LOGINKereta yang membawa Erick akhirnya tiba di Kastil Arhad. Begitu kendaraan itu berhenti di halaman depan, beberapa pelayan segera menyambut kedatangannya. Namun, sebelum Erick sempat melangkah menuju pintu utama, ia mendapati kakeknya sudah berdiri di sana bersama kepala pelayan dan beberapa pelayan lain. Duke Arhad tampaknya telah mengetahui kedatangannya sejak awal dan sengaja menunggu di depan kastil untuk menyambutnya.Dari tatapan pria tua itu, Erick tahu bahwa kedatangannya bukanlah sesuatu yang disambut dengan senang hati.“Apa yang kau lakukan di luar, Erick?”Erick berhenti sejenak, lalu menatap kakeknya dengan wajah muram. Ia sudah cukup kesal setelah diusir dari istana, dan sekarang bahkan belum sempat beristirahat ketika harus berhadapan dengan pertanyaan yang tidak ingin dijawabnya.“Itu bukan urusan Kakek.”Wajah Duke Arhad langsung mengeras.“Bagaimana bisa itu bukan urusanku?”Erick tidak menjawab. Ia hanya berdiri dengan sikap acuh tak acuh, seolah tidak menyadari bahw
Pagi itu, Erick de Verzent datang ke Kastil Elvorn dan duduk berhadapan dengan Siera di ruang tamu. Meski tidak ingin menemuinya, Siera tetap menerima Erick demi menjaga tata krama.Setelah meletakkan cangkir tehnya, Siera menatap Erick dengan sopan.“Apa urusan Pangeran Erick datang mencariku?”Erick terdiam sejenak, memperhatikan wajah Siera lalu membuka mulutnya.“Di mana Zelka?”Siera sedikit mengangkat alis. Ia sama sekali tidak menduga Erick datang ke kastil hanya untuk mencari gadis itu. “Bukankah dia orang Anda sendiri?” balas Siera tenang. “Kalau begitu, mengapa Anda datang ke sini untuk menanyakannya kepadaku?”“Karena dia bertemu denganmu dan Kaisar.”Siera menatap Erick, “Memang benar kami pernah bertemu. Namun, apakah itu berarti dia sekarang berada bersamaku?”Erick tidak menjawab. Tatapannya menjadi lebih tajam, seolah ia berusaha mencari tanda kebohongan dari wajah gadis di hadapannya. Namun, Siera membalas tatapannya dengan tenang. Ia tidak memiliki alasan untuk menj
Siera tertegun mendengar perkataan Zelka. Ia memandang dengan tatapan bingung, berusaha memahami maksud dari kalimat yang baru saja diucapkan gadis itu.Selama ini, ia selalu menganggap bahwa ayahnya masih mencintai ibunya meskipun wanita itu telah meninggal bertahun-tahun lalu. Karena itulah, mendengar Zelka menyebutnya sebagai keterikatan membuat Siera merasa asing sekaligus tidak nyaman.“Apa maksudmu keterikatan?” tanyanya.Zelka perlahan mengalihkan pandangan dari potret Yelena.“Itu sesuatu yang lebih dalam dan lebih gelap daripada cinta.”Siera terdiam. Ia tidak mengerti mengapa Zelka menggunakan kata-kata seperti itu untuk menjelaskan perasaan ayahnya. Keterikatan terdengar seperti sesuatu yang buruk, sesuatu yang seharusnya dihindari. Padahal, selama ini Dregory tidak pernah menunjukkan sikap yang membuatnya berpikir bahwa cinta pria itu kepada Yelena merupakan sesuatu yang keliru.“Aku tidak mengerti,” gumam Siera.Zelka kembali menatap potret wanita berambut merah muda itu
Zelka langsung terdiam. Kali ini, ia tidak segera membantah. Pandangannya beralih ke arah lain, sementara Siera yang memperhatikan reaksinya justru semakin yakin bahwa ia telah menemukan sesuatu yang menarik.Siera terkekeh kecil.“Aku hanya bertanya. Kau tidak perlu terlihat begitu terkejut.”“Aku tidak terkejut,” jawab Zelka, meskipun ia masih belum menatap Siera.Siera tidak melanjutkan godaannya. Ia hanya tersenyum sambil kembali berjalan menyusuri lorong, membiarkan Zelka mengikuti di belakangnya. “Kalau memang begitu, kau harus mempertimbangkannya baik-baik. Ayahku bukan orang yang mudah didekati.”Zelka mengangkat pandangan kepadanya.“Dia dingin, keras kepala, dan kadang-kadang terlalu menakutkan. Bahkan Kak Yelian saja sering kesulitan menghadapi sikapnya.” Siera berhenti sebentar, seolah mengingat sesuatu, sebelum melanjutkan, “Tapi Ayah selalu melindungi keluarga kami. Jadi, kalau kau ingin mengenalnya lebih jauh, setidaknya kau harus memahami sifatnya terlebih dahulu.”Ze
Siera akhirnya bernapas lega. Sejak tadi tubuhnya terasa tegang karena tidak tahu bagaimana reaksi ayahnya terhadap semua yang disampaikan Zelka. “Baik, Ayah.”Dregory mengangguk pelan.Kemudian pandangannya beralih kepada Zelka yang masih berdiri tidak jauh dari Siera. “Aku mengizinkannya tinggal.”Zelka sedikit tertegun. Siera juga menoleh kepada ayahnya dengan mata yang langsung terlihat lebih lega.Dregory tidak menambahkan apa pun. Ia hanya memandang Zelka sekali lagi, kemudian berbalik dan berjalan meninggalkan ruangan. Tangannya langsung meraih lengan Yelian dan menyeret putranya yang sejak tadi masih ingin bertanya.“Ayah, tunggu!”Yelian bahkan belum sempat mengucapkan selamat tinggal ketika Dregory sudah membawanya keluar.Di belakang mereka, Siera justru tersenyum kecil. Ia segera mendekati Zelka dan memberi isyarat agar gadis itu mengikutinya.“Ayo.”Zelka mengangguk dan berjalan bersama Siera menuju sisi lain kastil.Sementara itu, Dregory terus berjalan di sepanjang lo
Keheningan langsung memenuhi seluruh ruangan.Tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Dregory menatap Zelka lebih tajam dari sebelumnya, kewaspadaan terlihat jelas di matanya. Ia bukan pria yang mudah terkejut, terlebih hanya karena satu kalimat dari seorang gadis yang baru dikenalnya, itu bukanlah sesuatu yang bisa ia abaikan begitu saja.“Hukum sebab akibat?” ulang Dregory.Zelka perlahan menurunkan tangannya. Wajahnya tetap tenang, tetapi sorot matanya menunjukkan bahwa ia tahu persis apa yang telah dilihatnya.“Apa maksudmu hukum sebab akibat?” Suara Dregory terdengar tegas.“Itu adalah sesuatu yang terlarang yang pernah kau lakukan.” Balas Zelka.Suasana menjadi semakin aneh. Yelian yang sejak tadi berdiri dengan kedua tangan terlipat langsung membuka matanya sedikit lebih lebar. Siera juga menatap Zelka dengan wajah bingung sebelum beralih kepada ayahnya.“Apa yang sudah Ayah lakukan?” tanya Yelian.Dregory tidak menjawab.“Ayah melakukan sesuatu yang terlarang?” Tanya S
Siera tahu bukan hanya Erick, Dregory, dan semua orang yang berada di ruangan itu tertegun mendengar ucapan Siera yang tiba-tiba.“Apa… yang kau katakan?” suara Erick terdengar tertahan, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia bahkan bangkit dari posisinya.Siera sempat menoleh
Suara ketukan pintu membuat Siera tersentak. Ia menoleh ke arah pintu ketika daun pintu terbuka perlahan, dan seorang gadis masuk dengan langkah hati-hati.“Nona…”Siera menatapnya.“Mia…”Wajah Mia terlihat lega, bahkan sedikit senang. “Yang Mulia Duke benar… Anda sudah bangun.”Siera menatap gadis
Siera membuka mulut, tetapi kata-kata terasa sulit keluar. Tenggorokannya kering, pikirannya masih kacau oleh apa yang baru saja ia alami.“A-aku…”“Apa karena Putra Mahkota Erick?” potong Dregory tiba-tiba.Nada suaranya rendah, namun justru terasa lebih menekan. Tidak ada kemarahan yang meledak, t
“Hah… hah…”Napas Siera memburu setelah berlari tanpa henti. Keringat mengalir di pelipisnya, sementara tangannya mencengkeram pinggir pintu balkon untuk menahan tubuhnya tetap berdiri.Sang ratu kekaisaran itu berusaha memahami apa yang baru saja terjadi. Semuanya terasa begitu cepat… begitu kacau







