Compartilhar

5. Telepon dari Rumah

Autor: Blue Ice
last update Data de publicação: 2026-09-04 17:27:28

"Luka di pipimu ..." gumam Leo tanpa sadar, memperhatikan memar kecil di wajah Arkana. "Kenapa?"

Arkana mengusap hidungnya, meninggalkan sedikit noda es krim di pipinya yang lain. "Jatuh di sekolah tadi, Om."

Leo terkekeh pelan. Tanpa ragu, pria itu mencabut sapu tangan kain dari saku jasnya. Dia berlutut dengan satu kaki, menyamai tinggi badan Arkana, lalu mengusap noda cokelat cemong di sekitar bibir dan pipi Arkana dengan sangat telaten dan lembut.

"Makan es krim sampai cemong begini," kata Leo dengan suara yang sangat halus, jauh dari kesan dingin yang biasa dia tampilkan pada orang lain.

"Namamu siapa, Jagoan?"

"Alkana, Om. Dipanggil Alka," jawab bocah itu jujur.

“Alka?” tanya Leo untuk memastikan.

“Alka, Om … ALKA!” tegas Arkana. Namun lidah cadelnya masih sulit menyebutkan huruf R dengan benar.

Beruntungnya, Leo langsung paham. " Oh, Arka. Nama yang gagah seperti orangnya,” puji Leo seraya mencubit pipi gembul Arkana.

"Om siapa? Kok, Alka baru pernah lihat Om di kantol Mama?" tanya Arka polos.

Jantung Leo berdegup satu kali lebih kencang. ‘Mama?’

Ia menoleh ke sekeliling. Di sini hanya lantai untuk Divisi Pengembangan Bisnis. Pintu terdekat hanyalah ruangan manajer, yang merupakan ruangan Kinara. Kebetulan pintu itu sedikit terbuka. Kemungkinan besar anak ini dari ruangan itu.

"Mama kamu ... Bu Kinara?" tanya Leo memastikan.

Arkana mengangguk polos. "Iya! Om kenal Mama?"

Leo menatap Arkana dalam-dalam. Perasaan menggelitik di dadanya makin menjadi-jadi. Ada dorongan aneh di dalam dirinya yang ingin merengkuh bocah ini, memeluknya erat dan menjaganya dengan protektif.

"Iya, Om kenal Mama kamu," jawab Leo tipis, sebuah sunggingan senyum tulus terukir di bibirnya. "Om bekerja untuk Mama kamu."

"Wah, belalti Om temannya Mama?" mata Arkana berbinar gembira. "Om, es klim Alka jatuh ... tapi Alka tidak boleh nangis kata Mama."

Leo terkekeh renyah. Dia mengacak rambut Arkana dengan gemas. "Anak pintar. Bagaimana kalau Om ganti es krimnya yang baru? Tapi Arka tunggu di dalam ruangan Mama, ya?"

"Benelan, Om?!" seru Arkana girang, melupakan rasa sakit di lututnya.

"Beneran. Tapi janji, jangan berkeliaran lagi di koridor, berbahaya," ucap Leo seraya mengacungkan jari kelingkingnya.

Arkana tanpa ragu menautkan jari kelingking kecilnya ke jari kelingking Leo yang jauh lebih besar. "Janji, Om!"

Saat kedua jari mereka bertautan, Leo menatap lekat-lekat wajah anak di depannya. Perasaan itu mulai merayap di hatinya. Arkana mengingatkannya pada sesuatu.

Beberapa menit kemudian, Leo melangkah masuk ke dalam ruang kerja Kinara membawakan satu cup es krim cokelat yang baru. Di dalam ruangan, Arkana tampak duduk manis di sofa sambil menggoyang-goyangkan kakinya yang menggantung.

"Nah, ini gantinya," ujar Leo hangat seraya menyerahkan es krim tersebut pada Arkana.

Mata bulat Arkana mendadak berbinar terang. "Wah, makasih banyak, Om!" serunya gembira. Tanpa menunggu lama, bocah itu langsung menyendok es krimnya dengan penuh semangat.

"Pelan-pelan makannya, Nanti lidahmu beku," kekeh Leo pelan.

Dia ikut mendudukkan diri di sebelah Arkana, memperhatikan cara makan bocah itu dengan senyum tipis yang tak lepas dari wajahnya. Ada kepuasan tersendiri di dada Leo saat melihat tawa riang kembali menghiasi wajah manis Arkana.

Tak lama kemudian, pintu ruang kerja terbuka. Kinara melangkah masuk dengan beberapa dokumen rapat di tangannya. Begitu pandangannya menangkap sosok Leo yang sedang duduk santai di sofanya bersama sang putra, alis Kinara langsung bertaut heran.

"Leo? Kenapa kamu ada di sini?" tanya Kinara heran.

Sebelum Leo sempat menjawab, Arkana lebih dulu berdiri di atas sofa sambil memamerkan cup es krimnya ke udara dengan bangga.

"Mama, lihat! Om ini beliin Alka es klim baru! Jadi hali ini Alka dapat dua es klim!"

Kinara menepuk jidatnya pelan, menghela napas panjang melihat tingkah polos putranya. Dia lalu melempar tatapan bertanya pada Leo.

Pemuda itu segera bangkit berdiri dan menjelaskan dengan nada sopan, "Maaf, Bu Kinara. Tadi saya tidak sengaja menabrak Arkana di koridor sampai es krimnya jatuh ke lantai. Jadi saya merasa bertanggung jawab untuk membelikannya yang baru."

Kinara menghela napas lagi, kali ini dengan sunggingan senyum tipis yang agak pasrah. Niat awalnya membelikan es krim tadi hanya untuk menghibur perasaan Arkana yang hancur setelah insiden pertengkaran di sekolah. Tapi kalau begini, jatah gula anak itu hari ini jelas sudah kelewatan.

"Kamu ini ... nanti gigimu bisa rusak kalau kebanyakan makan yang manis-manis," tegur Kinara lembut pada Arkana, meski hatinya tersentuh melihat putranya kembali ceria.

Kinara lalu menatap Leo. "Tapi terima kasih, Leo. Kamu tidak perlu repot-repot sebenarnya."

"Sama sekali tidak repot, Bu," balas Leo santai.

Sebelum percakapan mereka berlanjut, ponsel di dalam tas Kinara berdering nyaring. Kinara merogoh tasnya dan merengkuh benda pipih itu.

Saat melihat nama yang tertera di layar raut wajah Kinara seketika berubah tegang. Keningnya berkerut dalam, dan aura hangat di ruangan itu menguap dalam hitungan detik.

Kinara membalikkan badan membelakangi mereka, berjalan mendekati jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan kota. Dengan napas yang ditahan, dia menggeser tombol hijau.

"Halo, Ayah?"

"Pulang ke rumah sekarang. Ada hal penting yang harus diselesaikan," suara berat dan tegas milik Hendra Pramudita bergema tajam dari seberang telepon, tanpa basa-basi maupun nada ramah sedikit pun.

Perasaan Kinara mendadak tidak enak. Pengalaman bertahun-tahun mengajarkannya satu hal: jika ayahnya yang keras itu mendadak memerintahkannya pulang ke kediaman utama Pramudita, itu artinya telah terjadi suatu kesalahan atau ada keputusan sepihak yang harus dipatuhinya.

"Tapi, Ayah, Kinara masih ada beberapa berkas kantor yang—"

"Ayah tidak mau mendengar alasan. Bawa Arkana sekalian. Sekarang!” potong Hendra dingin sebelum memutus panggilan secara sepihak.

Kinara memejamkan mata erat-erat, memegang pinggiran ambang jendela untuk menopang tubuhnya yang mendadak terasa lemas.

Di belakangnya, Leo tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. Dia menangkap perubahan gestur tubuh Kinara secara detail. Bahu Kinara yang mendadak tegang, cengkeraman jari yang memutih pada ponsel, dan napas berat yang dihembuskannya.

Ketika Kinara membalikkan badan kembali setelah menguasai emosinya, dia terkejut menemukan Leo masih berdiri tegap di tempatnya, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

Leo yang tertangkap basah sedang mengamati Kinara mendadak gelagapan. Dia dengan cepat menutupi kekagokannya dengan membenarkan posisi jam tangan di pergelangan tangannya.

"Kalau begitu saya permisi kembali ke ruangan saya dulu, Bu Kinara," pamit Leo terburu-buru, mengambil berkas laporan di meja.

"Ah ... iya, terima kasih sekali lagi untuk es krimnya," ucap Kinara tulus, berusaha menyembunyikan raut cemas di wajahnya.

"Sama-sama, Bu."

Saat Leo melangkah menuju pintu, suara nyaring Arkana menghentikan langkahnya sejenak.

"Dah, Om Leo! Makasih es klimnya ya! Nanti kita ketemu lagi!" seru Arkana sambil melambaikan tangan kecilnya bersemangat.

Leo menoleh, menguraikan senyum paling hangat yang pernah dia tunjukkan hari itu.

"Dah, Arka. Sampai ketemu lagi," sahutnya lembut sebelum benar-benar keluar dan menutup pintu ruangan.

Sepeninggal Leo, ruang kerja Kinara kembali hening. Kinara menatap pintu yang tertutup rapat, lalu beralih menatap putranya dengan helaan napas berat.

"Arka ... ayo habiskan es krimnya. Kita harus pergi ke rumah Kakek sekarang."

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    12. Bantuan Asisten Baru

    Ruangan mendadak sunyi. Beberapa kepala divisi mulai saling melirik dengan gelisah. Baskara masih berusaha terlihat tenang. Ia menatap Kinara dengan pandangan menekan. "Bu Kinara, saya rasa kita harus berhati-hati dalam menyimpulkan sesuatu hanya berdasarkan perbedaan angka." "Saya setuju." Kinara menatapnya lurus tanpa kedip. "Itulah alasan saya belum menyimpulkan apa pun." Baskara terdiam, tak bisa membalas kalimat itu. Kinara kemudian mengambil sebuah dokumen lain. "Namun, saya ingin tahu mengapa beberapa pembayaran kepada pemasok baru dipecah menjadi beberapa transaksi dalam jumlah yang lebih kecil." Baskara menghela napas pendek. "Untuk mempermudah proses administrasi." "Mempermudah?" "Ya. Beberapa pemasok memiliki batas pembayaran tertentu." Kinara mengangguk pelan. "Lalu mengapa rekening penerima dari tiga perusahaan berbeda menggunakan alamat korespondensi yang sama?" Kali ini Baskara tidak langsung menjawab. Ia mengambil dokumen tersebut dari meja dan menelitinya sej

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    11. Membongkar Perlahan

    Leo yang biasanya duduk sebagai anak magang di salah satu meja bagian Pengembangan Bisnis kini menempati meja tepat di depan ruangan Kinara. Sebuah papan nama kecil sudah terpasang di atas mejanya. LEOAsisten Pribadi Manajer Pengembangan Bisnis' Jabatan itu memang belum membuat banyak orang memahami siapa sebenarnya dirinya. Bagi sebagian besar karyawan, Leo hanyalah anak muda yang baru beberapa hari bekerja di perusahaan, kemudian secara tiba-tiba mendapatkan kepercayaan langsung dari Kinara. Namun, sejak pagi, Leo sudah menunjukkan bahwa jabatan itu bukan sekadar nama. Ia memeriksa jadwal rapat Kinara, menyusun dokumen yang akan dibutuhkan, memastikan laporan dari beberapa divisi sudah diterima, sekaligus menandai bagian-bagian penting dari dokumen yang perlu mendapat perhatian. Sesekali ia mengetuk pintu ruangan Kinara untuk menyerahkan berkas. "Dokumen rapat pukul sepuluh sudah saya susun, Bu." Kinara yang sedang membaca sebuah laporan mengangkat wajahnya. "Letakkan di me

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    10. Asisten Pribadi

    Sedan hitam milik Kinara membelah jalanan malam yang tenang. Di dalam kabin mobil, suasana begitu hening. Hanya deru halus mesin dan kilatan lampu jalanan yang sesekali menerangi wajah Kinara dan Leo. Kinara memegang kemudi dengan jemari yang masih sedikit kaku. Pikirannya dipenuhi oleh kejadian di restoran tadi. Reaksi panik Adhijaya saat Leo menyebutkan soal rekening rahasia dan draf manipulasi aset terus berputar di kepalanya. Ia melirik pria muda yang duduk tenang di kursi penumpang di sampingnya. Leo hanya menatap lurus ke depan, seolah hal besar yang baru saja ia lakukan bukanlah sesuatu yang istimewa. "Leo," panggil Kinara memecah keheningan. Suaranya terdengar datar namun menuntut penjelasan. Leo menoleh perlahan. "Iya, Bu Kinara?" "Dari mana kamu tahu soal rekening Singapura dan draf manipulasi aset milik Tuan Adhijaya?" tanya Kinara langsung pada intinya. "Informasi seperti itu bukan sesuatu yang bisa diakses oleh sembarang orang. Apalagi oleh seorang anak magang." Le

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    9. Anak Muda itu Lagi

    Kinara terdiam. Untuk sesaat, ia hanya menatap pria itu tanpa berkata apa-apa.Rian mengenakan kemeja gelap dengan jas yang tidak dikancingkan. Wajahnya terlihat tegang, seolah sudah mencari Kinara ke berbagai tempat sebelum akhirnya menemukan perempuan itu di restoran ini.Matanya langsung tertuju kepada Kinara. "Aku ingin bicara denganmu."Kinara menghela napas pendek. "Rian, ini bukan tempat yang tepat.""Aku tahu."Rian melangkah mendekat. "Tapi sejak kapan kamu mau menikah lagi tanpa memberitahuku?"Kinara menatapnya tajam. "Itu bukan urusanmu lagi."Rian terdiam sejenak. Kalimat itu jelas membuat wajahnya berubah."Aku mantan suamimu, Kinara.""Dan itu sebabnya kamu seharusnya tahu bahwa hubungan kita sudah berakhir.""Aku masih ingin memperbaikinya."Kinara menahan napas. "Aku tidak."Jawaban itu keluar tanpa ragu.Rian menatapnya, seolah masih berharap menemukan sedikit keraguan di mata Kinara. Namun tidak ada.Adhijaya yang sejak tadi memperhatikan percakapan mereka akhirnya

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    8. Pertemuan Pertama

    Pintu kaca restoran fine dining di lantai teratas hotel bintang lima itu terbuka perlahan. Kinara melangkah masuk dengan gaun hitam berpotongan rapi yang membuat penampilannya terlihat elegan. Sebuah blazer putih tersampir anggun di bahunya, melengkapi penampilannya malam itu.Ia berjalan dengan tenang dan teratur. Meski tahu dirinya sedang menuju sebuah pertemuan yang dirancang oleh ayahnya sendiri, Kinara tetap memasang ekspresi profesional. Tidak ada tanda-tanda gugup ataupun keberatan yang terlihat dari wajahnya.Seorang pelayan pria segera menyambutnya dengan senyum ramah."Atas nama reservasi Tuan Adhijaya, Kak?""Iya, betul," jawab Kinara singkat dan sopan.Pelayan itu mengangguk, lalu mempersilakan Kinara mengikutinya menuju area privat di sudut restoran. Tempat itu cukup jauh dari meja pelanggan lain dan menghadap langsung ke pemandangan kota yang dipenuhi gemerlap lampu.Di sana, di sebuah meja bundar yang dilapisi kain putih bersih dengan lilin kecil di tengahnya, seorang p

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    7. Aku akan Datang

    Tangan Kinara yang memegang lembaran dokumen perjodohan itu tampak tenang, tanpa getaran sedikit pun. Pipi kirinya masih terasa panas akibat tamparan sang ayah. Ia sempat menekan lidah ke bagian dalam pipinya, memastikan tidak ada darah yang keluar.Kemudian, ia kembali mengangkat wajah. Sorot matanya tajam, menatap lurus pada pria paruh baya di hadapannya.Tidak ada air mata. Tidak ada pula raut wajah pasrah dari seorang wanita yang sedang dipojokkan.“Jadi, ini alasan Ayah memanggilku pulang dengan terburu-buru?” tanya Kinara dengan suara rendah dan datar.Hendra menyilangkan kedua tangan di dada. Tatapannya masih keras, tetapi matanya sempat turun sekilas pada pipi Kinara yang memerah.Hanya sesaat. Setelah itu, ia kembali memasang wajah seorang kepala keluarga. “Ayah tidak memanggilmu pulang untuk berdebat.”Kinara mengangkat sebelah alis. “Lalu?”“Tuan Adhi adalah pemegang saham utama di grup bisnis besar yang sedang kita incar.” Nada suara Hendra terdengar lebih terkendali. “Dia

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status