首頁 / Mafia / Dua Kakak Tiriku Yang Posesif / Bab 228 — Ini kan longgar!

分享

Bab 228 — Ini kan longgar!

作者: Za_dibah
last update publish date: 2026-05-30 23:46:34

Ketegangan di dalam kamar tidur itu kian meruncing hingga ke batas ambang kewajaran. Dominic masih terpaku di atas sofa kulitnya, bertarung habis-habisan melawan iblis di dalam kepalanya yang terus mendesak untuk merenggut kesucian adik tirinya saat itu juga.

Dominic memalingkan wajah sejenak sambil mengembuskan napas kasar. Rahangnya menegang begitu keras hingga urat di lehernya tampak jelas.

Ia memejamkan matanya sejenak, namun visualisasi erotis itu justru tercetak semakin jelas di balik ke
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 259 — Ketakutan Dominic.

    "Pelayan housekeeping?" ​"Ya. Dialah yang memegang kunci master dan bertanggung jawab membersihkan koridor serta kamar Anda setelah malam kejadian itu berlangsung. Alasan mundurnya adalah pindah kota, tetapi intelijen kami menemukan bahwa dia sedang melarikan diri. Selama sebulan ini, dia terus berpindah kota pelabuhan dalam waktu singkat untuk menghapus jejak kependudukannya." ​Naluri predator Dominic seketika bergejolak hebat. Di dunianya, jika seseorang sampai harus berpindah-pindah kota seperti tikus ketakutan, artinya orang itu tahu bahwa nyawanya sedang dipertaruhkan karena memegang sebuah rahasia besar. ​"Di mana bajingan wanita itu sekarang?" tanya Dominic dingin. ​"Informasi terakhir dari informan pelabuhan yang kami dapatkan dua jam lalu, Martha baru saja meloloskan diri menggunakan kapal dagang menuju kota pelabuhan sekitar. Dia sengaja memilih jalur laut ilegal untuk menghindari radar kita." ​"Berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk menyeretnya ke hadapanku?" ​"Tig

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 258 — Martha Rosa

    ​Malam itu, setelah keluar dari kamar Nadine, Dominic tidak langsung kembali ke kamarnya. Koridor lantai dua Mansion Saint Noire terbentang panjang, sunyi, dan dingin di hadapannya. Cahaya lampu dinding berwarna keemasan memantulkan siluet tubuh tegapnya di atas lantai marmer hitam yang mengilat. ​Langkah kaki Dominic terhenti tepat di depan jendela besar yang menghadap langsung ke arah taman belakang mansion. Pikirannya masih tertinggal di dalam kamar Nadine, terjebak pada satu pertanyaan spekulatif yang seharusnya tidak pernah ia suarakan. ​"...kalau pria di hotel malam itu bukan Miller, tapi orang lain... apakah kau mau menerimanya?" ​Dominic memejamkan mata, rahangnya mengeras kuat. Ia merutuki kelancangan lidahnya sendiri. Seumur hidup, pewaris tunggal dinasti Moretti ini tidak pernah takut menghadapi siapa pun. Ia tidak takut pada kekejaman ayahbya, tidak gentar pada gertakan keluarga Miller, bahkan tidak takut pada kematian itu sendiri. ​Tetapi malam ini, ia justru berteku

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 257 — Pemaksaan Sarah

    Seorang wanita cantik berusia paruh baya berdiri di ambang pintu. Sarah Maheswari, ibu kandungnya. Wanita yang selama ini menjadi satu-satunya keluarga sedarah yang masih dimilikinya. Sarah tersenyum lembut. Namun ada sesuatu di balik senyuman itu. Sesuatu yang membuat Nadine merasa tidak nyaman. "Ibu boleh masuk?" 'Tumben ibu minta ijin, biasanya ia masuk tanpa bertanya,' pikirnya. Nadine hanya bisa mengangguk kaku. "Tentu." Sarah berjalan masuk, lalu duduk di tepi sofa dekat jendela. Tatapannya langsung tertuju pada wajah putrinya. "Kau terlihat pucat." "Aku baik-baik saja. Hanya saja sedikit kurang tidur." "Itu bohong." Nadine terdiam. Sarah menghela napas. "Kau selalu mengatakan baik-baik saja padahal sebenarnya tidak." ​Keheningan yang mencekam sempat tercipta di antara mereka, sebelum akhirnya Sarah kembali membuka suara dengan nada yang bergeser menjadi lebih dingin. "Aku sudah mendengar apa yang terjadi kemarin." Nadine langsung menegang. "Tenta

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 256 — Ingatan semalam

    Pagi hari menyelimuti Mansion Saint Noire. Cahaya matahari musim semi yang hangat perlahan menerobos tirai putih transparan yang menjuntai anggun dari langit-langit tinggi, meluncur jatuh menyentuh permukaan lantai marmer yang mengilat.Nadine perlahan membuka kelopak matanya. Tubuhnya masih didera rasa lemas yang luar biasa. Kelelahan fisik dan mental yang menumpuk tanpa jeda, diperparah oleh janin muda yang kini tengah tumbuh di dalam rahimnya.Beberapa detik berlalu sebelum kesadarannya kembali sepenuhnya. Pandangannya bergerak pelan ke arah langit-langit kamar.Sunyi.Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar. Namun justru dalam kesunyian itulah pikirannya kembali diserang oleh kenangan semalam. Kenangan yang membuat dadanya kembali terasa sesak."...kalau seandainya pria di hotel malam itu bukan Miller..."Suara Dominic kembali bergema di dalam kepalanya.Nadine menutup mata. Ingatan itu terasa begitu jelas. Seolah baru terjadi beberapa menit yang lalu.Ia masih ingat ba

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 255 — Apakah kau menerimanya?

    Tak lama kemudian mobil Lukas meninggalkan area mansion. Lampu belakang kendaraan mewah itu perlahan menghilang di balik gerbang utama Saint Noire.Dominic tetap berdiri di tempatnya. Diam, tidak bergerak. Kepalanya dipenuhi oleh jaring-jaring kecurigaan baru. Christian Miller telah menjebaknya di hotel malam itu, merusak rekaman CCTV, dan membuatnya terbangun di pagi hari tanpa mengetahui siapa gadis yang bersamanya karena ingatan yang tidak sempurna.Sebuah pikiran muncul tiba-tiba. Bagaimana jika... gadis malam itu bukan orang asing? Bagaimana jika...Napas Dominic tertahan.Sebuah kemungkinan yang selama ini tidak pernah benar-benar ia pertimbangkan muncul di kepalanya. Liar, mustahil dan gila.Bagaimana jika gadis malam itu adalah Nadine?Jantungnya berdetak keras, sangat keras. Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun memimpin operasi keluarga Moretti, Dominic merasa takut pada sebuah kemungkinan.Akhirnya ia kembali ke ruang tamu, Nadin

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 254 — Dan menurutmu itu masuk akal?

    ​Dominic mengepalkan tangan, sedangkan Lukas tetap diam. Sebastian berdiri dari sofa. "Aku hanya menundanya sampai situasi lebih stabil." Setelah mengatakan itu, pria tua tersebut berjalan meninggalkan ruang tamu. Langkahnya mantap. Punggungnya tegak.Tetapi... ia tampak membawa beban yang lebih berat dari biasanya, namun keputusan akhirnya bersifat mutlak dan belum berubah. ​Pintu ruang kerja Sebastian tertutup, meninggalkan tiga orang di ruang tamu dalam keheningan yang aneh dan canggung. Nadine, Dominic, dan Lukas. ​Beberapa detik berlalu tanpa ada satu pun yang membuka suara, sampai akhirnya Lukas mengambil jasnya dari sandaran sofa. "Aku akan pulang." ​Nadine menoleh. Lukas menyunggingkan sebuah senyuman tipis, sebuah senyuman yang jauh lebih menenangkan dibandingkan milik Dominic maupun Christian. ​"Beristirahatlah," ucap Lukas lembut. "Tubuhmu membutuhkannya." ​Nadine mengangguk pelan, bibirnya bergerak kaku. "Terima ka

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status