登入"Pelayan housekeeping?" "Ya. Dialah yang memegang kunci master dan bertanggung jawab membersihkan koridor serta kamar Anda setelah malam kejadian itu berlangsung. Alasan mundurnya adalah pindah kota, tetapi intelijen kami menemukan bahwa dia sedang melarikan diri. Selama sebulan ini, dia terus berpindah kota pelabuhan dalam waktu singkat untuk menghapus jejak kependudukannya." Naluri predator Dominic seketika bergejolak hebat. Di dunianya, jika seseorang sampai harus berpindah-pindah kota seperti tikus ketakutan, artinya orang itu tahu bahwa nyawanya sedang dipertaruhkan karena memegang sebuah rahasia besar. "Di mana bajingan wanita itu sekarang?" tanya Dominic dingin. "Informasi terakhir dari informan pelabuhan yang kami dapatkan dua jam lalu, Martha baru saja meloloskan diri menggunakan kapal dagang menuju kota pelabuhan sekitar. Dia sengaja memilih jalur laut ilegal untuk menghindari radar kita." "Berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk menyeretnya ke hadapanku?" "Tig
Malam itu, setelah keluar dari kamar Nadine, Dominic tidak langsung kembali ke kamarnya. Koridor lantai dua Mansion Saint Noire terbentang panjang, sunyi, dan dingin di hadapannya. Cahaya lampu dinding berwarna keemasan memantulkan siluet tubuh tegapnya di atas lantai marmer hitam yang mengilat. Langkah kaki Dominic terhenti tepat di depan jendela besar yang menghadap langsung ke arah taman belakang mansion. Pikirannya masih tertinggal di dalam kamar Nadine, terjebak pada satu pertanyaan spekulatif yang seharusnya tidak pernah ia suarakan. "...kalau pria di hotel malam itu bukan Miller, tapi orang lain... apakah kau mau menerimanya?" Dominic memejamkan mata, rahangnya mengeras kuat. Ia merutuki kelancangan lidahnya sendiri. Seumur hidup, pewaris tunggal dinasti Moretti ini tidak pernah takut menghadapi siapa pun. Ia tidak takut pada kekejaman ayahbya, tidak gentar pada gertakan keluarga Miller, bahkan tidak takut pada kematian itu sendiri. Tetapi malam ini, ia justru berteku
Seorang wanita cantik berusia paruh baya berdiri di ambang pintu. Sarah Maheswari, ibu kandungnya. Wanita yang selama ini menjadi satu-satunya keluarga sedarah yang masih dimilikinya. Sarah tersenyum lembut. Namun ada sesuatu di balik senyuman itu. Sesuatu yang membuat Nadine merasa tidak nyaman. "Ibu boleh masuk?" 'Tumben ibu minta ijin, biasanya ia masuk tanpa bertanya,' pikirnya. Nadine hanya bisa mengangguk kaku. "Tentu." Sarah berjalan masuk, lalu duduk di tepi sofa dekat jendela. Tatapannya langsung tertuju pada wajah putrinya. "Kau terlihat pucat." "Aku baik-baik saja. Hanya saja sedikit kurang tidur." "Itu bohong." Nadine terdiam. Sarah menghela napas. "Kau selalu mengatakan baik-baik saja padahal sebenarnya tidak." Keheningan yang mencekam sempat tercipta di antara mereka, sebelum akhirnya Sarah kembali membuka suara dengan nada yang bergeser menjadi lebih dingin. "Aku sudah mendengar apa yang terjadi kemarin." Nadine langsung menegang. "Tenta
Pagi hari menyelimuti Mansion Saint Noire. Cahaya matahari musim semi yang hangat perlahan menerobos tirai putih transparan yang menjuntai anggun dari langit-langit tinggi, meluncur jatuh menyentuh permukaan lantai marmer yang mengilat.Nadine perlahan membuka kelopak matanya. Tubuhnya masih didera rasa lemas yang luar biasa. Kelelahan fisik dan mental yang menumpuk tanpa jeda, diperparah oleh janin muda yang kini tengah tumbuh di dalam rahimnya.Beberapa detik berlalu sebelum kesadarannya kembali sepenuhnya. Pandangannya bergerak pelan ke arah langit-langit kamar.Sunyi.Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar. Namun justru dalam kesunyian itulah pikirannya kembali diserang oleh kenangan semalam. Kenangan yang membuat dadanya kembali terasa sesak."...kalau seandainya pria di hotel malam itu bukan Miller..."Suara Dominic kembali bergema di dalam kepalanya.Nadine menutup mata. Ingatan itu terasa begitu jelas. Seolah baru terjadi beberapa menit yang lalu.Ia masih ingat ba
Tak lama kemudian mobil Lukas meninggalkan area mansion. Lampu belakang kendaraan mewah itu perlahan menghilang di balik gerbang utama Saint Noire.Dominic tetap berdiri di tempatnya. Diam, tidak bergerak. Kepalanya dipenuhi oleh jaring-jaring kecurigaan baru. Christian Miller telah menjebaknya di hotel malam itu, merusak rekaman CCTV, dan membuatnya terbangun di pagi hari tanpa mengetahui siapa gadis yang bersamanya karena ingatan yang tidak sempurna.Sebuah pikiran muncul tiba-tiba. Bagaimana jika... gadis malam itu bukan orang asing? Bagaimana jika...Napas Dominic tertahan.Sebuah kemungkinan yang selama ini tidak pernah benar-benar ia pertimbangkan muncul di kepalanya. Liar, mustahil dan gila.Bagaimana jika gadis malam itu adalah Nadine?Jantungnya berdetak keras, sangat keras. Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun memimpin operasi keluarga Moretti, Dominic merasa takut pada sebuah kemungkinan.Akhirnya ia kembali ke ruang tamu, Nadin
Dominic mengepalkan tangan, sedangkan Lukas tetap diam. Sebastian berdiri dari sofa. "Aku hanya menundanya sampai situasi lebih stabil." Setelah mengatakan itu, pria tua tersebut berjalan meninggalkan ruang tamu. Langkahnya mantap. Punggungnya tegak.Tetapi... ia tampak membawa beban yang lebih berat dari biasanya, namun keputusan akhirnya bersifat mutlak dan belum berubah. Pintu ruang kerja Sebastian tertutup, meninggalkan tiga orang di ruang tamu dalam keheningan yang aneh dan canggung. Nadine, Dominic, dan Lukas. Beberapa detik berlalu tanpa ada satu pun yang membuka suara, sampai akhirnya Lukas mengambil jasnya dari sandaran sofa. "Aku akan pulang." Nadine menoleh. Lukas menyunggingkan sebuah senyuman tipis, sebuah senyuman yang jauh lebih menenangkan dibandingkan milik Dominic maupun Christian. "Beristirahatlah," ucap Lukas lembut. "Tubuhmu membutuhkannya." Nadine mengangguk pelan, bibirnya bergerak kaku. "Terima ka







