LOGINDior mengerutkan kening tipis."Kalau aku berada di posisi mereka, aku akan mencari celah dari dalam." Ucap Dregory.Dior tidak menjawab. Ia mulai memikirkan kemungkinan tersebut. Sebuah pembebasan tidak harus berupa serangan besar. Tidak perlu pasukan yang datang mengepung istana. Tidak perlu keributan yang membuat seluruh ibu kota mengetahuinya.Satu orang yang disuap, satu penjaga yang diganti, satu surat palsu atau satu perintah yang terlihat sah. Cukup satu celah."Aku sudah meminta penjagaan di tempat Kaisar ditahan diperketat. Tapi jika ada seseorang di dalam yang membantu mereka, penjagaan sebanyak apa pun tidak akan cukup." Ucap Dregory.Dior mengangguk kecil."Periksa semua penjaga.""Sudah.""Jangan hanya yang bertugas sekarang."Dregory memahami maksudnya."Orang-orang yang pernah bertugas di sana?""Ya."Dregory mengangguk."Aku akan mengurusnya."Dior terdiam. Namun tak lama kemudian, pikirannya kembali tertuju pada Siera. Terlalu banyak hal yang belum terjawab. Dregory
Lelaki bermasker itu tidak menjawab. Ia tahu pertanyaan Dior bukan benar-benar untuknya.Dior juga tidak menunggu jawaban. Pikirannya kembali pada laporan tentang Siera yang membaca mengenai gipsi dan sihir hingga hampir fajar, bahkan setelah Mia tertidur.Itu bukan kebiasaan Siera, terlebih setelah beberapa hal aneh yang terjadi belakangan ini. Dior mengangkat cangkir tehnya,"Awasi saja."Lelaki itu langsung menundukkan kepala."Baik, Yang Mulia.""Jangan ganggu dia.""Baik."Lelaki bermasker itu mundur lalu meninggalkan ruangan tanpa suara.Dior tetap duduk dalam diam. Sarapannya sudah tidak lagi menarik perhatian karena pikirannya terus tertuju pada Siera.Ia tahu Siera sedang mencari sesuatu, tetapi belum tahu apa. Mungkin tentang mimpi yang pernah diceritakannya, sihir, atau sesuatu yang lebih besar.Kemudian ia kembali teringat pada Erick. Terlalu banyak hal yang diketahui lelaki itu, termasuk hal-hal yang seharusnya tidak mungkin ia ketahui.Sekarang Siera juga mulai mencari j
Tanpa terasa, malam telah berlalu dan pagi datang begitu saja.Cahaya matahari mulai masuk melalui celah tirai perpustakaan. Udara pagi terasa dingin dan suara burung terdengar samar dari taman.Di salah satu meja, Siera masih tertidur dengan kepala di atas tangannya. Di sekelilingnya terdapat tumpukan buku yang berantakan, beberapa bahkan tergeletak di lantai.Semalaman Siera membaca berbagai buku tentang para pemimpi, orang-orang gipsi, mantra, ritual kuno, hingga yang lain. Namun tidak satu pun memberikan jawaban pasti tentang apa yang terjadi kepadanya.Kemungkinan bahwa semua kehidupan sebelumnya hanyalah mimpi justru terasa paling masuk akal. Mungkin tubuhnya memang koma setelah kecelakaan dan pikirannya menciptakan kehidupan yang begitu nyata hingga terasa seperti kenangan.Namun tetap ada satu hal yang tidak bisa dijelaskan.Erick.Siera perlahan membuka mata. Pandangannya masih kabur hingga ia sadar bahwa dirinya berada di perpustakaan. Ia mengangkat kepala, lalu meringis ket
Tidak ada jawaban. Siera hanya kembali membaca buku itu hingga menemukan bagian tentang berbagai sihir dari Zaman Kuno, termasuk sihir perpindahan, perlindungan, pemanggilan, dan kemampuan melihat masa lalu.Hingga akhirnya ia menemukan judul Sihir Waktu. Di dalamnya dijelaskan bahwa sihir waktu dapat mempercepat atau memperlambat waktu, melihat masa lalu, hingga melihat kemungkinan masa depan. Namun ada satu bagian yang membuat Siera berhenti.Pengulangan Waktu.Sihir ini dipercaya dapat membawa seseorang kembali ke masa lalu dengan tubuh yang kembali ke usia tertentu, sementara ingatannya tetap ada.Siera terdiam. Penjelasan itu terdengar sangat mirip dengan apa yang telah dialaminya. Namun masih ada satu hal yang tidak bisa ia pahami. Jika ia benar-benar mengalami pengulangan waktu, mengapa Erick juga mengetahui kehidupan sebelumnya?Siera menatap halaman itu dalam diam. Mungkin semua ini memang bukan sekadar mimpi. Mungkin ada kekuatan yang memungkinkan waktu berulang dan ingatan
Siera terdiam sejenak. Ia kemudian berjalan perlahan menyusuri rak sambil mengarahkan cahaya lentera ke judul-judul buku yang tersusun di hadapannya."Sihir tidak sebatas magis, Mia."Mia memperhatikannya."Orang-orang gipsi sampai sekarang masih disebut sebagai keturunan penyihir. Aku ingin tahu sedikit tentang mereka."Mia terlihat mengangguk pelan, seolah mulai memahami alasan Siera mencari buku tersebut.Siera berhenti di depan sebuah rak tua."Keberadaan orang-orang gipsi sampai sekarang juga jelas menunjukkan bahwa sihir mungkin belum benar-benar hilang."Tangannya menyentuh punggung salah satu buku."Mungkin mereka masih mempraktikkannya. Hanya saja, kita tidak mengetahuinya."Mia tampak berpikir."Benar juga, sih."Kemudian, seolah baru teringat sesuatu, ia berkata, "Saya juga pernah mendengar kalau para bangsawan adalah keturunan dewa."Siera langsung menoleh."Itu omong kosong."Mia mengerutkan kening."Tapi di Kuil Suci ada banyak artefak kuno."Siera terdiam. Cahaya lenter
Siera tertegun mendengar jawaban Dior, ia kehilangan kata-kata. Pertanyaan yang awalnya hanya ia ajukan karena penasaran justru berakhir dengan jawaban yang membuat pikirannya semakin kacau.Dua kata itu terus terngiang di kepalanya. Selama hidupnya, Dior hanya pernah jatuh cinta satu kali. Terlebih lagi, lelaki itu mengucapkannya sambil memandang langsung ke arahnya, tanpa keraguan sedikit pun. Siera ingin bertanya siapa orangnya, tetapi keberanian untuk melakukannya seolah menghilang begitu saja.Dior tampaknya tidak berniat memberikan penjelasan tambahan. "Pulanglah. Aku tidak ingin Duke atau Yelian mengira aku menahanmu di istana."Siera hanya terdiam karena pikirannya masih tertuju pada percakapan mereka. Dior menunggunya sebentar, lalu menutup pintu kereta. Sebelum pintu tertutup sepenuhnya, pandangan mereka sempat bertemu, tetapi Siera tetap tidak mengatakan apa-apa.Kereta kemudian bergerak meninggalkan halaman istana. Dari balik jendela, Siera melihat Dior masih berdiri di t
Siera membuka mulut, tetapi kata-kata terasa sulit keluar. Tenggorokannya kering, pikirannya masih kacau oleh apa yang baru saja ia alami.“A-aku…”“Apa karena Putra Mahkota Erick?” potong Dregory tiba-tiba.Nada suaranya rendah, namun justru terasa lebih menekan. Tidak ada kemarahan yang meledak, t
Siera tahu bukan hanya Erick, Dregory, dan semua orang yang berada di ruangan itu tertegun mendengar ucapan Siera yang tiba-tiba.“Apa… yang kau katakan?” suara Erick terdengar tertahan, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia bahkan bangkit dari posisinya.Siera sempat menoleh
Suara ketukan pintu membuat Siera tersentak. Ia menoleh ke arah pintu ketika daun pintu terbuka perlahan, dan seorang gadis masuk dengan langkah hati-hati.“Nona…”Siera menatapnya.“Mia…”Wajah Mia terlihat lega, bahkan sedikit senang. “Yang Mulia Duke benar… Anda sudah bangun.”Siera menatap gadis
“Hah… hah…”Napas Siera memburu setelah berlari tanpa henti. Keringat mengalir di pelipisnya, sementara tangannya mencengkeram pinggir pintu balkon untuk menahan tubuhnya tetap berdiri.Sang ratu kekaisaran itu berusaha memahami apa yang baru saja terjadi. Semuanya terasa begitu cepat… begitu kacau







