LOGINSiera mengangkat wajahnya dan menatap Dior dengan tenang.“Aku sudah berjanji akan menjelaskan semuanya dengan baik kepada Ayah. Jadi, kemungkinan besar aku akan diizinkan pergi.”Dior tidak langsung menjawab, dia tengah menimbang.“Tempat itu bahkan belum bisa disebut sebagai wilayah yang layak dikunjungi. Saat ini, tempat itu hanya antah berantah. Pergi ke sana sama saja dengan mencari mati.”Siera berkedip, tetapi tidak menunjukkan tanda-tanda gentar.“Lalu?”Dior mengalihkan pandangannya sedikit untuk menatapnya lebih saksama.“Kau tidak takut?”“Ada kau. Apa yang harus aku takutkan?”Jawaban itu keluar begitu saja dari mulut Siera, tanpa keraguan sedikit pun. Ia bahkan tersenyum tipis setelah mengatakannya, seolah keberadaan Dior di sisinya sudah cukup untuk menjawab segala kekhawatiran yang mungkin muncul selama perjalanan nanti.Dior tidak memberikan tanggapan. Wajahnya tetap dingin, tanpa perubahan ekspresi yang berarti. Namun, tangan yang sejak tadi menggenggam tangan Siera p
Siera akhirnya memilih untuk tidak melanjutkan perdebatan mereka. Percuma saja berusaha membujuk Dior ketika pria itu sudah menetapkan sesuatu sebagai batasan yang tidak boleh dilanggar. Ia hanya akan berakhir kehabisan kata-kata, sementara Dior tetap duduk dengan wajah datarnya seolah tidak terjadi apa-apa.Siera menyandarkan tubuhnya ke sofa, masih menggenggam tangan Dior. Ia baru saja hendak menikmati waktu berdua mereka ketika pria itu tiba-tiba membuka mulut.“Kalau begitu, sekarang aku akan membicarakan sesuatu yang serius.”Siera menoleh kepadanya.“Memangnya apa yang serius dan ingin kau bicarakan?”“Perjalanan ke utara. Ke tempat yang disebutkan wanita itu.”Siera langsung memahami siapa yang dimaksud Dior. Namun, alih-alih segera menjawab, ia justru menyeringai kecil, lalu mengangkat alis ke arah pria itu.“Dia punya nama, Dior. Zelka.”Dior menatapnya tanpa ekspresi.“Ada batasan antara laki-laki dan perempuan.”Siera mengernyit. Ia tidak menyangka percakapan yang semula me
Dior terdiam dan menatap Siera yang masih berada begitu dekat dengannya. Ia tidak segera menjawab, bukan karena sedang berusaha menyembunyikan rasa malu atau menahan debaran jantungnya, melainkan karena permintaan wanita itu sama sekali tidak pernah masuk dalam perkiraannya.Siera justru semakin senang melihat Dior terdiam. Ia memiringkan kepala sedikit, menunggu pria itu memberikan jawaban. Selama ini, Dior selalu menerima permintaannya selama tidak ada alasan yang menurutnya perlu ditolak. Karena itulah, Siera cukup yakin bahwa kali ini pun ia akan mendapatkan jawaban yang diinginkannya.“Bagaimana?” tanyanya dengan senyum menggoda. “Kau keberatan dengan syarat itu?”“Ya.”Senyum Siera langsung membeku. Ia berkedip beberapa kali, seolah tidak yakin telah mendengar jawaban yang benar.“Apa?”“Aku menolak.”Dior mengatakannya dengan nada datar. Tidak ada keraguan dalam suaranya, tidak pula perubahan berarti pada wajahnya. Setelah memberikan jawaban tersebut, ia bahkan kembali menyanda
Siera terdiam, menatap Dior yang masih menggenggam tangannya dengan wajah datar. Ia tidak menemukan tanda bahwa pria itu sedang menggodanya. Dior justru bersikap seolah baru saja mengatakan sesuatu yang biasa, padahal perkataannya berhasil membuat jantung Siera berdegup lebih cepat.“Dior...” Siera akhirnya bersuara, tetapi namanya terdengar lebih seperti keluhan daripada teguran.“Ya?”“Kau...” Siera berhenti sejenak, lalu mengerutkan kening. “Kau tidak boleh mengatakan hal seperti itu secara tiba-tiba.”Dior memiringkan kepala sedikit.“Mengapa?”“Karena...” Siera membuka mulut, tetapi tidak menemukan jawaban yang tepat. Ia tentu tidak mungkin mengatakan bahwa kalimat tadi membuatnya malu setengah mati. Itu hanya akan memberinya alasan untuk kembali mengatakan sesuatu yang lebih memalukan.Siera akhirnya memalingkan wajah.“Pokoknya, jangan mengatakannya sembarangan.”“Aku tidak mengatakannya sembarangan.”Jawaban itu datang begitu cepat hingga Siera kembali menoleh kepadanya. Dior m
Siera mengangkat kepalanya.“Kaisar?”Ia melirik ke arah pintu, sedikit terkejut karena tidak menyangka Dior akan datang mencarinya saat ini. Padahal, ia sudah menghabiskan cukup banyak waktu di gudang bersama Mia dan Zelka.Siera menghela napas pelan, lalu menoleh kepada Mia.“Sepertinya aku harus keluar sebentar. Tolong lanjutkan pemeriksaan barang-barang ini.”“Baik, Nona.”Siera keluar dari gudang bersama Ernest yang kemudian mengantarnya menuju ruang tamu. Ia semula mengira ayah atau kakaknya akan berada di sana, mengingat Dior sudah jarang datang ke Kastil Elvorn tanpa ditemani keduanya. Namun, begitu melangkah masuk, ia mendapati sosok kaisar itu duduk sendirian di sofa.Dior mengenakan pakaian kebesarannya yang mempertegas kedudukannya sebagai kaisar. Rambut hitamnya tertata rapi, sementara mata merahnya tertuju pada cangkir teh di atas meja. Tidak ada tanda-tanda bahwa ia merasa bosan meskipun harus menunggu sendirian.Siera memperlambat langkahnya, lalu menoleh sekilas ke ar
Siera akhirnya mengembuskan napas perlahan, lalu mengangkat wajahnya.“Baiklah. Kita pasti akan mengetahuinya cepat atau lambat.” Ia menatap Zelka dengan lebih tenang. “Kita akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, mengapa kau terus mengulang waktu, dan apakah darah ibuku memang memiliki hubungan dengan semua ini. Namun, jika ternyata semua itu tidak berdampak apa pun kepadaku, kita tetap akan menyelesaikan persoalanmu.”Zelka menatapnya tanpa berkata-kata.Ia tampak sedikit tertegun mendengar perkataan Siera. Setelah membicarakan sesuatu yang begitu rumit, wanita itu justru berusaha menyederhanakan semuanya menjadi satu tujuan yang jelas.Siera memang masih ingin menemukan jawaban tentang dirinya sendiri, tetapi ia tidak berniat mengabaikan persoalan Zelka begitu saja, terlebih setelah mengetahui bahwa wanita itu telah mengulang waktu berkali-kali dan bahkan tidak lagi mengingat alasan awalnya dengan jelas.Siera membalas tatapan Zelka.“Kau sudah membantuku mengetahui banyak h
Siera membuka mulut, tetapi kata-kata terasa sulit keluar. Tenggorokannya kering, pikirannya masih kacau oleh apa yang baru saja ia alami.“A-aku…”“Apa karena Putra Mahkota Erick?” potong Dregory tiba-tiba.Nada suaranya rendah, namun justru terasa lebih menekan. Tidak ada kemarahan yang meledak, t
“Hah… hah…”Napas Siera memburu setelah berlari tanpa henti. Keringat mengalir di pelipisnya, sementara tangannya mencengkeram pinggir pintu balkon untuk menahan tubuhnya tetap berdiri.Sang ratu kekaisaran itu berusaha memahami apa yang baru saja terjadi. Semuanya terasa begitu cepat… begitu kacau
Siera meneguk ludah. Ia memang merasa malu karena tertangkap basah, namun ia tetap berdiri tenang, berusaha tidak menunjukkan kegelisahannya.“Maaf… saya tidak bermaksud mendengar pembicaraan Anda berdua.” Siera membungkuk, menjaga sopan santunnya.Saat ia mengangkat kepala, ia bisa melihat pandanga
Siera tahu bukan hanya Erick, Dregory, dan semua orang yang berada di ruangan itu tertegun mendengar ucapan Siera yang tiba-tiba.“Apa… yang kau katakan?” suara Erick terdengar tertahan, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia bahkan bangkit dari posisinya.Siera sempat menoleh







