LOGIN“Bagaimana bisa dia dijebak?!” Selene memandang Sven dengan mata membesar, tak percaya dengan apa yang baru didengarnya.
Sven menunduk, jelas takut. Dan Selene bisa menebak alasan mengapa Sven tak berani bicara.
“Berikan penawarnya,” perintah Selene cepat, membantu Regan membaringkan Dirian yang tubuhnya sudah panas seperti bara dan terus meracau namanya.
“Saya sudah memberikannya,” jawab Sven, suara penuh kecemasan. “Tapi… penawarnya tidak bekerja. Obat ini berbeda dari yang biasa. Jika hanya afrodisiak keras, biasanya Tuan hanya akan bereaksi ringan atau paling buruk diare. Tapi ini… ini cukup kuat untuk mengalahkan daya tahan Duke.”
Selene menoleh cepat, tatapannya tajam. “Maksudmu apa, Sven?”
Selene menatap Viviene lama, terlalu lama, seolah sedang menimbang apakah percakapan ini masih layak dilanjutkan atau seharusnya dihentikan di sini sebelum berubah menjadi sesuatu yang lebih kejam.“Viviene,” ucap Selene akhirnya, suaranya tenang namun berlapis peringatan, “aku tidak bisa ikut campur jika sesuatu terjadi dan Dirian mengetahuinya. Jika itu sampai terjadi… kau tidak akan bisa lepas dari ini.”Viviene terkekeh kecil, tawa tanpa kehangatan. “Jangan menggurui aku seolah kau tahu semua hal tentang Dirian,” balasnya tajam. Matanya menyipit, lalu ia melanjutkan tanpa ragu, “Ingat satu hal, kau itu hanya pengganti, Selene. Pengganti dari aku, wanita Dirian yang sebenarnya.”Kata-kata itu menghantam lebih keras daripada yang Viviene bayangkan. Selene menghela nap
Pagi itu Selene tampak tenang. Ia duduk rapi di balik meja kerjanya, punggung tegak, rambutnya disematkan sederhana seperti hari-hari biasa. Sinar matahari masuk dari jendela tinggi, menyapu permukaan meja dan berkas-berkas yang tersusun rapi. Namun hanya Selene yang tahu, ketenangan itu palsu.Jari-jarinya mencengkeram berkas yang sedang ia baca sedikit terlalu kuat.Ilard berdiri beberapa langkah di depannya, sikapnya formal seperti biasa. Ia sudah lama mengenal nyonyanya itu, dan dari cara Selene terlalu lama menatap satu halaman, Ilard tahu ada sesuatu yang mengganggunya.Selene akhirnya mengangkat wajahnya. “Jadi,” katanya pelan namun tajam, “dia ingin membuat pesta teh?”Ilard mengangguk singkat. “Benar, Nyonya.”
Viviene mengatupkan bibir. Ia sudah terbiasa dengan tatapan orang yang menghakimi, tetapi ada sesuatu dalam cara Morvena menatapnya yang membuat tengkuknya terasa dingin.“Dia begitu membencimu,” lanjut Morvena, suaranya tetap tenang namun setiap katanya menghujam, “bahkan ingin membunuhmu. Mencekikmu dengan tangannya sendiri.”Viviene tercekat. Untuk sesaat, wajahnya menegang sebelum ia terkekeh singkat tawa kering yang dipaksakan. “Berlebihan,” katanya. “Dia hanya bocah yang tak tahu apapun.”Morvena menggeleng pelan. “Tidak,” jawabnya lembut, hampir simpatik. “Itu bukan amarah seorang bocah. Itu naluri yang lahir dari luka yang dalam.”Ia memiringkan kepala, menambahkan dengan nada seolah sedang
Selene tidak menjawab, namun genggaman tangannya sudah cukup sebagai jawaban.Sylar terdiam cukup lama setelah Selene menyelesaikan ceritanya. Tangannya masih melingkari cangkir teh yang sudah tak lagi mengepul, namun ia tidak meminumnya. Matanya menatap cairan pucat itu tanpa fokus, seolah di sana tersimpan bayangan-bayangan yang baru saja dipaksakan masuk ke dalam kepalanya, tentang kutukan, penyihir, dan rencana yang terlalu kejam untuk disebut kebetulan.“Sejujurnya…” Sylar akhirnya membuka suara. Kalimat itu terhenti di tenggorokannya, seperti harus melewati lapisan perasaan yang saling bertabrakan. Ia menghela napas, lalu mengangkat wajahnya menatap Selene. “Aku tidak sepenuhnya percaya.”Selene tidak terkejut. Ia hanya menunduk sedikit, jemarinya saling bertaut di atas pangkuan. Reaksi itu justru membuat Sylar merasa semakin tidak e
Mereka baru saja menyelesaikan latihan ketika langkah kaki terdengar mendekat dari arah halaman.Jay masih sempat menarik napas dan berkata, “Baik, itu cukup untuk hari ini—”“PAMAAAN SYLAR!!”Teriakan itu datang bersamaan.Divrio dan Dagny berbalik serempak, mata mereka langsung berbinar saat melihat sosok tinggi yang baru saja memasuki halaman. Tanpa aba-aba, kedua bocah itu berlari secepat yang kaki kecil mereka bisa.“Tunggu—!” Jay refleks mengangkat tangan, tapi sudah terlambat.Sylar bahkan belum sempat sepenuhnya membuka lengannya ketika dua proyektil kecil penuh tenaga itu menubruknya.“Ugh&mdash
Selene terdiam cukup lama.Keheningan itu tidak lagi sekadar sunyi, ia berat, menekan, seperti udara sebelum badai. Pandangannya kosong, seolah pikirannya terseret jauh ke tempat yang bahkan ia sendiri takut untuk datangi. Dirian berdiri di sampingnya, menunggu, memberi ruang, meski dadanya sendiri terasa sesak oleh hal-hal yang tak terucap.Akhirnya, tanpa berkata apa pun, Dirian mengajaknya pergi.Selene mengangguk pelan. Langkah mereka menjauh dari pondok itu terasa lambat, seolah kaki Selene tertambat pada tanah. Ia tidak menoleh ke belakang. Ia takut jika ia melakukannya, air mata yang sejak tadi ia tahan akan runtuh begitu saja.Pintu pondok tertutup.Jay dan Lamina kembali terjebak dalam ruang sempit itu, ditemani cahaya senja yang me







