Home / Young Adult / Don't Touch Me, Prince! / Hari-Hari Bersama Mereka

Share

Hari-Hari Bersama Mereka

last update publish date: 2026-05-24 15:31:19

"Mama... Zara pulang..." Zara yang baru sampai dirumahnya setelah pulang dari sekolah melepas sepatunya di depan pintu masuk.

Ini sudah menjadi kebiasaan Zara setiap pulang sekolah.

Kehidupan Zara terbilang lumayan. Mamanya seorang guru sekolah dasar, dan papanya seorang polisi. Yang bisa di bilang hidupnya nggak terbilang miskin kali ya.

"Kenapa baru pulang Zara. Kamu telat 15 menit loh" ucap mamanya, Helen.

"Aduh Ma. 15 menit doang Mama perhitungan banget sama waktu" balas Zara sambil mengerucutkan bibirnya.

"Iya Mama minta maaf. Mama sih selalu khawatir. Padahal kamu sudah gede" ucap Helen.

"Iya. Zara tahu. Zara masuk dulu ke kamar ya Ma. Mau ganti baju dulu." Zara pun ke kamarnya. 

Kamarnya yang bernuansa warna pink dan biru muda, warna kesukaan seorang Zara Aurora.

Dia mengganti baju sekolahnya dengan baju santai nya di rumah.

"Zara, tadi ada teman mu yang nelpon rumah" ucap Helen dari luar kamar Zara.

Zara yang mendengar ucapan mamanya, keluar dari kamarnya. "Siapa Ma? Perasaan hanya Sora yang tahu nomor rumah."

"Itu juga yang nggak Mama tahu. Pulang Mama dari sekolah, langsung ada yang menelpon. Katanya kamu harus cepat datang ke sekolah besok."

"Cowok cewek?"

"Suara cowok" jawab Helen.

Zara tahu siapa pelaku yang menelpon nomor rumahnya. "Dasar iblis gila. Belum puas apa ganggu gue di sekolah, pake nelpon rumah gue segala" umpatnya.

"Kamu ada masalah disekolah Zara?" tanya Helen lembut.

"Enggak ada kok Ma. Cuman masalah kecil doang. Zara kan anak alim, nggak mungkin cari masalah di sekolah" jawab Zara dengan senyum kaku.

"Ohh, gitu ya. Ya udah Mama balik ke dapur dulu." Helen pun kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya.

"Hufftt... Sampai kapan gue kayak gini."

*****

"Eh, minggir dong gue mau nyerang nih monster" ucap Arzan semangat sambil memainkan remote control game ditangannya.

"Enak aja. Gue yang hajar tuh monster" balas Axelle yang masih serius dengan gamenya.

Keempat cowok tampan itu sedang memainkan game di rumah Alex.

Bruk!

Alex melempar remote control game nya.

"Napa lo Lex?" tanya Arion. "Tumben lo nggak semangat main?"

"Nggak tahu. Gue tiba-tiba malas aja main" jawab Alex sambil merebahkan tubuhnya di sofa.

Mereka berempat pun berhenti bermain game.

"Kapan Papa Mama lo pulang?" tanya Arzan pada Alex.

"Baru nanti malam. Mereka sibuk" jawab Alex datar.

"Semua orangtua kita sibuk. Nggak ada yang nggak sibuk. Palingan baru libur ada waktu senggang" ucap Arion.

"Kak Jessica belum pulang dari luar negeri Arion?" tanya Axelle.

"Ya elah, lo pake nanya lagi sama gue. Kak Jessica baru pulang kalau di minta Mommy gue. Lebih bagus pun kalau dia nggak pulang. Kalau dia pulang, rumah gue kayak kandang singa" ucap Arion sambil bergidik ngeri.

"Eh Rion, kabar lo yang ada di majalah tuh beneran?" tanya Alex pada Arion yang sedang ngemil.

"Kabar yang mana? Soalnya banyak kabar tentang gue."

"Itu loh yang kabar nya lo punya pacar. Di majalah ada foto lo bareng cewek di hotel" jelas Alex.

"Uhuk! Uhuk!" Arion yang sedang asyik ngemil tiba-tiba tersedak karena mendengar ucapan Alex.

"Lo kira gue cowok apaan?! Mana ada gue sama cewek di hotel. Semua hoax, hoax!" tegas Arion.

Ketiga temannya hanya terkekeh geli. "Jujur dong Rion. Mana tahu gue ada ponakan" goda Arzan.

"Gila lo. Mana ada bangke!" kesal Arion.

Arzan tertawa terbahak-bahak setelah menggoda Arion. Memang Arion benar-benar mudah di goda olehnya.

"Tadi kalian sudah nelpon nomor rumah Zara?" Kali ini Axelle yang bertanya.

"Sudah. Mamanya yang ngangkat" jawab Alex.

"Lo darimana tahu juga nomor rumah Zara" tanya Arion pada Alex.

"Ada di data siswa" jawab Alex enteng.

"Enak banget ya jadi ketos. Tapi menyusahkan" celetuk Arzan.

"Ck, nggak usah sok-sok susah. Kayak lo aja yang jadi ketos" kesal Alex.

"Yee, gitu aja marah." Arzan pun mengambil camilan yang ada di atas meja.

"Besok gue bikin Zara jadi babu lagi" ucap Axelle.

"Pasti. Gue senang lihat mukanya yang marah-marah gitu. Bikin gue gemes" ujar Arion.

"Jangan sampe lo suka dengannya."

"Nggak apa-apa. Dia cantik kok, imut, manis. Siapa sih yang nggak suka Zara Aurora." Arion yang begitu entengnya menjawab ucapan Alex tidak sadar bahwa ketiga temannya melihat nya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.

*****

Seminggu kemudian...

Zara menarik kata-katanya Minggu lalu.

"Tenang aja. Ini nggak bakal lama kok. Palingan seminggu lagi, gue nggak bakal begini lagi."

Sialan. Para Prince Charming itu tetap menjadikannya sebagai babu mereka.

"Woy! Sampai kapan gue jadi babu kalian sih?! Udah seminggu gue begini. Masa gue nggak kalian maafin!" marah Zara pada keempat cowok tampan itu.

"Sejak kapan gue bilang lo jadi babu gue selama seminggu" ucap Axelle sembari mengangkat sebelah alisnya.

"Jadi sampai kapan?" Zara merendahkan suaranya.

"Forever."

"What?! You're crazy?! Forever?!" Zara shock. Yang benar ajalah, masa dia jadi babu selamanya.

"No! Gue nggak akan jadi babu kalian selamanya. Kalian siapa ha?! Gue bukan pelayan kalian. So, gue nggak bakal nuruti perintah kalian lagi. Terserah kalian mau maafin gue apa kagak. Bye!" Zara membalikkan tubuhnya dan pergi dari hadapan keempat cowok tampan tersebut.

"Dia pergi?" tanya Arion pada ketiga temannya.

"Nggak. Dia nggak bisa pergi dari kita."

"Gue dah bilang kan Zara. Lo nggak bisa lari dari gue" gumam Alex.

Kelas 10 IPA 3

"Aaahh, akhirnya gue bisa lepas dari mereka." Zara akhirnya bisa bernapas lega. Sepertinya kehidupan sekolahnya kembali normal.

"Lo kayaknya senang banget Zara" ucap Sora.

"Sora!" Zara memeluk tubuh Sora erat. "Akhirnya gue bisa lepas dari mereka. Gue bukan babu lagi."

"Really? Gue senang akhirnya lo bisa lepas dari mereka" membalas pelukan Zara.

"Semuanya sudah berakhir sekarang." Zara kembali duduk di kursinya dan diikuti oleh Sora yang duduk di sampingnya.

"Siapa bilang sudah berakhir?" Zara dan Sora menoleh ke arah sumber suara yang merupakan Arzan dan Arion.

Arion berdiri sambil melipat tangannya di atas dada. Dan Arzan yang memasuki kedua tangannya di dalam saku celananya.

Oke. Penampilan mereka keren banget sekarang, apalagi dengan wajah yang wow.

"Ini tidak akan pernah berakhir Zara Aurora. Ini baru permulaan."

Zara menegang di tempat. Ternyata dia tidak akan pernah bisa lepas dari para iblis tampan itu. Hari-hari nya mulai saat ini akan di penuhi oleh mereka sang Prince Charming SMA Cendekia.

 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Don't Touch Me, Prince!   Cilok dan Hari Sial

    "Sora, kita ke kantin yuk. Gue laper banget. Gue pengen makan cilok" ucap Zara sambil mengusap perutnya yang mulai keroncongan.Sora menggelengkan kepalanya melihat tingkah Zara yang kekanak-kanakan. "Ya udah, ayo. Gue juga pengen makan cilok" Sora menggandeng tangan Zara keluar dari kelas.Sesampainya di kantin, Zara memesan cilok kesukaannya. "Bi, beli cilok dong.""Yah, cilok nya sudah habis nih" ujar Bibi Idam yang menjual di kantin sekolah Cendekia."Kok bisa habis Bi. Biasanya masih banyak cilok nya" ucap Zara kecewa."Tadi ada yang beli semua ciloknya.""Siapa Bi?" tanya Zara penasaran. Dia kepo siapa yang bisa-bisanya membeli semua cilok kesukaannya."Itu loh, empat cowok yang Bibi dengar di panggil Prince Charming" jawab Bibi Idam."Apa?! Mereka lagi?!" Zara ternganga tidak percaya bahwa Prince Charming itu lagi yang membeli semua ciloknya."Kesambet apa mereka, sampai beli semua cilok" gerutu Zara kesal."Napa Zara?" tanya Sora yang menghampiri Zara karena belum selesai me

  • Don't Touch Me, Prince!   Hari-Hari Bersama Mereka

    "Mama... Zara pulang..." Zara yang baru sampai dirumahnya setelah pulang dari sekolah melepas sepatunya di depan pintu masuk. Ini sudah menjadi kebiasaan Zara setiap pulang sekolah.Kehidupan Zara terbilang lumayan. Mamanya seorang guru sekolah dasar, dan papanya seorang polisi. Yang bisa di bilang hidupnya nggak terbilang miskin kali ya."Kenapa baru pulang Zara. Kamu telat 15 menit loh" ucap mamanya, Helen."Aduh Ma. 15 menit doang Mama perhitungan banget sama waktu" balas Zara sambil mengerucutkan bibirnya."Iya Mama minta maaf. Mama sih selalu khawatir. Padahal kamu sudah gede" ucap Helen."Iya. Zara tahu. Zara masuk dulu ke kamar ya Ma. Mau ganti baju dulu." Zara pun ke kamarnya. Kamarnya yang bernuansa warna pink dan biru muda, warna kesukaan seorang Zara Aurora.Dia mengganti baju sekolahnya dengan baju santai nya di rumah."Zara, tadi ada teman mu yang nelpon rumah" ucap Helen dari luar kamar Zara.Zara yang mendengar ucapan mamanya, keluar dari kamarnya. "Siapa Ma? Perasaa

  • Don't Touch Me, Prince!   Zara, Alex and Axelle

    Zara yang sedang membersihkan ruangan OSIS, tiba-tiba di kagetkan oleh kedatangan ketua OSIS. Siapa lagi kalau bukan Alex."Yang bersih nyapu nya" tegur Alex."Bodoh amat. Yang nyapu kan gue, jadi terserah gue dong." Zara menjulurkan lidahnya mengejek Alex.Alex tidak menanggapi Zara. Dia duduk di meja ketua OSIS.Kedua manik hitamnya terus memperhatikan Zara. Seulas senyum tipis terbit di bibirnya. "Mau-mau aja di jadikan babu" gumamnya.Dengan serius, Zara mengerjakan pekerjaan nya. Dia tidak mengeluh karena di suruh oleh Alex yang jelas-jelas ini bukanlah pekerjaan nya. Tapi beginilah, dia sekarang jadi babu nya Alex hanya gara-gara sepele."Lo udah bersihkan lemari nya?" tanya Alex."Hmm, udah." Zara tidak menoleh pada Alex, tapi dia menanggapi perkataan Alex.Alex tidak melepaskan pandangannya dari Zara. "Kalau dilihat-lihat, cewek ini cantik juga" batinnya."Udah bersih ruangan lo." Ucapan Zara membuyarkan lamunan Alex."Cepat sekali lo selesainya.""Cepat darimana nya. Lo aja y

  • Don't Touch Me, Prince!   Jadi Babu Iblis Tampan 2

    "Zara, beliin gue minum!" titah Arion pada Zara.Zara yang sedang asyik menulis di buku, harus menghentikan aktivitasnya. Dia pergi ke arah Arion."Mana uang beli minumannya?" Zara menyodorkan tangannya, meminta uang pada Arion."Pake uang lo lah. Masa pake uang gue" jawab Arion ketus."Tapi lo kan yang minta beli minum" balas Zara sambil menahan amarahnya."Lo kan babu gue. Jadi lo harus turutin permintaan gue" ucap Arion dengan smirk.Zara mengepalkan tangannya kesal dengan ucapan Arion mengenai dirinya."Cepetan beli minum, gue haus nih.""Iya, iya." Zara menghentak kakinya, lalu pergi menuju ke kantin."Sekalian juga beliin sama gue makanan!" teriak Arzan.Zara menoleh ke belakang karena mendengar teriakan Arzan.Dia melihat Arion dan Arzan asyik bermain game di handphone mereka.Tapi jangan salah di sekitar Arion dan Arzan sudah berkumpul para ciwi-ciwi yang naksir pada mereka.Zara pun melanjutkan langkahnya menuju ke kantin.Apa Zara pernah bilang kalau dia dan kedua Prince Cha

  • Don't Touch Me, Prince!   Jadi Baby Iblis Tampan

    Zara Aurora adalah gadis yang menyandang status sebagai siswa kelas 10 di SMA Cendekia.Tapi sekarang, kehidupan sekolah yang diidam-idamkan nya pupus sudah, setelah mencari masalah dengan Prince Charming.Tap... Tap... Tap...Seorang gadis terus berlari di lorong sekolah. Dia seperti sedang menghindari sesuatu."Zara...!" panggil Sora. "Lo kenapa lari-lari sih.""Sora, please... Bantuin gue untuk jauh dari mereka" mohon Zara sambil mengatupkan kedua tangannya."Lo dikejar Prince Charming lagi" ujar Sora."Gue capek, lari-lari terus dari mereka" ucap Zara."Lo sih, cari masalah dengan mereka. Sekarang dah kena akibatnya kan" ucap Sora."Argh! Mau gimana lagi Ra. Gue gak sengaja cari masalah dengan mereka. Bagaimana sekarang gue?" Zara mengacak-acak rambutnya frustasi."Lebih baik lo minta maaf sama mereka" saran Sora."Jangan gila deh. Yang ada melayang nyawa gue" ujar Zara."Please, tolongin gue Sora..." Zara mengatup kedua tangannya memohon pada Sora.Zara membelalakkan matanya kage

  • Don't Touch Me, Prince!   Prince Charming

    Tap... Tap... Tap...Seorang gadis terus berlari di lorong sekolah. Dia seperti sedang menghindari sesuatu."Zara...!" panggil Sora. "Lo kenapa lari-lari sih.""Sora, please... Bantuin gue untuk jauh dari mereka" mohon Zara sambil mengatupkan kedua tangannya."Lo dikejar Prince Charming lagi" ujar Sora."Gue capek, lari-lari terus dari mereka" ucap Zara."Lo sih, cari masalah dengan mereka. Sekarang dah kena akibatnya kan" ucap Sora.*Flashback on*Dua bulan setelah masa MPLS...Zara pergi ke sekolah dengan hati yang begitu kesal. Mood nya buruk sekali setelah dari rumah.Bagaimana tidak emosi, diperjalanan dia dilempar sampah oleh orang tanpa sengaja.Yang bener aja lah, Zara yang kena imbasnya. Inilah akibatnya kalau buang sampah sembarangan.Zara terus mengutuk orang yang tanpa sengaja melempar sampah padanya."Orang gila, gak bisa lihat orang. Emang dia buta ya" umpat Zara kesal.Zara melihat sebuah kaleng botol, dan dengan emosi dia menendang kaleng botol tersebut, dan...Bugh!"

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status