เข้าสู่ระบบErick melangkah mendekati meja kecil yang berada tidak jauh dari ranjang. Ia meletakkan sesuatu di atas meja dengan gerakan tenang, seolah benda itu sama sekali tidak penting."Ayah bilang kau seharusnya mati."Isla yang sejak tadi menundukkan wajah perlahan mengangkat kepalanya. Matanya sudah penuh air mata. Ia memandang Erick dengan tatapan kosong, seolah tidak lagi memiliki tenaga untuk memahami mengapa anak kecil di hadapannya bisa mengatakan sesuatu sekejam itu.Erick tidak menunjukkan keraguan sedikit pun."Matilah agar semuanya berjalan lancar."Setelah mengatakannya, ia berbalik dan berjalan keluar dari kamar.Suasana kembali sunyi.Namun tangisan Isla tidak berhenti.Suara isaknya terdengar begitu menyedihkan di dalam kamar yang luas itu. Tidak ada seorang pun di sana yang menjawabnya. Tidak ada tangan yang mengusap kepalanya. Tidak ada suara yang mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.Dior masih berada di bawah ranjang.Ia mendengar semuanya. Ia mendengar langkah Eri
Isla tidak menjawab."Kau bahkan rela tubuhmu sendiri dihancurkan hanya untuk menyelamatkannya. Bukankah itu aneh?" Suara Erick terdengar meremehkan.Jari-jari Isla mencengkeram selimut. Ia menoleh ke arah lain."Aku tidak berpura-pura.""Lalu apa?"Erick berdiri dari kursinya dan mendekati ranjang. Tatapannya semakin tajam."Kalau kau benar-benar membencinya, seharusnya kau membiarkan anjing-anjing itu menggigitnya."Isla terdiam."Dia bahkan bukan anak yang kau inginkan sejak awal."Kalimat itu membuat Isla akhirnya menoleh."Jangan bicara seolah kau tahu semuanya."Erick tersenyum tipis."Aku tahu cukup banyak." Ia memandang Isla dari atas ke bawah, lalu berkata, "Aku tahu kau membencinya. Aku tahu kau pernah menyakitinya. Dan aku juga tahu kau selalu berharap ayahku akan kembali melihatmu."Isla mengepalkan tangannya."Tapi sekarang kau malah melindunginya."Erick berhenti sejenak."Kenapa?"Tidak ada jawaban.Dari bawah ranjang, Dior mendengar semuanya. Ia teringat kejadian ketik
Dior sekarang berada sendirian di kamar perawatan. Sejak ayahnya pergi, ia tidak melakukan apa pun selain duduk di kursi yang diletakkan di samping ranjang. Tatapannya tertuju pada wanita yang sedang terbaring di hadapannya. Isla masih tertidur akibat obat yang diberikan tabib.Wajahnya terlihat jauh lebih pucat daripada biasanya, dan beberapa bagian tubuhnya dibalut perban tebal. Lengannya yang patah tidak dapat digerakkan, sementara kakinya juga dibalut hingga hampir tidak terlihat. Sesekali napasnya terdengar sedikit berat, tetapi sejauh yang bisa Dior lihat, ibunya masih dalam keadaan baik.Dior hanya menatapnya dalam diam. Ia mengenal wajah itu dengan baik. Wajah wanita yang selama bertahun-tahun berada di dekatnya, meskipun hubungan di antara mereka tidak pernah benar-benar seperti hubungan seorang ibu dan anak.Dior tidak tahu bagaimana seharusnya seorang anak memandang ibunya dalam keadaan seperti ini. Ia hanya mengetahui bahwa Isla terluka ketika melindunginya dari tiga anjin
Ia berlari. Para pengawal segera menyerang ketiga anjing tersebut dan menarik mereka menjauh. Salah satu pengawal bahkan harus menjatuhkan dirinya di antara Isla dan anjing itu agar serangan berikutnya tidak mengenai mereka."Amankan anjingnya!""Jangan biarkan mereka mendekat!"Ketiga anjing akhirnya berhasil dikendalikan. Grand Duke langsung berlutut di samping Dior."Apakah kau terluka?"Dior menggeleng."Aku tidak terluka."Grand Duke memeriksa tubuh putranya dengan cepat. Setelah memastikan Dior tidak mengalami luka serius, pandangannya beralih kepada Isla.Ia langsung terdiam karena kondisi Isla jauh lebih buruk. Salah satu lengannya patah akibat gigitan. Salah satu kakinya juga mengalami patah parah. Punggung dan pahanya penuh luka akibat serangan bertubi-tubi. Darah membasahi pakaian dan tanah di sekitarnya."Isla..."Grand Duke segera mendekatinya. Isla masih sadar, tetapi napasnya sangat berat."Dior..."Grand Duke menoleh."Dia selamat."Isla menutup mata sebentar."Syukurl
Hari-hari berlalu. Empat hari di Kediaman Elvorn dan tiga hari di Kediaman Rurich membuat Dior mulai terbiasa dengan kehidupan barunya. Di Elvorn, ia mengikuti latihan Dregory, sementara di Rurich ia menghabiskan waktu bersama ayahnya dan belajar melukis.Suatu hari, Dior duduk di depan kanvas. Di sekelilingnya terdapat banyak lukisan berbagai ekspresi wajah. Namun, ada satu wajah yang paling sering ia lukis, yaitu seorang gadis kecil dengan rambut rapi dan mata biru.Siera.Saat Dior sedang melukis wajahnya, Grand Duke masuk ke ruangan. Ia melihat beberapa lukisan di sekelilingnya, lalu tatapannya berhenti pada lukisan Siera.Alisnya perlahan mengernyit."Dior."Dior menoleh. Grand Duke berjalan mendekat dan menatap lukisan di hadapannya dengan ekspresi sulit dijelaskan."Kalau Dregory tahu kau melukis putrinya diam-diam sebanyak ini, bisa-bisa Kediaman Elvorn terbakar habis."Dior tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap ayahnya, lalu mengalihkan pandangan kembali kepada lukisan di
Dior hanya diam. Tidak ada perubahan pada wajahnya. Tidak ada rasa tersinggung, marah, ataupun malu. Ia hanya memandang Siera seolah sedang mencoba memahami mengapa gadis kecil itu terus membicarakan matanya.Yelian akhirnya memutuskan bahwa percakapan ini tidak akan selesai jika ia terus membiarkan adiknya berbicara.“Siera, jaga bicaramu. Lebih baik kau kembali. Aku akan latihan.”Siera langsung menoleh.“Kalau Kakak pergi, aku sendirian.”Yelian menatapnya.“Kau bisa bermain dengan para pelayan.”“Aku tidak mau.”“Dengan pengawal?”“Tidak mau.”“Kalau begitu tetap di kamar.”Siera langsung menggeleng keras.“Aku tidak mau sendirian.”Yelian terdiam sejenak. Ia tahu Siera memang tidak suka ditinggal sendirian, tetapi kali ini ia juga tidak mungkin membiarkan adiknya mengganggu latihan. Tatapannya kemudian beralih kepada Dior yang masih berdiri tidak jauh dari mereka bersama Felix. Anak laki-laki itu tampak begitu tenang, seolah semua percakapan mereka tidak ada hubungannya dengan di
Siera meneguk ludah. Ia memang merasa malu karena tertangkap basah, namun ia tetap berdiri tenang, berusaha tidak menunjukkan kegelisahannya.“Maaf… saya tidak bermaksud mendengar pembicaraan Anda berdua.” Siera membungkuk, menjaga sopan santunnya.Saat ia mengangkat kepala, ia bisa melihat pandanga
Siera tahu bukan hanya Erick, Dregory, dan semua orang yang berada di ruangan itu tertegun mendengar ucapan Siera yang tiba-tiba.“Apa… yang kau katakan?” suara Erick terdengar tertahan, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia bahkan bangkit dari posisinya.Siera sempat menoleh
Suara ketukan pintu membuat Siera tersentak. Ia menoleh ke arah pintu ketika daun pintu terbuka perlahan, dan seorang gadis masuk dengan langkah hati-hati.“Nona…”Siera menatapnya.“Mia…”Wajah Mia terlihat lega, bahkan sedikit senang. “Yang Mulia Duke benar… Anda sudah bangun.”Siera menatap gadis
Siera membuka mulut, tetapi kata-kata terasa sulit keluar. Tenggorokannya kering, pikirannya masih kacau oleh apa yang baru saja ia alami.“A-aku…”“Apa karena Putra Mahkota Erick?” potong Dregory tiba-tiba.Nada suaranya rendah, namun justru terasa lebih menekan. Tidak ada kemarahan yang meledak, t







