LOGINJay membuka matanya perlahan, kepalanya terasa berat, tubuhnya seakan bukan miliknya sendiri. Rasa nyeri menjalar dari kaki hingga ke punggung, membuat napasnya tertahan sesaat. Ia mengerjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan penglihatannya dan seketika tubuhnya menegang saat menyadari ada seseorang duduk di sisi ranjang.
Lamina.
Perempuan itu berlutut tenang, jemarinya ce
Daisy menunduk lebih dalam, seolah ingin memastikan kesetiaannya benar-benar tersampaikan.“Saya mengerti, nyonya,” ucapnya lirih, lalu mundur beberapa langkah, memberi ruang tanpa perlu diperintah.Selene melangkah menyusuri lorong batu yang hening menuju ruangan Lamina. Setiap langkahnya terukur, namun pikirannya tidak. Di ambang pintu, ia berhenti. Tangannya terangkat sedikit, lalu turun kembali sebuah gerak ragu yang jarang ia perlihatkan pada siapa pun.Ia tahu, apa yang akan dilakukan Lamina bukan sekadar upaya mencari jejak.Ini adalah menyentuh sisa-sisa keberadaan seseorang yang mungkin telah melalui ketakutan, penderitaan, atau sesuatu yang jauh lebih buruk.Mengikuti jejak seseorang yang telah menghilang selama lebih dari seminggu bukan hanya soal kemampuan. Itu soal kesiapan menerima kenyat
Jay menunduk hormat. “Tentu, nyonya.”Ia lalu menatap Selene dengan sorot yang lebih lembut, berbeda dari sikap profesionalnya barusan. “Namun sekarang, Anda sebaiknya kembali. Anda terlihat lelah.”Selene tersenyum tipis, senyum yang tidak sepenuhnya sampai ke matanya. “Mungkin. Tapi pikiranku belum mau diam.”Jay membalas dengan nada tegas namun penuh hormat, “Justru karena itu. Pikiran tajam butuh tubuh yang utuh.”Ilard langsung mengangguk setuju. “Yang mulia duke tidak akan senang jika mengetahui ini.”Selene akhirnya menghela napas dan mengangguk kecil. “Baik. Aku pulang.”Sebelum berbalik, Selene menatap Jay sekali lagi. “Jay.”
Di tempat itu, penderitaan Viviene berjalan mengikuti satu pola yang kejam dan teratur. Rafael tidak pernah berkata apa pun ia hanya berdiri dengan tenang, tatapannya dingin, dan jemarinya bergerak perlahan di udara. Setiap gerakan kecil dari tangannya selalu diikuti oleh suara Josh, seolah lelaki itu adalah lidah bagi kehendak Rafael.Hari itu, panas terasa lebih menyiksa dari biasanya.Bara api telah disiapkan di hadapan Viviene. Api tidak menyala tinggi, namun pijarnya cukup untuk membuat udara di sekitarnya bergetar. Viviene berdiri gemetar, wajahnya pucat, tubuhnya sudah terlalu lelah untuk merasa takut seperti dulu.Rafael menggerakkan jarinya sedikit satu isyarat singkat.Josh tersenyum miring, lalu berkata dengan nada santai,“Berjalanlah. Ada seseorang yang m
Udara di sekitar mereka seolah mengeras, seperti ada sesuatu yang tak kasatmata menekan dada setiap orang yang berdiri di sana.Selene memecah keheningan lebih dulu.“Apa kau mengenalku?” tanyanya pelan, suaranya tenang namun mengandung ketegasan yang halus.Hampir bersamaan, Ilard melangkah satu langkah ke depan, posisinya jelas melindungi Selene. Bahunya maju sedikit, sikapnya dingin dan waspada.“Apakah Anda mengenal nyonya?” ulang Ilard, nadanya datar namun tajam.Lelaki itu tidak segera menjawab. Pandangannya tetap tertuju pada Selene, menelusuri wajahnya seakan berusaha menyusun sesuatu di dalam kepalanya sebuah potongan ingatan yang nyaris tergapai, lalu lepas lagi.
Ia lalu berbalik dan melanjutkan berjalan. Annie segera menyusul di sisinya, sementara Ilard tetap mengikuti dari belakang, kini dengan sikap lebih waspada daripada sebelumnya.Di balik ketenangan Selene, angin sore berembus pelan, membawa udara dingin yang menyentuh kulitnya. Ia menarik napas dalam-dalam, seolah mencoba membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ini memang hanya tentang udara segar.Akhirnya mereka tiba di pusat kota.Kota itu hidup namun bukan dengan kegaduhan yang memekakkan, melainkan dengan denyut yang konstan, seperti napas panjang yang teratur.Jalanan batu memantulkan suara langkah kaki para pejalan, roda kereta yang lewat perlahan, dan percakapan-percakapan kecil yang bercampur menjadi satu gumam lembut. Udara membawa aroma roti panggang, kayu bakar, dan remp
Selene akhirnya bangkit dari duduknya. Langkahnya mantap meski kepalanya masih terasa berat oleh berbagai kemungkinan yang berputar di benaknya. Begitu kembali ke koridor utama, ia memanggil Daisy yang kebetulan melintas.“Daisy,” panggil Selene.Daisy segera berhenti dan menunduk hormat. “Nyonya memanggil saya?”“Aku membutuhkan bantuanmu,” ujar Selene tanpa bertele-tele. “Pergilah ke mansion Moreau. Aku ingin kau mengambil beberapa barang milik Viviene.”Daisy terdiam sesaat, jelas terkejut, namun wajahnya segera kembali tenang. “Barang seperti apa, Nyonya?” tanyanya hati-hati.“Apa saja yang masih menyimpan aromanya,” jawab Selene. “Gaun, parfum, selendang apa







