LOGINRestoran Le Granier di kawasan elit ibu kota siang itu begitu lengang. Musik klasik mengalun tipis di udara, berpadu dengan aroma kopi mahal dan interior kayu mahoni yang memancarkan kesan mewah sekaligus dingin.
Kinara melangkah perlahan menuju meja privat di sudut ruangan. Jantungnya berdebar kencang saat melihat sosok wanita yang sudah duduk menunggunya. Valerie Sutedja tampil menawan dalam balutan blazer hitam kustom bersiluet tegas. Pandangan matanya yang tajam bak seValerie! Jangan konyol!" Sesosok pria berkemeja mewah melangkah maju dengan raut wajah gusar—Alexander, suami Valerie. Dengan cengkeraman yang begitu kasar dan impulsif, Alex menyambar pergelangan tangan Valerie, menarik tubuh istrinya secara paksa hingga wanita itu terdorong ke belakang. "Ikut aku pulang sekarang! Jangan mempermalukan dirimu di hadapan Ayah dan media cuma demi membela anak ini!" "Lepaskan aku, Alex!" ringis Valerie, mencoba menghempaskan tangannya. Sebelum Alex sempat menarik Valerie lebih jauh, sebuah tangan tegap lain mendadak mencengkeram lengan Alex dengan cengkeraman sekuat besi. Alex tersentak kaku, menoleh tajam. Devan berdiri tepat di samping mereka. Pria itu tetap mempertahankan posisi tubuhnya yang tegap dan wajahnya yang tanpa ekspresi. Namun, urat-urat di lehernya menegang kaku, dan binar mata di balik kacamatanya berkilat penuh amarah. "Harap jaga sikap dan batasan Anda, Tuan Alexander," ujar Devan dengan suara bariton yang sangat tenang, so
Aula utama Grand Ballroom malam itu menjelma menjadi lautan kemewahan. Lampu-lampu kristal memancarkan cahaya keemasan yang menimpa gaun-gaun malam mahal dan setelan tuxedo para pengusaha papan atas, pejabat tinggi, serta puluhan awak media nasional. Di atas panggung utama, Giselle berdiri anggun dengan gaun merah marun yang menyapu lantai. Senyum tipis nan penuh kemenangan menghiasi wajah cantiknya. Di sampingnya, Arthur Sutedja berdiri dengan wibawa penuh dan orang tua Giselle. "Selamat malam, para hadirin yang terhormat," suara pembawa acara menggema hangat melalui sistem pengeras suara. "Malam ini, di tengah perayaan kejayaan Sutedja Group, kita juga akan menjadi saksi bisu dari aliansi terbesar abad ini ... pengumuman resmi pertunangan antara Valentino Sutedja dan Giselle Vivian Chen!" Tepuk tangan riuh membahana di seluruh penjuru aula. Giselle melirik ke arah Leo yang berdiri tegap di sampingnya. Leo tampak begitu tampan, namun raut wajahnya kaku bagai pahatan es, dan binar
Udara pagi di kota kecil yang sejuk ini terasa jauh lebih ramah dibanding Jakarta. Kinara merapikan kemeja putih berlapis blazer kremnya di depan cermin apartemen sewaannya yang baru, lalu memoleskan lipstik dengan warna natural. Ada binar keteguhan yang kian menguat di matanya. Ini adalah hari pertamanya memenuhi panggilan wawancara kerja di PT Buana Alam Mandiri—perusahaan ekspor-impor buah dan hasil alam lokal. Begitu melangkah masuk ke dalam gedung kantor yang mengusung konsep modern-asri tersebut, Kinara diarahkan menuju ruang wawancara di lantai dua. Di dalam ruangan berpendingin udara itu, seorang wanita paruh baya berpenampilan rapi menyambutnya hangat. "Selamat pagi, Mbak Kinara. Saya Fitri dari tim HRD," sapa wanita itu seraya meneliti berkas di tangannya. Matanya berbinar kagum. "Jujur, rekam jejak Mbak Kinara di bidang manajemen bisnis dan gelar S3 ini sangat impresif. Kami sangat beruntung Anda mau melamar untuk posisi Manajer Pemasaran di sini." Kinara menyunggingkan
Malam menancapkan keheningan yang pekat di sebuah sudut jalanan sepi kawasan Menteng. Di dalam mobil sedan hitam yang terparkir di bawah rindangnya pohon asam, Devan menyerahkan sebuah map kulit berwarna cokelat tua yang terkunci klip khusus kepada Valerie Sutedja. "Seluruh berkas rahasia lima tahun lalu yang dikunci rapat oleh Tuan Arthur," ujar Devan dengan suara bariton rendah nan tegang. Valerie menyambar map tersebut dengan jemari yang gemetaran halus. Ia melepaskan klip besi penguncinya, lalu membuka salinan arsip penerbangan privat, laporan medis darurat yang sengaja diklasifikasikan, hingga dokumen reservasi kamar hotel yang diblokir lima tahun lalu. Mata Valerie menyusuri baris demi baris kronologi malam itu. Semakin dalam ia membaca, semakin memudar warna di wajah cantiknya. Fakta yang tertera di lembar-lembar kertas itu begitu gelap, rumit, dan mengerikan—sebuah konspirasi dingin yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Malam lima tahun lalu saat Leo mendadak dikirim Ar
Langkah kaki Valerie yang beralaskan high heels terdengar ketok-ketok halus di atas marmer lorong kediaman utama Sutedja. Jas kerja yang melekat di tubuh anggunnya terasa membatu pasca-seharian mengurus kesibukan kantor. Namun, niatnya untuk langsung menuju kamar terhenti seketika begitu melintasi depan pintu kayu jati tebal ruang kerja ayahnya yang sedikit renggang. Dari balik pintu, terdengar gema suara bariton tinggi yang sarat akan amarah. "Aku tidak akan menikah sekarang, Ayah!" Valerie menghentikan langkahnya. Adiknya sedang mengepalkan tangan tegap di hadapan meja kerja ayah mereka–Arthur Sutedja. "Jangan bertindak konyol, Valen," sahut Arthur dengan nada dingin yang sarat akan dominasi. "Aliansi dengan Chen Enterprise lewat pernikahanmu dan Giselle sudah dirancang sejak lama. Kamu tidak punya alasan untuk terus mengulur waktu!" "Aku punya hak atas hidupku sendiri!" bentak Leo dengan rahang mengeras rapat. Binar matanya berkilat liar. "Aku menolak dipaksa menikahi Giselle!
Kinara duduk di balik meja kerjanya, menatap keluar jendela kaca yang memantulkan langit pagi Jakarta. Jemari halusnya mengelus pelan bibirnya sendiri yang terasa masih sedikit hangat. Tanpa sadar, sebuah senyuman tipis nan manis terukir di bibirnya. Pikirannya melayang pada momen semalam—pada tatapan mata hitam Leo yang begitu dalam, pelukan posesifnya yang hangat, serta janji-janji tegas yang meluncur dari bibir pemuda dua puluh enam tahun itu. Kinara terkekeh pelan dalam keheningan ruang kerjanya. Sungguh gila. Bocah yang tiga bulan lalu ia anggap sekadar anak magang polos, kini justru bertindak jauh lebih dewasa, pemberani, dan protektif ketimbang pria-pria matang yang pernah dikenalnya selama ini. 'Aku benar-benar sudah jatuh padanya ...' bisik batin Kinara pasrah. Rasa cinta itu kini hadir tanpa bisa dibendung lagi. Setiap sudut ruangan ini, aroma kopi di pagi hari, hingga berkas-berkas laporan di mejanya seolah terus menghadirkan sosok Leo di sekitarnya. Brak! Pintu ruang







