تسجيل الدخولMalam merayap perlahan, membawa keheningan yang menyelimuti lingkungan sekitar. Seharian penuh menghabiskan waktu bersama Alya, Raya akhirnya memutuskan untuk ikut pulang dan menginap di rumah sahabatnya itu.Meski sempat merasa sedikit terkejut saat mendapati tiga orang pekerja baru yang dikirim Raka di rumah Alya, Raya memilih untuk tidak banyak berkomentar. Suasana hangat di rumah itu terbukti ampuh menenangkan pikirannya. Apalagi, setelah seharian memanjakan diri dengan perawatan tubuh lengkap di salon, tubuhnya terasa jauh lebih segar dan beban di kepalanya sedikit terangkat."Anak-anak udah tidur?" tanya Raya begitu melihat Alya melangkah masuk ke dalam kamar."Udah. Kamu mau nginep di sini?" tanya Alya heran melihat Raya justru sudah merebahkan diri di atas tempat tidurnya."Aku malas pulang, lagi pula nggak tahu mau ke mana lagi kalau nggak di sini. Apa aku boleh nginep di sini?" balas Raya tanpa rasa sungkan.Alya mendengus pelan. "Nggak usah lebay, tinggal nginep aja pake iz
"Ah... seger banget," ucap Raya sambil mendesah lega. Ia berbaring setengah bersandar di kursi khusus keramas, menikmati pijatan lembut Lina di kulit kepalanya. "Padahal kita kerja di salon, tapi giliran mau nyalon begini aja nunggu kepala cenat-cenut dulu."Alya terkekeh kecil dari kursi di sebelah. "Benar juga ya," jawabnya singkat.Suasana salon di luar area cuci rambut terdengar cukup ramai seperti biasa. Namun, baik Raya maupun Alya sama-sama sedang bergulat dengan penat di kepala masing-masing, memilih meluangkan waktu sejenak untuk memanjakan diri di tengah rumitnya masalah hidup.Raya tiba-tiba mengangkat sedikit kepalanya, lalu berseru pada para pegawainya, "Hari ini, aku sama Alya statusnya pelanggan VIP, ya! Aku mau keramas, rapiin rambut, lanjut masker badan, masker wajah, sampai pijat. Pokoknya paket lengkap!"Lina, yang sedang memijat kepala Raya, melirik ragu ke arah Alya. "Tapi, Mbak Raya biasanya kan paling suka kalau Mbak Alya yang pijit badan. Beneran nih, saya yang
"Raka tidak menyukaimu, Zahira. Kamu tahu itu, kita semua tahu itu," ucap Soraya jujur, suaranya datar tanpa ada nada iba yang tersisa untuk wanita di seberangnya.Zahira menyeringai kecil. Sudut bibirnya terangkat, menampilkan senyum sinis yang mengiris udara dingin restoran mewah tersebut. "Itulah, Tante. Kita semua tahu sejak awal Raka memang tidak menyukaiku. Tapi kenapa baru sekarang Tante mau membatalkan perjodohan kami?" tanyanya getir. Sorot matanya memantulkan campuran antara amarah yang membara dan kerapuhan yang menyedihkan.Soraya menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya menjawab, bersiap menghadapi badai yang memang sudah ia duga sejak tadi. "Zahira... kamu harus tahu kalau Raka punya hubungan dengan wanita lain. Dia menyukai wanita lain.""Maksud Tante... Alya?" tanya Zahira lantang, tanpa ragu menyebut nama itu.Soraya membelalak. Matanya melotot tajam, menatap wanita muda di depannya dengan rasa tidak percaya. "Ka-kamu tahu kalau Raka dan Alya punya hubungan spesial?
"Apa?!"Jeritan Raya memecah keheningan ruang istirahat di salon. Baru saja ia menjejakkan kaki di sana untuk mencari pelarian, namun beban masalah justru bertambah berat. Di hadapannya, Alya duduk dengan bahu merosot, baru saja menyelesaikan penuturan yang mengejutkan.Alya telah menceritakan semuanya, perihal pertemuannya dengan Soraya, tanpa terlewat. Bagaimana wanita paruh baya itu dengan dingin menyodorkan kesepakatan kotor, siap memberikan sejumlah uang sebagai pelicin agar Alya segera angkat kaki dan menghilang dari kehidupan Raka. Puncaknya adalah ucapan Soraya lewat sambungan telepon pagi tadi yang secara gamblang menolaknya sebagai pendamping hidup Raka.Raya bangkit dari duduknya, berjalan mendekat lalu menggenggam tangan Alya yang terasa dingin. Rasa bersalah menyeruak di dadanya, menumpuk di atas rasa sakit hatinya sendiri terhadap Kevin."Maafin aku, Al. Sungguh, maafin aku," ucap Raya lirih, suaranya bergetar menahan sesak. "Aku terlalu sibuk dengan duniaku sendiri, den
"Aku jauh-jauh ke sini karena kangen kamu. Aku pengen makan bareng sama kamu, dan kamu mau pergi sekarang? Setelah aku sampai di sini?" tanya Raya dengan suara yang menyisakan getir.Pagi-pagi sekali, ia meninggalkan rumah untuk mendatangi tempat tinggal Kevin. Namun, baru beberapa menit ia menjejakkan kaki di sana, kenyataan justru menyambutnya dengan dingin. Pria itu sudah berdiri di dekat pintu dengan ransel tersampir di salah satu bahunya, bersiap untuk pergi.Kevin menghela napas berat, tampak lelah, bukan hanya karena jadwalnya yang padat, tapi juga karena dinamika hubungan mereka yang belakangan sering diwarnai gesekan. "Aku ada jadwal pemotretan pagi ini, Sayang. Tolong jangan buat keributan pagi-pagi," ucapnya datar.Raya menatap nanar manik mata pria di hadapannya. Ada rasa sakit yang mendadak mencubit dadanya. "Apa kamu pikir aku ke sini... sepagi ini... hanya untuk membuat keributan?" tanyanya tertahan.Bukan hanya Alya dan Raka yang pagi itu harus menelan rasa sakit, Raya
Udara pagi di kediaman Sanjaya terasa begitu kontras dengan ketegangan yang diam-diam mengakar di dalam rumah. Soraya menyambut putra bungsu itu dengan senyuman dan kelembutan yang jarang ia tunjukkan belakangan ini."Selamat pagi, Raka," sapa Soraya hangat saat putranya melangkah menghampiri meja makan.Raka balas mengangguk, menarik kursi, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang lengang. "Selamat pagi, Ma. Papa mana?" tanyanya, mendapati meja makan masih bersih tanpa hidangan tersaji untuk banyak orang."Sebentar lagi turun," jawab Soraya tenang."Kak Raya?""Kakakmu sudah pergi duluan. Katanya mau sarapan di salon saja karena ada banyak pekerjaan," sahut Soraya sambil menuangkan air putih.Raka kembali mengangguk. Setelah meneguk kopinya, ia terdiam sejenak, meresapi keheningan yang tersisa sebelum memutuskan untuk menggunakan momen ini. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian yang sejak semalam mengusik pikirannya."Ma," panggil Raka pelan.Soraya langs
Di dalam mobil, suasana begitu hening. Keheningan itu terasa menyesakkan hingga rasanya oksigen pun enggan masuk ke paru-paru. Kontras dengan keributan tadi, tapi setidaknya Alya sudah meninggalkan mantan suaminya.Alya duduk meringkuk di kursi penumpang, memeluk dirinya sendiri seolah sedang mengu
Raya tidak langsung pergi ke salon seperti rencananya semula. Setelah menemui Raka di kantor dengan perasaan kacau, ia justru memacu kendaraannya menuju rumah orang tuanya. Hari itu menjadi hari yang panjang dan melelahkan bagi Raya.Sesampainya di rumah, Raya langsung menuju ke kamar orang tuanya.
Hening menyelimuti area parkir apartemen yang dingin. Raka masih bersandar di kap mobilnya, napasnya perlahan teratur meski tatapannya tak pernah lepas dari Alya. Setelah cukup lama menatap wanita itu dengan sorot mata yang penuh kepemilikan dan sisa amarah, Raka akhirnya menghela napas panjang."M
“Raka... kumohon, pelan sedikit....”Suara Alya terdengar putus asa, tertahan di antara deru napas yang memburu. Udara di dalam kamar itu terasa pekat oleh hawa panas dan aroma keringat yang bercampur.Raka duduk bersandar di kepala ranjang dengan napas sama kasarnya, sementara Alya berada di atas







