MasukKinara melangkah lebar menyusuri koridor sekolah dengan jantung yang berdegup kencang. Begitu tiba di depan pintu ruang Kepala Sekolah, dia menghentikan langkahnya sejenak dan menarik napas dalam-dalam.
Dia tidak boleh terlihat rapuh di depan orang-orang, apalagi beberapa rumor tentangnya juga sudah beredar di kalangan para wali murid. Kinara memutar gagang pintu dan melangkah masuk. Suasana di dalam ruangan langsung terasa tegang. Di atas sofa, tampak Arkana–putranya yang berusia 4 tahun–duduk menunduk dengan guratan luka memar kecil di pipinya dan mata yang memerah menahan tangis. Mata Kinara terbelalak saat menyadari siapa saja yang ada di dalam sana. Bukan hanya wali kelas dan kepala sekolah yang berada di ruangan itu. Di sudut lain sofa, duduk seorang wanita paruh baya bertubuh tambun dengan perhiasan emas mencolok—Bu Dewi, mantan mertua Kinara. Di sampingnya, berdiri seorang wanita muda berpenampilan glamor yang tak lain adalah Sinta, istri baru Rian dan selingkuhannya dulu. Ia memegangi tangan anaknya, Noel yang tampak murung. "Akhirnya datang juga wanita sok sibuk ini," cibiran tajam langsung menyambut kedatangan Kinara dari mulut Bu Dewi. Kinara hanya menatap datar Bu Dewi. Sepertinya masalah Arkana menyangkut keluarga cemara itu. Keluarga yang dari awal telah dibangun Rian sebelum mengaku sebagai pria yang tidur semalam dengannya. Dulu, Kinara mudah dibohongi. Sinta sudah beberapa kali dibawa ke rumah, dikenalkan sebagai ‘istri teman’ Rian. Bahkan pernah sampai membawa pria yang katanya suami wanita itu. Saat itu, kondisi Sinta sedang hamil, sama seperti dirinya, hanya satu bulan lebih tua ketimbang Kirana. Saat persalinan, keluarga Rian bahkan dengan senang hati ikut mengurus dan menjaganya. Alasannya, suami Sinta sedang bekerja keluar negeri. Ternyata, anak yang dilahirkan Sinta memang anaknya bersama Rian. Mereka memang sepasang kekasih sejak awal, jauh sebelum Rian datang untuk melamar Kinara. Kondisi keluarga Ardiansyah pada waktu itu tak stabil. Mereka perlu mencari jalan lain agar anak yang dikandung calon menantu mereka mendapatkan jaminan kehidupan yang nyaman. Kinara saat itu baru sadar jika tragedi malam lima tahun lalu itu hanya jebakan. Ia hanya sumber dana yang dikeruk oleh keluarga Rian. Namun sampai saat ini, ia belum bisa mencari bukti valid terkait rencana mantan suaminya itu. "Mama ..." cicit Arkana pelan saat melihat ibunya datang. Kinara mengabaikan tatapan sinis dari keluarga mantan suaminya. Dia langsung berlutut di hadapan Arkana, memegang kedua bahu kecil putranya dengan lembut. "Arka ... Mama di sini. Kamu tidak apa-apa, Nak?" Arka menggeleng pelan, matanya berkaca-kaca. "Alka gak sengaja, Ma ... Tapi meleka bilang Mama–" "Diam kamu, anak tidak bermoral!" bentak Bu Dewi dengan suara melengking tajam, menunjuk-nunjuk tepat di depan wajah Arkana. "Anak kecil sudah pandai bermain fisik, tidak punya tata krama! Lihat ini, kaki cucu saya sampai lebam kemerahan gara-gara kamu dorong sampai dia jatuh!" Mendengar kalimat kasar yang meluncur dari mulut Bu Dewi ditujukan pada putranya, hati Kinara rasanya seperti ditusuk oleh ribuan duri yang beracun. Sakitnya begitu membakar. Kinara menatap Bu Dewi dengan pandangan tak percaya. Bukankah Arkana adalah darah dagingnya sendiri, cucu kandung dari anak laki-lakinya? Tapi bagaimana bisa wanita tua itu begitu tega membedakan Arkana secara terang-terangan dan memperlakukannya bak musuh? Kenapa cinta dan pembelaannya hanya tercurah penuh pada anak hasil perselingkuhan Rian dan Sinta? Arkana di samping Kinara makin menyembunyikan tubuhnya di belakang Kinara, sedikit gemetar karena ketakutan. Matanya berkaca-kaca, tampak menahan tangis. Meski baru empat tahun, Arkana anak yang cerdas dan bisa menilai situasi. Arkana tahu betul bahwa wanita tua yang baru saja memakinya barusan adalah neneknya sendiri. Seorang Nenek yang tidak menyayanginya. Sinta ikut melangkah maju sambil menunjuk Kinara dengan sebelah tangan. Wajahnya mendongak angkuh. "Harusnya Mbak Kinara itu sadar diri! Kalau bisa mendidik anak dengan benar, Arka tidak akan jadi anak pemarah dan kasar begini. Tapi mau bagaimana lagi, anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah dan cuma dididik oleh janda yang sibuk cari uang memang biasanya bermasalah!" Gumpalan emosi dan amarah yang meletup-letup di dada Kinara mendadak mendingin, berubah menjadi sebuah keberanian yang tajam dan mematikan. Kinara berdiri tegap, memasang badan sepenuhnya di depan Arkana, lalu menatap Bu Dewi dan Sinta secara bergantian dengan pandangan dingin sekeras es. "Sudah selesai bicaranya?" suara Kinara mengudara, pelan namun begitu menekan hingga membuat suasana ruangan mendadak hening. Kinara mengalihkan pandangannya pada kepala sekolah dan wali kelas Arka yang sejak tadi tertekan oleh intimidasi keluarga Rian. "Pak Kepala Sekolah, Bu Guru," panggil Kinara tegas tanpa gentar sedikitpun. "Saya tidak datang ke sini untuk mendengarkan drama keluarga atau penghinaan atas status pribadi saya. Karena insiden ini terjadi di lingkungan sekolah, saya minta sekolah membuka rekaman CCTV di ruang kelas sekarang juga." Bu Dewi menyela dengan nada ketus, "Untuk apa pakai CCTV segala?! Sudah jelas-jelas cucuku lebam!" "Tutup mulut Anda, Bu Dewi!" pangkas Kinara cepat dan menusuk, membuat mantan mertuanya itu terperanjat. Kinara kembali menatap Kepala Sekolah. "Saya ingin melihat dengan mata kepala saya sendiri kronologi sebenarnya. Jika dalam rekaman CCTV terbukti bahwa Arka yang memulai pertengkaran dan terbukti bersalah, saya secara pribadi siap memberikan uang kompensasi berapapun yang diminta pihak sebelah untuk biaya pengobatan." Kinara menggantung kalimatnya sejenak, lalu melempar tatapan intimidatif pada Sinta dan Bu Dewi. "Namun ... jika rekaman CCTV membuktikan sebaliknya, maka saya menuntut pihak sekolah bertindak tegas sesuai aturan. Dan saya tidak akan segan membawa dugaan tindakan perundungan serta pencemaran nama baik ini ke jalur hukum.” Pak Kepala Sekolah mengusap keringat dingin di dahinya. "Baik, Bu Kinara. Mari kita lihat rekaman CCTV-nya bersama." Layar monitor di sudut ruangan pun dinyalakan, menampilkan rekaman sudut kelas beberapa saat sebelum insiden terjadi. Di sana terlihat jelas Noel sendiri yang menghampiri meja Arkana. Noel tampak sengaja menyenggol tas Arkana hingga jatuh. Lalu melontarkan kata-kata yang membuat raut wajah Arkana berubah sedih. Arkana hanya berusaha mengambil tasnya, namun Noel menendang benda itu makin jauh sambil tertawa mengejek. Arkana yang marah lalu berdiri dan mendorong Noel hingga anak itu terbentur sudut meja. Lalu keduanya bertengkar hebat sambil menangis kencang. Kinara menghela napas pelan setelah melihat rekaman CCTV itu. Ia mendekati Noel yang bersembunyi di balik kaki ibunya. Kinara berlutut untuk menjajari tinggi anak itu. “Noel, Tante mau bertanya. Kenapa tadi kamu menendang tas Arkana?" tanya Kinara, tersenyum ramah agar Noel tidak takut. Noel yang awalnya takut, akhirnya menjawab setelah melihat senyum Kinara. “Arkana kan memang boleh diejek. Mama Arkana kan perempuan murahan!" jawab Noel dengan polosnya. Sinta dengan panik langsung membungkam mulut anaknya. Hal itu membuat Kinara menatap sinis. Dari mana anak sekecil Noel belajar bahasa kasar seperti itu jika bukan dia dengar dari orang dewasa di sekitarnya? Anak umur 4 tahun ini masih begitu polos untuk membedakan mana yang benar dan salah. Wajah Bu Dewi dan Sinta langsung berubah pias. "Cucu saya hanya mengatakan apa yang ia lihat. Itu menunjukan bagaimana penampilanmu di mata anak kecil, Kinara,” elak Bu Dewi gagap, berusaha mencari pembenaran meski suaranya tak lagi selengking tadi. "Pikiran anak kecil tidak sepicik itu, Bu Dewi. Anak kecil hanya melihat dan meniru sikap orang dewasa di sekitarnya,” balas Kinara. Sinta menyilangkan tangan di dada dengan raut wajah masam. "Halah, cuma begitu saja dibesar-besarkan! Dasar wanita kaku!" desisnya. Tanpa meminta maaf sedikit pun, Sinta melambaikan tangan ke arah Noel. "Ayo, Noel, kita pulang saja! Tidak ada gunanya di sini melayani orang-orang gila!" Bu Dewi menyambar tas mewahnya, melirik Kinara dengan tatapan penuh kebencian. “Awas saja kamu, Kinara!" Lalu melengos pergi menyusul Sinta dan Noel yang mengekor di belakang tanpa menunggu penjelasan lagi. Kepala sekolah menghela napas lega setelah keluarga Rian keluar. Beliau menatap Kinara dengan raut serba salah. "Bu Kinara ... melihat bukti ini, apakah Anda benar-benar ingin membawa kasus ini ke jalur hukum? Pihak sekolah siap memprosesnya." Kinara diam sejenak. Dia memandangi putranya yang masih menunduk memainkan ujung seragamnya. Kinara menggeleng pelan. Dia sangat tahu tabiat keluarga mantan suaminya itu. Jika dia melayangkan gugatan hukum, orang-orang parasit itu tidak akan tinggal diam. Mereka akan membalas dengan cara yang jauh lebih licik dan kejam. Kalau hanya pada Kinara saja, ia tidak masalah. Tapi, mereka bisa menyakiti Arkana lagi. Kinara tidak mau hal itu terjadi. "Tidak perlu, Pak," ujar Kinara tenang sambil menghela napas. "Saya tahu batas ketahanan mental anak saya. Namun, saya minta dengan sangat ... tolong tingkatkan pengawasan di area sekolah. Dan saya mohon, pisahkan kelas Arkana dan anak itu mulai besok." "Baik, Bu Kinara. Kami pastikan hal itu segera diproses," janji kepala sekolah mantap. Setelah mengurus administrasi kepulangan awal Arkana, Kinara menuntun jemari kecil putranya menuju mobil. Suasana di dalam kendaraan terasa jauh lebih hangat dibanding saat berangkat tadi. "Sakit, Sayang?" tanya Kinara lembut seraya mengusap pipi Arkana yang lebam kemerahan. "Dikit, Ma," cicit Arkana pelan. "Maaf ya, Mama jadi harus meninggalkan pekeljaan gala-gala Alka." Hati Kinara lumer mendengarkan aksen cadel anaknya. Dia merengkuh tubuh kecil itu ke dalam pelukannya. "Mama bangga karena Arka anak yang jujur. Tapi, Arkana … lain kali jangan menyakiti temanmu seperti tadi, ya. Semarah apapun, kamu tidak boleh sampai memukul, apalagi melukainya," nasihat Kinara. “Iya, Ma. Maaf ya, Alka marah diejek Noel. Besok Alka akan minta maaf ke Noel," ujar Arkana dengan cengiran polosnya, wajahnya lebih cerah setelah sadar ibunya tidak marah. Kinara mengecup puncak kepala putranya. "Sekarang kita obati lukanya dulu, lalu Mama belikan es krim kesukaan Arka, ya? Tapi setelah itu Arka ikut Mama ke kantor sebentar karena Mama masih ada rapat siang ini." "Asyik! Es klim cokelat ya, Ma!" mata bulat Arkana mendadak berbinar, melupakan rasa sakit di pipinya. Kinara tersenyum lembut. Untungnya, Arkana tumbuh menjadi anak yang pengertian. Betapa beruntungnya ia memiliki malaikat kecil sehebat ini. Satu jam kemudian, Kinara sudah berada di kantornya. Ia berjalan menyusuri koridor lantai atas menuju ruang kerjanya, menggandeng Arkana yang sibuk menikmati cup es krim cokelat di tangan kirinya. Sepanjang jalan dari kedai tadi, mulut kecil itu tak berhenti mengunyah hingga menyisakan noda cokelat yang cukup cemong di sekitar bibirnya. "Arka tunggu di ruang kerja Mama, ya. Jangan berkeliaran ke mana-mana. Mama ada rapat singkat di ruang sebelah," pesan Kinara seraya membukakan pintu ruangan direksinya. "Siap, Mama!" sahut Arkana mantap, langsung mendudukkan diri di sofa empuk ruang kerja ibunya. Namun, mengurung anak berusia empat tahun di dalam ruangan serba formal tentu bukan perkara mudah. Baru sepuluh menit Kinara pergi ke ruang rapat, Arkana mulai merasa bosan. Dia memandangi cup es krimnya yang masih tersisa separuh, lalu menatap pintu ruang kerja ibunya yang sedikit terbuka. "Cuma mau cali tempat sampah di lual ... Mama pasti tidak malah," gumam Arkana pada dirinya sendiri. Bocah itu mengangguk kecil, melangkah keluar dari ruangan membawa es krimnya. Matanya mengedar mencari tempat sampah di koridor utama yang cukup lengang. Di saat yang bersamaan, Leo sedang berjalan dari arah tangga darurat membawakan sebundel berkas laporan yang baru saja direvisi. Pandangan matanya fokus memeriksa lembaran kertas di tangannya. Arkana yang berjalan mundur sambil membuang bungkus sendok es krim ke dalam tong sampah tidak menyadari sosok tinggi besar yang berjalan cepat dari arah berlawanan. BRUK! "Aduh!" Tubuh kecil Arkana menabrak kaki jangkung Leo dengan cukup keras. Cup es krim di tangannya terlepas dan jatuh menumpahkan sisa cokelatnya ke lantai. Arkana sendiri tersungkur terduduk di lantai granit yang dingin. "Eh?" Leo terkejut. Dia refleks menghentikan langkahnya dan menunduk. Matanya melebar saat melihat seorang anak kecil berseragam Taman Kanak-kanak terduduk di depannya. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Leo cepat. Dia mengepit berkasnya di bawah ketiak, lalu berjongkok di hadapan bocah itu. Arkana meringis pelan, memandangi es krimnya yang kini menyatu dengan lantai. "Es klim Alka ...." bisiknya lemas. "Maaf, Om tidak lihat tadi," ujar Leo, mengulurkan tangannya yang kekar untuk membantu Arkana berdiri. Saat jemari Leo menyentuh jemari kecil Arkana dan membantunya bangkit, sebuah sengatan aneh yang asing mendadak merayapi dada Leo. Ada rasa geli dan hangat yang tak tertahankan melingkupi hatinya secara instan. Arkana mendongak. Mata bulatnya yang jernih dan polos menatap tepat ke arah manik mata tajam Leo. Pemuda itu terpaku. Untuk beberapa detik, waktu seolah berhenti berputar. Tatapan mata bocah ini ... garis alisnya, dan aura keras kepala yang tersembunyi di balik mata polos itu. Semuanya sangat familier. Terlalu mirip dengan …Angin malam berembus tipis di area balkon, membawa udara dingin yang langsung menyapu kulit leher Kinara. Namun, rasa dingin itu menguap dalam hitungan detik begitu lengan tegap Leo merengkuh pinggangnya erat, mengikis jarak di antara mereka hingga tak tersisa. "Leo, kamu gila, ya?!" bisik Kinara tertahan dengan napas tersendapat. Wajah cantiknya memerah padam, kedua tangannya refleks menahan dada bidang Leo. "Di dalam ada Sarah! Bagaimana kalau dia tiba-tiba ke luar atau melihat ke arah jendela, hm?!" Bukannya gentar, Leo justru menyunggingkan senyum miring yang amat seksi sekaligus berbahaya. Binar mata hitamnya berkilat liar di bawah pendar rembulan. Tanpa mengindahkan teguran Kinara, Leo menundukkan kepalanya kilat, mencumbu bibir Kinara secara mendalam dan beringas. "Ngh ... Leo!" gumam Kinara terkejut. Jemari lentiknya mendadak lemas di atas kemeja hitam Leo. Cumbuan Leo terasa begitu menuntut, membakar, dan penuh dahaga posesif yang tak terikat aturan. Sentuhan tangan tega
Beberapa Jam Kemudian ...Sarah berdiri dengan dua koper besar di sampingnya. Wanita itu melangkah masuk dengan dagu terangkat, menyapu pandangannya ke seluruh sudut ruangan dengan binar mata yang sarat akan kecurigaan. Kinara berdiri tegap di area ruang tamu. Wajah cantiknya tampak kaku, memancarkan aura dewasa yang dingin nan protektif. Di belakang kakinya, Arkana bersembunyi pelan, memeluk erat tungkai ibunya seraya menatap sang bibi dengan mata bulat yang polos. "Letakkan kopermu di dekat pintu," ujar Kinara lugas dengan intonasi datar. "Aku cuma mengizinkanmu tidur di kamar tamu untuk dua hari. Tidak lebih." Sarah tertawa kecil, sebuah tawa sumbang yang penuh kepalsuan. Ia sengaja melangkah melewati Kinara, matanya bergerak lincah memeriksa rak sepatu, meja makan, hingga gantungan baju di dekat dapur. Ia berencana mencari barang-barang pria—jas mahal, sepatu ukuran besar, atau aksesoris kustom milik Valentino Sutedja. Dalam pikiran liciknya, Sarah yakin betul pria dari klan k
Pagi baru saja merambat di pelataran parkir kantor Buana Alam Mandiri. Sebuah sedan hitam mewah berhenti halus di dekat lobi utama. Dari balik kaca jendela, Kinara mendengus pelan sebelum melangkah keluar. Pria muda itu benar-benar tak bisa dibantah. Leo bersikeras mengantarkan Arkana ke sekolah sekalian mengantar Kinara ke kantor demi memastikan keselamatan mereka. Kinara merapikan blazer kerjanya dan melangkah menuju pintu masuk. Namun, baru beberapa tindak berjalan, langkahnya terhenti kaku. Radit berdiri di dekat pilar lobi dengan wajah tegang, matanya menatap tajam ke arah sedan hitam yang baru saja berlalu, lalu beralih penuh emosi pada Kinara. Tak jauh dari sana, Sarah melangkah menghampiri dengan senyum miring yang sarat akan provokasi. "Kinara!" panggil Radit dengan suara menekan, memangkas jarak di antara mereka. Di tangannya, sebuah lembaran cetak siaran pers dari Jakarta tergenggam erat. "Kamu masih mau diantar oleh pria itu setelah berita ini tersebar luas?!" Radit m
pintu apartemen terrbanting keras. Kinara melempar tas kerjanya ke atas meja konsol dengan napas memburu kencang. Raut wajah dewasa yang biasanya selalu tenang dan terkontrol kini dipenuhi oleh amarah yang membakar serta luka mendalam yang berusaha ia sembunyikan rapat-rapt. Klek. Pintu utama terdorong lagi. Leo melangkah masuk dengan setelan jas kustomnya yang terpasang rapi. Binar mata hitam pria itu tidak memancarkan rasa bersalah sedikit pun, melainkan kegelapan posesif yang amat pekat. Ia melangkah tegap, memangkas jarak di antara mereka tanpa ragu. "Kinara, dengarkan aku dulu—" "Dengar apa lagi, Valentino?!" potong Kinara tajam, memutar tubuhnya dan menatap Leo dengan pandangan menusuk. Bibirnya tersenyum sinis, sebuah senyuman pahit yang sarat akan kekecewaan. "Dengar bagaimana kamu merancang pernikahan megahmu dengan Giselle Chen di Jakarta?! Atau mendengar kebohongan manis apalagi yang mau kamu suapkan padaku setelah semalam berpura-pura menjadi pria paling setia?!" Leo
"Aku yang mengantar kalian," ujar Leo tegas seraya meraih kunci mobil dari atas meja. Pria bertubuh tegap itu berdiri menghalangi jalan menuju pintu keluar apartemen, menatap Kinara dengan binar mata posesif yang tak bisa dibantah. Kinara menghentikan langkahnya, menatap Leo dengan raut wajah datar. "Tidak perlu, Leo. Aku bisa naik taksi atau angkutan umum bersama Arka seperti biasa. Kalau kamu yang mengantar dengan mobil mewahmu itu, para karyawan di kantor bakal heboh dan memicu desas-desus yang tidak penting." Leo menyunggingkan senyum miring yang amat cerdik. Menyadari benteng pertahanan Kinara yang terlalu keras jika dihadapi secara langsung, pria muda itu melirik pelan ke arah bocah kecil di samping Kinara. "Arka," panggil Leo seraya berlutut menyamakan tingginya dengan Arkana. "Kamu lebih suka diantar Paman naik mobil yang ada pendingin dinginnya, atau desak-desakan panas di jalanan sama Ibu, hm?" Mata bulat Arkana seketika berbinar terang. Bocah kecil itu memegang erat uju
Cahaya matahari pagi menerobos tipis melalui celah tirai jendela apartemen, membiaskan pendar hangat di atas lantai kayu. Di dalam kamar mandi, uap air hangat masih membumbung tipis. Kinara berdiri kaku di depan cermin besar. Wajah cantiknya yang biasa memancarkan ketenangan kini diliputi raut jengkel yang luar biasa. Jemari lentiknya menarik kerah jubah mandinya sedikit ke bawah, memperlihatkan beberapa bercak kemerahan yang tercetak jelas di sekitar leher dan tulang selangkanya. "Pria gila itu ..." gumam Kinara berdesis pelan, meremas kerah jubahnya erat-erat. Bercak-bercak tanda kepemilikan itu menyebar begitu kentara. Pria muda itu benar-benar beringas dan tidak tahu aturan semalam. Kinara harus memutar otak, memoleskan concealer tebal berkali-kali di lehernya agar bekas cumbuan gila itu tidak menjadi bahan gunjingan di kantor nanti. Setelah selesai berpakaian rapi dengan kemeja berkerah tinggi yang tertutup rapat, Kinara melangkah keluar dari kamar mandi. Namun, saat ia me







