LOGINYelian perlahan mengatupkan bibir. Ia tahu apa yang dimaksud ayahnya.Dior bukan hanya pernah berdiri di sisi Siera ketika keadaan menjadi sulit. Ia berkali-kali menempatkan dirinya di antara Siera dan bahaya, bahkan ketika tidak ada keuntungan apa pun yang bisa ia dapatkan dari tindakan tersebut.Yang lebih sulit dibantah adalah kenyataan bahwa Dior tidak pernah benar-benar mengesampingkan Siera demi kepentingannya sendiri. Setiap kali ada pilihan yang harus dibuat, entah bagaimana Siera selalu berada di dalam pertimbangannya."Aku melihat sendiri bagaimana dia memperlakukannya. Dia tidak hanya mengatakan bahwa dia menyukai Siera." Dregory melanjutkan dengan suara rendah, Yelian menatap ayahnya."Dia bertindak."Dregory mengangkat wajah."Ketika Siera membutuhkan seseorang, dia ada di sana. Ketika Siera berada dalam bahaya, dia tidak menunggu orang lain bergerak lebih dulu. Bahkan ketika ada sesuatu yang lebih besar yang sedang ia hadapi, dia tidak pernah membuat Siera seolah menjad
Siera perlahan menurunkan cangkir yang belum sempat menyentuh bibirnya."Ke mana?""Ke Kastil Elvorn."Siera menatap Yelian dan kemudian ia menoleh kepada Dregory. Dregory tidak mengatakan apa-apa, tapi diamnya justru menjadi jawaban paling jelas.Siera berkedip."Tunggu." Ia meletakkan cangkirnya. "Surat lamaran?"Yelian mengangguk."Surat lamaran."Siera menatap kosong ke depan. Ia sama sekali tidak tahu tentang hal itu. Padahal sejak tadi ia justru merasa Dior tidak pernah melakukan langkah apa pun secara resmi. Lelaki itu hanya mengatakan dirinya menyukai Siera, menyatakan mereka kekasih, datang ke Kastil Elvorn sesuka hati, lalu menghabiskan waktu di perpustakaan seolah hubungan mereka sudah berlangsung bertahun-tahun.Ternyata lelaki itu sudah mengirimkan surat lamaran. Siera perlahan menutup matanya."Kenapa aku tidak tahu?"Yelian menjawab santai, "Karena suratnya dikirim kepada Ayah."Siera langsung membuka mata dan menatap Dregory."Ayah?"Dregory hanya mengangguk."Lalu ken
Siera benar-benar membeku. Mulutnya sempat terbuka, tetapi tidak ada satu pun kata yang berhasil keluar. Ia hanya menatap Dior dengan wajah kosong, seolah otaknya sedang berusaha memahami bagaimana lelaki itu bisa menolak permintaannya dengan alasan sesederhana mereka belum menikah.Dior yang melihatnya hanya menghela napas kecil."Siera, kita belum menikah. Untuk sekarang, pegangan tangan saja."Setelah mengatakan itu, ia kembali meraih tangan Siera dan menggenggamnya dengan tenang, seolah baru saja memberikan solusi yang sangat masuk akal.Siera menurunkan pandangan kepada tangan mereka. Jemari Dior sudah berada di antara jemarinya, hangat dan stabil. Ia mengerjapkan mata, lalu kembali menatap Dior yang kini memperhatikannya tanpa ekspresi berarti. Siera justru semakin tidak tahu bagaimana harus bereaksi. Lelaki ini baru saja menolak ciuman darinya, tetapi kemudian menggenggam tangannya seolah hal itu merupakan pengganti yang sepenuhnya pantas."Anda tidak ingin mencium saya?" tanya
Yelian benar-benar terdiam. Dregory yang berdiri di sampingnya pun tidak jauh berbeda. Keduanya menatap Dior selama beberapa saat, seolah masih mencoba memahami bagaimana lelaki itu bisa mengucapkan kalimat dengan wajah setenang itu.Hugo perlahan mengangkat wajahnya. Sementara Felix yang berdiri agak jauh segera memalingkan muka, jelas sedang berusaha keras menahan senyum. Tidak ada yang berani tertawa terang-terangan, terutama karena dua orang yang berdiri di hadapan mereka adalah kepala keluarga Elvorn dan putra tertuanya. Namun melihat ekspresi keduanya, sulit bagi siapa pun untuk tidak merasa geli.Dior sendiri sama sekali tidak menyadari keanehan suasana tersebut. Ia justru melanjutkan penjelasannya dengan nada yang sama tenangnya."Aku tidak perlu menunggu orang lain menyelesaikan sesuatu yang bisa kuselesaikan sendiri."Yelian menatapnya beberapa detik. Setelah itu ia mengembuskan napas panjang dan mengusap tengkuknya."Ya."Dregory melirik putranya dan Yelian mengangkat bahu
Siera akhirnya menarik tangannya perlahan dari genggaman Dior. Ia menatap lelaki itu dengan ekspresi serius, seolah ingin memastikan kali ini Dior benar-benar memahami apa yang sedang ia katakan."Walaupun kita tidak melakukan hal seperti ini, kita tetap sepasang kekasih."Dior mengernyit dan Siera menunjuk tangan mereka yang kini sudah terpisah."Maksud saya, tidak perlu berlebihan. Apakah Anda mengerti?"Dior menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk."Mengerti.""Bagus."Siera kemudian berbalik dan berjalan lebih dahulu menuju kastil. Ia baru saja melangkah masuk ke dalam aula ketika beberapa pasang mata langsung tertuju kepadanya. Yelian yang sejak tadi menunggu di dalam segera menghampiri."Jadi, kalian sudah selesai bicara?"Siera mengangguk singkat. "Sudah."Belum sempat Yelian bertanya lebih jauh, Dregory yang berdiri tidak jauh dari sana menghela napas panjang. Sepertinya lelaki itu sudah cukup lama menunggu mereka kembali."Dior."Dior yang baru masuk menyahut ten
Siera masih berdiri di tempatnya ketika suara Dior kembali terdengar. Ia menoleh dan mendapati lelaki itu masih memperhatikannya dengan tatapan yang sama tenangnya seperti tadi. Tidak ada sedikit pun tanda bahwa Dior merasa malu setelah mengucapkan bahwa ia senang.Siera justru semakin bingung."Mengapa Anda senang?"Dior menjawab seolah pertanyaan itu memiliki jawaban yang sangat sederhana."Karena sekarang aku kekasihmu."Siera tertegun sesaat, mendengar Dior mengatakannya secara langsung justru membuat dadanya kembali terasa aneh. Ia segera mengalihkan pandangan ke arah lain, berusaha menyembunyikan wajahnya yang mulai terasa hangat.Dior tidak membiarkannya begitu saja."Kalau begitu, mengapa kau mengatakan itu kepada mereka?"Siera kembali menatapnya. "Apa?""Bahwa kita pasangan kekasih."Siera terdiam sebentar,"Kalau saya tidak mengatakan seperti itu, Ayah dan Kak Yelian akan terus mengintimidasi Anda."Dior mengernyit tipis."Jadi begitu."Siera mengangguk."Anda tidak senang?
Itu bukan ancaman.Setidaknya, bukan dalam arti yang dipahami oleh kebanyakan orang.Apa yang diucapkan Dregory adalah perlindungan garis batas yang ia tarik dengan jelas, tanpa menyisakan ruang untuk disalahartikan.Sejak klausul kesetaraan diajukan dan diterima, semuanya te
“Apa?”Suara Siera hampir pecah. Ia benar-benar tidak bisa menahan keterkejutannya. Matanya melebar, napasnya tertahan sesaat, seolah kata-kata yang baru saja ia dengar tidak masuk akal untuk diterima.Dior menatapnya sekilas, lalu mendengus pelan.“Sudahlah
Kini Siera duduk tegak di atas Tyrax, di antara deretan peserta yang telah siap memulai perburuan. Kuda-kuda berdiri berbaris, sebagian menghentakkan kaki mereka ke tanah, sebagian lagi mengibaskan ekor dengan gelisah. Udara dingin dari utara berembus pelan, membawa aroma hutan yang lembap.
Siera mengalihkan pandangannya kembali ke luar jendela."Saya pasti menang hari ini."Nada suaranya tenang, tetapi ada keyakinan di dalamnya dan Dregory mengamatinya beberapa saat."Area berburu tidak bisa diprediksi."Siera menoleh lagi. "Bukankah ksatria Elvorn akan







