LOGINUdara seketika membeku.Bukan hanya karena suara Dirian, tetapi karena makna di baliknya. Bjorn menelan ludah dengan susah payah, rahangnya mengeras. Erick menunduk lebih dalam, bahunya kaku, seolah satu gerakan salah saja bisa menyeret mereka semua ke dalam amarah itu.Jay berlutut penuh, kepala tertunduk dalam-dalam. Tidak ada pembelaan. Tidak ada alasan.“Saya patuh,” ucapnya lirih, jelas, dan mutlak.Dagny yang lengannya masih dalam cengkeraman ayahnya memberontak kecil, sekuat tenaga anak seusianya. Suaranya meninggi, campuran protes dan kebingungan.“Ayah! Aku cuma—”Dirian berhenti melangkah.Ia menoleh perlahan.
Viviene tertawa patah, serak, dan nyaris seperti suara orang sekarat. Bahunya bergetar, bukan karena dingin, melainkan karena amarah dan kegilaan yang menumpuk terlalu lama.“Kau… kau pikir aku bodoh?” desisnya. “Kau pikir semua ini salahku?”Ia mendongak, menatap Selene dengan mata biru yang dulu selalu dipenuhi iri, kini hanya tersisa kehancuran. “Semua ini karena kau! Karena kau tidak mati! Karena kau kembali!”Jay menggeram, hendak memberi isyarat pada pengawal, namun Selene mengangkat tangannya sedikit.Jay terdiam.“Karena aku hidup?” Selene mengulang pelan, seolah mencicipi kata-kata itu. “Atau kare
Nenek Dirian terkekeh kecil, bunyinya pelan tapi jelas. “Ah, anak-anak sekarang tidak sabar.”Ia menatap Selene dan Dirian bergantian, lalu tersenyum lebar. “Bukankah lebih baik terlambat daripada… tergesa?”Odet menahan senyum, menunduk sejenak sebelum akhirnya angkat bicara. “Kamar Dirian memang terkenal sulit ditinggalkan sejak dulu.”Selene hampir tersedak udara.“Bu,” gumam Dirian pelan, jelas memperingatkan.Namun nenek justru makin berseri. “Kenapa? Aku hanya bicara kenyataan.” Ia menatap Selene dengan mata penuh godaan hangat. “Wajahmu bercahaya pagi ini, Sayang.”Dagny memiringkan kepala. &ldquo
Pagi di Kastil Leventis biasanya sunyi.Udara dingin pegunungan masih menggantung di lorong-lorong batu, cahaya matahari menembus jendela tinggi dengan lembut, dan para pelayan bergerak dalam disiplin tanpa suara. Namun pagi itu ketenangan itu lenyap.Langkah kaki kecil terdengar berlari di atas lantai marmer.“Ibu tidak ada.”Suara Divrio terdengar tenang, tetapi justru karena ketenangannya itulah Mona merasakan kegelisahan yang menusuk. Anak itu berjalan di depan, punggungnya tegak, sorot matanya fokus, terlalu dewasa untuk anak seusianya.Di sampingnya, Dagny nyaris terseret langkahnya sendiri. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya memerah karena kesal dan cemas
Kereta kuda akhirnya benar-benar berhenti di depan gerbang Kastil Leventis.Roda kayu berdecit pelan sebelum sunyi sepenuhnya. Suara tapal kuda memudar, dan halaman kastil seolah menahan napas, hening yang ganjil, tegang, penuh penantian.Ilard sudah berdiri paling depan, nyaris berjinjit, kedua tangannya mengepal di dada. Sven berdiri tenang di sampingnya, sementara Jay, Lucien, dan Sylar memperhatikan dengan rasa penasaran yang tak lagi mereka sembunyikan.Pintu kereta terbuka.Dirian turun lebih dulu. Langkahnya mantap, tatapannya menyapu halaman kastil yang begitu dikenalnya, dinding batu, menara, dan tanah yang selama ini tunduk pada namanya.“Selamat datang kembali, Tuanku,” ucap Sven sambil menunduk hormat.
Dirian tersenyum.Bukan senyum penguasa, bukan senyum jenderal yang ditakuti dunia melainkan senyum seorang pria yang akhirnya menemukan alasan untuk bernapas tanpa rasa bersalah. Ia menarik Selene ke dalam pelukannya, memeluknya erat, seolah dunia bisa runtuh kapan saja dan ia tak akan melepaskannya lebih dulu.Selene membalas pelukan itu.Tangannya melingkar di punggung Dirian, wajahnya terselip di dada pria itu. Detak jantung yang ia dengar begitu nyata, begitu hidup. Tidak tergesa, tidak terhuyung oleh rasa sakit. Untuk pertama kalinya sejak lama, Selene merasa aman bukan karena dunia berhenti berbahaya, tetapi karena mereka menghadapinya bersama.Lamina menghembuskan napas lega.Para penyihir lain saling bertukar pandang, beberapa ters







