LOGINHelena mengangkat pandangannya. Suara wanita itu terdengar tenang, namun ada ketegasan di dalamnya."Itulah identitas Anda sekarang."Helena terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk pelan. Ia memahami maksud perkataan tersebut.Sejak melangkahkan kaki ke Kastel Laurent, banyak hal telah berubah. Namanya masih Helena, tetapi kehidupannya tidak lagi sama. Ia bukan lagi putri yang hidup di bawah bayang-bayang istana kerajaan. Ia juga bukan lagi gadis yang dapat mengabaikan pandangan orang lain begitu saja.Sekarang ia adalah istri seorang Marquess. Dan bersama gelar itu datang tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada dirinya sendiri. Madam Carol tersenyum tipis ketika melihat Helena mengangguk."Namun menjadi seorang Marchioness tidak pernah mudah."Wanita itu mengambil cangkir tehnya dan memutar gagangnya perlahan di antara jemarinya."Banyak orang berpikir tugas seorang nyonya rumah hanya mengurus kastel, mengawasi pelayan, menghadiri pesta, dan tersenyum kepada para tamu."Nada
Helena membeku, ia tidak tahu harus menjawab apa. Karena jika ada satu orang yang paling tidak mengenal Marquess Laurent, mungkin orang itu adalah dirinya sendiri.Ia bahkan belum pernah melihat wajah suaminya dengan jelas dan belum pernah berbicara dengannya dalam terang. Belum pernah menerima penjelasan apa pun mengenai banyak hal yang terjadi di kastel ini.Lalu bagaimana mungkin seseorang mengatakan bahwa pria itu menghormatinya?Melihat kebingungan di wajah Helena, Madam Carol tersenyum."Amulet yang Anda kenakan adalah bukti pertama."Helena menunduk memandang benda itu."Lalu bukti kedua adalah kenyataan bahwa tidak seorang pun di kastel ini berani memperlakukan Anda sebagai pajangan."Kening Helena sedikit berkerut. Madam Carol terkekeh pelan."Percayalah, Marchioness. Ada banyak wanita bangsawan yang hidup mewah tetapi tidak memiliki kekuasaan apa pun di rumah mereka sendiri."Tatapan wanita itu beralih ke arah jendela."Namun sejak saya memasuki kastel ini pagi tadi, saya me
Rion pergi begitu saja setelah percakapan itu berakhir, meninggalkan Helena sendirian di meja makan bersama pikirannya yang masih belum tenang. Ia menatap ke arah pintu yang baru saja tertutup beberapa saat lamanya sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang.Entah bagaimana caranya, pria itu selalu berhasil membuatnya kesal sekaligus tidak mampu membantah. Padahal ia datang dengan keyakinan bahwa Rion telah mengadukannya kepada Rezef, tetapi sekarang justru dirinya sendiri yang dipenuhi keraguan.Jika bukan Rion, lalu bagaimana suaminya bisa mengetahui apa yang terjadi di taman istana? Pertanyaan itu terus berputar di benaknya tanpa menemukan jawaban.Helena akhirnya mengalihkan perhatian dari hal tersebut dan mengambil cangkir tehnya yang sudah mulai dingin. Namun bahkan sebelum ia sempat meminumnya, langkah kaki pelan terdengar mendekat. Dorote berhenti di samping kursinya lalu membungkukkan badan dengan hormat."Nyonya."Helena mengangkat pandangan."Ada apa?""Saya sudah meletakk
Pertanyaan itu keluar begitu saja tanpa peringatan.Beberapa pelayan yang sedang berjaga di sekitar ruang makan langsung menundukkan kepala lebih dalam. Tidak seorang pun berani mengangkat wajah, seolah berharap mereka tidak mendengar apa pun dari percakapan tersebut.Di seberang meja, Rion mengangkat pandangannya dari dokumen yang sedang dibaca. Tatapan mata gelap itu jatuh tepat pada Helena yang sejak tadi menatapnya dengan penuh tuntutan.Namun tidak ada keterkejutan di wajah pria itu, bahkan tidak ada pula rasa bersalah. Ia terlihat terlalu tenang."Menurutmu?"Helena mengerutkan kening."Saya sedang bertanya."Rion tidak segera menjawab. Ia hanya menatap Helena beberapa saat sebelum menutup dokumen di tangannya. Sikap tenang itu justru membuat Helena semakin kesal.Ia menarik napas panjang."Saya tidak bisa menemukan alasan lain mengapa beliau tiba-tiba marah."Alis Rion terangkat tipis."Marah?""Benar." Helena mengangguk pelan. "Beliau marah setelah pertemuan di istana."Rion h
Jantung Helena seolah berhenti berdetak sesaat ketika matanya menangkap isi tulisan pada kertas itu. Udara di dalam kamar terasa mendadak lebih dingin. Jemarinya tanpa sadar mencengkeram lembaran tersebut semakin erat, hingga kertas yang semula rapi mulai kusut di antara genggamannya.Ia membacanya sekali lagi, berharap dirinya salah mengerti. Namun tidak peduli berapa kali matanya menelusuri rangkaian kata-kata itu, maknanya tetap sama.Sebuah peringatan. Tidak, lebih tepatnya ancaman.Helena mengangkat tangan dan menekan pelipisnya pelan. Kini semuanya terasa begitu jelas. Sejak awal ia sudah merasakan ada sesuatu yang berbeda pada lelaki yang datang ke kamarnya semalam.Cara pria itu memeluknya, cara ia menahannya di atas ranjang, bahkan bagaimana setiap sentuhannya terasa lebih keras dari biasanya. Saat itu Helena tidak memahami penyebabnya. Ia hanya mengira suaminya sedang berada dalam suasana hati yang buruk. Namun sekarang, setelah membaca surat itu, seluruh kepingan yang semul
Helena mendesah. Matanya terpejam rapat dan tangannya mencengkeram bahu pria itu hingga kukunya meninggalkan luka di kulitnya.Tapi pria itu tidak berhenti.Pinggulnya bergerak kasar. Hentakan yang sangat dalam dan membuat Helena menjerit setiap kali ia menekan lebih dalam. Setiap hentakan terasa seperti ada sesuatu yang menusuk ke dalam perutnya menusuk sampai ke rahimnya."AHHH— ahh—" Helena menjerit antara sakit dan kenikmatan. Tubuhnya bergetar hebat di bawah pria itu. Kakinya yang terbuka di sisi tubuh pria itu gemetar.Napas yang terdengar seperti binatang besar yang sedang berburu. Napas yang berbau alkohol dan keringat dan maskulin.Tapi ada sesuatu yang berbeda.Di balik sakit itu di balik hentakan brutal yang membuatnya menjerit ada kenikmatan. Kenikmatan yang menjalar dari tempat mereka bersatu, ke perutnya, ke dadanya, ke kepalanya. Kenikmatan yang tumbuh di antara rasa sakit seperti bunga yang tumbuh di antara retakan batu."Ahh— ahh— ahh—" Helena mendesah tanpa henti.Su
Helena mengernyit mendengar jawaban itu. Semakin lama, ia merasa Rion sengaja membuat segala sesuatu terdengar lebih rumit daripada yang seharusnya."Bagaimana seseorang bisa menarik perhatian tanpa sengaja?" tanyanya sambil memandang pria yang duduk di hadapannya."Percayalah," jawab Rion setelah
Helena mengernyit ketika mendengar ucapan Rion. Sejak tadi ia hanya mengikuti arah pembicaraan pria itu tanpa benar-benar memahami mengapa selembar cadar renda menjadi sesuatu yang begitu penting.Bagaimanapun juga ia telah menikah. Bukankah seorang wanita yang sudah memiliki suami tidak lagi diwaj
Helena mengerjap pelan. Untuk beberapa saat ia hanya menatap Rion, merasa seolah baru saja salah mendengar apa yang dikatakan pria itu."Aku sudah menikah."Sulit dipercaya.Sejak tiba di Kastel Laurent, ia belum pernah sekalipun mendengar keberadaan seorang istri Rion. Tidak ada potret seorang wan
"Apa kau keberatan?" Suara Rion membuyarkan lamunannya.Helena mengangkat kepala. Tatapan merah pria itu tertuju padanya dengan tenang, seolah benar-benar menunggu jawaban."Tidak." Jawaban itu keluar setelah jeda singkat. "Aku tidak keberatan."Rion tidak mengatakan apa-apa.Helena menghela napas







