun menjadi salah tingkah. Kejadian barusan membuat suasana jadi canggung. "Lo bersih-bersih aja. Lo habis basah, Lo keringin badan lo. Gue akan lanjutin hukuman nya." Zara berdiri dan melanjutkan hukumannya. "Setelah gue selesai. Gue akan bantu lo" ucap Arzan. Zara hanya mengangguk. Dia pun kembali mengepel lantai.Tinggal menghitung hari menjelang tahun baru. Zara dan keluarga liburan di tepi pantai, yang batal beberapa hari yang lalu. Sora dan Prince Charming juga ikut bersama mereka. Kali ini, mama Zara yang mengundang mereka. “Nggak apa-apa Mama Helen. Kami bisa ikut merayakan tahun baru bareng kalian kok. Lagipula keluarga kami semuanya sibuk” ucap Arion. “Iya mama Helen. Mama papa selalu tugas di tahun baru” ucap Alex. “Keluarga ku pergi keluar negeri. Tapi aku ingin merayakan tahun baru di Indonesia aja” ucap Axelle. “Kami ikut mama Helen aja. Mama papa juga izinin, karena mereka juga pergi bersama dengan keluarga Axelle” ucap Arzan. Begitulah yang mereka katakan, saat Helen menghubungi mereka berempat. Dan disinilah mereka berada sekarang. Di pantai, dengan cuaca yang sangat cerah. Zara yang mengenakan celana pendek dan kaos mini berjalan-jalan menikmati pasir putih di pantai, di temani oleh Sora. Dan para Prince Charming berselancar di laut. Tidak usah di pertanyakan baga
Dari jendela kamar, Zara memandang ke arah luar. Hari ini hujan turun. Dan rencana mereka liburan ke pantai juga batal.“Kenapa juga hari ini hujan. Jadi batal dong, kita bermain di pantai” ucap Sora di seberang sana.Zara dan Sora sedang melakukan panggilan video call. “Mau gimana lagi. Mungkin besok kita baru ke pantai atau beberapa hari kemudian.”“Iya sih. Tapi tetap aja batal hari ini.”Zara merebahkan dirinya di atas kasur. “Kita bisa ke pantai lain hari.”“Ya udah deh. Gue udah di panggil mama gue nih. Gue matiin ya.”Zara mengangguk. Dan panggilan video call mereka pun berakhir.Zara menghabiskan waktu nya membaca komik di dalam kamar.Saat sore hari, hujan baru berhenti turun. Zara keluar dari kamarnya untuk pergi ke minimarket yang tidak jauh dari rumahnya.Di perjalanan menuju minimarket, dia bertemu dengan Axelle. Ekspresi Axelle juga sedikit terlihat kaget.“Lo kenapa bisa ada disini?” tanya Zara.“Gue ada urusan” ucap Axelle sambil melihat ke arah lain.“Urusan apa? Dan
Setelah selesai makan Zara dan Sora duduk di pinggir kolam renang sambil menggerakkan kaki mereka di dalam air. “Untung gue ikut liburan kesini. Kalau nggak gabur juga gue selama liburan.”“Tapi bagus juga sih. Biar gue ada teman.”Tiba-tiba para Prince Charming muncul. “Lo ada disini Zara” ucap Arion.“Kenapa? Cariin gue?”“Ya nggak kenapa-kenapa sih” jawab Arion.“Arzan, lo mau berenang nggak?” tanya Arion pada Arzan.Seketika Arzan membuka baju nya dan menampilkan otot-otot di tubuhnya. Arion langsung bersiul saat melihat tubuh Arion. “Agresif bener lo malam ini.”“Diam lo. Kata lo mau berenang” sahut Arzan.“Okay.” Giliran Arion yang melepas pakaiannya. Otot di tubuh Arion juga tak kalah sama dengan Arzan. Ekspresi wajah Zara sedikit terkejut sekaligus kebingungan. “Ngapain mereka berenang malam-malam begini?” ucap Zara dalam hati.Byur!Arzan dan Arion langsung menyebur ke dalam kolam. Zara dan Sora terkena cipratan air karena masih duduk di pinggir kolam.“Pakaian gue jadi bas
“Zara… Bangun!” teriak Sora di dekat telinga Zara. Zara langsung bangun dari tidurnya seketika. “Gue kaget astaga!” sahutnya sembari mengelus dadanya, dia hampir jantungan mendengar teriakan Sora. “Ini udah jam berapa astaga. Kita telat!” ucap Sora. “Hah? Apa? Kenapa?” Zara masih setengah sadar. Dia masih mengantuk. Sora mengguncang tubuh Zara. “Lo nggak ingat kita pergi ke vila nenek lo hari ini. Mama papa lo udah nunggu lo dari tadi. Lo masih aja belum bangun.” “Gue masih ngantuk loh. Lagipula kita nggak ada acara penting kok. Cuman liburan aja.” “Jalanan macet. Lo mau kita sampai di sana kemalaman. Buruan lo siap-siap” ucap Sora sambil mendorong tubuh Zara untuk bangun dari tempat tidur. “Iya, gue mau mandi dulu.” “Cepetan. Gue keluar dulu, sama mama papa lo.” Sora pun keluar dari kamar Zara. “Zara udah bangun Sora?” tanya Helen. “Dia lagi siap-siap Tante.” “Anak ini. Kok bisa dia lupa kalau hari ini kita pergi liburan.” “Pa, apa masih macet jalanan kah? Kala
Ting tong! Seseorang membunyikan bel rumah Zara. Zara yang mendengar bunyi bel itu langsung keluar dari kamar. "Mungkin paket yang datang." Ceklek! Zara melihat seorang pria. "Halo, dengan Nona Zara?" tanya pria tersebut. "Iya. Saya sendiri. Ada apa ya?" Pria tersebut memberikan sebuah kotak pada Zara. "Ini ada titipan buat Nona Zara." "Titipan? Dari siapa?" "Saya tidak bisa memberitahu kan nya Nona. Kalau begitu saya permisi." Pria tersebut pamit pergi dari rumah Zara. "Ini kotak dari siapa?" Zara menelusuri setiap inci kotak tersebut, mana tahu dia menemukan sebuah petunjuk. "Tidak ada nama pengirimnya." Zara mengunci pintu rumahnya kembali, dan masuk ke dalam kamarnya. Kotak tersebut di letakkan nya di atas kasurnya. "Ini kotak dari siapa sih?" Zara menatap kotak berwarna pink tersebut. Dia masih berpikir, siapa nama pengirim kotak ini. Daripada penasaran, Zara membuka kotak tersebut. Dia sedikit tercengang bahwa isi kotak tersebut adalah sebuah dress warna
Setelah acara balapan-balapan itu, Zara jadi terjebak pada malam itu juga.Well, kok dia merasa dijadikan bahan taruhan ya. Tapikan, dia juga yang kesusahan begini.Seperti malam ini. Dia terjebak dalam acara pernyataan cinta Axelle, atau yang disebut acara tembak-tembakan. Masalahnya, orangtua Zara juga berada disini. Orangtua Axelle juga ada disini. Bukan itu saja, orangtua Alex, Arzan, dan Arion juga berada disini.Ini acara nembak, atau lamaran sih. Pake bawa orangtua segala lagi. Inilah, yang membuat Zara kesusahan pada malam ini.Zara menggunakan dress putih, sama dengan warna kemeja Axelle. "Ini lo mau nembak, atau lamaran sih?!" kesal Zara.Axelle tersenyum. "Kalau lo anggap ini sebagai lamaran, no problem."Sedangkan ketiga cowok itu yang sedang memandangi Axelle dan Zara, sangat kesal bercampur marah. Apalagi Alex, dia benar-benar marah saat ini.Apalagi, karena Axelle pake acara undang orangtua segala lagi."Kok jadi Axelle yang bareng Zara, Alex?" tanya Sinta.Alex tidak
Seorang gadis memandangi rumah besar yang ada di depan matanya dengan ekspresi yang mengatakan "wow." Gadis itu adalah Zara Aurora dan rumah yang ada di depannya adalah rumah Alex Gajendra."Gila, gede bener rumah si ketos songong" gumamnya.Seseorang wanita paruh baya keluar dari rumah tersebut. "
"Sora, kita ke kantin yuk. Gue laper banget. Gue pengen makan cilok" ucap Zara sambil mengusap perutnya yang mulai keroncongan.Sora menggelengkan kepalanya melihat tingkah Zara yang kekanak-kanakan. "Ya udah, ayo. Gue juga pengen makan cilok" Sora menggandeng tangan Zara keluar dari kelas.Sesam
"Mama... Zara pulang..." Zara yang baru sampai dirumahnya setelah pulang dari sekolah melepas sepatunya di depan pintu masuk. Ini sudah menjadi kebiasaan Zara setiap pulang sekolah.Kehidupan Zara terbilang lumayan. Mamanya seorang guru sekolah dasar, dan papanya seorang polisi. Yang bisa di bilan
Zara yang sedang membersihkan ruangan OSIS, tiba-tiba di kagetkan oleh kedatangan ketua OSIS. Siapa lagi kalau bukan Alex."Yang bersih nyapu nya" tegur Alex."Bodoh amat. Yang nyapu kan gue, jadi terserah gue dong." Zara menjulurkan lidahnya mengejek Alex.Alex tidak menanggapi Zara. Dia duduk di







