Mag-log inRatu tersenyum tipis. Senyum itu kali ini terlihat lebih tertarik daripada menyindir.
“Ucapan yang menarik,” katanya pelan.
Beberapa bangsawan yang berdiri tidak jauh dari sana langsung menahan napas. Bisikan semakin terdengar, walaupun tetap ditahan agar tidak terlalu mencolok.
Siera menunduk, namun ia bisa merasakan tatapan ratu masih tertuju padanya.
“Lady Elvorn,” lanjut ratu, “aku dengar kau sempat mengalami cedera. Namun tampakny
Erick langsung menatap Dregory dengan wajah yang mulai menunjukkan ketidaksenangan. Ia tidak menyukai arah pembicaraan itu, terlebih ketika Dregory mulai mempertanyakan Irvin dan segala informasi yang dibawanya. Bagaimanapun juga, Irvin datang membawa perintah dari Kaisar, dan selama ini Erick menganggap keberadaan lelaki itu sebagai salah satu bentuk dukungan langsung dari istana.“Itu tidak benar, Duke.”Dregory menatapnya tanpa berkata apa-apa.“Kita kehilangan banyak prajurit karena jumlah mereka jauh lebih besar. Itu kenyataan yang tidak bisa kau abaikan hanya karena kau tidak menyukai cara perang ini berlangsung.” Erick melanjutkan, kali ini dengan nada yang lebih tegas. Dregory masih diam. Tatapannya tidak berubah sedikit pun, tetapi rahangnya terlihat mengeras.“Jumlah mereka memang lebih banyak,” katanya akhirnya. “Tapi itu bukan satu-satunya alasan.”Erick mengerutkan kening. “Lalu apa?”“Kesalahan.”“Kesalahan siapa?”Dregory mengalihkan pandangan kepada peta di atas meja.
Ruangan langsung sunyi. Tidak ada satu pun jenderal yang bergerak. Erick menatap Dregory dengan wajah yang perlahan berubah serius, seolah mencoba memahami maksud dari ucapan lelaki itu."Perang terakhir?"Dregory mengangguk pelan. Ia berbalik dari jendela dan berjalan kembali menuju meja. Tatapannya jatuh pada peta yang penuh tanda merah di hadapannya."Ya. Entah kita yang mengakhirinya..." Dregory berhenti sejenak, matanya menyapu seluruh titik yang menandai wilayah peperangan. "...atau mereka yang akan mengakhirinya untuk kita."Erick tidak menjawab. Ia hanya menatap peta tersebut, sementara Dregory kemudian menunjuk beberapa titik yang selama ini menjadi garis pertahanan mereka."Bangunkan semua pasukan yang sedang beristirahat. Periksa kembali persenjataan. Pastikan tidak ada satu pun jalur masuk yang tidak dijaga."Seorang jenderal segera membungkuk. "Baik, Duke."Dregory kemudian menatapnya kembali. "Dan jangan kirim siapa pun keluar benteng malam ini."Jenderal itu sempat tert
Begitu keluar dari aula, Siera merasa lega. Udara di luar terasa lebih ringan dibandingkan suasana tegang di dalam. Para bangsawan mulai meninggalkan istana dan berjalan menuju kereta mereka.Yelian berjalan di samping Siera dengan tenang, seolah tidak terpengaruh oleh perdebatan tadi. Siera justru terus memperhatikannya."Kak."Yelian menoleh dan Siera masih terlihat tidak percaya dengan apa yang baru saja ia saksikan."Kau benar-benar bisa membuat Kaisar sampai seperti itu."Yelian mengernyit tipis. "Seperti apa?""Diam."Yelian tidak langsung menjawab.Siera menahan senyum kecil. "Biasanya dia selalu punya jawaban untuk semuanya. Bahkan ketika semua orang di aula menentangnya, dia masih bisa memutar keadaan seolah dirinya yang paling benar."Mereka terus berjalan menuju tangga istana. Yelian hanya memasukkan kedua tangannya ke balik mantel formalnya."Aku hanya mengatakan apa yang seharusnya dilakukan."Siera menatapnya."Menurutmu itu sederhana?""Memang tidak?"Siera menghela nap
Aula semakin sunyi setelah Yelian selesai berbicara. Tidak ada lagi suara bisikan seperti sebelumnya. Bahkan para bangsawan yang sejak awal bersikeras agar pajak mereka tidak disentuh kini hanya duduk diam, seolah masih mencoba mencerna seluruh usulan yang baru saja mereka dengar.Yelian tidak terburu-buru melanjutkan. Ia membiarkan semua orang memikirkan perkataannya terlebih dahulu. Tatapannya kemudian jatuh pada tumpukan dokumen yang berserakan di atas meja panjang di hadapan Kaisar."Yang Mulia," ujarnya akhirnya, "sebelum mencari sumber pemasukan baru, mungkin kita seharusnya melihat terlebih dahulu ke mana uang Kekaisaran selama ini digunakan."Beberapa pejabat langsung menegang. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi semua orang di ruangan tersebut memahami maksudnya.Kaisar tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menatap Yelian dengan sorot mata yang semakin sulit dibaca. Yelian melanjutkan dengan suara tetap tenang."Anggaran perang memang besar. Namun semakin lama perang berlang
Beberapa bangsawan langsung saling berpandangan. Yelian berdiri diam di samping Siera, tetapi ekspresinya berubah semakin dingin. Salah seorang anggota oposisi kembali mencoba berbicara."Namun jika rakyat tidak menerima keputusan ini—""Kalau mereka tidak menerima, maka mereka akan tetap membayar."Suara Kaisar terdengar begitu tenang hingga justru terasa lebih mengerikan.Siera menatap lelaki itu dari kejauhan. Ia tidak terlihat marah, tidak terlihat khawatir dan tidak pula menunjukkan sedikit pun keraguan. Seolah keberatan rakyat bukan sesuatu yang perlu dipikirkan."Yang Mulia," seorang pejabat lain mencoba menyela, "jika pajak dinaikkan setinggi ini, kemungkinan besar akan terjadi penolakan di beberapa wilayah.""Atasi.""Jika terjadi kerusuhan?""Atasi.""Jika para pedagang menghentikan perdagangan?"Kaisar menatapnya."Paksa mereka membuka kembali perdagangan."Ruangan kembali membeku.Siera merasakan sesuatu yang dingin menjalar di dalam dirinya. Ini bukan lagi seorang Kaisar
Gerakan Yelian terhenti. Ia menatap Siera beberapa saat, seolah berharap adiknya akan mengubah pikirannya setelah melihat ekspresi wajahnya. Namun Siera tetap berdiri di tempat, tidak menunjukkan sedikit pun tanda bahwa ia berniat mundur."Tidak."Siera mengangkat wajahnya. "Aku ikut.""Siera.""Aku sudah melihat keadaan di luar."Yelian menghela napas panjang. Ia tahu persis ke mana pembicaraan ini akan berakhir. "Justru karena itu kau sebaiknya tetap tinggal di kastil."Siera mengerutkan kening. "Kenapa?""Karena istana sedang tidak dalam keadaan yang baik untuk dikunjungi."Jawaban itu membuat Siera semakin yakin bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi di sana. Ia melangkah mendekati kakaknya, lalu berhenti beberapa langkah di hadapannya."Dan menurutmu aku akan lebih aman hanya dengan duduk di kastil tanpa mengetahui apa yang sedang terjadi?"Yelian tidak segera menjawab.Siera menatapnya lekat-lekat. "Aku tidak meminta untuk ikut campur. Aku hanya ingin mendengar apa yang mereka bi
Roseth terlihat seperti ingin meledak saat itu juga. Sedangkan Clarisse masih berusaha mempertahankan ketenangannya meski senyum di wajahnya sudah lama menghilang.Lebih parah lagi Siera tampaknya sedang menikmati hal itu.Roseth menatap Siera dengan tatapan dingin yang semakin lama semakin sulit d
Hari telah berlalu sejak kepulangannya ke kastil, dan kini Siera berdiri di hadapan meja kayu besar di sebuah ruangan tersembunyi di sudut kota.Ruangan itu terlihat lebih baik dan cukup rapi sejak terakhir kali ia datang. Di seberangnya, Rex duduk sambil menatapnya dengan ekspresi yang su
Siera mengalihkan pandangannya kembali ke luar jendela."Saya pasti menang hari ini."Nada suaranya tenang, tetapi ada keyakinan di dalamnya dan Dregory mengamatinya beberapa saat."Area berburu tidak bisa diprediksi."Siera menoleh lagi. "Bukankah ksatria Elvorn akan
Siera meneguk ludahnya kasar. Tenggorokannya terasa kering, sementara tatapan Dregory tetap menekannya. Sorot mata itu tajam, lebih dalam dari sekadar rasa ingin tahu.“Jawablah!”Jari-jari Siera langsung menggenggam erat di balik lipatan gaunnya. Kuku-kukunya menekan telapak tangan







