LOGINIlard pergi, dan Selene memeriksa semua dokumen dengan cermat. Ia harus memahami semuanya agar tidak kebingungan saat nanti meninggalkan kastil.
Tak terasa, hari sudah sore ketika Ilard kembali mengetuk pintu. “Nyonya tua dan nyonya besar sudah tiba, Nyonya,” ucapnya.
Selene segera keluar, menyambut mereka dengan sopan, lalu mengantar mereka duduk di ruang keluarga. Seperti biasa sang Ibu mertua akan selalu mengedarkan pandangan dan juga memeriksa semua hal terkecil , dia adalah orang yang tidak suka ada kesalahan bahkan sekecil apapun. Untuk itu Selene selalu berusaha membuat kastil selalu bersih dengan penataan yang disukai oleh mertuanya itu.
Sementara Nenek selalu lembut seperti biasa pada Selene, walaupun sebetulnya dia adalah wanita tegas yang ditakuti didalam keluarga Leventis.
“Aku sudah menyiapkan kamar untuk ibu dan nenek,” kata Selene.
“Kau selalu perhatian,” ucap nenek sambil membelai rambut Selene. “Tapi aku sedih mendengar kabar itu. Kehilangan anakmu… sungguh menyakitkan.”
“Lain kali jika hamil lagi, kau harus lebih berhati-hati. Kami akan minta Dirian menjaga lebih ketat,” tambah Odette, ibu mertuanya.
Selene tersenyum tipis, hatinya getir. Bagaimana bisa menjaga bayinya, jika ayah bayi itu justru menghancurkannya?
“Baik, ibu. Aku akan memperhatikannya,” jawab Selene tenang.
Namun Odette belum berhenti. Tatapannya tajam. “Kau juga harus memperhatikan suamimu. Rumor itu sampai ke rumah kami. Dirian masih bersamanya, bukan?”
“Odette,” tegur nenek lembut.
“Biarkan dia tahu, Ibu!” Odette membentak. “Apakah kau belajar menjadi duchess hanya supaya diinjak-injak? Kau tidak seharusnya ditindas begitu saja!”
Selene hanya diam, menahan senyum kecil. Ya, Odette membenci Viviene lebih dari dirinya. Kelak, Viviene yang akan menghadapi tembok ini, bukan Selene.
“Maaf, ibu. Aku akan memperhatikannya,” ucap Selene, tapi hatinya berteriak: Tidak akan! Aku akan pergi dan tak kembali.
“Jangan dengarkan ibumu. Fokuslah pada pemulihanmu,” kata nenek lembut.
Selene menunduk, menyembunyikan getir di matanya.
“Dia tidak akan pernah bahagia selama pelacur itu masih di sini,” desis Odette.
Selene hampir tertawa. Kelak, penderitaan itu akan menjadi milik Viviene, bukan dirinya.
Tiba-tiba pintu terbuka. Dirian pulang. Tapi bukan ia sendiri—di sampingnya berdiri Viviene.
Udara seketika tegang.
“Salam, nenek, ibu,” Viviene menunduk, suaranya bergetar.
“Apa ini?” Odette berseru, marah.
Nenek pun kecewa. “Dirian… apa yang kau lakukan?”
Viviene menegang, matanya pucat. Dirian menjawab dingin, “Dia hanya ingin menyapa ibu dan nenek.”
“APA kau bilang?!” Odette berdiri. “Bawa wanita itu keluar sekarang juga!”
“Ibu!” Dirian mencoba menahan.
“KAU TIDAK PUNYA OTAK!” Odette membentak. “Kau bawa orang lain ke rumah istrimu… ketika Selene baru kehilangan bayinya!”
Viviene mundur, menatap Selene. Ada luka di matanya, tapi ia tetap menahan diri.
“Dia adik Selene,” ujar Dirian tegas. “Wajar jika dia ingin bertemu kakaknya.”
“Tidak perlu! Bawa dia keluar!” Odette membentak lagi.
“Ibu…” suara Viviene bergetar.
“AKU BUKAN IBUMU!” potong Odette.
Viviene menegang, lalu menatap Selene. Selene mengulurkan tangan dengan lembut. “Ayo, kita keluar dulu,” ucapnya lirih.
Viviene ragu, tapi akhirnya menggenggam tangan Selene. Mereka berjalan keluar, Viviene menahan tangis, Selene tetap tegak.
Dirian hanya berdiri, wajah kaku, menunduk di hadapan ibunya dan nenek. Ia tidak menghentikan mereka.
Saat pintu menutup, ruangan itu hening.
“…Ibu,” panggil Dirian pelan.
“Sekali lagi kau bawa dia ke sini, aku tidak akan mengakuimu anak!” bentak Odette.
Dirian menarik napas. Ia tahu Odette membenci Viviene, lebih dari dirinya membenci Selene.
“Ibu, ini bukan seperti yang ibu pikirkan. Dia hanya datang untuk menyapa Selene, kebetulan ibu dan nenek ada di sini,” ucap Dirian.
“Dirian, apa pun alasannya, kau tidak seharusnya melakukan itu,” kata nenek.
Dirian menatapnya, bibirnya menegang. “Selene juga tidak masalah dengan kedatangan saudaranya.”
“Apakah Selene mengatakannya?” tanya nenek serius.
Dirian terdiam.
“Sekalian tanya padanya, apakah kau pernah sedikit pun peduli dengan perasaan istrimu?” Odette menatap tajam.
Kata-kata itu membuat Dirian menegang. Selama ini, jawabannya memang: Tidak pernah.
“Dengar baik-baik,” Odette menatapnya. “Hanya Selene yang menantu keluarga Duke! Jika kau pikir wanita itu bisa menggantikannya… kau akan menyesal seumur hidup!”
Odet dan nenek berangkat keesokan paginya, tepat setelah sarapan selesai. Udara pagi masih dingin, kabut tipis menggantung di halaman kastil seolah enggan membiarkan perpisahan itu terjadi begitu saja. Kereta sudah menunggu, pengawal berdiri rapi, dan suasana terasa lebih sunyi dari biasanya.Selene berdiri di beranda depan bersama Dagny dan Divrio. Tangannya menggenggam tangan kedua anak itu dengan erat, seolah ia sendiri takut kehilangan keseimbangan jika dilepaskan. Odet memeluk Dagny lama, membelai rambutnya berkali-kali, sementara nenek menepuk bahu Divrio dengan senyum yang dipaksakan, matanya berkaca-kaca.“Aku ingin tinggal lebih lama dengan nenek…” gumam Dagny lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh bunyi langkah para pengawal.“Iya,” sambung Divrio, bibirnya mengerucut kesal. &ldquo
Dirian masih duduk di tempatnya, menatap pintu yang telah tertutup rapat, tempat Selene menghilang beberapa detik lalu. Seakan pintu itu tidak hanya menutup sebuah ruangan, tetapi juga sesuatu yang selama ini ia anggap tak akan pernah pergi.Ia tidak bergerak lama. Hanya menatap. Lalu perlahan menurunkan pandangannya kembali ke dokumen di meja, seolah huruf-huruf di atas kertas itu mampu mengembalikan kendali yang barusan retak.Morvena mengamati semuanya dari sofa. Tatapannya tajam, penuh perhitungan, namun ada sesuatu yang hampir menyerupai rasa ingin tahu.“Kau tahu,” ucapnya akhirnya, memecah keheningan, “kau menyakitinya.”Dirian tidak mengangkat kepala. Suaranya terdengar datar, dingin dan terlalu terlatih untuk menunjukkan apa pun. “Membiarkanny
Kembali kewaktu sekarang,Disaat semua orang merasakan ketegangan dan kesunyian karena Dirian Leventis membawa pulang wanita cantik dengan rambut merah itu, Odet adalah orang pertama yang kehilangan kendali.“Apa ini, Dirian?!” teriaknya, suaranya menggema di halaman kastil yang tadinya sunyi. “Apa yang kau lakukan? Siapa wanita yang kau bawa pulang ke rumah ini?!”Nada suaranya bukan sekadar marah namun itu kemarahan seorang ibu yang merasa keluarganya diinjak-injak.Nenek pun maju selangkah, tongkatnya menghentak lantai batu. “Dirian,” suaranya bergetar namun tajam, “kau benar-benar berniat menghancurkan rumah tanggamu sendiri?”Semua mata tertuju pada Dirian.Namun lelaki itu tidak menjawab mereka.
Kikikan Morvena terhenti begitu saja.Bukan karena perintah, bukan karena ancaman melainkan karena satu pertanyaan sederhana yang seharusnya tidak pernah Dirian ucapkan.Morvena berdiri mematung di tempatnya. Tubuhnya kaku, jemarinya yang tadi bergerak luwes kini terdiam di udara sebelum perlahan ditarik kembali. Api di matanya seolah membeku, menyisakan kilau rapuh yang jarang bahkan mungkin tidak pernah ditunjukkannya pada siapa pun.Dirian tetap diam.Ia tidak mendesak, tidak mengulang pertanyaan. Tatapannya lurus dan tenang, namun justru itulah yang membuat udara di antara mereka terasa semakin berat. Diam Dirian bukanlah kebingungan melainkan kesungguhan.Morvena menarik napas perlahan.&l
Sebelumnya,Pergulatan batin dan pikiran terjadi sepanjang perjalanan, membuat Dirian terjebak dalam kebimbangan yang menyesakkan. Ia harus menentukan apa yang seharusnya ia lakukan atas semua kekacauan ini. Kepalanya terasa kosong, namun dadanya penuh oleh perasaan yang saling bertabrakan amarah, keraguan, rasa bersalah, dan ketakutan yang tak ingin ia akui.Satu hal yang pasti, apa pun keputusannya nanti, itu akan menjadi keputusan yang rumit dan berbahaya, bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi banyak orang.Mobil itu akhirnya terparkir di depan biara. Seperti biasa, orang-orang yang mengikutinya telah lebih dulu berkumpul. Lima orang berdiri dalam barisan rapi, lalu berlutut di hadapannya begitu Dirian turun dari mobil. Suasana hening, hanya angin yang berdesir di antara bangunan batu tua itu.
Sylar dan Mona cukup kaget dengan ucapan Selene.Selene berdiri perlahan. Gerakannya tenang, namun auranya berubah. Ia tidak mendekat untuk mengancam, tidak pula menjauh untuk menghindar. Ia hanya berdiri, seorang kakak, seorang bangsawan, seorang wanita yang terluka namun masih berpikir jernih.“Aku tidak pernah berkata kau harus berhenti mencintai siapa pun,” ucap Selene. “Dan aku tidak pernah berniat mengurungmu dalam aturan yang bahkan aku sendiri sering melanggarnya.”Ia menatap Mona, tatapan itu membuat Mona gemetar, namun Selene tidak mengandung kebencian. Hanya kelelahan dan kejujuran.“Yang kupersoalkan,” lanjut Selene sambil kembali menatap Sylar, “adalah kebohongan. Jarak yang kau ciptakan. Dan fakta bahwa kau membiar







