หน้าหลัก / Romansa / Dua Wajah Sang Kaisar / BAB 11: Raga Asing di Balik Jeruji Tanah

แชร์

BAB 11: Raga Asing di Balik Jeruji Tanah

ผู้เขียน: Kyung Eya
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-01 21:45:54
Rasa sesak yang menyerang kesadaran itu datang bersamaan dengan aroma tanah basah dan bau apek dari akar-akar pohon yang membusuk. Ketika netra itu pertama kali terbuka, hal pertama yang tertangkap bukanlah gemerlap lampu gantung kristal di butik mewah Jia’s Atelier, bukan pula pantulan cahaya rembulan di atas riak tebing Wanghai yang dingin. Melainkan sebuah kegelapan yang pekat dan pengap. Sesuatu yang terasa seperti dinding tanah liat yang sempit mengimpit tubuhnya dari segala sisi.

Jia Li me
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Dua Wajah Sang Kaisar   BAB 109: Altar Gerhana Bulan Merah

    "Hao Yu... lihatlah ke atas langit. Apakah warnanya selalu semerah ini saat musim dingin tiba?"Suara Yi Fang terdengar sangat rapuh, terselip tipis di antara deru angin malam Puncak Canglan yang menderu liar bagaikan ribuan hantu kelaparan. Di atas permukaan altar batu kuno yang permukaannya diselimuti ukiran aksara purba, tubuh wanita itu dibaringkan dengan kehati-hatian yang melampaui batas kesabaran manusia. Di bawah hamparan jubah bulu domba tebal dan selimut wol berhias sulaman Benang Pelindung, raga Yi Fang tampak begitu kecil dan tak berdaya melawan dinginnya takdir.Hao Yu tidak langsung menjawab. Ia merendahkan tubuhnya, berlutut di atas batu altar yang sedingin es, lalu mendekatkan wajahnya ke sisi kepala istrinya. Mata lelaki itu merah menyala, bukan karena amarah, melainkan karena air mata yang terus-menerus mendesak keluar dan membeku seketika di udara terbuka."Langit tidak pernah semerah ini, Yi Fang," jawab Hao Yu dengan suara bariton yang parau dan bergetar hebat. Ia

  • Dua Wajah Sang Kaisar   BAB 108: Perjalanan Menuju Puncak Canglan

    Langit di atas Pegunungan Utara tidak lagi berwarna hitam beludru. Pendar sinar rembulan yang biasanya berwarna perak lembut kini perlahan-lahan terserap oleh bayangan bumi, berganti menjadi warna merah tembaga yang mengerikan sekaligus magis. Gerhana bulan merah telah tiba di puncaknya. Sinar kemerahan itu menembus kabut tebal, memantul di atas hamparan salju perbukitan dan menyulap seluruh lanskap hutan pinus menjadi bagaikan lautan darah yang membeku.Di depan pintu pondok kayu, Dukun Suci Kekaisaran berdiri tegak dalam jubah hitam bersulam benang perak. Angin malam yang kencang mengibarkan helai rambut peraknya yang terurai, namun sosoknya tetap tak bergeming bagaikan patung batu. Di sampingnya, Nenek Cenayang Pegunungan memegang sebatang tongkat kayu pinus tua, manik mata kelabunya menatap lurus ke arah puncak tertinggi Pegunungan Canglan.

  • Dua Wajah Sang Kaisar   BAB 107: Kehangatan Sebelum Badai

    "Jangan pernah potong rambut Nian Zhi sampai usianya genap tujuh tahun."Hao Yu menghentikan jemarinya yang sedang memegang sisir kayu cendana. Di dalam kamar pondok yang remang-remang oleh pendar api perapian, ia menatap bayangan wajah Yi Fang dari balik cermin tembaga kusam di meja rias. Rambut hitam pekat milik istrinya yang halus bagaikan sutra terurai panjang hingga melewati pinggang, jatuh lembut di atas selimut kain rami."Kenapa harus menunggu sampai tujuh tahun?" bisik Hao Yu. Suara baritonnya terdengar amat pelan, bergetar menahan desakan sesak di dada yang tak kunjung surut.Yi Fang menyunggingkan senyuman paling tipis, menikmati setiap helai usapan sisir kayu yang ditarik pelan oleh Hao Yu dari pangkal kepala hingga ujung rambutnya."Di tempat asalku... atau setidaknya dari cerita-cerita tua yang pernah kubaca," tutur Yi Fang seraya memejamkan mata, meresapi kehangatan jemari suaminya, "seorang anak yang lahir di tengah badai harus dibiarkan rambutnya memanjang sebagai ben

  • Dua Wajah Sang Kaisar   BAB 106: Nyala Kecil Sebelum Gulita

    Tidak ada lagi pembicaraan mengenai tabib, obat-obatan herbal, atau pencarian mantra penyembuhan. Keputusan telah diambil, dan kini yang tersisa hanyalah kepasrahan yang manis serta duka yang teramat dalam namun dibungkus oleh rasa kasih yang meluap.Pagi itu, sinar matahari terbit memancarkan warna keemasan yang lembut menembus celah jendela. Di dalam kamar, Yi Fang duduk bersandar di tumpukan bantal wol tebal. Wajahnya masih pucat pasi dan tubuhnya makin melemah seiring berjalannya hari, namun matanya memancarkan kedamaian yang tak tergoyahkan.Di pangkuannya, terbentang selembar kain selimut bayi berbahan rami paling halus. Jemari lenturnya yang kian kurus dan dingin memegang sebatang jarum perak kecil serta benang sutra berwarna indigo dan emas. Dengan kehati-hatian yang luar biasa, Yi Fang menusukkan jarum itu menembus serat kain, menganyam pola sulaman yang indah.Hao Yu melangkah masuk membawa sebuah mangkuk tanah liat berisi sup kaldu burung puyuh hangat yang ia rebus sejak su

  • Dua Wajah Sang Kaisar   BAB 105: Keputusan di Bawah Rembulan

    "Jangan berbohong padaku, Hao Yu. Tatap mataku saat kau bicara."Suara Yi Fang terdengar begitu tipis, menyerupai hembusan angin malam yang menerobos lewat celah jendela kayu. Namun, nada di balik bisikan itu memiliki keteguhan yang sanggup meruntuhkan pertahanan terbatin pria tegap di hadapannya.Hao Yu berdiri mematung di ambang pintu kamar. Langkah kakinya yang biasa begitu mantap dan kokoh kini terasa seberat bongkahan batu gunung. Pria yang baru saja kembali dari gua Puncak Pinus Merah itu menundukkan kepalanya sangat rendah. Bahunya yang lebar bergetar halus, mencoba menahan emosi dahsyat yang mencabik-cabik dadanya sejak ia melangkah turun menyusuri jalan setapak bersalju."Aku... aku hanya kelelahan," sahut Hao Yu parau. Suara baritonnya pecah. Ia menolak menaikkan p

  • Dua Wajah Sang Kaisar   BAB 104: Bisikan sang Cenayang Pegunungan

    Suasana di dalam gua batu Puncak Pinus Merah mendadak hening total. Hanya terdengar derak halus dari ranting kayu yang terbakar di perapian kecil. Asap tipis yang membawa aroma wangi akar kayu hutan dan daun mint kering membumbung pelan ke udara, memberikan sensasi hangat yang menenangkan saraf-saraf Hao Yu yang tegang.Nenek Cenayang menatap pria tegap di hadapannya dengan pandangan yang dalam. Matanya mengamati bekas luka jahitan di pipi Hao Yu, membaca garis-garis kepedihan di dahinya, serta merasakan gelora keputusasaan dahsyat yang sedang mengamuk di dalam dada sang mantan panglima."Anak muda yang perkasa," tutur Nenek Cenayang dengan suara yang sangat lembut, bagaikan belas kasih seorang ibu yang menenangkan anaknya yang sedang ketakutan. "Kau telah memenangkan banyak pertempuran berdarah dengan pedang dan taktikmu di medan pe

  • Dua Wajah Sang Kaisar   BAB 5: Pelarian ke Ujung Dunia

    Lampu-lampu kota melintas di luar jendela mobil bagaikan garis-garis cahaya yang buram dan membingungkan. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku mengemudikan sedan hitamku membelah jalanan protokol yang mulai lengang oleh kendaraan. Kepalaku terasa kosong, hampa, namun di saat yang sama, ada badai ya

  • Dua Wajah Sang Kaisar   BAB 4: Sayap yang Dipatahkan

    Wang Jun terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar sangat meremehkan dan sarat akan keangkuhan, seolah pertanyaan defensif yang kuajukan adalah hal paling konyol dan naif yang pernah dia dengar dari seorang wanita paruh bangkrut."Seorang wanita yang menyandang nama belakang Marga Wang tidak perlu

  • Dua Wajah Sang Kaisar   Bab 1: Jam Pasir

    Suara ketukan ujung sepatu pantofel di atas lantai marmer Italia butikku terdengar bagaikan detak jam pasir yang sedang menghitung mundur sisa-sisa kejayaanku. Setiap ketukan membawa gaung yang berat, memantul di antara dinding-dinding kaca yang memajang mahakarya terbaikku. Pagi ini, atmosfer di d

  • Dua Wajah Sang Kaisar   Prolog

    Aku tidak boleh mati! Aku harus tetap hidup!Siapapun, tolong aku!Suara itu bergema hampa, terjebak di dalam labirin pikiranku sendiri. Di sini, di tempat aku berada saat ini, semuanya tampak gelap gulita, pekat, dan teramat menyesakkan. Rasa dingin yang luar biasa merayap perlahan, membekukan alir

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status