MasukSuara Selene pelan tapi jelas.
Dirian menatapnya sebentar, rahangnya menegang. “Kau tidak usah mencampuri.”
Ia lalu menarik pergelangan tangan Selene dan menuntunnya menaiki tangga menuju lantai atas.
Selene menoleh ke arah Odet yang hanya berdiri di sisi ruangan.
“Dia dokter keluarga kita. Kenapa jadi seperti ini?”
Odet hanya mengangkat bahu tipis dan kembali menatap ke arah bawah, ke tubuh dokter yang kini diseret keluar oleh pengawal.
“Masih banyak dokter yang setia. Istirahatlah. Jangan terlalu banyak berpikir,” ujar Dirian pelan, masih menggenggam tangan Selene erat, seolah takut dia akan hilang lagi.
Selene mengerjap sekali. Hanya sekali, namun cukup untuk menahan gelombang emosi yang tiba-tiba naik ke dadanya. Ia menatap Viviene dengan sorot mata waspada, seolah satu kata yang salah bisa membuat semuanya runtuh.“Apa maksudmu?” tanyanya akhirnya. Suaranya tenang, terlalu tenang, seperti permukaan air sebelum badai.Viviene menyeringai. Senyum itu tidak pernah benar-benar sampai ke matanya.“Aku akan membantumu,” katanya pelan namun penuh keyakinan. “Aku akan memastikan kau tetap berada di posisimu. Di tempat yang aman. Masa depan anak-anakmu akan terjamin.”Selene menatapnya tajam.Viviene berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Namun aku membutuhkamu.”
Viviene menatap Morvena cukup lama, seolah mencoba membaca sesuatu yang tersembunyi di balik senyum dan ketenangan wanita berambut merah itu. Lalu, perlahan, ia menundukkan wajahnya. Bahunya tampak sedikit jatuh, bukan karena lelah, melainkan karena ada beban lama yang kembali mengendap di dadanya.Danau di hadapan mereka begitu tenang, terlalu tenang. Permukaannya memantulkan langit senja yang pucat, seakan dunia sedang menahan napas.Morvena memiringkan kepala, menatap Viviene dengan sorot mata yang lembut namun penuh keyakinan.“Aku dan Dirian,” ucapnya akhirnya, suaranya rendah dan mantap, “memiliki ikatan yang tidak bisa dilepaskan. Bahkan jika dia mati… aku juga akan mati.”Kata-kata itu meluncur begitu saja, seolah sebuah kebenaran mutlak yang tak pe
Selene terdiam cukup lama. Ada getaran halus di dadanya, semacam pengakuan sunyi yang bahkan tidak berani ia ucapkan pada dirinya sendiri. Kata-kata Lamina tentang tekad kembali berputar di kepalanya, dan entah mengapa bayangan Viviene muncul begitu jelas wajah keras kepala itu, tatapan yang tak pernah benar-benar tunduk, dan keberanian bodoh yang selalu mendorongnya maju meski tahu akan terluka.Tekad…Selene mengerti sekarang. Ia pernah melihatnya dan Ia pernah merasakannya seberapa kuatnya kebencian dari tekad itu.Selene menghela napas pelan, lalu bertanya, seolah sedang berbicara pada dirinya sendiri. “Lamina… apakah penyihir juga bisa jatuh cinta?”Lamina menoleh perlahan. Wajahnya tenang, namun ada kedalaman yang sulit dibaca di matanya. Ia tersenyum
Viviene memalingkan wajahnya perlahan. Cahaya memantul di matanya, namun kilau itu tak mampu menyembunyikan sesuatu yang lebih dalam luka lama yang belum pernah benar-benar sembuh.Morvena memperhatikannya lama, lalu tersenyum tipis. “Kau tidak perlu menyangkal,” ucapnya pelan, hampir seperti membelai udara. “Aku tahu.”Viviene menarik napas, lalu mengembuskannya dengan getir. “Kau tidak tahu apa-apa tentang aku… atau tentang dia.”“Oh, aku tahu,” sahut Morvena lembut, namun penuh keyakinan. “Pelayan-pelayan di kastil itu terlalu sering berbisik. Tentang bagaimana kau mencintainya tanpa syarat, bagaimana kau berdiri di sisinya ketika semua orang meragukannya, dan bagaimana pada akhirnya… kau ditinggalkan begitu saja.”
Daisy terkejut. “Melihat… semuanya, Nyonya?”“Ya,” jawab Selene datar. “Aku ingin dia tahu. Aku ingin dia melihat dengan matanya sendiri bagaimana Dirian memilih, bagaimana anak-anakku bereaksi, dan bagaimana aku bersikap.”Ia berhenti sekali lagi, kali ini menoleh setengah, sorot matanya tajam.“Karena hanya dengan begitu,” lanjutnya pelan, “ia akan mengerti satu hal.”Daisy tidak berani bertanya lebih jauh. Ia hanya menunduk dan mengangguk.“Baik, Nyonya.”Selene kembali berjalan, menggandeng Dagny dan Divrio lebih erat. Di dadanya, ada sesuatu yang berdenyut bukan cemburu, bukan amarah semata, melainkan tekad ding
Wajah Morvena memerah. Semburat merah muda naik ke pipinya, membuat rautnya tampak jauh lebih lembut dari biasanya. Ada rasa senang yang tak bisa sepenuhnya ia sembunyikan, namun ia segera menggeleng pelan, seolah ingin menepis bayangan yang terlalu besar untuk diucapkan.“Jangan katakan hal-hal seperti itu,” ujarnya pada Ilard, suaranya halus namun tegas. “Itu bisa membuat orang salah paham. Mana mungkin aku yang bahkan tidak mengerti apa pun tentang dunia bangsawan menjadi duchess. Posisi itu milik istri sah Dirian.”Annie menatapnya dengan mata berbinar, seolah mendengar sesuatu yang justru membuatnya semakin bersemangat.“Justru karena itu Anda tidak seharusnya berkata demikian,” katanya cepat. “Saya akan sangat senang jika suatu hari menjadi pelayan seorang duchess.”







