LOGINAku membeku. Kalimat itu terdengar aneh, tidak pada tempatnya, namun juga tidak terasa mengancam. Justru sebaliknya. Ada sesuatu yang… seperti pertimbangan di dalamnya. Aku mengerutkan kening sejenak, mencoba memahami apa maksudnya. Apakah ia akan berusaha menjadi kriteria kakak yang penyayang? Kakak yang memberinya ruang? Kakak yang bertanya sebelum memutuskan? Ataukah ia sedang berusaha memenuhi syarat kebebasanku agar aku tidak membencinya? Sebelum aku sempat meminta penjelasan lebih lanjut, atau sekadar memastikan pendengaranku tidak salah, Dominic sudah melangkah pergi. Cklek. Pintu tertutup pelan. Keheningan kembali menguasai kamar, meninggalkan aroma cendana dan citrus miliknya yang masih menggantung tipis di udara, seolah-olah kehadirannya belum sepenuhnya luntur dari sana. Aku menatap ke arah daun pintu itu beberapa detik lebih lama, mencerna ucapannya. Dominic Moretti bukanlah pria yang mudah mengucapkan kata “akan kuusahakan.” Di dunia mereka yang hitam, kat
Jantungku benar-benar sempat berhenti ketika kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya.Bukan hanya kata-katanya yang membuat darahku membeku. Cara ia mengucapkannya, tenang, tanpa senyum, tanpa nada bercanda, itulah yang membuatnya terasa nyata.Udara di kamar mendadak berat.Aku terbelalak, menatapnya dengan rasa tidak percaya. Tubuhku refleks mundur sedikit di atas ranjang, seolah jarak fisik bisa menyelamatkanku dari makna di balik kalimatnya.“Kak…” suaraku serak. “Kau bicara apa? Kita saudara. Walaupun hanya saudara tiri, tapi tetap saja… itu tetap salah.”Dominic tidak langsung menjawab. Rahangnya menegang tipis. Ia berdehem kecil, seperti seseorang yang baru menyadari ucapannya telah melampaui batas kewajaran. Wajahnya kembali datar. Terlalu cepat.“Maksudku,” katanya pelan, nyaris terkendali sempurna, “jika kriteria suamimu nanti mirip sepertiku, bagaimana? Mengingat akulah yang paling tahu cara menjagamu di rumah ini.”"Oh..." Aku tersenyum tipis, sebuah senyum yang
Jantungku berdetak keras.Itu bukan janji manis.Itu ancaman.Air mata yang sejak tadi bertahan akhirnya jatuh.“Aku tidak mau dilindungi seperti ini,” bisikku. “Aku tidak mau hidup dengan leher terikat tali emas.”Dominic tidak bergerak. "Aku belum mengenal Lukas Kaiser Vance, aku bahkan tidak tahu dia pria seperti apa selain dari kertas-kertas formal itu. Pendidikan. Gelar. Reputasi. Semua sempurna. Tapi aku tidak tahu siapa dia sebagai manusia.”“Dia stabil,” jawab Dominic.“Stabil bukan berarti baik.”“Dia legal. Sistematis. Tidak emosional,” jelas Dominic.“Dan kau pikir aku ingin menikahinya?”Hening.Aku mengusap air mataku kasar."Kenapa Ayah repot-repot menjodohkanku? Padahal kalian berdua, putra-putranya, yang seharusnya dijodohkan terlebih dahulu untuk aliansi bisnis, bukan aku!" Dominic mengeratkan rahangnya. Kilat aneh melintas di matanya, sesuatu yang gelap, haus, dan penuh rahasia. "Kami?" Dominic mendengus dingin. "Aku dan Matteo menginginkan wanita yang sama, Nad
Aku baru saja menyisipkan dokumen tentang Lukas Kaiser Vance ke bawah bantal ketika suara derit pintu terdengar. Tanpa ketukan, tanpa izin. Di rumah ini, privasi adalah kemewahan yang tidak pernah diberikan kepadaku.Pintu terbuka perlahan.Dominic melangkah masuk.Ia tidak pernah terburu-buru. Tidak pernah ragu. Setiap langkahnya terukur, seperti pria yang tahu dunia akan memberi jalan tanpa perlu ia minta.Cahaya lampu lorong membingkai tubuhnya yang tinggi dan kokoh. Bayangannya memanjang di lantai, menyentuh kakiku yang masih terlipat di atas tempat tidur. Ia tidak datang dengan tangan kosong; sebuah nampan berisi makan malam mewah, yang tadi gagal kunikmati karena amukan Matteo yang menghancurkan suasana ruang makan, berada di tangannya.Steak setengah matang, saus lada hitam, kentang panggang, segelas wine merah tua yang mengilap di bawah cahaya.Aroma steak dan wine mahal menguar, namun bagiku, itu tercium seperti suap untuk seorang narapidana. Aku menghela napas panjang
Aku membuka pintu sedikit, hanya menyisakan celah sempit. Ren berdiri tegak di sana. Wajahnya tetap datar, seolah ia terbuat dari batu yang sama dengan fondasi mansion ini, tetapi matanya memancarkan keseriusan yang tidak bisa ia sembunyikan. “Dari Tuan Hans,” katanya pelan, suaranya nyaris seperti bisikan angin. Ia menyerahkan sebuah amplop hitam pekat, warna yang selalu membawa kabar buruk di rumah ini. “Data tentang Tuan Lukas.” Aku menerima amplop itu, namun jemariku tertahan di permukaannya yang halus. “Kenapa kau memberikannya padaku?” tanyaku dengan nada curiga. “Karena Anda berhak tahu siapa yang akan berdiri di hadapan Anda minggu depan. Ini perintah lagsung dari Tuan Sebastian.” Kalimat itu terasa seperti peringatan. Bukan sebuah pemberian tulus, melainkan instruksi agar mangsa mengenal siapa pemburu yang akan datang. Cklek. Pintu kamarku tertutup rapat kembali. Aku masih bersandar di baliknya, membiarkan kayu dingin itu menyangga punggungku yang rapuh. D
Pecahan kaca berhamburan ke segala arah, mengenai kaki meja dan beberapa percikannya memantul ke dekat kakiku. Cairan merah tua itu merembes di atas karpet, terlihat seperti luka yang menganga. “Nadine bukan pion dalam permainan catur!” teriak Matteo frustrasi. Dominic menoleh pada adiknya, tatapannya datar namun tajam. “Semua orang di meja ini adalah pion, Matteo. Termasuk kau. Termasuk aku.” Matteo menatap Dominic dengan benci. “Aku tidak akan menyerahkannya padanya. Tidak pada pria Vance itu, tidak juga pada Miller.” “Kau tidak punya kuasa politik untuk menentukan itu,” balas Dominic dingin. “Aku tidak butuh politik. Aku punya peluru,” desis Matteo. Suasana di antara mereka berdua berubah seketika. Dari amarah bersama terhadap ayah mereka, kini menjadi ancaman terbuka satu sama lain. Aku merasa seperti berada di tengah-tengah dua badai yang siap bertabrakan. Aku berdiri perlahan, mengabaikan rasa nyeri yang menjalar di sekujur tubuhku. “Cukup,” suaranya nyaris retak,







