LOGINMoncong pistol berperedam suara itu telah terkunci lurus pada dada Nadine. Maximillian Miller menyunggingkan senyum gila. Ibu jarinya menekan pelatuk tanpa ragu.Senjata itu hanya melepaskan sekelebat angin tumpul, bersamaan dengan sebutir selongsong kuningan yang jatuh berdenting di lantai ballroom. Sedetik kemudian, timah panas sudah meluncur cepat membelah udara, mengincar tepat jantung wanita yang dianggapnya sebagai biang kehancuran keluarga Miller. Lukas yang berada paling dekat dengan Nadine baru saja hendak menarik tangan wanita itu. Namun, refleks seorang Dominic Moretti melampaui batas kecepatan manusia biasa. Melihat kilatan senjata dari balik kerumunan, Dominic tidak membuang waktu sedetik pun. Dengan sisa tenaga dari tubuhnya yang sebenarnya belum pulih, Dominic menerjang maju, memasang tubuh tegapnya tepat di depan Nadine seraya memeluk erat kepala dan tubuh gadis itu ke dalam dadanya. BAMM! Hantaman telak merobek daging. Peluru tajam itu menembus tepat di dada
Tak berhenti di situ, layar berpindah menampilkan dokumen dan rekayasa jebakan buatan Arthur Miller dan Christian Miller. Dokumen yang membongkar bagaimana keluarga Miller sengaja memanipulasi, menjebak Nadine disebuah kamar hingga Dominic ikut dijebak juga oleh Christian, akibatnya obat sialan itu membuat mereka tidur bersama di kamar 404. "Keluarga Miller memanfaatkan kepolosan Nadine untuk menghancurkan Moretti dari dalam," ujar Dominic datar, suaranya tenang tanpa emosi namun menusuk tulang. "Mereka merekayasa bukti dan membuat Nadine menderita sejak kecil hingga sekarang. Dan hari ini, jam empat subuh tadi... Arthur Miller sudah dinyatakan tewas. Keluarga Miller runtuh total. Tidak ada lagi manipulasi." Seluruh ruangan bungkam rapat. Bukti video dari seberang kamar 404 dan dokumen itu terlalu otentik untuk dibantah. Sarah Maheswari yang berdiri di barisan depan terduduk kaku di kursinya, tatapannya kosong dan napasnya tersengal. Wanita itu kehila
Seruan dominan Dominic merobek keheningan ballroom.Jemari Lukas yang memegang cincin berlian terhenti tepat beberapa sentimeter dari jari manis Nadine. Seluruh pasang mata tamu undangan, termasuk pejabat tinggi dan jajaran elite aliansi, seketika tertuju lurus pada sosok Dominic yang melangkah tenang namun penuh aura ancaman menuju panggung utama.Di barisan terdepan tamu VIP, pasangan suami istri berpenampilan sangat anggun dan berwibawa, William Kaiser Vance dan Elena Vance saling lempar pandang dengan kening berkerut dalam. Sebagai pemimpin keluarga Vance yang bijaksana dan dihormati, William tetap bersikap tenang meski sorot matanya menajam. Di sampingnya, Elena yang ramah dan penuh kasih menatap calon menantunya dengan raut cemas."Dominic... apa-apaan ini?!" bentak Sebastian Moretti. Wajah pria paruh baya itu merah padam. Aura kepemimpinan Sebastian meledak oleh rasa geram yang tak tertahankan. "Ini acara pertunangan adikmu! Kurang ajar sekali kau menyela!"D
Pagi berganti begitu cepat, membawa ketegangan terselubung di seluruh penjuru Kota Nasan. Aula Sandberg Grand Ballroom, gedung megah milik keluarga Vance, telah disulap menjadi panggung megah berhias ribuan mawar putih. Ratusan tamu dari kalangan pejabat tinggi, konglomerat, hingga petinggi mafia papan atas mulai memadati ruangan, saling bertukar senyum palsu di bawah pijar lampu kristal.Di dalam ruang rias khusus di lantai dua gedung, suasana terasa hampa.Nadine duduk terdiam di depan cermin besar berbingkai emas. Gaun malam berwarna krem lembut berbalut kain sutra membungkus tubuh cantiknya dengan sempurna. Rambut hitamnya disanggul modern dengan beberapa helai dibiarkan jatuh membingkai wajahnya yang menawan.Seorang penata rias sibuk memoleskan perona di pipinya untuk menyamarkan kelesuan pada paras ayunya."Nona Nadine sungguh cantik sekali..." puji sang penata rias pelan.Nadine hanya menyunggingkan senyum tipis yang dipaksakan. Matanya menatap kosong ke arah cermin. Di dala
Dominic yang menyaksikan interaksi singkat itu hanya menatap adiknya dengan dingin, sebelum akhirnya melangkah maju mendekati Nadine untuk memutus perhatian wanita itu dari Matteo. "Nadine," panggil Dominic lembut. Nadine menoleh. Mata jernihnya yang jeli reflek menangkap sesuatu. Ujung kemeja putih Dominic yang tidak dimasukkan rapi kedalam celana akibat pengobatan yang baru selesai, melambai agak panjang menembus bagian bawah jasnya. Napas Nadine seketika tertahan, noda merah pekat yang merembes lebar di ujung kain kemeja tepat dirusuk kanan Dominic lengkap dengan jejak goresan tipis dipelipis sang kakak tiri terlihat begitu jelas, usaha untuk menutupi yang berujung sia-sia. Rasa mual Nadine menguap seketika, berganti rasa cemas yang meremukkan dadanya, usaha menjaga jaraknya runtuh begitu saja. Nadine mendekat dengan langkah gemetar, mengulurkan tangannya di udara dengan raut wajah panik. "Kak... kemejamu berdarah... Kakak terluka parah, kan?" cicit
Keheningan mendadak menyergap ruang kerja Dominic. Dominic yang baru saja hendak merapikan kemeja putihnya yang koyak mendadak kaku. Victor terdiam seketika, sementara Matteo menoleh cepat ke arah pintu dengan sepasang mata menyipit tajam. "K-Kak Dominic...? Benarkah itu...?" Suara cemas Nadine di balik pintu terdengar begitu lembut, bergetar menahan panik. Sebenarnya Nadine sudah berusaha keras menjaga jarak dan membatasi diri usai kejadian emosional di kamarnya. Namun, ketika seorang pelayan tak sengaja berbisik bahwa Dominic kembali dalam keadaan terluka parah, naluri dan rasa khawatirnya langsung mengalahkan akal sehat. Tanpa sadar kakinya menyeretnya ke ruang kerja pria itu. Mendengar kedatangan Nadine yang tiba-tiba, Dominic yang panik tak ingin membuat wanita itu cemas berlebihan, terutama demi menjaga kondisi batin Nadine dan janin di rahimnya. Pria itu buru-buru menyambar jas hitamnya di atas meja, memakainya dengan gerakan cepat untuk menutupi keme







