مشاركة

66. Demi Kebaikan Kita

مؤلف: Blue Ice
last update تاريخ النشر: 2026-10-03 23:23:34

Malam harinya di apartemen Kinara, suasana bimbingan tesis terasa jauh lebih dingin dan penuh tekanan dari biasanya. Leo duduk bersedekap dada di sofa ruang tamu. Kemeja hitamnya dilipat hingga siku, namun raut wajah tampannya kaku bagai pahatan es. Manik mata hitam pemuda itu menatap Kinara yang baru saja meletakkan cangkir teh di atas meja.

"Sejak kapan pria berjas abu-abu itu punya akses bebas masuk ke ruang kerjamu, Kinara?" tanya Leo dengan suara bariton rendah yang amat dingin dan meneka
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    82. Bukan 'Wanita Lain'

    Suasana di dalam kamar perawatan privat itu mendadak menjadi begitu hening. Suara hembusan pendingin udara dan bunyi ritmis alat pemantau detak jantung seolah tertahan oleh aura dingin yang memancar dari sudut mata Kinara. Leo yang terbaring lemah di atas ranjang mengerutkan alisnya. Jemari tegapnya yang masih terpasang jarum infus mempererat genggamannya pada liontin perak di dadanya. Tatapan mata hitamnya yang redup menatap wajah Kinara yang terlipat kaku. "Wanita lain?" ulang Leo dengan suara bariton serak, matanya berkedip heran. "Tentu saja," sahut Kinara ketus seraya memalingkan wajahnya ke arah jendela, enggan menatap Leo langsung. "Kamu baru saja sadar dari koma, dan hal pertama yang kamu khawatirkan setengah mati adalah liontin berisi foto wanita cantik itu. Siapa dia? Mantan kekasihmu yang terasing? Atau cinta pertamamu yang sengaja kamu sembunyikan dariku?" Leo terdiam sejenak. Namun, perlahan-lahan, sudut bibirnya yang pucat terangkat tipis. Sebuah senyuman halus nan g

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    81. Jangan Gegabah

    Preman yang memukul ketakutan setengah mati melihat efek hantamannya. Ia melempar besi itu sembarangan lalu berlari terbirit-birit masuk ke dalam mobil bersama teman-temannya yang tersisa, melesat kabur meninggalkan area parkir yang sepi. Brak! Lutut tegap Valentino Sutedja mendadak kehilangan tumpuan. Tubuh tingginya ambruk sepenuhnya, terkulai lemas dan jatuh tepat ke dalam pelukan Kinara. "Leo! Leo!" jerit Kinara histeris seraya menahan beban tubuh pria itu, ikut terduduk kaku di atas aspal yang dingin. Cairan hangat berwarna merah pekat mengalir deras dari sela-sela rambut hitam Leo, membasahi lehernya hingga merembes luas membasahi blazer krem yang dikenakan Kinara. Bau amis darah seketika memenuhi indra penciuman Kinara. Kinara merengkuh kepala Leo di pangkuannya. Tangannya yang gemetaran hebat menangkup rahang tegas pria itu, berusaha menahan aliran darah yang terus mengalir membasahi pakaian mewahnya. "Leo, bangun! Tolong jangan seperti ini! Buka matamu, Leo!" tang

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    80. Melindungi Mu

    Sinar matahari pagi menerobos tipis lewat celah tirai kamar utama. Kinara perlahan membuka matanya, merasakan tubuhnya yang dibalut piyama bersih beraroma vanila nan lembut. Sisa-sisa rasa hangat dari pergulatan gairah di ruang tengah dini hari tadi masih membakar kulitnya. Kinara tersentak kaku saat menyadari ia terbangun di atas tempat tidurnya, padahal seingatnya ia tertidur lemas di sofa dalam kungkungan Leo. Di atas meja samping tempat tidur, tergeletak sebuah cangkir teh chamomile hangat yang masih mengepul halus, bersanding dengan piring berisi croissant panggang dan secarik kertas kecil bertuliskan tulisan tangan tegap yang sangat rapi. 'Aku sudah membersihkan tubuhmu dan merapikan ruang tengah. Makan sarapanmu, Bu Manajer. Sampai jumpa di kantor.' Pipi Kinara seketika memerah panas. Pikirannya melayang membayangkan Leo yang dengan telaten memandikan dan memindahkannya ke kamar tanpa membangunkan dirinya. Ada rasa hangat yang begitu dalam membuncah di dadanya, namun juga r

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    79. Jangan Keluar di dalam

    Jarum jam sudah melewati angka dua dini hari saat Kinara akhirnya bisa melepaskan diri dari laptop dan tumpukan berkas pekerjaan. Dengan tubuh yang teramat lelah, ia mengempaskan diri ke sofa ruang tengah, membiarkan keheningan unit apartemennya dan sisa dingin hujan di luar meredakan kepalanya yang penat.Tok. Tok.Suara ketukan pelan namun konstan dari arah belakang membuat kantuk Kinara menguap instan. Ia menoleh cepat ke arah balkon. Di balik pintu kaca geser yang membatasi ruang tengahnya, sesosok tubuh tinggi berdiri tegak di bawah temaramnya langit malam. Jantung Kinara mencelos.Melalui kaca transparan yang masih menyisakan aliran air sisa hujan, Kinara bisa melihat kondisi pria itu dengan jelas. Kemeja putih yang biasanya melekat rapi di tubuh Leo kini basah kuyup, menempel ketat pada kulitnya akibat guyuran hujan beberapa saat lalu. Napas pria itu tampak memburu. Namun, bukan air hujan yang membuat Kinara mematung di atas sofanya.Tepat di bagian perut kirinya, warna putih k

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    78. Memblokir Penguntit

    Sore itu di sudut ruang tengah apartemen Kinara, tawa renyah Arkana memenuhi udara. Bocah mungil itu duduk di atas karpet bersama Leo yang masih mengenakan kemeja kerjanya. Mobil mainan baru pemberian Leo meluncur melintasi lintasan plastik yang baru mereka rakit bersama. "Om, mobil yang ini kencang banget! Seperti mobil Om Leo yang di bawah, ya?" tanya Arkana riang, matanya berbinar menatap Leo. Leo menyunggingkan senyum tipis. Tangan tegapnya dengan penuh kasih mengacak pelan rambut halus Arkana. "Kalau Arka suka, nanti Om ajari cara menyetir kalau Arka sudah besar." Kinara yang baru selesai membuatkan teh hangat di dapur hanya bisa terdiam memperhatikan dari jauh. Ada rasa hangat sekaligus sesak melihat betapa alaminya kebersamaan mereka berdua. Lama-kelamaan, usai lelah bermain dan perutnya kenyang, kelopak mata Arkana mulai terasa berat. Bocah itu menyandarkan kepalanya yang terkantuk-kantuk tepat di atas paha tega

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    77. Pengintaian Tanpa Disadari

    Sensasi hangat dari ciuman panas di lorong kantor tadi siang masih terus membayangi pikiran Kinara. Wajahnya merona merah tiap kali mengingat bagaimana tubuhnya melunak pasrah dalam kungkungan Leo. Namun, kejengkolan di dadanya jauh lebih besar. Leo telah bertindak terlalu jauh dan ceroboh di lingkungan kerjanya. Sore harinya, usai menyelesaikan tumpukan berkas di hari pertama kerja, Kinara bergegas pulang menuju apartemen. Ia ingin segera menjemput Arkana yang sore itu diantar oleh pengasuh dari tempat penitipan sementara ke taman bermain kompleks. Suasana taman bermain di area tengah kompleks apartemen terasa begitu sejuk. Angin sore berembus pelan menyapu rimbunnya dedaunan. Kinara menghentikan langkahnya di pinggir jalan setapak. Matanya membelalak kaku saat melihat pemandangan tak terduga di area ayunan kayu. Di sana, Leo yang masih mengenakan kemeja kerja abu-abu tanpa jas dan dasi yang sudah dilepas sedang berlutut di atas rumput. Pria tegap yang biasanya memancarkan aura d

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status