Share

338. Kenyataan

Author: Raisaa
last update Last Updated: 2025-12-25 10:00:47

Ruangan terasa menahan napas.

Dirian tidak langsung menjawab. Tangannya yang masih berada di pipi Selene turun perlahan, jemarinya gemetar. Dadanya naik turun sekali, dua kali seolah ia sedang menyiapkan diri menghadapi hukuman yang lebih kejam daripada kutukan mana pun.

Perlahan…
Dirian mengangguk.

Satu gerakan kecil.
Namun cukup untuk membuat dunia Selene runtuh sepenuhnya.

Selene menutup mulutnya dengan tangan, menahan isak yang hampir lolos. Dadanya terasa perih, seolah seluruh udara di ruangan itu tiba-tiba menghilang.

“Jadi…” suaranya pecah. “Di matamu… aku bukan sekadar istri. Aku titik lemahnya.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Yuli W
Laki2 serius dan berat memikirkan hal2 menyangkut keselamatan dan keamanan. Maka bagi dirian. Urusan terkait viviene disepelekan, padahal itu sangat menyiksa bagi selene.
goodnovel comment avatar
Yuli W
Itulah perempuan. Lbh rumit dlm melawan ovt dan perasaannya sendiri. Maka persoalan hati misal hal2 yg terkait viviene kemarin terasa lbh menyiksa. Utk urusan keselamatan diri dan keamanan seperti ini tdk terlalu pusing karna bkn otak "petarung", dan otak "tanggung jwb". Beda dan laki2.
goodnovel comment avatar
Yuli W
"Dri mana pikiran seperti itu datang selene?" Ya dr kau dan vivienelah dirian. Kau diam aja saat viviene selalu mengoceh bahwa kau hanya menginginkan vivienelah yg melahirkan anakmu. Dan sikapmu yg selalu berada di samping viviene termasuk saat vivi meracuni selene, ya jls selene berpikir begitu.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!   410. Tidak pernah lahir kedunia ini

    Morvena mengangguk dengan senyuman mengembang. “Terima kasih, Dirian.”Ia berbalik dan melangkah keluar ruangan dengan langkah ringan. Begitu pintu terbuka, Sven yang sejak tadi menunggu langsung menegakkan tubuhnya.“Ayo,” kata Morvena padanya. “Temani aku.”Sven menunduk patuh dan mengikutinya pergi.Dirian bangkit dari tempat duduknya.Langkahnya keluar dari ruang kerja terasa lebih berat dari biasanya. Lorong kastil yang panjang menyambutnya dengan bisik-bisik yang tak lagi disembunyikan. Nama itu Viviene mengalir dari mulut ke mulut, dari pelayan ke penjaga, seperti bayangan lama yang dipaksa bangkit kembali.Dirian mendengarnya. Namun ia memilih meng

  • Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!   409. Penyelamat

    Morvena menatap Viviene lebih lama dari yang ia sadari.Wanita itu kini terlihat benar-benar kosong seolah setelah kalimat terakhirnya terucap, sesuatu di dalam dirinya runtuh sepenuhnya. Bahunya tetap tegak, tatapannya masih tajam, tetapi ada kehampaan yang menganga di balik mata biru itu. Kehampaan yang tidak lahir dalam semalam, melainkan terbentuk oleh waktu, oleh ketakutan yang berulang, oleh harapan yang dipatahkan berkali-kali.Morvena mengenal Dirian Leventis.Ia tahu pria itu adalah sosok yang mampu melawan bahkan membantai para penyihir tanpa gentar. Sosok yang kehendaknya tidak mudah digoyahkan oleh siapa pun. Namun kegelapan yang membungkus Viviene jauh lebih dalam dari sekadar rasa takut pada seorang duke. Ini adalah kegelapan yang telah melekat pada hidupnya seperti bayangan yang tidak akan hilang ke mana pun ia

  • Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!   408. Cinta pertama

    Ia bersandar kembali di kursinya, seolah keputusan itu hanyalah bagian kecil dari pagi yang biasa.Ilard menunduk hormat. “Baik, Nyonya.”Ilard pergi tanpa menoleh lagi.Langkahnya tenang, terukur seperti seseorang yang tahu betul bahwa apa yang sedang ia lakukan akan menimbulkan riak, dan riak itu memang diinginkan. Tidak ada perintah tertulis, tidak ada suara lantang. Hanya bisikan yang diarahkan dengan tepat, ke telinga yang tepat.Dan kastil pun berubah.Dalam waktu singkat, nama itu mulai hidup kembali.Viviene.Ia muncul di antara desir rok para pelayan, di sela denting piring dapur, di balik pilar-pilar batu tempat orang-orang berhent

  • Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!   407. Cemburu

    Dirian menatap Morvena dengan sorot yang tenang, nyaris datar. Tidak ada tantangan di sana hanya keyakinan yang dingin dan terukur.“Rasa penasaran seorang laki-laki,” ucapnya akhirnya, suaranya rendah dan mantap, “bukan berasal dari apa yang mereka lihat.”Morvena tidak langsung menjawab. Ia menatap Dirian, mencoba membaca celah apa pun yang bisa ia genggam sebagai peluang. Namun wajah lelaki itu tetap sulit ditembus.Dirian lalu mengalihkan pandangan. Matanya menangkap sosok Annie yang berdiri tak jauh, menunggu dengan sikap hormat.“Annie,” panggilnya singkat. “Antar Lady Morvena ke kamarnya. Sudah malam. Ia perlu beristirahat.”Annie menunduk. “Baik, Yang Mulia.”

  • Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!   406. Hanya rasa penasaran

    Malam itu, Kastil Leventis tidak pernah benar-benar tidur.Jerit pelayan berlari dari lorong ke lorong, suara langkah tergesa memecah keheningan, dan lampu-lampu dinyalakan satu per satu seperti ada sesuatu yang hendak disembunyikan dari gelap.Viviene.Nama itu berbisik di antara dinding batu, dibawa angin malam yang dingin dan basah. Viviene kembali mencoba mengakhiri hidupnya.Ia ditemukan di ruang bawah tanah ruang sempit yang selama ini menjadi penjaranya, terkapar dengan napas tersengal, wajahnya pucat kebiruan. Sebuah sendok plastik, yang telah lama menggantikan alat makan besi demi mencegah hal semacam ini, patah dan berlumur darah di dekat bibirnya.Ia memaksakan benda itu masuk ke tenggorokannya sendiri. Entah sudah percobaan b

  • Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!   405. Penjaga

    Dirian terdiam.Ia tidak langsung menjawab. Bukan karena tersentuh melainkan karena tidak mengerti. Dirian merasa dia tidak melakukan apapun.Namun ia tidak mengatakan itu.Morvena melanjutkan, suaranya sedikit lebih lembut, hampir seperti bisikan kepercayaan.“Kepala pelayan berkata… aku mendapat perlakuan istimewa karena aku adalah wanitamu.”Kata itu wanitamu menggantung di udara.Dirian akhirnya meletakkan penanya. Ia bersandar di kursi, menatap Morvena lebih lama dari sebelumnya. Ia tidak melihat kebohongan di sana. Tidak ada sihir dan idak ada manipulasi. Hanya… keyakinan yang tumbuh terlalu cepat.“

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status