LOGINWaktu berlalu dengan cepat. Namun, kekhawatiran Naya sama sekali tidak terjadi. Bahkan saat magangnya sudah hampir selesai pun, semua ketakutannya tidak terjadi.Ada rasa syukur, karena dirinya tidak membawa pengaruh buruk untuk perusahaan tempat dirinya belajar. Namun, tidak dipungkiri, bahwa dirinya juga menjadi bahan gosip untuk teman-temannya. Naya pun tidak bisa mengelak dengan bahasan skandal yang ada.Dia sangat sadar apa yang sebelumnya dia lakukan. Terlebih menyangkut hubungannya dengan Ardi. Namun, dia tidak bisa membela dirinya sama sekali.Hari ini, Naya harus menyelesaikan semua proses untuk magangnya. Dia mendatangi meja Pak Tiko dan membawa beberapa berkas yang harus ditandatangani ole pria itu. Namun, pria itu tidak seperti biasanya dan meminta Naya untuk menemuinya di pantry.Naya pun segera berjalan ke pantry, di mana biasanya Pak Tiko membuat kopi untuk menemani menyelesaikan pekerjaannya. Dia duduk di depan kitchen island. Dia menatap Pak Tiko yang sedang memasukka
"Pernah kamu berpikir untuk bercerai sama aku?" tanya Miya yang duduk di kasur. Langkah Ardi benar-benar terhenti di ambang pintu. Dia membalikkan badannya dan menatap istrinya. Dia menghelakan napas sebelum dirinya menjawab pertanyaan istrinya itu"Pernah, dan bahkan kalau kamu lupa, aku pernah memberikan surat perjanjian cerai saat kamu mengatakan, kamu mengandung Daffa." Ardi menjawab dengan sangat tenang. Semua dia katakan tanpa ada keinginan untuk menyembunyikan sesuatu dari istrinya itu.Di dalam hatinya, Ardi sudah merasa sangat malu. Namun, dia ingin istrinya juga tahu, bahwa selama ini cinta untuk wanita yang memberinya keturunan itu tidak pernah ada. Semua yang dia rasakan hanya rasa tanggung jawab untuk menjaga aib keluarganya. Namun, Miya memang tidak mudah percaya dengan apa yang ada."Masih tidak percaya denganku?" tanya Ardi pada istrinya.Tidak ada jawaban dari Miya yang keluar. Namun, dia menatap Ardi dengan wajah tanpa ekspresi. Melihat hal itu, Ardi memilih meningg
Hubungan Naya dan Ardi benar-benar berakhir di hadapan kedua orang tua Naya. Ardi dan Miya keluar dari rumah Naya. Mama Naya mengantar keduanya. Sementara itu, Naya menangis di dalam pelukan papanya. Tanpa menghakimi perasaan anaknya, papa Naya memeluk erat anaknya. Dia mengusap lembut punggung anaknya, mencoba memberikan kekuatan untuk anaknya. Naya tidak mengatakan apa pun, hanya menangis di dalam pelukan papanya. "Tenang, Nay. Papa ada di sini sama kamu. Papa hanya nggak mau kamu salah jalan, Nak. Papa tahu, kamu baru belajar mengenal cinta, tapi memang tahta tertinggi tentang cinta adalah melepaskan, Nay. Kamu nggak boleh merusak dan mengambil milik orang lain, Nak. Papa nggak mau kamu dijadikan olok-olokan publik." Papa Naya mencoba membuat Naya sadar, apa yang mereka lakukan adalah untuk Naya."Aku tahu, Pa. Cuma rasanya sakit juga. Ternyata melepaskan tidak semudah itu." Naya mengatakannya dengan suaranya yang bergetar."Benar. Melepaskan memang tidak semudah itu. Maka dari i
Seperti yang direncanakan, Naya beserta keluarga bertemu dengan Ardi. Namun, pertemuan itu dilakukan di rumah Naya atas permintaan Miya yang ingin melihat reaksi suaminya lebih jelas, saat mendatangi keluarga Naya. Ardi terdiam di bangku kemudi, saat berhenti di depan sebuah rumah megah yang tidak pernah benar-benar dia lihat.Ardi menoleh ke arah istrinya yang ada di sampingnya. Wanita itu terlihat sedang merapikan make upnya. Ardi menatap datar wanita yang merapikan dandanannya itu. "Maksud kamu apa?" tanya Ardi pada istrinya yang masih sibuk dengan wajahnya."Mengantarmu bertemu dengan kekasih kecilmu itu." Miya mengatakannya dengan sangat tenang. "Miya, aku tidak bercanda." Ardi menatap datar istrinya yang ada di sampingnya."Siapa yang sedang bercanda? Aku pun tidak bercanda. Ayo, pasti keluarga kekasih kecilmu itu sudah menunggumu,' kata Miya yang keluar dari mobilArdi dengan cepat menyusul istrinya dan menahan langkah istrinya. Miya berhenti melangkah dan menatap tenang suam
Naya menatap ponselnya. Sejak kepulangannya terakhir, dia masih berkomunikasi dengan Ardi, sebagaimana biasanya. Dia juga tidak mengatakan apa pun pada Ardi. Ada rasa ingin menceritakan pada Ardi apa yang sedang terjadi. Namun, dia masih berusaha menahan untuk meyakinkan dirinya untuk memutuskan sesuatu. Perasaannya masih terus tumbuh untuk Ardi, meski dirinya sudah jarang bertemu dengan pria itu. Namun, Ardi selalu memberi kabar untuk dirinya.Setiap pesan dari Ardi membuat Naya selalu teringat akan pesan papanya. Namun, masih belum ada gairah untuk dirinya membicarakan dengan Ardi. Pikirannya berkecamuk dengan apa yang terjadi sebelumnya. "Bu Miya bikin masalah banget! Ini gimana kalau aku menolak untuk berpisah dengan Pak Ardi. Papa sama Mama akan bereaksi kayak apa, kalau aku menolak?" Naya menjatuhkan kepalanya ke bantal dan menenggelamkan wajahnya di bantal. Dia merasa sangat pusing dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini. Naya membalikkan badannya dan menatap ceiling ruangan
"Siapa dia?"Papa Naya perlahan membuka matanya dan melihat anaknya yang masih menundukkan kepalanya. Ada tatapan kecewa pada anaknya, tapi dirinya harus bisa mengendalikan emosinya demi membawa anaknya kembali ke jalan yang semestinya dia lewati. Tangannya sudah melepas tubuh istrinya yang ada di sampingnya, dia malah meraih lutut anaknya untuk menatapnya juga."Papa mau tahu, siapa yang mampu mengambil hati anak Papa." Papa Naya masih menahan emosinya. "Pak Ardi, Pa. Itu namanya, tapi tolong jangan buat dia kehilangan pekerjaannya. Kalau Papa bilang ini salah, iya ini salah dan ada kesalahanku juga di dalamnya, Pa. Tolong!" Naya memohon pada papanya yang hanya menganggukkan kepalanya."Apa dia punya istri?" tanya papa Naya mencoba menutup kenyataan bahwa dirinya sudah tahu semua."Iya, tapi dia tidak mencintai istrinya sama sekali, Pa." Naya langsung memberikan alasan, mengapa dirinya masih bertahan dengan Ardi. "Nay, cinta untuk istrinya itu urusan dia. Mau dia mencintai istrinya
Ardi mencengkram botol air mineral yang sebelumnya dia minum. Ingatan masa lalu membuat emosinya bergejolak di dalam dirinya. Kepala terasa pening dan Ardi pun memejamkan matanya kembali. “Kalau Reski nggak meninggal, sampai sekarang mungkin aku nggak akan punya Daffa.” Ardi bergumam pada dirinya
Ardi langsung membawa pulang istrinya yang masuk berat. Sepanjang perjalanan, Miya menangis dan memanggil nama Reski. Ada luka sayat dalam hati Ardi, tetapi pria itu tidak mempermasalahkannya.Ardi memapah tubuh istrinya ke kamar dan merebahkannya ke kasur. Miya menarik tubuh Ardi hingga menindihny
Sejak pertemuannya dengan Reski, Ardi masih terus berusaha mencintai Miya sepenuh hati, meski dia merasa sakit karena dikhianati dan dimanfaatkan. Namun, Ardi masih mau mempertahankan pernikahannya. Dia tidak ingin pernikahannya hancur tanpa perjuangan. Miya yang sama sekali tidak tahu tentang per
Pernikahan biasanya menjadi hal yang sangat membahagiakan bagi pasangan. Namun, jika hanya salah satu yang merasakan bahagia, apakah itu tetap dibilang sebagai hari bahagia? Ardi menatap beberapa teman Miya yang duduk bersama dengannya saat selesai resepsi pernikahan. Tidak hanya teman Miya, tetap







