LOGINRatu tersenyum tipis. Senyum itu kali ini terlihat lebih tertarik daripada menyindir.
“Ucapan yang menarik,” katanya pelan.
Beberapa bangsawan yang berdiri tidak jauh dari sana langsung menahan napas. Bisikan semakin terdengar, walaupun tetap ditahan agar tidak terlalu mencolok.
Siera menunduk, namun ia bisa merasakan tatapan ratu masih tertuju padanya.
“Lady Elvorn,” lanjut ratu, “aku dengar kau sempat mengalami cedera. Namun tampakny
Siera merasa dadanya sesak, tetapi Dior tetap berdiri diam tanpa membantah ataupun membalas. Dregory yang mengawasinya tahu bahwa Dior tidak akan menangis atau berteriak. Justru karena itu, ia bisa memahami betapa dalam kata-kata Kaisar menyakitinya. Dior telah kehilangan ayahnya, keluarganya dibinasakan, dan kini kelahirannya dihina oleh orang yang berada di balik semua penderitaan itu.Beberapa anggota Dewan langsung menegang.Kaisar tertawa pendek, tetapi suara itu terdengar lebih seperti luapan keputusasaan daripada kegembiraan."Dan kalian..." Tatapannya menyapu seluruh ruangan. "Kalian semua memilih bajingan yang bahkan tidak memiliki emosi dan perasaan untuk menjadi Kaisar?"Dior tetap tidak bergerak.Kaisar menunjuknya dengan tangan yang gemetar."Kalian benar-benar berpikir orang seperti dia bisa memimpin Kekaisaran?"Tidak ada yang menjawab."Kalau begitu, lihat saja!"Suaranya menggema di seluruh aula."Kalian akan melihat sendiri bagaimana Kekaisaran ini hancur di tanganny
Aula kembali sunyi. Siera merasakan bulu kuduknya berdiri. Ia tidak tahu apakah ramalan itu benar, tetapi melihat wajah Kaisar, Siera yakin lelaki itu mempercayainya. Bahkan begitu dalam hingga ia rela menghancurkan keluarga Rurich demi mencegah ramalan itu terjadi.Namun semua usahanya gagal. Dior masih hidup.Siera menatapnya dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Kini ia memahami bahwa Dior tidak hanya berdiri di hadapan Kaisar untuk membalas kematian ayahnya, tetapi juga sebagai satu-satunya darah Rurich yang tersisa setelah keluarganya diburu dan dihapus dari sejarah.Mungkin itulah alasan Kaisar begitu takut melihat mata merah Dior. Di hadapannya berdiri seseorang yang seharusnya sudah mati, tetapi masih hidup dan membawa nama Rurich.Siera dan Yelian hanya terdiam, menyaksikan sejarah lama yang selama ini dikubur kembali terbuka. Nama Rurich kini terdengar lagi di aula kekaisaran, bukan sebagai keluarga yang kalah, melainkan sebagai darah terakhir yang masih hidup.Dior Rurich
Siera terdiam cukup lama. Ia masih menatap Dior sambil memikirkan semua yang baru saja terungkap. Selama ini ia hanya mengenal Rurich sebagai keluarga bangsawan kuat dengan wilayah luas, pasukan besar, dan pengaruh yang disegani. Ia tidak pernah tahu bahwa keluarga itu menyimpan sejarah tentang takhta yang dulu menjadi milik mereka, sebelum akhirnya disingkirkan dan dipaksa hidup sebagai bangsawan.Yang lebih mengerikan, darah keluarga Rurich juga pernah diburu hingga hampir tidak tersisa. Dior adalah satu-satunya keturunan Rurich dari garis nenek pihak ayahnya.Siera kembali menatap Dior, ia tidak hanya melihatnya sebagai Grand Duke, tetapi sebagai seseorang yang mungkin selama ini memikul beban besar seorang diri. Tanpa sadar, Siera menggenggam ujung pakaiannya."Kak..." bisiknya kembali.Yelian menoleh. Siera menatap kakaknya dengan banyak pertanyaan yang masih belum terjawab."Kalau semua ini benar, kenapa tidak ada seorang pun yang membicarakannya?"Yelian menghela napas pelan."
Kaisar tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya berdiri diam dengan wajah yang sulit dibaca, tanpa bantahan ataupun teriakan.Keheningan itu membuat seluruh aula ikut membeku.Ketua Dewan akhirnya mengalihkan pandangan kepada Dior. Ia tampak ragu sebelum akhirnya bertanya, "Yang Mulia... apakah Anda akan membawa perkara mengenai kematian Grand Duke Luca ke dalam pemeriksaan ini juga?"Dior menoleh kepadanya."Ini akan menjadi urusanku."Jawabannya singkat.Ketua Dewan memahami maksud Dior. Perkara kematian Grand Duke Luca tidak akan lagi diperiksa oleh Dewan. Dior akan menanganinya sendiri sebagai urusan keluarga Rurich dan sebagai putra yang berkepentingan atas kematian ayahnya.Tidak ada yang membantah. Dior kembali menatap Kaisar yang masih terdiam.Dior memandanginya beberapa saat, lalu berkata, "Kalau begitu, katakan padaku."Kaisar perlahan mengangkat wajah."Apa alasan paling masuk akal atas semua hal yang kau lakukan?"Kaisar tidak menjawab.Dior melanjutkan, "Kau mengirim pasukan k
Kaisar membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar. Ia hanya menatap Dior dengan napas berat, seolah pertanyaan itu menyentuh sesuatu yang selama ini ia sembunyikan.Seluruh aula menunggu jawabannya dalam diam. Dior tetap berdiri tenang di hadapannya, hanya menunggu jawaban."Kenapa?" tanyanya sekali lagi. "Kenapa kau membunuhnya?"Kaisar mengangkat wajah. Matanya memerah karena kelelahan dan amarah yang telah ditahannya selama berjam-jam. Ia tampak seperti seseorang yang berdiri di ujung jurang, tetapi masih berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa tanah di bawah kakinya belum runtuh."Kalau memang bukan kau, katakan siapa."Dior tidak mengalihkan pandangan."Kalau aku salah, bantah."Kaisar mengepalkan tangannya."Kalau ada orang lain yang melakukannya..." Dior berhenti sejenak, lalu suaranya terdengar semakin rendah, "...sebutkan namanya."Kaisar tetap diam.Dior mengamatinya beberapa saat sebelum berkata, "Tapi kenyataannya..."Ia berhenti."Memang kau yang membunuh ayahku.
Tidak ada yang berbicara lagi. Para raja yang sebelumnya masih membela diri kini hanya diam dengan kepala tertunduk, sementara para prajurit tetap berjaga di belakang mereka.Aula yang semula dipenuhi perdebatan kini sunyi. Pemeriksaan berlangsung hingga pagi. Hampir semua orang terlihat kelelahan, tetapi tidak ada yang berani meninggalkan tempat mereka karena perintah Dior masih berlaku.Ketua Dewan akhirnya menutup dokumen di hadapannya dan menatap Kaisar."Yang Mulia."Kaisar mengangkat wajah."Apakah tidak ada yang ingin Anda katakan?"Kaisar tidak langsung menjawab. Ia menatap anggota Dewan itu sejenak sebelum perlahan mengalihkan pandangan kepada Dior.Tatapan mereka bertemu. Kaisar tampak jauh lebih lelah dari sebelumnya. Matanya memerah karena kemarahan dan malam panjang tanpa tidur."Kau ingin bertindak sejauh ini?"Dior hanya mengangkat satu tangan, seolah mempersilakan Kaisar mengatakan apa yang ingin ia katakan.Ketua Dewan kembali bertanya, "Kalau begitu, apa alasan Anda
Suara ketukan pintu membuat Siera tersentak. Ia menoleh ke arah pintu ketika daun pintu terbuka perlahan, dan seorang gadis masuk dengan langkah hati-hati.“Nona…”Siera menatapnya.“Mia…”Wajah Mia terlihat lega, bahkan sedikit senang. “Yang Mulia Duke benar… Anda sudah bangun.”Siera menatap gadis
Siera membuka mulut, tetapi kata-kata terasa sulit keluar. Tenggorokannya kering, pikirannya masih kacau oleh apa yang baru saja ia alami.“A-aku…”“Apa karena Putra Mahkota Erick?” potong Dregory tiba-tiba.Nada suaranya rendah, namun justru terasa lebih menekan. Tidak ada kemarahan yang meledak, t
“Hah… hah…”Napas Siera memburu setelah berlari tanpa henti. Keringat mengalir di pelipisnya, sementara tangannya mencengkeram pinggir pintu balkon untuk menahan tubuhnya tetap berdiri.Sang ratu kekaisaran itu berusaha memahami apa yang baru saja terjadi. Semuanya terasa begitu cepat… begitu kacau
Siera meneguk ludah. Ia memang merasa malu karena tertangkap basah, namun ia tetap berdiri tenang, berusaha tidak menunjukkan kegelisahannya.“Maaf… saya tidak bermaksud mendengar pembicaraan Anda berdua.” Siera membungkuk, menjaga sopan santunnya.Saat ia mengangkat kepala, ia bisa melihat pandanga







