INICIAR SESIÓNAula makan di Kastil Valen malam itu terasa begitu hangat, jauh dari kesan dingin yang biasanya melekat pada dinding-dinding batu besar peninggalan masa lalu.Lilin-lilin perak menyala dengan tenang di tengah meja, menyinari piring-piring porselen yang menyajikan daging rusa panggang hasil buruan Laurent. Aroma rempah dan lemak yang gurih memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang intim bagi keluarga kecil itu.Aurelia memotong daging di piringnya dengan gerakan anggun, lalu menatap Laurent yang duduk tegak di hadapannya.“Daging ini sangat empuk, Laurent. Aku masih tidak percaya anakku yang baru berusia sembilan tahun sudah bisa menjatuhkan rusa jantan sebesar itu dengan satu anak panah. Kau benar-benar cepat tanggap dalam menyerap ilmu ayahmu.”“Aku hanya mengingat pesan Papa tentang menahan napas, Ma,” sahut Laurent dengan nada rendah hati, meski binar kebanggaan sulit disembunyikan dari matanya yang tajam.“Bukan hanya cepat tanggap,” sela Elara yang duduk di samping kakaknya.Gad
Udara pagi di Hutan Valen terasa tajam dan bersih, membawa aroma pinus yang basah serta tanah yang lembap. Sinar matahari menerobos di sela-sela kanopi pepohonan yang rimbun, menciptakan kolom-kolom cahaya yang jatuh tepat di atas rumput tinggi.Di balik semak-semak lebat, dua sosok berdiri dengan keheningan yang absolut. Alaric, yang kini tampak lebih matang dengan beberapa helai uban tipis di pelipisnya, berdiri membeku di belakang Laurent.Laurent, yang telah tumbuh menjadi bocah laki-laki berusia sembilan tahun yang tangkas, memegang busur kayu hitamnya dengan stabilitas yang mengesankan.Bahunya kokoh, napasnya teratur, dan matanya yang tajam mengunci seekor rusa jantan besar yang sedang merumput sekitar lima puluh langkah di depan mereka.“Ingat apa yang kukatakan, Laurent,” bisik Alaric, suaranya sangat rendah hingga hampir menyatu dengan desau angin.“Jangan melawan angin. Jadilah bagian dari angin itu sendiri. Rasakan tarikan senarmu bukan dengan otot, tapi dengan naluri. Lep
Malam di Kastil Valen kembali dicekam oleh ketegangan yang serupa, namun kali ini udara terasa lebih berat oleh antisipasi yang menyesakkan.Di balik pintu kayu jati yang tertutup rapat, suara rintihan Aurelia yang sedang berjuang memberikan kehidupan baru bergema di sepanjang koridor. Alaric berdiri mematung di depan pintu, jemarinya meremas hulu pedang dengan begitu kencang hingga buku-buku jarinya memutih.“Ric, demi para leluhur, berhentilah menatap pintu itu seolah kau ingin mendobraknya dengan bahumu,” suara Edward, sahabat dekat Alaric terdengar tenang namun tegas dari arah belakang. “Ini adalah proses alami. Kau sudah melewatinya sekali bersama Laurent.”“Alami?” Alaric berbalik, matanya berkilat penuh kecemasan yang liar. “Dia sedang kesakitan di dalam sana, Edward! Aku bisa mendengar dia mengejan, aku bisa merasakan setiap tarikan napasnya yang berat. Dan aku di sini, berdiri seperti pengecut yang hanya bisa menunggu instruksi dari seorang bidan!”“Kau bukan pengecut, kau ad
Di pagi hari di tengah hamparan bunga mawar biru, seorang balita dengan energi yang seolah tak habis-habis sedang melakukan invasi terhadap ketenangan taman.Laurent berlari zigzag, sesekali berhenti untuk mencoba menangkap kupu-kupu, lalu kembali melesat dengan tawa melengking yang menggema hingga ke pilar-pilar kastil.“Laurent! Sayang, jangan terlalu dekat dengan kolam!” seru Aurelia sambil mencoba mengejar langkah kecil putranya dengan napas yang mulai memburu.Perutnya yang kini kian membuncit membuat setiap gerakan terasa dua kali lebih berat. Ia baru saja hendak melangkah lebih cepat saat rasa nyeri yang familiar menusuk pinggangnya, memaksanya berhenti dan memegang sandaran kursi taman dari besi tempa.“Yang Mulia, mohon hamba memohon,” Madame Greta segera menghampiri, wajahnya penuh kecemasan profesional.“Wajah Anda sudah sangat pucat. Biarkan kami yang mengawasi Pangeran Laurent. Anda harus duduk dan beristirahat, atau Baginda Raja akan memenggal kepala kami semua jika meli
Sinar matahari sore menembus jendela kaca patri di paviliun pribadi, memberikan rona jingga pada sofa beludru tempat Alaric dan Aurelia mencoba mencuri waktu istirahat. Namun, ketenangan di Istana Valen kini menjadi barang mewah yang langka. Dari arah koridor, suara derap langkah kaki kecil yang cepat beradu dengan lantai kayu, diikuti oleh suara Madame Greta yang terengah-engah.“Pangeran Laurent! Mohon jangan naik ke atas patung itu! Yang Mulia, tunggu!” teriak Greta dari kejauhan, yang hanya dibalas dengan tawa memekak telinga dari sang balita.Alaric memijat pangkal hidungnya, menyandarkan kepalanya di bahu Aurelia. “Aku bersumpah, anak itu memiliki stamina lebih besar daripada satu batalyon infantri. Bagaimana bisa makhluk sekecil itu membuat tiga pengasuh senior menyerah dalam satu hari?”Aurelia terkekeh pelan, meski gurat kelelahan tampak di wajahnya yang kini lebih berisi karena kehamilan keduanya. “Dia mewarisi keras kepalamu, Ric. Kau yang bilang ingin dia memiliki energi
Musim semi di tahun kedua Laurent ditandai dengan mekarnya bunga-bunga mawar biru yang lebih lebat dari sebelumnya, seolah tanah Utara benar-benar telah menerima darah Laurent sebagai bagian dari jiwanya. Aula besar dipenuhi dengan tawa riuh para bangsawan dan rakyat yang diundang untuk merayakan ulang tahun sang Serigala Kecil yang kedua. Laurent, yang kini sudah bisa berlari dengan langkah kecil yang mantap, sedang sibuk mengejar seekor anak anjing di antara sela-sela kursi panjang.Di atas kursi kebesaran, Aurelia duduk dengan anggun, namun wajahnya sedikit pucat. Ia mencoba menyesuaikan posisi duduknya, merasakan pening yang mendadak menyerang saat aroma daging panggang yang gurih tercium dari meja jamuan. Tangannya tanpa sadar meremas sandaran kursi, sementara perutnya terasa seperti diaduk oleh pusaran air yang aneh.“Aurel? Kau tidak menyentuh anggurmu sama sekali,” Alaric berbisik di sampingnya, matanya yang tajam tidak pernah melewatkan perubahan sekecil apa pun pada istriny
“Bagaimana mungkin aku bisa menyembunyikan sesuatu darimu, Alaric?”Aurelia memaksakan sebuah tawa kecil yang terdengar sumbang di telinganya sendiri.Dia menatap mata abu-abu pria itu dengan keberanian yang dipaksakan, meski dia bisa merasakan ujung tajam kertas perkamen di balik korsetnya menggor
Keheningan malam di Kastil Valen menjadi saksi bisu bagi ketegangan yang lebih dingin daripada salju di luar sana.Di dalam kamar utama yang terkunci, cahaya lilin telah meredup, menyisakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding batu. Alaric tidak membiarkan Aurelia tidur. Dia tidak membi
“Masuk!”Sentakan kasar Alaric membuat Aurelia terhuyung melewati ambang pintu kamar utama.Suara pintu kayu ek yang tebal itu menghantam bingkainya terdengar seperti dentuman meriam di dalam ruangan yang sunyi.Tanpa membuang waktu, Alaric memutar kunci perak di lubangnya, ceklek, sebuah bunyi yan
“Jika kau ingin mencari tahu cara tercepat untuk mati di kastil ini, teruslah melangkah menuju koridor itu, Nyonya.”Suara Martha yang parau nyaris membuat Aurelia menjatuhkan lilin di tangannya.Di lorong yang remang dan dingin, pelayan tua itu berdiri seperti bayangan, matanya menatap tajam ke ar







