Share

9. Palsu

Author: Raisaa
last update Petsa ng paglalathala: 2025-09-24 08:01:00

Suara Odette begitu lantang hingga Dirian hanya bisa terdiam. Ia tidak bisa menentang ibunya, wanita yang sangat dihormatinya.

“Sial sekali aku memiliki anak bodoh sepertimu!” bentak Odette, lalu pergi meninggalkan Dirian dan neneknya.

Nenek menghela napas.

“Untuk ini, aku setuju dengan ibumu. Kau tidak seharusnya seperti ini,” ucap nenek lembut.

“Nenek…” panggil Dirian.

Nenek menatapnya.

“Perasaan seseorang tidak bisa dipaksakan,” ucap Dirian.

Nenek tersenyum, mengangguk.

“Suatu hari nanti, kau akan tahu: lebih baik dicintai dengan sepenuh hati daripada mencintai seorang yang salah.”

Kata-kata itu menusuk hati Dirian. Ia tahu nenek benar—antara Selene dan Viviene ada perbedaan yang ia sendiri selalu abaikan. Nenek pun akhirnya pergi meninggalkannya sendiri.

Di luar kastil, Selene dan Viviene berdiri bersama. Udara sore terasa berat, langit memerah keemasan, tapi di antara mereka dingin membeku. Para pengawal sudah menjauh memberi ruang.

“Ibu memang keras dan sulit ditenangkan,” kata Selene datar.

Viviene menatapnya, mata berkilat, luka masih terasa.

“Apakah kau memperingatkanku?”

“Aku hanya memberitahumu,” jawab Selene. “Setidaknya kau bisa bersiap menghadapi beliau.”

Viviene menyipitkan mata. “Kau bicara seolah mampu melakukannya.”

Selene tertawa pendek, getir.

“Aku bahkan tak pernah mendapatkan hati putranya. Bagaimana mungkin aku bisa merebut hati ibunya?”

Viviene menegakkan dagu, senyum sinis.

“Jadi kau cukup tahu diri.”

Selene tersenyum miris. Dalam hatinya, ia tahu: hanya ia yang pernah mencintai Dirian sepenuh jiwa, dan lelaki itu tak pernah benar-benar menoleh padanya.

“Yah…” suara Viviene rendah, beracun. “Kau pasti sudah sadar bagaimana hubungan aku dan Dirian sekarang.”

Selene tersenyum tipis, diam. Sorot matanya cukup membuat Viviene sadar: Selene sudah tahu segalanya.

“Tidak ada yang perlu kusembunyikan. Dirian akan selalu menjadi milikku,” lanjut Viviene, melangkah lebih dekat.

Selene tetap tenang.

“Aku masih istrinya. Masih Duchess di kastil ini. Di mata semua orang, aku penguasa Leventis. Jadi aku akan terus bersamanya.”

Viviene tertawa dingin.

“Apa yang bisa kau miliki, Selene? Aku sudah mengambil semuanya darimu—ayahmu, hartamu, bahkan Dirian. Semuanya milikku.”

Selene tersenyum lembut, hampir mengasihani.

“Bagus. Karena sepertinya, justru kau yang sangat membutuhkannya.”

Tawa Viviene terhenti. Senyumnya memudar, diganti kemarahan.

“Kau… seharusnya sejak awal berwajah seperti ini, biar semua orang tahu aslimu yang penuh kebencian!”

“Aku tidak pernah menyembunyikan apa pun,” balas Selene, nadanya tenang tapi menusuk. “Tidak seperti dirimu.”

Viviene menegang.

“Apa maksudmu?”

Selene menunduk sedikit, berbisik.

“Lebih baik bersikap baik padaku… sebelum aku bongkar rahasiamu. Rahasia kita berdua.”

Viviene pucat, tubuhnya terpaku.

Selene tersenyum tipis, melangkah lebih dekat.

“Aku sudah memberimu ayahku, hartaku, bahkan Dirian. Bukankah seharusnya kau berterima kasih padaku?”

Viviene bergidik, bibir bergetar.

Selene mendekatkan bibir ke telinga Viviene, berbisik menusuk jantung.

“Jangan sampai Dirian tahu… yang menyelamatkannya saat kecil itu aku. Bukan kau. Bukan gadis yang berpura-pura menjadi aku.”

Viviene membeku, jantung berdetak liar.

Selene tersenyum, terkekeh kecil.

“Aku penasaran… apa yang akan ia lakukan jika tahu? Apakah dia akan meninggalkanmu?”

Selene melangkah mundur, tegak dengan senyum kemenangan.

“Palsu,” kata satu kata ringan tapi mematikan.

Ia berbalik masuk kastil, meninggalkan Viviene kaku, pucat, dan retak topengnya.

.

.

Langit menggelap, kastil sunyi. Nenek dan ibu makan di kamar masing-masing, Dirian mengurung diri di ruang kerja. Selene mengira Dirian akan mengantar Viviene pulang, tapi ia membiarkan adiknya pergi sendiri.

Usai mandi dan berganti gaun tidur, ketukan pintu terdengar. Mona membuka, Ilard berdiri di sana.

“Saya akan mengantar Anda ke kamar Tuan. Tuan menyusul setelah pekerjaannya selesai,” ucap Ilard.

Selene mengangguk, mengenakan jubah tipis, mengikuti Ilard.

“Anda masuk saja, tunggu di dalam,” kata Ilard saat sampai di depan kamar Dirian.

Selene melangkah masuk. Aroma maskulin ruangan langsung menyergapnya. Kamar besar bernuansa gelap, memberi kesan dingin namun berwibawa. Tak ada tanda Viviene di sana.

Ia duduk di tepi ranjang, membiarkan aroma itu menyelimuti inderanya, seolah merasakan sisi Dirian yang hangat namun jauh dari jangkauannya.

Kreet—pintu terbuka. Dirian masuk, rambut sedikit berantakan, mata merah dingin namun mempesona.

“Aku akan mandi sebentar,” ucapnya.

Selene mengangguk. Dirian berhenti sejenak, menatapnya.

“Apakah kau mau menemaniku?” suaranya tenang.

Selene tersenyum tipis. Mereka sudah terlalu sering berbagi malam tanpa batasan.

Dirian mengambil sebotol wine dan dua gelas.

“Ayo. Mandi bersama.”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (2)
goodnovel comment avatar
Fathia Rahma
apalah ini SDH buka 10 iklan blm juga berakhir.. MLS buka
goodnovel comment avatar
dewi ayu marpuah
menarik ceritanya
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!   820 Akhir dari segalanya

    Pemakaman itu berlangsung tanpa kemewahan.Tidak ada kerumunan pelayat, tidak ada doa panjang yang dilantunkan dengan suara khidmat. Hanya tanah yang digali, peti yang diturunkan perlahan, dan suara sekop yang menimbun kembali lubang itu dengan ritme yang sunyi.Segalanya terasa cepat.Seolah kehidupan seseorang benar-benar bisa berakhir begitu saja tanpa jejak selain nama yang tertinggal di atas batu nisan.Viviene dimakamkan di samping makam ibunya.Itu adalah permintaan Selene.Tidak ada yang mempertanyakannya.Dan kini, tiga makam berdiri sejajar dalam satu garis yang sama Count Moreau, Countess Wendy Moreau, dan Viviene. Tiga nama yang terukir rapi, namun menyimpan kisah yang jauh dari kata damai.Selene berdiri di hadapan mereka.Diam.Tatapannya tertuju pada deretan nisan itu tanpa berpindah, seolah mencoba memahami sesuatu yang tidak pernah benar-benar selesai di dalam dirinya.Di sampingnya, Sylar menghela napas pelan.“Benar-benar… keluarga yang rukun,” ucapnya dengan nada ya

  • Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!   819. Lebih dari sebuah penghinaan

    Tidak ada seorang pun yang bisa mendekati Viviene.Ia berdiri di tengah lapangan eksekusi dengan tubuh terantai, kedua tangannya terikat, dan tubuhnya yang rapuh tampak hampir tidak mampu berdiri tegak. Para penjaga membentuk lingkaran rapat di sekelilingnya, membatasi jarak antara dirinya dan kerumunan yang datang berbondong-bondong hanya untuk menyaksikan akhir hidupnya.Bukan karena aturan semata.Melainkan karena terlalu banyak orang yang menginginkan momen itu.Terlalu banyak yang datang untuk melihat seorang pendosa menghadapi kematiannya.Sorakan mulai terdengar dari segala arah, menggema keras dan kasar, menyesakkan udara yang sudah dingin. Tuntutan demi tuntutan dilontarkan tanpa ampun, bercampur dengan hinaan yang tidak lagi disaring.“Cepat lakukan!”“Dia pantas mati!”“Jangan beri dia waktu lagi!”Suara-suara itu membentuk gelombang kebencian yang nyaris terasa nyata, menghantam tanpa henti ke arah sosok yang berdiri tak berdaya di tengahnya.Namun di antara semua itu, Sel

  • Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!   818. Terakhir kali melihat Viviene

    Dirian menarik napas panjang, lalu menatap Selene dengan sorot mata yang lebih dalam dari biasanya.“Sudahlah, Selene,” ucapnya pelan namun tegas. “Kau sendiri yang mengatakan Sylar berhak melakukan apa pun sekarang.”Ia berhenti sejenak, memastikan wanita di hadapannya memahami maksudnya.“Ayo masuk. Sidangnya akan dimulai.”Selene tidak menjawab. Ia hanya menatapnya sesaat, lalu mengalihkan pandangan dan melangkah lebih dulu. Tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan di luar sana.Bersama Dirian dan Sylar, ia memasuki ruang sidang.Ruangan itu sudah dipenuhi banyak orang. Deretan kursi dipadati bangsawan, pejabat, hingga mereka yang datang sebagai saksi atau korban. Udara di dalam terasa berat, dipenuhi ketegangan yang tidak disembunyikan.Di kursi tertinggi, Kaisar telah duduk.Wajahnya dingin dan tatapannya tajam. Tidak ada ruang untuk keraguan dalam dirinya hari ini.Sidang dimulai tanpa basa-basi.Dakwaan dibacakan satu per satu dengan suara lantang. Pembunuhan. Penipuan. Penggela

  • Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!   817. Wanita yang sejak kecil kejam

    Saat tandu itu menghilang di balik gerbang luar, pelataran kastil tidak serta-merta kembali tenang. Orang-orang masih berdiri di tempat mereka, sebagian berpura-pura merapikan pakaian, sebagian lagi saling bertukar pandang dengan bisikan yang belum sepenuhnya reda. Udara malam terasa lebih dingin, seolah peristiwa barusan meninggalkan sesuatu yang menggantung dan belum benar-benar selesai.Di tengah suasana itu, Dirian dan Selene melangkah keluar dari dalam kastil.Cahaya obor menerangi wajah mereka yang kontras Dirian tetap tenang seperti biasa, sementara Selene terlihat lebih sunyi, lebih tertahan. Mereka bahkan belum sempat mengatakan apa pun ketika suara lain lebih dulu memecah keheningan.“Kau menyembunyikan wanita itu selama ini?”Kaisar berdiri tidak jauh dari mereka, tatapannya langsung tertuju pada Dirian. Tidak ada basa-basi, tidak ada nada halus dalam ucapannya. Pertanyaan itu terdengar seperti tuduhan yang sudah ia yakini sejak awal.Dirian tidak menunjukkan reaksi berarti

  • Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!   816. Mendapatkan karmanya

    Nama itu jatuh begitu saja, namun dampaknya terasa seperti sesuatu yang runtuh di dalam keheningan.Bisik-bisik kembali muncul, kali ini lebih jelas dan lebih cepat, menyebar di antara para tamu yang saling bertukar pandang. Tidak ada yang benar-benar berani bersuara keras, tetapi kegelisahan itu terasa mengalir di antara tatapan dan napas yang tertahan.Selene tidak bergerak.Tatapannya tertuju pada surat di tangan kepala keamanan itu, seolah berusaha memastikan bahwa apa yang ia dengar barusan bukanlah kesalahan. Namun di dalam dirinya, sesuatu yang sempat tenang kini kembali retak. Bukan dengan suara keras, melainkan perlahan, dalam diam yang justru lebih menyakitkan.Dirian akhirnya bergerak.Ia mengambil surat itu dengan tenang, tanpa tergesa. Jari-jarinya membuka segel dengan satu gerakan ringan, lalu matanya langsung menelusuri isi di dalamnya. Tidak ada perubahan ekspresi yang mencolok, namun semakin lama ia membaca, semakin jelas bahwa isi surat itu bukanlah sesuatu yang sede

  • Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!   815. Penahanan

    Pesta itu berlangsung dengan kemegahan yang nyaris sempurna, namun keindahannya bukan hanya terletak pada cahaya lampu kristal atau deretan hidangan yang tersaji rapi di sepanjang aula. Ada sesuatu yang lebih dalam mengisi ruangan itu sesuatu yang tidak terlihat, namun bisa dirasakan oleh setiap orang yang hadir.Aula utama kastil Leventis dipenuhi para bangsawan dan tamu undangan dari berbagai wilayah. Gaun-gaun indah berkilauan, jas-jubah formal tertata sempurna, dan suara musik mengalun lembut, menyatu dengan percakapan yang mengisi setiap sudut ruangan. Namun perlahan, semua itu mereda. Suara-suara mulai turun, percakapan terhenti satu per satu, hingga akhirnya perhatian seluruh aula terpusat ke bagian depan.Di sanalah mereka berdiri.Dirian berdiri tegap, seperti biasa tenang, dingin, dan tidak tergoyahkan. Wajahnya tidak menunjukkan banyak emosi, namun kehadirannya saja sudah cukup untuk menahan seluruh ruangan dalam kendali tanpa perlu sepatah kata pun. Di sampingnya, Selene b

  • Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!   402. membuatnya jatuh cinta.

    Dirian tidak segera menjawab. Kereta terus melaju, roda-roda besinya berderak teratur di atas jalan batu, seolah tak peduli pada percakapan yang perlahan mengoyak sesuatu di antara dua manusia di dalamnya.“Aku ti

    last updateHuling Na-update : 2026-03-27
  • Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!   724. Penangkapan dan tekanan

    Langkah para pengawal terdengar berlari di sepanjang lorong marmer, suara baju zirah mereka saling beradu ketika mereka bergerak cepat dari satu aula ke aula lain. Para pelayan yang sedang bekerja berhenti di tempat, sebagian bahkan menyingkir ke sisi dinding den

    last updateHuling Na-update : 2026-04-05
  • Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!   714. Aku ingin dinikahi

    Keheningan yang menekan di dalam ruangan itu pecah seketika.Brak!Suara benturan keras menggema hingga keluar ruangan. Di lorong luar, semua orang yang sejak tadi menunggu langsung tersentak. Jay yang berdiri paling dekat dengan pintu menoleh tajam.“Suara apa itu—?”Belum ada yang sempat menjawab

    last updateHuling Na-update : 2026-04-05
  • Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!   716. Tidak ada rasa takut

    Selene masih berdiri di tempatnya. Matanya tidak lepas dari sosok pria yang kini berdiri beberapa langkah darinya. Cahaya lilin di atas meja makan memantul lembut di ruangan itu, menciptakan bayangan panjang di dinding batu yang membuat suasana terasa semakin su

    last updateHuling Na-update : 2026-04-05
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status