Home / Mafia / Dua Kakak Tiriku Yang Posesif / Bab 99 — Salah kamar.

Share

Bab 99 — Salah kamar.

Author: Za_dibah
last update Last Updated: 2026-02-22 11:54:29

Dominic membeku.

Untuk pertama kalinya sejak perdebatan sengit di ruang makan itu dimulai, wajahnya yang biasanya kaku seperti pahatan granit, retak.

Sorot matanya yang selama bertahun-tahun ia latih untuk tetap dingin dan terkendali, kini bergetar hebat.

Ada badai yang mengamuk di balik iris abunya, sebuah kekacauan yang selama ini ia kunci rapat di ruang paling gelap dalam batinnya.

“Malam di mana kau kehilangan kendali,” lanjut Matteo, suaranya kini lebih pelan, lebih tajam. “Malam
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 100 — Bagaimana kalau dia hamil?

    Ia segera kembali ke hotel dengan napas yang tercekat, berlari menyusuri lorong yang kini terasa seperti koridor neraka. Namun... Kamar itu sudah kosong. Ranjang yang berantakan menceritakan kisah kebrutalannya semalam. Dan di sana, di atas nakas, cek itu masih tergeletak dengan angkuh di tempat yang sama. ​Tak tersentuh. Tak bergeser. ​Gadis itu bukan wanita panggilan. Gadis itu bukan barang yang bisa dibayar. Ia adalah korban yang tidak menginginkan uang dari pelakunya. ​Rasa bersalah sejak fajar itu menjadi bayangan permanen yang mengikuti ke mana pun Dominic melangkah. Selama berhari-hari, tepatnya kurang dari dua minggu sejak kejadian itu, ia mengerahkan seluruh jaringannya. Ia memerintahkan pencarian tanpa henti. Namun, nasib buruk seolah melindunginya sekaligus menyiksanya: CCTV hotel sedang rusak karena perbaikan sistem, dan identitas tamu di kamar itu tercatat secara samar di bawah nama lain. Jejaknya hilang, seperti ditelan bumi. ​“Aku sudah seles

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 99 — Salah kamar.

    Dominic membeku. Untuk pertama kalinya sejak perdebatan sengit di ruang makan itu dimulai, wajahnya yang biasanya kaku seperti pahatan granit, retak. Sorot matanya yang selama bertahun-tahun ia latih untuk tetap dingin dan terkendali, kini bergetar hebat. Ada badai yang mengamuk di balik iris abunya, sebuah kekacauan yang selama ini ia kunci rapat di ruang paling gelap dalam batinnya. “Malam di mana kau kehilangan kendali,” lanjut Matteo, suaranya kini lebih pelan, lebih tajam. “Malam di mana kau tidak sebersih yang kau pura-purakan sekarang.” Ruangan terasa menyempit. Oksigen seolah tersedot keluar, menyisakan udara pengap yang dipenuhi aroma pengkhianatan. Dinding-dinding marmer yang megah seolah bergerak mendekat, hendak menghimpit Dominic dengan dosa-dosanya sendiri. “Aku tak mengira,” Matteo melanjutkan dengan nada manis yang menyakitkan, “kalau wanita yang kau gunakan saat itu sampai sekarang tak tahu siapa pelakunya. Bayangkan… bagaimana kalau Nadine tahu bahw

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 98 — Kau lupa tentang malam itu?

    Begitu bayangan Nadine lenyap di balik pintu ruang makan, keheningan yang tertinggal bukan lagi sunyi biasa, ia menjelma menjadi sesuatu yang tajam, tipis, dan berbahaya. Seperti bilah pisau yang diletakkan mendatar di atas meja marmer putih, menunggu siapa yang cukup ceroboh untuk menyentuhnya.Atmosfer ruangan itu berubah seketika, dari sandiwara keluarga yang hangat menjadi arena gladiator yang dingin. Matteo menyandarkan punggungnya dengan santai, tetapi sorot matanya tidak pernah santai.Ia melipat tangan di dada, rahangnya tegang hingga urat-urat di lehernya terlihat jelas. Sudut bibirnya melengkung tipis, senyum yang lebih menyerupai ejekan daripada hiburan. Para pelayan, yang sudah terlalu lama hidup di bawah atap keluarga ini, segera mengosongkan ruangan tanpa perlu diperintah. Mereka tahu tanda-tandanya. Mereka tahu kapan badai akan pecah dan kapan lantai marmer ini mungkin akan kembali berlumuran darah. “Jadi,” Matteo memulai, suaranya kini tidak lagi dibalut tawa ringan

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 97 — Harapan adalah candu yang berbahaya.

    Matahari pagi Nasan tidak pernah benar-benar hangat. Cahayanya pucat dan tipis, seperti enggan menyentuh dinding batu mansion Saint Noir yang berdiri megah. Sinar yang menembus jendela-jendela tinggi ruang makan membentuk garis-garis panjang di atas meja marmer putih sepanjang tiga meter. Meja itu selalu tersaji sempurna, seolah setiap pagi adalah adegan dalam drama keluarga yang dirancang dengan presisi yang mematikan. Aroma kopi Arabika yang pahit, roti panggang mentega yang baru keluar dari oven, dan potongan buah segar memenuhi udara. Wangi yang bagi keluarga normal mungkin membangkitkan selera. Bagiku? Itu adalah aroma sandiwara. Seperti biasa, Pak Hans memasang kamera kecil di sudut ruangan yang strategis. Tidak ada yang perlu dijelaskan atau diperdebatkan mengenai keberadaan lensa itu. Rekaman sarapan ini akan dikirimkan langsung ke Maladewa melalui jalur pribadi. Tujuannya hanya satu: Sebastian Moretti, sang kepala keluarga sekaligus investor utama dalam "proyek k

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 96 — Berusaha menjadi kriteria yang kuinginkan.

    Aku membeku. Kalimat itu terdengar aneh, tidak pada tempatnya, namun juga tidak terasa mengancam. Justru sebaliknya. Ada sesuatu yang… seperti pertimbangan di dalamnya. Aku mengerutkan kening sejenak, mencoba memahami apa maksudnya. Apakah ia akan berusaha menjadi kriteria kakak yang penyayang? Kakak yang memberinya ruang? Kakak yang bertanya sebelum memutuskan? Ataukah ia sedang berusaha memenuhi syarat kebebasanku agar aku tidak membencinya? Sebelum aku sempat meminta penjelasan lebih lanjut, atau sekadar memastikan pendengaranku tidak salah, Dominic sudah melangkah pergi. Cklek. Pintu tertutup pelan. Keheningan kembali menguasai kamar, meninggalkan aroma cendana dan citrus miliknya yang masih menggantung tipis di udara, seolah-olah kehadirannya belum sepenuhnya luntur dari sana. Aku menatap ke arah daun pintu itu beberapa detik lebih lama, mencerna ucapannya. Dominic Moretti bukanlah pria yang mudah mengucapkan kata “akan kuusahakan.” Di dunia mereka yang hitam, kat

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 95 — Keinginanku adalah kebebasan.

    Jantungku benar-benar sempat berhenti ketika kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya.Bukan hanya kata-katanya yang membuat darahku membeku. Cara ia mengucapkannya, tenang, tanpa senyum, tanpa nada bercanda, itulah yang membuatnya terasa nyata.Udara di kamar mendadak berat.Aku terbelalak, menatapnya dengan rasa tidak percaya. Tubuhku refleks mundur sedikit di atas ranjang, seolah jarak fisik bisa menyelamatkanku dari makna di balik kalimatnya.“Kak…” suaraku serak. “Kau bicara apa? Kita saudara. Walaupun hanya saudara tiri, tapi tetap saja… itu tetap salah.”Dominic tidak langsung menjawab. Rahangnya menegang tipis. Ia berdehem kecil, seperti seseorang yang baru menyadari ucapannya telah melampaui batas kewajaran. Wajahnya kembali datar. Terlalu cepat.“Maksudku,” katanya pelan, nyaris terkendali sempurna, “jika kriteria suamimu nanti mirip sepertiku, bagaimana? Mengingat akulah yang paling tahu cara menjagamu di rumah ini.”"Oh..." ​Aku tersenyum tipis, sebuah senyum yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status