MasukErick terdiam. Ia menatap sosok yang semakin mendekat hingga wajahnya mulai terlihat jelas. Rambutnya tertiup angin, tubuhnya dipenuhi debu dan salju, sementara beberapa bagian pakaiannya masih berlumuran darah. Namun tatapan merahnya tetap sama, dingin dan tenang.Dior.Lelaki yang selama berbulan-bulan menghilang tanpa kabar itu kini berjalan menuju benteng bersama pasukannya, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.Erick menatapnya dengan wajah yang masih sulit percaya. "Dia..." Suaranya terhenti di tenggorokan sebelum akhirnya ia menelan ludah dan berkata, "Grand Duke Rurich?"Dregory tidak langsung menjawab. Tatapannya tidak pernah bergeser sedikit pun dari sosok di kejauhan itu. Kemudian ia mengangguk perlahan."Ya."Suasana di atas dinding benteng berubah seketika. Para pemanah yang sebelumnya telah menarik tali busur hingga penuh mulai menurunkannya satu demi satu. Bisikan terdengar di antara para prajurit yang sejak tadi menahan napas."Grand Duke...""Dia masih hidup.""Jadi se
Erick terdiam sambil menatap salju di luar benteng. Tidak ada apa pun yang terlihat, hanya kabut dan suara lolongan serigala es yang membuat suasana semakin tidak nyaman.Dregory kembali melihat peta. Beberapa titik pertahanan sudah kosong karena pasukan dipindahkan atau gugur, sementara kelompok yang dikirim memeriksa keadaan belum kembali. Ia mulai menghitung jarak dan waktu. Jika benar ada pasukan besar yang bergerak, mereka bisa segera mencapai benteng dan menyerang sebelum fajar, saat keadaan masih gelap."Kalau mereka memang datang," ujar Erick perlahan, "mereka akan tiba sebelum pagi?"Dregory mengangkat pandangan."Atau tepat ketika matahari terbit."Erick mengerutkan kening. "Kenapa saat matahari terbit?"Dregory menunjuk ke arah dinding benteng. "Karena saat itu mata kita membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan cahaya. Dan setelah semalaman berjaga, sebagian besar prajurit kita sudah kelelahan."Erick mulai menyadarinya. Pasukan mereka sudah jauh berkurang dan para
Keesokan harinya, benteng kembali terasa sangat sunyi. Sejak pagi, tidak ada serangan atau tanda-tanda pergerakan musuh. Salju dan kabut menutupi wilayah di luar, membuat semuanya terlihat terlalu tenang.Dregory berdiri di atas dinding benteng dan terus mengawasi kejauhan. Setelah berbulan-bulan menghadapi serangan tanpa henti, keheningan ini justru terasa mencurigakan. Para prajurit pun tetap waspada karena mereka tahu musuh tidak mungkin berhenti tanpa alasan. Tidak lama kemudian, Felix berjalan mendekat."Duke."Dregory tidak menoleh."Bagaimana?""Saya sudah mengirim beberapa kelompok sejak pagi."Barulah Dregory mengalihkan pandangan kepadanya."Ke mana?""Ke arah timur, utara, dan jalur pegunungan." Felix berhenti sejenak. "Mereka hanya akan memeriksa keadaan. Saya sudah memerintahkan mereka untuk tidak mendekati pasukan musuh dan segera kembali jika menemukan sesuatu yang mencurigakan."Dregory mengangguk pelan."Berapa orang?""Sepuluh orang untuk setiap kelompok.""Kurangi."
Erick langsung menatap Dregory dengan wajah yang mulai menunjukkan ketidaksenangan. Ia tidak menyukai arah pembicaraan itu, terlebih ketika Dregory mulai mempertanyakan Irvin dan segala informasi yang dibawanya. Bagaimanapun juga, Irvin datang membawa perintah dari Kaisar, dan selama ini Erick menganggap keberadaan lelaki itu sebagai salah satu bentuk dukungan langsung dari istana.“Itu tidak benar, Duke.”Dregory menatapnya tanpa berkata apa-apa.“Kita kehilangan banyak prajurit karena jumlah mereka jauh lebih besar. Itu kenyataan yang tidak bisa kau abaikan hanya karena kau tidak menyukai cara perang ini berlangsung.” Erick melanjutkan, kali ini dengan nada yang lebih tegas. Dregory masih diam. Tatapannya tidak berubah sedikit pun, tetapi rahangnya terlihat mengeras.“Jumlah mereka memang lebih banyak,” katanya akhirnya. “Tapi itu bukan satu-satunya alasan.”Erick mengerutkan kening. “Lalu apa?”“Kesalahan.”“Kesalahan siapa?”Dregory mengalihkan pandangan kepada peta di atas meja.
Ruangan langsung sunyi. Tidak ada satu pun jenderal yang bergerak. Erick menatap Dregory dengan wajah yang perlahan berubah serius, seolah mencoba memahami maksud dari ucapan lelaki itu."Perang terakhir?"Dregory mengangguk pelan. Ia berbalik dari jendela dan berjalan kembali menuju meja. Tatapannya jatuh pada peta yang penuh tanda merah di hadapannya."Ya. Entah kita yang mengakhirinya..." Dregory berhenti sejenak, matanya menyapu seluruh titik yang menandai wilayah peperangan. "...atau mereka yang akan mengakhirinya untuk kita."Erick tidak menjawab. Ia hanya menatap peta tersebut, sementara Dregory kemudian menunjuk beberapa titik yang selama ini menjadi garis pertahanan mereka."Bangunkan semua pasukan yang sedang beristirahat. Periksa kembali persenjataan. Pastikan tidak ada satu pun jalur masuk yang tidak dijaga."Seorang jenderal segera membungkuk. "Baik, Duke."Dregory kemudian menatapnya kembali. "Dan jangan kirim siapa pun keluar benteng malam ini."Jenderal itu sempat tert
Begitu keluar dari aula, Siera merasa lega. Udara di luar terasa lebih ringan dibandingkan suasana tegang di dalam. Para bangsawan mulai meninggalkan istana dan berjalan menuju kereta mereka.Yelian berjalan di samping Siera dengan tenang, seolah tidak terpengaruh oleh perdebatan tadi. Siera justru terus memperhatikannya."Kak."Yelian menoleh dan Siera masih terlihat tidak percaya dengan apa yang baru saja ia saksikan."Kau benar-benar bisa membuat Kaisar sampai seperti itu."Yelian mengernyit tipis. "Seperti apa?""Diam."Yelian tidak langsung menjawab.Siera menahan senyum kecil. "Biasanya dia selalu punya jawaban untuk semuanya. Bahkan ketika semua orang di aula menentangnya, dia masih bisa memutar keadaan seolah dirinya yang paling benar."Mereka terus berjalan menuju tangga istana. Yelian hanya memasukkan kedua tangannya ke balik mantel formalnya."Aku hanya mengatakan apa yang seharusnya dilakukan."Siera menatapnya."Menurutmu itu sederhana?""Memang tidak?"Siera menghela nap
Siera membuka mulut, tetapi kata-kata terasa sulit keluar. Tenggorokannya kering, pikirannya masih kacau oleh apa yang baru saja ia alami.“A-aku…”“Apa karena Putra Mahkota Erick?” potong Dregory tiba-tiba.Nada suaranya rendah, namun justru terasa lebih menekan. Tidak ada kemarahan yang meledak, t
“Hah… hah…”Napas Siera memburu setelah berlari tanpa henti. Keringat mengalir di pelipisnya, sementara tangannya mencengkeram pinggir pintu balkon untuk menahan tubuhnya tetap berdiri.Sang ratu kekaisaran itu berusaha memahami apa yang baru saja terjadi. Semuanya terasa begitu cepat… begitu kacau
Roseth terlihat seperti ingin meledak saat itu juga. Sedangkan Clarisse masih berusaha mempertahankan ketenangannya meski senyum di wajahnya sudah lama menghilang.Lebih parah lagi Siera tampaknya sedang menikmati hal itu.Roseth menatap Siera dengan tatapan dingin yang semakin lama semakin sulit d
Suara ketukan pintu membuat Siera tersentak. Ia menoleh ke arah pintu ketika daun pintu terbuka perlahan, dan seorang gadis masuk dengan langkah hati-hati.“Nona…”Siera menatapnya.“Mia…”Wajah Mia terlihat lega, bahkan sedikit senang. “Yang Mulia Duke benar… Anda sudah bangun.”Siera menatap gadis







