MasukBeberapa hari setelah operasi, Alex masih belum menunjukkan tanda-tanda siuman. Dia masih tetap berbaring sambil menutup mata, entah sampai kapan.Dan sudah menjadi kebiasaan Zara beberapa hari ini, setelah pulang sekolah, dia langsung ke rumah sakit menjenguk Alex. Zara mengambil tempat, duduk di samping kasur Alex."Apa kabar Alex? Lo masih betah aja tidur" ucapnya, tanpa ada sahutan dari Alex.Zara hanya bisa menguatkan dirinya untuk tidak menangis. Sejak Alex kecelakaan, dia menjadi sangat sensitif. Apalagi kalau berhubungan dengan Alex, dia benar-benar tidak sanggup.Zara mengingat-ingat kebersamaan Alex beberapa minggu yang lalu. Kata-kata Alex masih terngiang-ngiang di otaknya."Gue jadi pengen di khawatirin sama lo Zara""Gue ingin lo jadi istri gue di masa depan. Biar lo selalu perhatian dan khawatir sama gue""Gue suka sama lo. Gue tulus sama lo.""Kalau lo masih belum suka sama gue. Gue akan buat lo suka sama gue. Bukan cuman suka, gue akan buat jatuh cinta sama gue."Zara
Alex di bawa ke rumah sakit milik keluarganya. Dia langsung di bawa masuk ke ruang UGD.Sinta dan Bryan datang. "Tuan, Nyonya. Tuan Muda sudah di bawa masuk ke dalam ruangan" ucap salah satu dokter pada Bryan dan Sinta."Ma. Papa masuk dulu. Biar papa yang tangani Alex" ucap Bryan pada Sinta."Selamatkan Alex pa" ucap Sinta dengan tangis. Dia shock mendengar Alex kecelakaan."Tentu sayang." Bryan dan diikuti dokter lainnya masuk ke dalam ruang UGD. Zara berjalan mendekati Sinta sambil menundukkan kepalanya menahan tangisnya. "Zara minta maaf. Ini semua salah Zara..." lirihnya.Sinta menoleh ke arah Zara. Dia langsung memeluk nya. "Ini bukan salah kamu sayang..." Tangis Zara langsung pecah."Ini semua salah Zara Ma... hiks... hiks... Andaikan Zara tidak menyeberang sembarangan. Alex nggak akan kecelakaan..." tangis Zara.Sinta mengelus kepala Zara. "Alex akan selamat Zara. Itu pasti, kamu tenang saja."Bryan keluar dari ruang UGD. "Ma, Alex harus segera di operasi. Dia sudah kehilanga
"Sora, ayo kita pergi dari sini.""Lo nggak mau lihat siapa pemenangnya?""Nggak. Gue malas lihat mereka." Zara dan Sora pergi dari lapangan basket."Kenapa lo nggak mau lihat?" tanya Sora sambil berjalan beriringan dengan Zara."Gue nggak mau tahu siapa pemenangnya. Itu aja" jawab Zara datar.Tiba-tiba ada seseorang yang datang menghampiri Zara dan Sora."Enak banget lo di perebutin Prince Charming." "Siapa lo?" Zara tidak mengenal siapa cewek yang ada di depannya."Gue Diva. Gue termasuk senior lo disini" jawab Diva."Ra, dia cewek yang sama dengan Fara" bisik Sora di telinga Zara."Ada apa kakak cariin gue?" tanya Zara."Lo kasih pelet apa sih sama Prince Charming. Sampe-sampe mereka nempel terus sama lo" ucap Diva.Walaupun Diva adalah kakak kelasnya, Zara tidak akan tinggal diam, setelah difitnah."Kak, lo pernah dengar sendiri kan kalau Prince Charming sendiri yang dekatin gue" balas Zara tenang."Tapi nggak mungkin Prince Charming suka sama lo. Lo pasti kasih sesuatu kan sampa
Dua hari kemudian...Sekarang adalah saatnya festival sekolah SMA Cendekia, sekaligus merayakan ulang tahun sekolah.Acara itu diadakan dari pagi hingga malam. Jadi murid-murid akan seharian berada di sekolah.Setiap kelas, dari kelas 10 sampai kelas 12, menampilkan berbagai kegiatan di acara tersebut."Sibuk bener nih sekolah" ucap Zara yang memperhatikan di sekelilingnya yang begitu sibuk."Ya iyalah. Gimana nggak sibuk, sekarang ada festival sekolah sekaligus merayakan ulang tahun sekolah. Lo nggak lihat pada ramai begini" balas Sora."Kalian tahu nggak, Arion bakal nyanyi di acara nanti malam.""Serius lo. Gue nggak sabar lihat pertunjukan nya langsung.""Akhirnya, gue bisa lihat Arion nyanyi secara langsung."Zara dan Sora melihat ke arah cewek-cewek di kelasnya yang kegirangan."Arion nanti bakal nyanyi" ucap Zara."Iya. Dan gue harap, lo akan menanti hal itu" sahut Arion yang tiba-tiba muncul di samping Zara."Lo ngapain disini?" tanya Zara."Ini kelas gue juga Zara" jawab Ario
Arzan mencari-cari Zara, tapi tidak ketemu. Padahal tadi dia suruh Zara untuk menunggunya di ruang tamu."Mana sih tuh anak?"Arzan terus mengelilingi rumahnya, dan dia akhirnya menemukan Zara yang sedang duduk di pinggir kolam renang."Ternyata lo disini. Gue daritadi cariin lo." Arzan berjalan mendekati Zara."Sorry. Gue cuman mau main air aja." Zara memasukkan kaki nya ke dalam air."Bukannya lo takut dekat-dekat di kolam renang" ujar Arzan."Darimana lo tahu?""Feeling aja sih.""Sekarang nggak terlalu lagi. Sejak papa mulai ajarin gue cara berenang" ucap Zara."Kalau diingat-ingat, gue dan lo juga pernah berdua di kolam renang saat di hukum guru" ucap Arzan sembari berpikir."Waktu itu lo sampe nangis, gara-gara ngira gue hampir mati di kolam renang" lanjutnya sambil tertawa."Siapa suruh lo kek gitu. Sok-sokan nahan napas dalam air. Mati nanti baru tahu rasa" cibir Zara kesal."Jadi pengen gue mati nih?""Nggak lah!" jawab Zara cepat yang langsung membuat Arzan tertawa renyah.
"Kamu udah bilang sama Arzan kan Zara?" tanya Luna saat mengetahui Zara sudah turun dari lantai atas."Hmm, sudah Ma."Luna memperhatikan tingkah Zara yang sedikit aneh menurutnya. Tatapannya jatuh pada leher Zara. "Kok leher kamu merah-merah begitu?"Zara terkejut. Dia lupa untuk menutupi lehernya. Dia langsung menutup lehernya dengan rambut panjangnya. "Itu tadi, Zara digigit nyamuk Ma.""Nyamuk?" Luna tersenyum tipis. Zara kira, dia tidak tahu kenapa lehernya bisa begitu. Luna menggelengkan kepalanya pelan. "Dasar anak ini, dia tidak bisa menahan dirinya" batinnya."Kenapa Ma. Kok geleng-geleng kepala gitu?""Nggak ada apa-apa."Beberapa saat kemudian, Arzan turun dari lantai atas, dan bersamaan papanya Arzan sudah pulang."Papa... Tumben kok cepat pulang?" tanya Arzan."Kenapa memangnya kalau papa cepat pulang? Kamu nggak senang?" tanya Zen, papanya Arzan.Awal Zara lihat Zen, Zara merasakan aura yang begitu kuat dari Zen. Sifatnya yang tegas dan berwibawa sangat terlihat. Zen ben
Zara yang sedang membersihkan ruangan OSIS, tiba-tiba di kagetkan oleh kedatangan ketua OSIS. Siapa lagi kalau bukan Alex."Yang bersih nyapu nya" tegur Alex."Bodoh amat. Yang nyapu kan gue, jadi terserah gue dong." Zara menjulurkan lidahnya mengejek Alex.Alex tidak menanggapi Zara. Dia duduk di
"Zara, beliin gue minum!" titah Arion pada Zara.Zara yang sedang asyik menulis di buku, harus menghentikan aktivitasnya. Dia pergi ke arah Arion."Mana uang beli minumannya?" Zara menyodorkan tangannya, meminta uang pada Arion."Pake uang lo lah. Masa pake uang gue" jawab Arion ketus."Tapi lo kan
Zara Aurora adalah gadis yang menyandang status sebagai siswa kelas 10 di SMA Cendekia.Tapi sekarang, kehidupan sekolah yang diidam-idamkan nya pupus sudah, setelah mencari masalah dengan Prince Charming.Tap... Tap... Tap...Seorang gadis terus berlari di lorong sekolah. Dia seperti sedang menghi
Tap... Tap... Tap... Seorang gadis terus berlari di lorong sekolah. Dia seperti sedang menghindari sesuatu. "Zara...!" panggil Sora. "Lo kenapa lari-lari sih." "Sora, please... Bantuin gue untuk jauh dari mereka" mohon Zara sambil mengatupkan kedua tangannya. "Lo dikejar Prince Charming lagi" uj







