Beranda / Romansa / Duh, Kelepasan Sama Anak Magang! / 4. Pertemuan yang Ditakdirkan

Share

4. Pertemuan yang Ditakdirkan

Penulis: Blue Ice
last update Tanggal publikasi: 2026-09-04 17:26:25

Kinara melangkah lebar menyusuri koridor sekolah dasar dengan jantung yang berdegup kencang. Begitu tiba di depan pintu ruang Kepala Sekolah, dia menghentikan langkahnya sejenak, menarik napas dalam-dalam, dan memoles kembali wajahnya dengan sedikit bedak.

Dia tidak boleh terlihat rapuh di depan orang-orang, apalagi beberapa rumor tentangnya juga sudah beredar di kalangan para wali murid. Kinara memutar gagang pintu dan melangkah masuk.

Suasana di dalam ruangan langsung terasa tegang. Di atas sofa, tampak Arkana–putranya yang berusia 4 tahun–duduk menunduk dengan guratan luka memar kecil di pipinya dan mata yang memerah menahan tangis.

Namun, bukan hanya wali kelas dan kepala sekolah yang berada di ruangan itu. Di sudut lain sofa, duduk seorang wanita paruh baya bertubuh tambun dengan perhiasan emas mencolok—Bu Dewi, mantan mertua Kinara.

Di sampingnya, berdiri seorang wanita muda berpenampilan glamor yang tak lain adalah Sinta, istri baru Rian dan selingkuhannya dulu. Ia memegangi tangan anaknya, Noel yang tampak murung.

"Akhirnya datang juga wanita sok sibuk ini," cibiran tajam langsung menyambut kedatangan Kinara dari mulut Bu Dewi, mantan Ibu mertuanya.

Kinara hanya menatap datar Bu Dewi. Sepertinya masalah Arkana menyangkut keluarga cemara itu. Keluarga yang dari awal telah dibangun Rian sebelum mengaku sebagai pria yang tidur semalam dengannya.

Dulu, Kinara mudah dibohongi. Sinta sudah beberapa kali dibawa ke rumah, dikenalkan sebagai istri teman Rian. Bahkan pernah sampai membawa pria yang katanya suami wanita itu. Saat itu, kondisi Sinta sedang hamil, sama seperti dirinya, hanya satu bulan lebih tua ketimbang Kirana.

Saat persalinan, keluarga Rian bahkan dengan senang hati ikut mengurus dan menjaganya. Alasannya, suami Sinta sedang bekerja keluar negeri.

Ternyata, anak yang dilahirkan Sinta memang anaknya bersama Rian. Mereka memang sepasang kekasih sejak awal, jauh sebelum Rian datang untuk melamar Kinara.

Kondisi keluarga Ardiansyah pada waktu itu tak stabil. Mereka perlu mencari jalan lain agar anak yang dikandung calon menantu mereka mendapatkan jaminan kehidupan yang nyaman.

Kinara saat itu baru sadar jika tragedi malam lima tahun lalu itu hanya jebakan. Ia hanya sumber dana yang dikeruk oleh keluarga Rian. Namun sampai saat ini, ia belum bisa mencari bukti valid terkait rencana mantan suaminya itu.

"Mama ..." cicit Arkana pelan saat melihat ibunya datang.

Kinara mengabaikan tatapan sinis dari keluarga mantan suaminya. Dia langsung berlutut di hadapan Arkana, memegang kedua bahu kecil putranya dengan lembut.

"Arka ... Mama di sini. Kamu tidak apa-apa, Nak?"

Arka menggeleng pelan, matanya berkaca-kaca. "Alka gak sengaja, Ma ... Tapi meleka bilang Mama–"

"Diam kamu, anak tidak bermoral!" bentak Bu Dewi dengan suara melengking tajam, menunjuk-nunjuk tepat di depan wajah Arkana.

"Anak kecil sudah pandai bermain fisik, tidak punya tata krama! Lihat ini, kaki cucu saya sampai lebam kemerahan gara-gara kamu dorong sampai dia jatuh!"

Mendengar kalimat kasar yang meluncur dari mulut Bu Dewi ditujukan pada putranya, hati Kinara rasanya seperti ditusuk oleh ribuan duri yang beracun. Sakitnya begitu membakar.

Kinara menatap Bu Dewi dengan pandangan tak percaya. Bukankah Arkana adalah darah dagingnya sendiri, cucu kandung dari anak laki-lakinya?

Tapi bagaimana bisa wanita tua itu begitu tega membedakan Arkana secara terang-terangan dan memperlakukannya bak musuh? Kenapa cinta dan pembelaannya hanya tercurah penuh pada anak hasil perselingkuhan Rian dan Sinta?

Arkana di samping Kinara makin menyembunyikan tubuhnya di belakang Kinara, sedikit gemetar karena ketakutan. Matanya berkaca-kaca, tampak menahan tangis.

Meski baru empat tahun, Arkana anak yang cerdas dan bisa menilai situasi. Arkana tahu betul bahwa wanita tua yang baru saja memakinya barusan adalah neneknya sendiri. Seorang Nenek yang tidak menyayanginya.

Sinta ikut melangkah maju sambil menunjuk Kinara dengan sebelah tangan. Wajahnya mendongak angkuh.

"Harusnya Mbak Kinara itu sadar diri! Kalau bisa mendidik anak dengan benar, Arka tidak akan jadi anak pemarah dan kasar begini. Tapi mau bagaimana lagi, anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah dan cuma dididik oleh janda yang sibuk cari uang memang biasanya bermasalah!"

Gumpalan emosi dan amarah yang meletup-letup di dada Kinara mendadak mendingin, berubah menjadi sebuah keberanian yang tajam dan mematikan.

Kinara berdiri tegap, memasang badan sepenuhnya di depan Arkana, lalu menatap Bu Dewi dan Sinta secara bergantian dengan pandangan dingin sekeras es.

"Sudah selesai bicaranya?" suara Kinara mengudara, pelan namun begitu menekan hingga membuat suasana ruangan mendadak hening.

Kinara mengalihkan pandangannya pada kepala sekolah dan wali kelas Arka yang sejak tadi tertekan oleh intimidasi keluarga Rian.

"Pak Kepala Sekolah, Bu Guru," panggil Kinara tegas tanpa gentar sedikitpun.

"Saya tidak datang ke sini untuk mendengarkan drama keluarga atau penghinaan atas status pribadi saya. Karena insiden ini terjadi di lingkungan sekolah, saya minta sekolah membuka rekaman CCTV di ruang kelas sekarang juga."

Bu Dewi menyela dengan nada ketus, "Untuk apa pakai CCTV segala?! Sudah jelas-jelas cucuku lebam!"

"Tutup mulut Anda, Bu Dewi!" pangkas Kinara cepat dan menusuk, membuat mantan mertuanya itu terperanjat. Kinara kembali menatap Kepala Sekolah.

"Saya ingin melihat dengan mata kepala saya sendiri kronologi sebenarnya. Jika dalam rekaman CCTV terbukti bahwa Arka yang memulai pertengkaran dan terbukti bersalah, saya secara pribadi siap memberikan uang kompensasi berapapun yang diminta pihak sebelah untuk biaya pengobatan."

Kinara menggantung kalimatnya sejenak, lalu melempar tatapan intimidatif pada Sinta dan Bu Dewi.

"Namun ... jika rekaman CCTV membuktikan sebaliknya, maka saya menuntut pihak sekolah bertindak tegas sesuai aturan. Dan saya tidak akan segan membawa dugaan tindakan perundungan serta pencemaran nama baik ini ke jalur hukum.”

Pak Kepala Sekolah mengusap keringat dingin di dahinya. "Baik, Bu Kinara. Mari kita lihat rekaman CCTV-nya bersama."

Layar monitor di sudut ruangan pun dinyalakan, menampilkan rekaman sudut kelas beberapa saat sebelum insiden terjadi. Di sana terlihat jelas Noel sendiri yang menghampiri meja Arkana.

Noel tampak sengaja menyenggol tas Arkana hingga jatuh. Lalu melontarkan kata-kata yang membuat raut wajah Arkana berubah sedih.

Arkana hanya berusaha mengambil tasnya, namun Noel menendang benda itu makin jauh sambil tertawa mengejek. Arkana yang marah lalu berdiri dan mendorong Noel hingga anak itu terbentur sudut meja. Lalu keduanya bertengkar hebat sambil menangis kencang.

Kinara menghela napas pelan setelah melihat rekaman CCTV itu. Ia mendekati Noel yang bersembunyi di balik kaki ibunya. Kinara berlutut untuk menjajari tinggi anak itu.

“Noel, Tante mau bertanya. Kenapa tadi kamu menendang tas Arkana?" tanya Kinara, tersenyum ramah agar Noel tidak takut.

Noel yang awalnya takut, akhirnya menjawab setelah melihat senyum Kinara.

“Arkana kan memang boleh diejek. Mama Arkana kan perempuan murahan!" jawab Noel dengan polosnya.

Tatapan Kinara beralih ke Sinta dan Bu Dewi. Dari mana anak sekecil Noel belajar bahasa kasar seperti itu jika bukan dia dengar dari orang dewasa di sekitarnya? Anak umur 4 tahun ini masih begitu polos untuk membedakan mana yang benar dan salah.

Wajah Bu Dewi dan Sinta langsung berubah pias. Bahkan Sinta langsung menyeret Noel menjauh dari Kinara dan membungkam mulut anaknya dengan satu tangan.

"Cucu saya hanya mengatakan apa yang ia lihat. Itu menunjukan bagaimana penampilanmu di mata anak kecil, Kinara,” elak Bu Dewi gagap, berusaha mencari pembenaran meski suaranya tak lagi selengking tadi.

"Pikiran anak kecil tidak sepicik itu, Bu Dewi. Anak kecil hanya melihat dan meniru sikap orang dewasa di sekitarnya,” balas Kinara.

Sinta menyilangkan tangan di dada dengan raut wajah masam. "Halah, cuma begitu saja dibesar-besarkan! Dasar wanita kaku!" desisnya.

Tanpa meminta maaf sedikit pun, Sinta melambaikan tangan ke arah Noel. "Ayo, Noel, kita pulang saja! Tidak ada gunanya di sini melayani orang-orang gila!"

Bu Dewi menyambar tas mewahnya, melirik Kinara dengan tatapan penuh kebencian. “Awas saja kamu, Kinara!"

Lalu melengos pergi menyusul Sinta dan Noel yang mengekor di belakang tanpa menunggu penjelasan lagi. Kepala sekolah menghela napas lega setelah keluarga Rian keluar. Beliau menatap Kinara dengan raut serba salah.

"Bu Kinara ... melihat bukti ini, apakah Anda benar-benar ingin membawa kasus ini ke jalur hukum? Pihak sekolah siap memprosesnya."

Kinara diam sejenak. Dia memandangi putranya yang masih menunduk memainkan ujung seragamnya. Kinara menggeleng pelan.

Dia sangat tahu tabiat keluarga mantan suaminya itu. Jika dia melayangkan gugatan hukum, orang-orang parasit itu tidak akan tinggal diam.

Mereka akan membalas dengan cara yang jauh lebih licik dan kejam. Kalau hanya pada Kinara saja, ia tidak masalah. Tapi, mereka bisa menyakiti Arkana lagi. Kinara tidak mau hal itu terjadi.

"Tidak perlu, Pak," ujar Kinara tenang sambil menghela napas.

"Saya tahu batas ketahanan mental anak saya. Namun, saya minta dengan sangat ... tolong tingkatkan pengawasan di area sekolah. Dan saya mohon, pisahkan kelas Arkana dan anak itu mulai besok."

"Baik, Bu Kinara. Kami pastikan hal itu segera diproses," janji kepala sekolah mantap.

Setelah mengurus administrasi kepulangan awal Arkana, Kinara menuntun jemari kecil putranya menuju mobil. Suasana di dalam kendaraan terasa jauh lebih hangat dibanding saat berangkat tadi.

"Sakit, Sayang?" tanya Kinara lembut seraya mengusap pipi Arkana yang lebam kemerahan.

"Dikit, Ma," cicit Arkana pelan. "Maaf ya, Mama jadi harus meninggalkan pekeljaan gala-gala Alka."

Hati Kinara lumer mendengarkan aksen cadel anaknya. Dia merengkuh tubuh kecil itu ke dalam pelukannya.

"Mama bangga karena Arka anak yang jujur. Tapi, Arkana … lain kali jangan menyakiti temanmu seperti tadi, ya. Semarah apapun, kamu tidak boleh sampai memukul, apalagi melukainya," nasihat Kinara.

“Iya, Ma. Maaf ya, Alka marah diejek Noel. Besok Alka akan minta maaf ke Noel," ujar Arkana dengan cengiran polosnya, wajahnya lebih cerah setelah sadar ibunya tidak marah.

Kinara mengecup puncak kepala putranya. "Sekarang kita obati lukanya dulu, lalu Mama belikan es krim kesukaan Arka, ya? Tapi setelah itu Arka ikut Mama ke kantor sebentar karena Mama masih ada rapat siang ini."

"Asyik! Es klim cokelat ya, Ma!" mata bulat Arkana mendadak berbinar, melupakan rasa sakit di pipinya.

Kinara tersenyum lembut. Untungnya, Arkana tumbuh menjadi anak yang pengertian. Betapa beruntungnya ia memiliki malaikat kecil sehebat ini.

Satu jam kemudian, Kinara sudah berada di kantornya. Ia berjalan menyusuri koridor lantai atas menuju ruang kerjanya, menggandeng Arkana yang sibuk menikmati cup es krim cokelat di tangan kirinya.

Sepanjang jalan dari kedai tadi, mulut kecil itu tak berhenti mengunyah hingga menyisakan noda cokelat yang cukup cemong di sekitar bibirnya.

"Arka tunggu di ruang kerja Mama, ya. Jangan berkeliaran ke mana-mana. Mama ada rapat singkat di ruang sebelah," pesan Kinara seraya membukakan pintu ruangan direksinya.

"Siap, Mama!" sahut Arkana mantap, langsung mendudukkan diri di sofa empuk ruang kerja ibunya.

Namun, mengurung anak berusia empat tahun di dalam ruangan serba formal tentu bukan perkara mudah. Baru sepuluh menit Kinara pergi ke ruang rapat, Arkana mulai merasa bosan.

Dia memandangi cup es krimnya yang masih tersisa separuh, lalu menatap pintu ruang kerja ibunya yang sedikit terbuka.

"Cuma mau cali tempat sampah di lual ... Mama pasti tidak malah," gumam Arkana pada dirinya sendiri.

Bocah itu mengangguk kecil, melangkah keluar dari ruangan membawa es krimnya. Matanya mengedar mencari tempat sampah di koridor utama yang cukup lengang.

Di saat yang bersamaan, Leo sedang berjalan dari arah tangga darurat membawakan sebundel berkas laporan yang baru saja direvisi. Langkah kakinya yang lebar dan tegas berbunyi teratur di atas lantai. Pandangan matanya fokus memeriksa lembaran kertas di tangannya.

Arkana yang berjalan mundur sambil membuang bungkus sendok es krim ke dalam tong sampah tidak menyadari sosok tinggi besar yang berjalan cepat dari arah berlawanan.

BRUK!

"Aduh!"

Tubuh kecil Arkana menabrak kaki jangkung Leo dengan cukup keras. Cup es krim di tangannya terlepas dan jatuh menumpahkan sisa cokelatnya ke lantai. Arkana sendiri tersungkur terduduk di lantai granit yang dingin.

"Eh?" Leo terkejut.

Dia refleks menghentikan langkahnya dan menunduk. Matanya melebar saat melihat seorang anak kecil berseragam Taman Kanak-kanak terduduk di depannya.

"Kamu tidak apa-apa?" tanya Leo cepat. Dia mengepit berkasnya di bawah ketiak, lalu berjongkok di hadapan bocah itu.

Arkana meringis pelan, memandangi es krimnya yang kini menyatu dengan lantai. "Es klim Alka ...." bisiknya lemas.

"Maaf, Om tidak lihat tadi," ujar Leo, mengulurkan tangannya yang kekar untuk membantu Arkana berdiri.

Saat jemari Leo menyentuh jemari kecil Arkana dan membantunya bangkit, sebuah sengatan aneh yang asing mendadak merayapi dada Leo. Ada rasa geli dan hangat yang tak tertahankan melingkupi hatinya secara instan.

Arkana mendongak. Mata bulatnya yang jernih dan polos menatap tepat ke arah manik mata tajam Leo.

Pemuda itu terpaku. Untuk beberapa detik, waktu seolah berhenti berputar. Tatapan mata bocah ini ... garis alisnya, dan aura keras kepala yang tersembunyi di balik mata polos itu.

Semuanya sangat familier. Terlalu mirip dengan …

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    12. Bantuan Asisten Baru

    Ruangan mendadak sunyi. Beberapa kepala divisi mulai saling melirik dengan gelisah. Baskara masih berusaha terlihat tenang. Ia menatap Kinara dengan pandangan menekan. "Bu Kinara, saya rasa kita harus berhati-hati dalam menyimpulkan sesuatu hanya berdasarkan perbedaan angka." "Saya setuju." Kinara menatapnya lurus tanpa kedip. "Itulah alasan saya belum menyimpulkan apa pun." Baskara terdiam, tak bisa membalas kalimat itu. Kinara kemudian mengambil sebuah dokumen lain. "Namun, saya ingin tahu mengapa beberapa pembayaran kepada pemasok baru dipecah menjadi beberapa transaksi dalam jumlah yang lebih kecil." Baskara menghela napas pendek. "Untuk mempermudah proses administrasi." "Mempermudah?" "Ya. Beberapa pemasok memiliki batas pembayaran tertentu." Kinara mengangguk pelan. "Lalu mengapa rekening penerima dari tiga perusahaan berbeda menggunakan alamat korespondensi yang sama?" Kali ini Baskara tidak langsung menjawab. Ia mengambil dokumen tersebut dari meja dan menelitinya sej

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    11. Membongkar Perlahan

    Leo yang biasanya duduk sebagai anak magang di salah satu meja bagian Pengembangan Bisnis kini menempati meja tepat di depan ruangan Kinara. Sebuah papan nama kecil sudah terpasang di atas mejanya. LEOAsisten Pribadi Manajer Pengembangan Bisnis' Jabatan itu memang belum membuat banyak orang memahami siapa sebenarnya dirinya. Bagi sebagian besar karyawan, Leo hanyalah anak muda yang baru beberapa hari bekerja di perusahaan, kemudian secara tiba-tiba mendapatkan kepercayaan langsung dari Kinara. Namun, sejak pagi, Leo sudah menunjukkan bahwa jabatan itu bukan sekadar nama. Ia memeriksa jadwal rapat Kinara, menyusun dokumen yang akan dibutuhkan, memastikan laporan dari beberapa divisi sudah diterima, sekaligus menandai bagian-bagian penting dari dokumen yang perlu mendapat perhatian. Sesekali ia mengetuk pintu ruangan Kinara untuk menyerahkan berkas. "Dokumen rapat pukul sepuluh sudah saya susun, Bu." Kinara yang sedang membaca sebuah laporan mengangkat wajahnya. "Letakkan di me

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    10. Asisten Pribadi

    Sedan hitam milik Kinara membelah jalanan malam yang tenang. Di dalam kabin mobil, suasana begitu hening. Hanya deru halus mesin dan kilatan lampu jalanan yang sesekali menerangi wajah Kinara dan Leo. Kinara memegang kemudi dengan jemari yang masih sedikit kaku. Pikirannya dipenuhi oleh kejadian di restoran tadi. Reaksi panik Adhijaya saat Leo menyebutkan soal rekening rahasia dan draf manipulasi aset terus berputar di kepalanya. Ia melirik pria muda yang duduk tenang di kursi penumpang di sampingnya. Leo hanya menatap lurus ke depan, seolah hal besar yang baru saja ia lakukan bukanlah sesuatu yang istimewa. "Leo," panggil Kinara memecah keheningan. Suaranya terdengar datar namun menuntut penjelasan. Leo menoleh perlahan. "Iya, Bu Kinara?" "Dari mana kamu tahu soal rekening Singapura dan draf manipulasi aset milik Tuan Adhijaya?" tanya Kinara langsung pada intinya. "Informasi seperti itu bukan sesuatu yang bisa diakses oleh sembarang orang. Apalagi oleh seorang anak magang." Le

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    9. Anak Muda itu Lagi

    Kinara terdiam. Untuk sesaat, ia hanya menatap pria itu tanpa berkata apa-apa.Rian mengenakan kemeja gelap dengan jas yang tidak dikancingkan. Wajahnya terlihat tegang, seolah sudah mencari Kinara ke berbagai tempat sebelum akhirnya menemukan perempuan itu di restoran ini.Matanya langsung tertuju kepada Kinara. "Aku ingin bicara denganmu."Kinara menghela napas pendek. "Rian, ini bukan tempat yang tepat.""Aku tahu."Rian melangkah mendekat. "Tapi sejak kapan kamu mau menikah lagi tanpa memberitahuku?"Kinara menatapnya tajam. "Itu bukan urusanmu lagi."Rian terdiam sejenak. Kalimat itu jelas membuat wajahnya berubah."Aku mantan suamimu, Kinara.""Dan itu sebabnya kamu seharusnya tahu bahwa hubungan kita sudah berakhir.""Aku masih ingin memperbaikinya."Kinara menahan napas. "Aku tidak."Jawaban itu keluar tanpa ragu.Rian menatapnya, seolah masih berharap menemukan sedikit keraguan di mata Kinara. Namun tidak ada.Adhijaya yang sejak tadi memperhatikan percakapan mereka akhirnya

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    8. Pertemuan Pertama

    Pintu kaca restoran fine dining di lantai teratas hotel bintang lima itu terbuka perlahan. Kinara melangkah masuk dengan gaun hitam berpotongan rapi yang membuat penampilannya terlihat elegan. Sebuah blazer putih tersampir anggun di bahunya, melengkapi penampilannya malam itu.Ia berjalan dengan tenang dan teratur. Meski tahu dirinya sedang menuju sebuah pertemuan yang dirancang oleh ayahnya sendiri, Kinara tetap memasang ekspresi profesional. Tidak ada tanda-tanda gugup ataupun keberatan yang terlihat dari wajahnya.Seorang pelayan pria segera menyambutnya dengan senyum ramah."Atas nama reservasi Tuan Adhijaya, Kak?""Iya, betul," jawab Kinara singkat dan sopan.Pelayan itu mengangguk, lalu mempersilakan Kinara mengikutinya menuju area privat di sudut restoran. Tempat itu cukup jauh dari meja pelanggan lain dan menghadap langsung ke pemandangan kota yang dipenuhi gemerlap lampu.Di sana, di sebuah meja bundar yang dilapisi kain putih bersih dengan lilin kecil di tengahnya, seorang p

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    7. Aku akan Datang

    Tangan Kinara yang memegang lembaran dokumen perjodohan itu tampak tenang, tanpa getaran sedikit pun. Pipi kirinya masih terasa panas akibat tamparan sang ayah. Ia sempat menekan lidah ke bagian dalam pipinya, memastikan tidak ada darah yang keluar.Kemudian, ia kembali mengangkat wajah. Sorot matanya tajam, menatap lurus pada pria paruh baya di hadapannya.Tidak ada air mata. Tidak ada pula raut wajah pasrah dari seorang wanita yang sedang dipojokkan.“Jadi, ini alasan Ayah memanggilku pulang dengan terburu-buru?” tanya Kinara dengan suara rendah dan datar.Hendra menyilangkan kedua tangan di dada. Tatapannya masih keras, tetapi matanya sempat turun sekilas pada pipi Kinara yang memerah.Hanya sesaat. Setelah itu, ia kembali memasang wajah seorang kepala keluarga. “Ayah tidak memanggilmu pulang untuk berdebat.”Kinara mengangkat sebelah alis. “Lalu?”“Tuan Adhi adalah pemegang saham utama di grup bisnis besar yang sedang kita incar.” Nada suara Hendra terdengar lebih terkendali. “Dia

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status