Share

Bab 27

Author: Lalapoo
last update publish date: 2026-06-18 17:36:28

Helena mengangguk pelan. Ia tidak terkejut jika Adriel mengenalnya. Rumor mengenai pernikahannya dengan Marquess Laurent pasti sudah menyebar ke seluruh ibu kota.

Tapi tatapan sang pangeran membuatnya merasa seolah ada sesuatu yang sedang dipikirkannya. Sesuatu yang tidak diucapkan.

"Sekali lagi saya minta maaf atas kejadian ini."

Adriel menunjuk cadar yang rusak di tangannya.

"Sepertinya keluarga kekaisaran berutang satu cadar kepada Anda."

"Itu tidak perlu, Yang Mulia."

"Saya rasa itu perlu."
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 31

    Jantung Helena seolah berhenti berdetak sesaat ketika matanya menangkap isi tulisan pada kertas itu. Udara di dalam kamar terasa mendadak lebih dingin. Jemarinya tanpa sadar mencengkeram lembaran tersebut semakin erat, hingga kertas yang semula rapi mulai kusut di antara genggamannya.Ia membacanya sekali lagi, berharap dirinya salah mengerti. Namun tidak peduli berapa kali matanya menelusuri rangkaian kata-kata itu, maknanya tetap sama.Sebuah peringatan. Tidak, lebih tepatnya ancaman.Helena mengangkat tangan dan menekan pelipisnya pelan. Kini semuanya terasa begitu jelas. Sejak awal ia sudah merasakan ada sesuatu yang berbeda pada lelaki yang datang ke kamarnya semalam.Cara pria itu memeluknya, cara ia menahannya di atas ranjang, bahkan bagaimana setiap sentuhannya terasa lebih keras dari biasanya. Saat itu Helena tidak memahami penyebabnya. Ia hanya mengira suaminya sedang berada dalam suasana hati yang buruk. Namun sekarang, setelah membaca surat itu, seluruh kepingan yang semul

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 30

    Helena mendesah. Matanya terpejam rapat dan tangannya mencengkeram bahu pria itu hingga kukunya meninggalkan luka di kulitnya.Tapi pria itu tidak berhenti.Pinggulnya bergerak kasar. Hentakan yang sangat dalam dan membuat Helena menjerit setiap kali ia menekan lebih dalam. Setiap hentakan terasa seperti ada sesuatu yang menusuk ke dalam perutnya menusuk sampai ke rahimnya."AHHH— ahh—" Helena menjerit antara sakit dan kenikmatan. Tubuhnya bergetar hebat di bawah pria itu. Kakinya yang terbuka di sisi tubuh pria itu gemetar.Napas yang terdengar seperti binatang besar yang sedang berburu. Napas yang berbau alkohol dan keringat dan maskulin.Tapi ada sesuatu yang berbeda.Di balik sakit itu di balik hentakan brutal yang membuatnya menjerit ada kenikmatan. Kenikmatan yang menjalar dari tempat mereka bersatu, ke perutnya, ke dadanya, ke kepalanya. Kenikmatan yang tumbuh di antara rasa sakit seperti bunga yang tumbuh di antara retakan batu."Ahh— ahh— ahh—" Helena mendesah tanpa henti.Su

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 29

    Mereka sudah sampai di kastil Laurent. Sejak ucapannya yang terakhir kali, Rion tidak lagi bicara bahkan tidak bicara sepanjang makan malam.Ia makan dalam diam. Matanya sesekali menatap Helena dengan tatapan gelap yang membuat Helena menunduk, fokus pada piringnya. Tapi tatapan itu selalu berbeda dari tatapan seorang ipar. Lebih berat. Lebih gelap. Seperti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.Helena tidak bertanya.Setelah makan malam, Helena kembali ke kamarnya. Dua pelayan itu dan Dorote memabantunya membersihkan diri."Aku ingin keramas," kata Helena.Dorote mengangguk. Ia mengambil baskom berisi air hangat dan membawanya ke kamar Helena. Tangannya yang terampil mulai menuangkan air ke rambut Helena yang panjang, mengusapnya pelan, membersihkan debu dan keringat dari perjalanan hari ini."Nyonya sudah lelah," bisik Dorote saat tangannya mengelus rambut Helena. "Istirahatlah."Helena mengangguk. Tubuhnya memang lelah sangat lelah.Setelah selesai, Dorote membantu Helena mengenak

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 28

    Helena baru saja akan menjawab pertanyaan Adriel ketika suara langkah kaki terdengar dari arah jalan setapak yang membelah taman. Langkah itu tidak tergesa-gesa, namun cukup tegas untuk menarik perhatian mereka berdua.Ia menoleh bersamaan dengan sang putra mahkota.Di antara deretan pepohonan yang menaungi taman istana, sosok Rion berjalan mendekat dengan ekspresi tenang seperti biasanya. Mantel hitam yang dikenakannya bergerak perlahan diterpa angin sore, sementara sorot matanya yang tajam langsung menemukan Helena seolah keberadaannya adalah satu-satunya hal yang ia cari sejak memasuki taman itu.Entah mengapa, Helena merasakan perubahan suasana yang begitu jelas.Adriel yang sejak tadi berbicara dengan santai tampak sedikit meluruskan tubuhnya. Sementara Rion sendiri terlihat tenang, terlalu tenang hingga sulit ditebak apa yang sebenarnya sedang dipikirkannya.Sesampainya di hadapan mereka, Rion membungkukkan tubuh dengan hormat.“Yang Mulia.”Adriel mengangguk ringan.“Aku mulai

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 27

    Helena mengangguk pelan. Ia tidak terkejut jika Adriel mengenalnya. Rumor mengenai pernikahannya dengan Marquess Laurent pasti sudah menyebar ke seluruh ibu kota.Tapi tatapan sang pangeran membuatnya merasa seolah ada sesuatu yang sedang dipikirkannya. Sesuatu yang tidak diucapkan."Sekali lagi saya minta maaf atas kejadian ini."Adriel menunjuk cadar yang rusak di tangannya."Sepertinya keluarga kekaisaran berutang satu cadar kepada Anda.""Itu tidak perlu, Yang Mulia.""Saya rasa itu perlu."Nada suaranya lembut, tetapi jelas tidak memberi ruang untuk penolakan. Sang pangeran memanggil seorang pelayan yang kebetulan melintas di dekat taman."Bawakan cadar baru."Pelayan itu segera membungkuk."Segera, Yang Mulia."Adriel kemudian kembali memandang Helena.Angin kembali berembus pelan, membuat ujung renda hitam yang robek bergerak di antara jemari wanita itu."Marchioness Laurent seharusnya tidak berdiri di taman istana sambil memegang cadar yang rusak," ujarnya ringan. "Orang-orang

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 26

    Helena menatapnya tidak percaya."Saya bukan anak kecil."Bayangan senyum muncul di sudut bibir Rion."Bagus."Lalu tanpa menunggu jawabannya, pria itu berbalik dan berjalan kembali ke arah Aula Tahta. Helena hanya bisa menatap punggungnya yang semakin menjauh. Sampai akhirnya sosok tinggi itu menghilang di balik deretan pilar.Helena menunggu dengan tenang di bawah pohon elk yang tumbuh menjulang di salah satu sudut taman istana. Dari tempatnya berdiri, sebagian besar halaman kekaisaran dapat terlihat dengan jelas.Para pelayan berlalu-lalang membawa nampan dan dokumen, para pengawal berpatroli di jalur-jalur utama, sementara para bangsawan keluar masuk gedung utama dengan pakaian megah dan pengiring di belakang mereka.Meski berada di tengah keramaian, tidak ada seorang pun yang benar-benar mendekatinya. Beberapa pasang mata sempat memandang ke arahnya, lalu berpaling setelah menyadari siapa pun wanita bercadar yang berdiri sendirian itu bukan urusan mereka.Helena tidak merasa terg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status